
Bintang mengunci pintu kamar tidurnya dari luar, kemudian langsung bersembunyi di kamar milik Langit yang berada tepat di sebelah kamarnya. Sedangkan Didi turun kebawah dan akan mencegah Ghazali untuk masuk ke dalam kamar Bintang.
" Lho, Kak Ghaza tumben datang kesini malam-malam begini?" tanya Didi saat Ghazali hendak menaiki anak tangga.
"Iya, aku ingin bertemu sama Bintang. Ini sangat penting!" kata Ghazali dan hendak melangkah kembali menaiki anak tangga. Namun Didi menghalangi langkah Ghazali.
"Tunggu, Kak. Bintang sudah tidur setelah makan malam tadi, sepertinya dia kelelahan. Jadi aku mohon jangan ganggu, biarkan dia beristirahat," kata Didi masih berdiri ditengah-tengah anak tangga.
"Minggir, Didi!" Perintah Ghazali sambil mendorong Didi kesamping agar tidak menghalangi jalannya.
Bintang yang mendengar percakapan itu pun merasa deg-degan.
"Bintang, buka pintunya. Aku tahu kamu belum tidur," kata Ghazali dengan suara yang sangat nyaring.
Bintang dapat mendengar suara Ghazali dengan jelas. Suara yang sejak dulu selalu dirindukannya. Walau jarak mereka terpisah oleh dua benua, tetapi Bintang dan Ghazali tiap hari telponan tak pernah absen. Bintang akan merasa ada yang hilang bila tidak mendengarnya. Bahkan dia akan langsung terbang ke Jerman bila ingin bertemu dengan Ghazali.
Bintang dapat mendengar saat Ghazali kembali mengetuk pintu kamar tidurnya, dan meminta membukanya.
"Ada apa ini!" suara Michael yang tinggi kepada Ghazali, membuat Bintang terkejut karena tidak menyangka kalau penjaganya itu akan ikut campur.
"Hai, Uncle. Aku mau bertemu dengan Bintang," balas Ghazali yang masih bisa didengar oleh Bintang.
"Nona Bintang sudah tidur dari tadi. Sebaiknya anda pulang!" titah Michael mengusir Ghazali.
Sebenarnya Bintang penasaran apa yang sedang terjadi di luar, karena tidak terdengar pembicaraan lagi antara Ghazali dan Michael. Maka Bintang pun keluar balkon kamar Langit dan melihat ke bawah, ke arah mobil Ghazali.
Dilihatnya Ghazali keluar dari rumahnya, Bintang cepat-cepat berjongkok. Kemudian melihat Ghazali yang berdiri melihat ke arah kamarnya. Melihat itu hati Bintang terasa teriris, antara benci dan rindu kepada orang yang telah dianggapnya sangat berharga dalam hidupnya itu.
Ada pesan masuk ke handphone-nya. Bintang kemudian membacanya.
Tidak bisakah kita bertemu, walau hanya sebentar saja.
Mendapat pesan itu, Bintang kembali menahan tangisnya. Dia juga ingin bertemu dengan Ghazali, tapi hatinya masih sakit karena merasa telah dipermainkan olehnya.
Bintang hanya bisa memandangi wajah Ghazali dari kejauhan. Dilihatnya dia masih saja memandangi kamar tidur miliknya. Bahkan sampai bersandar di mobilnya karena berdiri lama.
Sebuah pesan kembali masuk ke handphone-nya.
Aku tunggu dibawah. Jika dalam lima belas menit kamu nggak turun juga, aku akan pulang.
Bintang rasanya sudah ingin berlari kepelukan Ghazali saat itu juga. Menyalurkan rasa rindu dan sayangnya, agar Ghazali tahu perasaannya.
"Kamu jahat, Om! Selalu melakukan semaunya sendiri, tanpa peduli dengan perasaanku," gumam Bintang sambil melihat ke bawah dimana Ghazali masih saja berdiri.
Bintang hanya diam sambil melihat orang yang sudah membuatnya menangis seharian ini. Walau sudah lebih dari lima belas menit Ghazali masih saja tetap berdiri di sana.
__ADS_1
Bintang melihat Ghazali mengetik pesan di ponselnya. Tak berapa lama ada pesan masuk ke handphone milik Bintang.
Segitu marahnya kah? Kamu sama aku. Sampai-sampai tidak mau bertemu denganku.
Bintang membaca pesan itu, dan rasanya ingin menjawabnya sambil berteriak.
"Ya, aku marah sama Om! Dan nggak mau bertemu! "gumam Bintang sambil menahan isak tangisnya.
Tak berapa lama, ada pesan kembali masuk ke handphone-nya.
Baiklah, aku pulang.
Bintang melihat Ghazali masuk kedalam mobilnya, dan melajukan keluar dari rumahnya.
Bintang yang sejak tadi bersembunyi akhirnya keluar, sambil menangis tersedu-sedu. Rasanya dia ingin berteriak melampiaskan perasaannya saat itu.
Bintang masih marah kepada Ghazali, karena merasa sudah dipermainkan perasaannya. Sudah dua kali mereka berciuman, dan dia merasa Ghazali hanya menjadikannya sebagai gurauan. Namun bodohnya dia berharap Ghazali menciumnya dengan segenap perasaan. Seperti yang dia lakukan saat itu.
*******
Setelah kepulangan Ghazali, Bintang menangis sampai dini hari, matanya juga sudah bengkak. Dia merasa benci dan rindu sama Om kesayangannya itu. Bintang juga kesal dengan dirinya sendiri, kenapa punya perasaan seperti itu. Benci dengan tindakan Ghazali kepadanya, tapi dia tidak mau jauh darinya.
Entah sampai jam berapa Bintang menangis, yang jelas dia sampai tertidur. Sudah berapa orang yang mengetuk pintu kamarnya, tapi tidak juga dibuka olehnya. Mereka berpikir kalau Bintang sedang tidak ingin diganggu.
Bintang terbangun saat matahari sudah terik. Dia begitu terkejut saat melihat jam sudah menunjukan pukul sepuluh.
Karena perutnya sangat lapar, Bintang turun kebawah untuk sarapan, atau apalah yang penting dia ingin makan. Orang-orang yang ada di sana, diam tidak ada yang berkomentar saat melihat wajah Bintang yang bengkak, apalagi matanya yang bahkan sulit untuk dibuka olehnya.
Drama semalam yang terjadi, sudah jadi rahasia umum. Bahkan keluarga Erlangga yang tinggal di depan rumahnya juga tahu. Akibat teriakan Bintang semalam, dan kebetulan Erlangga dan Pelangi belum tidur. Jadi tadi pagi-pagi mereka mendatangi rumah Bintang dan bertanya apa yang terjadi semalam.
"Nona, apa hari ini akan pergi keluar?" tanya Michael yang setia menemani saat Bintang makan.
"Tidak," jawab Bintang dengan suaranya yang serak karena menangis semalaman, belum lagi teriakan saat melampiaskan kekesalannya.
Sehabis makan, Bintang kembali lagi ke kamarnya yang sudah dirapikan oleh Lastri. Dia duduk di sofa yang ditariknya mendekat ke arah jendela. Dia berharap dengan melihat pemandangan langit cerah, perasaannya jadi lebih baik.
Kemudian telepon genggamnya berbunyi, dilihatnya nama Om Aria di layar. Maka Bintang pun mengangkat panggilan itu.
"Assalamu'alaikum," salam Bintang kepada calon tunangannya itu.
"Wa'alaikumsalam," balas Aria dengan dengan semangat.
"Ada apa, Om? Tumben jam segini sudah menelepon biasanya nanti pas jam istirahat?" tanya Bintang dengan suaranya yang serak.
"Bintang kamu sedang sakit?" tanya Aria dengan panik saat mendengar suara Bintang yang serak.
__ADS_1
"Hm … sedikit," jawab Bintang.
"Tunggu, Om akan kesana sekarang!" Aria langsung mematikan panggilannya.
Bintang melihat ada pesan masuk dari nomor baru milik Ghazali. Ada empat pesan yang dikirim olehnya.
Bintang...
Pesannya yang pertama.
Maafkan aku, yang sudah membuatmu marah.
Pesannya yang kedua.
Semoga kamu selalu bahagia.
Pesannya yang ketiga.
Selamat tinggal…
Pesannya yang terakhir.
Tubuh Bintang bergetar saat membaca pesan yang terakhir. Dia tidak tahu maksudnya Ghazali mengirimkan pesan kata selamat tinggal. Tangisnya langsung pecah kembali, sepertinya stok air mata miliknya masih banyak, setelah sehari semalam dia menangis, sekarang pun masih bisa menangis.
Bintang mencoba menelepon nomor Ghazali, tetapi hanya suara operator yang terdengar di sana. Beberapa kali Bintang menelepon ke nomor itu, tapi tetap saja jawaban operator yang terdengar. Bintang juga mengirim pesan untuknya, agar saat nomor itu sudah aktif kembali, Ghazali bisa membaca pesannya.
Tidak sampai lima belas menit, mobil Aria sudah berada di halaman rumah Bintang. Dengan membawa makanan ke suka-an Bintang, Aria masuk ke rumah Bintang.
"Bintang," Aria memanggilnya sambil mengetuk pintu kamar Bintang.
Bintang yang larut dalam kesedihannya, tidak mendengar panggilan dari Aria. Sudah beberapa kali Aria memanggilnya, tapi Bintang tidak menjawabnya. Sehingga membuat Aria khawatir. Maka Aria pun memaksa masuk ke kamar Bintang.
Dilihatnya Bintang sedang menangis seperti orang kesakitan, duduk di lantai dekat sofa. Dengan cepat Aria menghampiri Bintang.
"Ada apa? Ayo katakan?" tanya Aria kepada Bintang sambil menghapus air matanya yang membasahi pipinya yang mulus.
"Om Ghaza, dia tidak mengangkat teleponku … " jawab Bintang yang masih menangis tersedu-sedu.
Bukan hal aneh bagi Aria, kalau Bintang dibuat nangis sama Ghazali, paling sebentar lagi, dia akan datang membawa coklat atau es krim yang banyak, untuk merayu Bintang agar memaafkannya.
Meski sudah ditunggu seharian, Om kesayangannya itu tidak juga datang.
*****
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
__ADS_1
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
TERIMA KASIH.