Terpaksa Menikah Di Usia Muda

Terpaksa Menikah Di Usia Muda
Vano tidak menerima keberadaan Hena.


__ADS_3

"Huumm saya akan memeriksa nya." ucap Gerwyn.


"Kamu sedang memikirkan apa? Kenapa tadi kamu kebingungan?" tanya Bibi.


"Tidak apa-apa, hanya kefikiran Hena yang tiba-tiba mau merawat Vano di rumah sakit." ucap Gerwyn.


”Vano di rumah sakit? bagaimana bisa?" tanya Bibi.


Gerwyn menceritakan apa yang terjadi. Bibi mendengar itu juga kaget.


Hena baru saja sampai di rumah sakit itu. "Kenapa Vano sampai ke sini yah? ini kan rumah sakit yang tidak jauh dari rumah Sophia dulu." ucap Hena.


Dia pun mencari ruangan Vano. akhirnya dapat juga.


"Permisi Bu, tidak ada yang bisa masuk ke dalam." ucap kedua bodyguard menghalangi Hena.


"Saya Hena, saya teman nya melihat keadaan Vano. Saya sudah mendapatkan ijin dari Pak Gerwyn." ucap Hena.


Setelah menelpon Gerwyn akhirnya hena di ijinkan masuk ke dalam. Ternyata Vano masih belum sadar.


"Vano.." ucap Hena melihat nya tidak memakai baju dan perut nya yang banyak Luka. wajah nya babak belur..


Dia memegang wajah Vano namun tiba-tiba Vano bangun.


"Ke-kenapa kamu bisa di sini? Dan sekarang saya ada di mana?" tanya Vano dengan suara yang sangat serak sekali.


"Kamu sedang ada di rumah sakit. Kamu di Serang oleh orang lain dan akhirnya sampai di sini." ucap Hena.


Vano serak dia melihat Gelas yang ada di atas Meja.


"Mau minum?" ucap Hena. Dia memberikan Vano minum.


"Kamu bisa pulang sekarang. Saya baik-baik saja, kamu tidak perlu merawat saya di sini." ucap Vano.


"Kata siapa aku mau merawat kamu di sini, aku ke sini sebenarnya terpaksa. Aku di sini bekerja mengikuti perintah pak Gerwyn." ucap Hena.


"Apa maksud kamu?" tanya Vano.


"Aku bekerja untuk merawat kamu. Nanti kalau sudah sembuh aku akan di Bayar mahal. Kamu sungguh sangat Sedih tidak memiliki keluarga ataupun teman wanita untuk merawat ketika sakit." ucap Hena.


Vano merasa jengkel sekali.


"Jangan menghina saya! Kamu yang telah membuat keluarga saya hancur." ucap Vano.

__ADS_1


"Saya minta kamu keluar dari sini!" ucap Vano. "Kamu tidak bisa mengusir ku, karena ini adalah perintah pak Gerwyn. Yang ada aku akan melaporkan kamu ke pak Gerwyn." ucap Hena.


Vano menghela nafas panjang.


"Terserah kamu saja. jangan mencoba untuk melapor." ucap Vano menyerah. Hena senyum-senyum.


"Sudah sakit tetap saja mau marah." ucap Hena.


"Kalau bisa saya memilih lebih baik saya tidak ada yang menemani dari pada di temanin oleh wanita seperti kamu." ucap Vano.


"Kenapa? Apa aku terlihat menjijikkan?" tanya Hena.


"Iyahh. Saya tidak Sudi di rawat oleh wanita seperti kamu." ucap Vano. "Tapi sayang nya aku harus di sini merawat kamu sampai sembuh. Semoga kamu cepat sembuh agar tidak terlalu Lama Melihat ku." ucap Hena.


Tiba-tiba suster datang membawa makanan sambil memeriksa Vano.


"Pak Vano harus menghabiskan makanan itu yah. Agar nanti bisa di tindak lanjuti oleh dokter untuk memeriksa kesehatan bapak." ucap suster.


Vano mengangguk.. Setelah magang tu suster keluar.


"Kamu mau ngapain?" tanya Hena. "Kamu bisa melihat sendiri." ucap Vano.


Hena membantu nya untuk duduk.. Namun Vano menolaknya. Dia memaksa untuk duduk sendiri.


"Aaargggh..." Dia tidak Kuat sehingga jatuh lagi. Hena menghela nafas melihat Vano.


"Nih Makan lah." ucap Hena. Vano mengerakkan tangan kirinya. Karena tangan kanan nya sakit.


tangan kiri nya juga sangat sakit. Beberapa memar.


Hena mengambil sendok dia langsung menyuapi Vano.


"Kamu memiliki mulut namun tidak pandai untuk minta bantuan." ucap Hena.


"Saya bisa Makan sendiri." ucap Vano.


"Jangan keras kepala aku bilang! Aku sudah baik mau menyuapi kamu seperti, ayo buruan Makan." ucap Hena.


Akhirnya Vano Makan sampai habis. Tidak lupa untuk makan.


"Aku membeli beberapa buah dari luar, kamu Makan ini agar kamu tidak enek hanya Makan makanan yang dari rumah sakit." ucap Hena langsung menyuapi ke dalam mulut Vano.


Saat sedang asik mengupas buah ponsel Hena tiba-tiba berdering. Dia pun keluar untuk menjawab telepon.

__ADS_1


"Halo ini Siapa yah?" tanya Hena.


"Halo ini saya Enjel. keponakan nya om Gerwyn.. Bagaimana keadaan Vano? Kata Sophia ke rumah sakit." ucap Enjel.


"Oohhh. Vano sudah mulai baikan." ucap Hena.


"Alhamdulillah, saya minta tolong sama kamu untuk merawat nya yah. Saya tidak bisa datang." ucap Enjel.


Masih banyak yang lain lagi di bicarakan oleh Enjel.. Hena hanya menginyakan saja.


setelah selesai menelpon dia pun masuk lagi.


"Seperti nya Enjel dengan Vano pacaran, Enjel terlihat sangat khawatir sekali pada Vano." ucap Hena.


"Apakah yang menelpon kamu adalah papah saya?" ucap Vano. "Humm, kenapa? Apa kamu ingin tau apa yang kamu bicarakan?" tanya Hena. Vano diam.


"Saya sudah bilang Beberapa kali Sama kamu kalau saya dengan Om Davit tidak ada hubungan apapun. Dia menganggap aku sebagai anak nya sendiri." ucap Hena.


"Anak yang bisa di tidurin tiap malam kan?" ucap Vano.. Hena serasa di tusuk mendengar kata-kata Vano.


"Terserah ku saja percaya atau tidak." ucap Hena.


"Kamu harus tau yah, kalau kamu tidak Akan pernah menjadi istri papah saya!" ucap Vano. Hena diam.


"Kenapa? Apa dia sudah tidak memberikan uang pada mu? Apa karena kamu tidak bisa menemani nya tidur lagi? Itu sebabnya kamu bekerja dengan Pak Gerwyn?" tanya Vano.


"Aku rasa itu bukan urusan kamu. Lebih baik kamu tidur saja, jangan banyak berbicara karena di jaman dulu ketika kita banyak berbicara apalagi Selalu menghina bisa membuat mulut kita tertutup sendiri." ucap Hena.


Vano langsung diam. Hena tersenyum dia pun merapikan meja dan juga menurunkan tempat tidur agar Vano lebih nyaman.


"Saya belum mau tidur." ucap Vano.


"Jangan banyak berbicara! Jangan marah-marah, nanti ada kutukan sama kamu.". ucap Hena.


Vano tidak bisa berbicara karena Hena sama sekali tidak perduli dengan ocehan nya. Hena pun duduk di sofa sambil membaca bukunya.


"Saya tidak ingin melihat kamu di ruangan ini! keluar lah." ucap Vano. Hena tidak perduli.


Vano berbicara namun Hena tidak perduli sampai akhirnya Dokter datang memeriksa keadaan Vano.


Vano sudah bisa di pindahkan keruangan rawat inap karena sebelumnya ada di ruangan ICU.


"Huff akhirnya kamu bisa pindah Juga dari ruangan yang mengerikan itu." ucap Hena setelah mereka pindah.

__ADS_1


"Aku sudah bilang aku tidak mau kamu di sini! Keluar lah dan jangan kembali!" ucap Vano.


"Semakin kamu mengusir ku, aku tidak akan pergi dan semakin betah di sini." ucap Hena.


__ADS_2