
Kelima anak itu melanjutkan lagi perjalanannya ke lantai dua. Di lantai dua ini terdapat empat kamar dua di sisi kiri dan dua di sisi kanan. Kamar yang pertama kali mereka datangi adalah kamar sisi kanan dekat dengan tangga.
Kamar ini milik anak perempuan mereka, terlihat jelas dari isi kamarnya yang banyak boneka dan figura foto yang memasang foto gadis kecil itu.
" Apa yang akan kita cari disini?" Tanya Didi.
" Apa saja yang bisa jadi petunjuk. Kenapa Kakek kita sampai kehilangan ingatannya?" Jawab Angkasa sambil membuka isi laci di meja rias.
Sedangkan Bintang membuka lemari dan memeriksa isinya. Disana ada banyak baju seukuran dengannya. Bintang mengeluarkan baju yang tergantung di dalam sana.
" Kak, lihat!" Bintang menunjukan sebuah gaun berwarna pinkbaby, model gaun itu mirip dengan gaun yang sering dipakai untuk pesta ulang tahun.
" Wah ternyata warna favorit kalian juga sama, ya." Kata Angkasa.
" Kak Bintang jangan sembarangan pegang barang milik orang lain tanpa izin." Kata Langit.
" Iya, apalagi bila orang itu sudah mati," kata Didi menakut - nakuti Bintang.
Bintang termasuk anak yang takut akan cerita horor atau hal yang berbau dengan hantu. Langsung pucat, dan cepat - cepat dia menyimpan kembali gaun itu di dalam lemari.
" Sepertinya gadis kecil ini, suka sama hello Kitty." Kata Langit sambil menunjukan boneka hello Kitty yang berjajar dari ukuran yang terkecil sampai ke ukuran yang terbesar.
Melihat itu Bintang jadi takut kembali. Karena dia juga suka banget sama Hello Kitty. Bahkan kamarnya didekorasi dengan serba Hello Kitty. Mau tempat tidur, lemari, meja belajar, jam dinding, bahkan sampai kesetnya pun bergambar Hello Kitty.
Sebenarnya tadi Langit hanya bercanda, tapi saat dia teringat kalau saudara kembar perempuannya juga adalah penggemar berat Hello Kitty. Dia merasa tidak enak dan merasa bersalah pada Bintang. Jadinya Langit memeluk Bintang yang sudah terlihat pucat.
" Maaf, bukannya Langit ingin menakuti Kak Bintang."
" Langit lupa kalau Kak Bintang juga suka sama Hello Kitty."
Langit memeluk sambil mengusap punggung Bintang. Mencoba memberi ketenangan padanya.
" Tapi kenapa aku sama dia punya kesukaan yang hampir sama juga?" Bintang membalas pelukan Langit.
" Wajar karena kalian berdua adalah perempuan. Biasanya warna yang disukai oleh perempuan adalah warna pink. Terus anak perempuan juga suka sama boneka. Yang salah satunya adalah Hello Kitty." Kata- kata Langit itu setidaknya mengurangi sedikit rasa takut Bintang.
" Sebaiknya kita pindah ke kamar selanjutnya!" Ajak Angkasa agar Bintang merasa lebih tenang.
Kini mereka semua memasuki kamar di depannya. Dan kamar ini milik anak yang bernama Angkasa. Kamar ini seperti kamar kebanyakan anak laki - laki. Banyak figure robot disana. Bahkan figur tokoh pahlawan Marvel berderet di atas dipannya, dan ada beberapa robot model Transformer berjajar di atas meja belajarnya.
" Sepertinya aku dan dia tidak satu tipe!" Kata Angkasa.
__ADS_1
" Ya, benar. Kak Angkasa kan sukanya sama amine Jepang." Lanjut Langit.
" Ah, bagiku itu sama saja. Suka sama tokoh pahlawan fantasi." Kata Didi sambil membuka jendela yang mengarah pada laut.
" Sepertinya kita harus cepat - cepat. Nanti bapak mencari kita!" Lanjut Didi dan menutup kaca jendela itu kembali.
Kamar selanjutnya yang dituju adalah kamar milik pemuda yang bernama Langit. Di kamar ini begitu banyak buku. Mau buku pengetahuan umum ataupun buku novel dan komik.
Di kamar itu ada foto Langit dengan seorang gadis yang tersenyum lebar.
" Dia siapa?" Tanya Langit.
" Mana aku tahu?" Jawab Angkasa.
" Mungkin dia kekasihnya!" Ucap Didi.
" Bisa saja dia itu temannya atau kerabatnya!" Kata Bintang
" Kenapa begitu?" Tanya Didi.
" Biasanya kalau kita berfoto sama teman pastinya akan berdiri bersisian seperti ini." Kata Bintang.
" Berbeda dengan orang yang berpacaran. Mereka akan berpose lebih intim lagi." Kata Bintang.
" Itu karena Bintang sudah sering melihat foto orang berpacaran." Jawab Langit.
Anak - anak itu menggeledah kamar Langit. Dan saat Langit membuka album foto milik Langit. Banyak foto dirinya dengan orang lain. Sepertinya Langit memiliki banyak teman.
" Orang ini sepertinya punya banyak teman, ya!" Kata Didi.
" Ya, dan pemuda ini sepertinya adalah sahabat baiknya!" Tunjuk Langit pada gambar pemuda yang hampir ada di setiap foto Langit.
" Ya, sepertinya begitu. Selain dekat dengan Langit. Dia juga dekat dengan Angkasa dan Bintang." Jawab Angkasa.
" Apa ada keterangan siapa nama pemuda itu?" Tanya Bintang penasaran.
" Tidak, belum ada." Kata Angkasa.
" Aku rasa pemuda ini tinggal bersama mereka?" Kata Langit.
" Lihat setiap acara keluarga, pemuda ini selalu hadir bersama dengan mereka." Langit membuka beberapa lembar album, dan menunjukan foto - foto pemuda itu yang selalu ada bersama mereka.
__ADS_1
" Kira - kira siapa pemuda ini, ya?" Tanya Bintang.
" Tidak tahu." Jawab Angkasa dan Langit bersamaan.
" Ayo kita kekamar selanjutnya!" Ajak Didi.
Kamar terakhir yang mereka masuki adalah kamar milik orang tua mereka, Dokter Lazuardi dan Dokter Paramitha. Kamar itu lebih luas dibandingkan dengan kamar yang lainnya. Foto pasangan suami istri itu banyak terpampang di dinding kamar. Mereka juga menggeledah kamar itu, tapi tidak ada hal yang aneh.
" Hai, sebenarnya ada yang mengganggu pikiranku sejak tadi." Kata Angkasa.
" Apa itu?" Tanya yang lainnya.
" Banyak sekali foto mereka yang diambil bukan di rumah ini." Kata Angkasa.
" Maksudku, mereka berfoto di sebuah rumah tapi rumahnya bukan yang ini." Kata Angkasa.
" Lihat, mereka sedang makan bersama di meja makan, tapi baik ruangan atau meja makannya berbeda dengan yang ada dibawah tadi." tunjuk Angkasa pada sebuah foto yang memperlihatkan mereka sedang makan bersama.
" Terus mereka berkumpul di ruangan keluarga tapi bukan ruangan keluarga yang kita datangi tadi." Angkasa menunjukan beberapa foto kebersamaan mereka saat keluarga itu berkumpul bersama.
" Aku berpikir kalau rumah yang sebenarnya mereka tinggali bukan rumah ini." Kata Angkasa yang mengemukakan apa yang jadi pikirannya sejak melihat foto - foto milik mereka.
" Maksud Kakak, kalau rumah ini hanya mereka datangi sesekali saja?" Tanya Bintang.
" Ya. Dan rumah mereka yang sesungguhnya adalah rumah yang ini." Angkasa menunjuk foto keluarga yang sedang berdiri di sebuah rumah yang jauh lebih besar.
" Rumah itu berada dimana?" Tanya Langit.
" Mana aku tahu!" jawab Angkasa.
" Hei, lihat ada Album foto lagi!" ucap Didi sambil membawa album itu dari bawah meja rias.
" Cepat buka, lihat ada apa isi dari album foto itu?" kata mereka bertiga tidak sabar.
" Tunggu aku buka dahulu. Kita lihat ada apa saja foto yang tercetak disini!" kata Didi.
*****
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS YA
__ADS_1
DAN KASIH BINTANG LIMA JUGA YA