
#Chapter 39
Bintang memapah Paramitha masuk kedalam kamar Angkasa. Kemudian Bintang mendudukan Ibunya di samping ranjang milik kakaknya itu.
" Oh, iya Bintang di kamar kamu juga ada pistol di dalam sebuah koper di dalam lemari baju kamu. Bawalah itu, untuk jaga-jaga. Kamu bisa kan menggunakannya?" Tanya Paramitha kepada anak gadisnya itu yang baru saja duduk di bangku sekolah menengah atas.
" Bintang hanya bisa menggunakan pistol mainan untuk main tembak-tembakan bersama Kakak." Jawabnya lagi, karena mereka berempat sering main perang-perangan yang dibuat dua tim dan saling kalahkan satu sama yang lainnya, untuk menguasai markas musuhnya. ( Ada yang tahu nama jenis permainan ini?)
" Iya, itu sama dengan yang asli, bedanya yang asli mengeluarkan peluru kalau mainan cat air! Kamu pasti bisa!" Kata Paramitha kepada putrinya. Seenggaknya Bintang bisa melindungi dirinya sendiri dan bertahan hidup.
" Baik, Bintang akan bawa pistolnya dulu." Bintang bergegas masuk ke kamarnya.
Saat Bintang akan membuka lemari pakaiannya terdengar suara tembakan dari kamar Angkasa. Bintang panik dan langsung berlari ke arah pintu, hendak melihat keadaan ibunya. Namun dia keburu di hadang oleh seorang laki-laki asing lainnya.
Terdengar suara tembakan kembali di dalam kamar Angkasa. Bintang begitu cemas dengan keadaan ibunya. Tetapi kini di depannya ada seorang laki-laki yang sedang mengacungkan pistol kepadanya. Saat laki-laki itu menembakan peluru ke arah Bintang, dia langsung menarik paksa lemari pajangan bonekanya. Bintang pun menjadikan lemari itu sebagai tamengnya.
Tak disangka ternyata ada pistol yang terjatuh dari sana. Bintang pun cepat-cepat mengambilnya dan membalas tembakan orang itu. Bintang tidak mau menyia-nyiakan peluru di pistolnya. Dia biarkan laki-laki itu terus menghujani peluru ke arahnya. Sedangkan Bintang akan membalas di saat merasa tepat waktunya. Dan ketika laki-laki itu sudah kehabisan peluru di pistolnya. Bintang langsung menyerang organ vital dari laki-laki itu.
__ADS_1
Bintang mengarahkan tembakannya ke arah dada dan kepala laki-laki yang sedang bersembunyi di balik tembok pintu kamar. Saat laki-laki itu mengeluarkan pistol yang baru dan hendak menembak Bintang kembali. Dengan gerakan cepat Bintang menembak laki-laki itu terlebih dahulu.
Bintang butuh konsentrasi tinggi saat melepaskan peluru dari pistolnya. Apalagi percakapan Lazuardi, dan orang-orang yang berada di bawah masih terus bisa didengarkannya lewat earphone. Bintang berusaha menguatkan hatinya. Dia tahu mungkin saja hari ini mereka bisa mati. Tetapi Bintang ingin menjalankan harapan yang diinginkan oleh orang-orang yang disayang olehnya. Mereka semua berharap dirinya masih bisa hidup. Jadi Bintang sekuat tenaganya akan berusaha agar dia tidak mati malam ini.
Bintang tak menyangka kalau tembakannya tepat sasaran di kepala laki-laki itu. Sehingga dia tewas setelah terlihat menggelepar beberapa kali. Tangan Bintang bergetar hebat, dirinya tak menyangka kalau sudah membunuh orang. Air matanya tiba-tiba turun, Bintang tidak tahu perasaan yang sedang dirasakannya kini. Takut karena sudah membunuh, atau senang karena bisa selamat dari orang yang sedang berusaha membunuhnya.
Ketika Bintang keluar dari kamarnya terlihat kalau Paramitha juga sedang berusaha berjalan dari kamar Angkasa. Bintang langsung memapah Ibunya dengan sebelah tangannya. Karena tangan yang sebelahnya lagi dipakai untuk memegang pistol.
" Ibu, masih kuat berjalan. Darah ibu keluar sangat banyak. Apa Bintang obati dulu?" Tanya Bintang kepada Paramitha, dengan wajahnya yang begitu cemas saat melihat semua kain baju yang dipakai ibunya penuh darah. Bintang juga dapat melihat kalau luka tembak di badan Paramitha bertambah.
" Ibu! Bintang!" Teriak Langit begitu keluar dari kamar orang tuanya.
*******
Sementara itu Dirman yang berada di dapur sedang melakukan kontak senjata dengan dua orang. Kedua orang itu telah berhasil membunuh kedua pembantu keluarga Lazuardi. Sedangkan satu orang musuhnya sudah tergeletak tak bernyawa di ruang makan tempat tadi Dirman melakukan baku tembak dengannya. Saat Dirman akan membantu temannya ternyata dia terlambat karena dua orang laki-laki yang sekarang beradu dengannya sudah masuk ke dalam dapur. Ruang penghubung dirinya dan kedua temannya itu.
Dirman berlindung di balik meja bar dapur. Untungnya di sana dia menyimpan pistol di laci meja bar. Sehingga dia tidak takut kehabisan senjata. Saat Dirman melakukan serangan kepada lawannya, ternyata lawannya yang satu lagi menembakan peluru ke arahnya. Dan itu mengenai lengan kiri bagian atas. Dirasa tidak seimbang, Dirman harus memutar otaknya untuk bisa menyerang kedua orang itu secara bersamaan. Dilihatnya ada beberapa pisau dapur disana. Dirman mengambil dua buah. Lalu dilemparkan bersamaan ke arah musuhnya. Setelah musuh itu melancarkan tembakan ke arahnya.
__ADS_1
Lemparan pisau Dirman mengenai sasaran di kepala musuhnya. Dirman tidak menyangka akan tepat sasaran. Setelah dipastikan kedua orang itu mati. Dirman berlari menuju ke ruangan Lazuardi berada. Karena lewat earphone yang didengarnya, atasannya itu sedang melawan musuh tiga orang sekaligus.
*******
Dirman menembakan pistolnya tiga kali dengan gerakan yang sangat cepat tanpa disadari oleh musuhnya. Dan peluru itu mengenai tubuh ketiga orang itu. Lazuardi yang sedang berlindung di balik sofa, merasa senang atas bantuan Dirman. Dan kebetulan peluru di pistolnya juga sudah habis. Kini ketiga orang itu melancarkan tembakannya ke arah Dirman dengan membabi buta. Dan salah satunya mengenai Dirman lengan kirinya lagi yang tadi terkena tembak. Sehingga Dirman merasakan mati rasa pada tangannya itu. Karena darah sudah banyak keluar meski tadi sudah dibalutnya pakai sobekan bajunya.
Salah seorang dari mereka berlari ke arah Dirman bersembunyi, dan seorang lagi berlari ke arah tempat bersembunyi Lazuardi. Dirman yang terkejut tidak sempat menghindar, dan peluru yang ditembakkan dengan jarak dekat itu berhasil melukai wajah dan telinganya, sebelum Dirman menghindar. Tetapi Dirman juga berhasil menembak kedua paha musuhnya. Sehingga dia terjatuh tersungkur.
Sedangkan Satria yang tadi bersembunyi di ruang keluarga, dia menyelinap ke luar rumah lewat jendela. Dia berjalan mengendap-endap di halaman depan rumah. Tempat beberapa mobil musuh terparkir. Satria berusaha merusak semua mobil milik musuh. Satria merusak rem mobilnya dan membocorkan sedikit tangki bahan bakarnya. Begitu terdengar suara tembakan dari dalam rumah. Satria hendak kembali masuk kerumah itu. Tapi dia ingat kalau Langit dan Bintang tadi naik ke lantai atas. Satria berpikir kalau kedua orang itu akan turun lewat pohon yang tumbuh dekat balkon kamar utama.
Satria berlari menuju arah pohon itu, berharap Langit dan Bintang sudah berada disana. Suara tembakan masih saling bersahutan dari dalam. Tapi Langit dan Bintang belum juga turun, dan membuatnya khawatir.
*******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
__ADS_1
BUNGA ATAU KOPI JUGA ITU MEMBUAT AKU TAMBAH SEMANGAT.
TERIMA KASIH.