
Ghazali yang sedang berkirim pesan pesan dengan Bintang, senyumnya tak pernah lepas dari wajah tampan bule campuran itu. Namun senyumnya langsung pudar saat dia mendapat pesan baru dari Bintang.
Kenapa Om Ghaza ingin mencium Bintang?
Mendapat pesan seperti ini Ghazali bingung harus menjawab apa.
"Aku harus menjawab apa? Apa aku bilang kalau aku mencintainya dan sangat merindukan dirinya? " gumam Ghazali.
Maka dengan berani Ghazali mengirim pesan kepada Bintang.
Karena Ghazali begitu sangat mencintaimu, Bintang.
Pesan dari Ghazali telah terkirim, tapi sudah lima belas menit berlalu. Bintang belum juga membalasnya, walau pesan tadi langsung di baca olehnya.
"Kenapa Bintang tidak membalas pesanku, ya? Apa dia tidak punya perasaan yang sama dengan ku?" gumam Ghazali.
Sudah setengah jam semenjak pesan yang dikirim oleh Ghazali. Akhirnya Ghazali, pergi mandi. Dia berpikir, mungkin saat dia mandi, Bintang membalas pesannya.
Setelah selesai mandi, Ghazali mengecek lagi pesannya. Dilihatnya ada balasan dari Bintang.
Aunty, perempuan yang dicintai oleh Om Ghaza adalah Kak Amara, pacarnya semenjak zaman sekolah.
Mendapat pesan seperti ini, Ghazali jadi penasaran dengan perasaan Bintang untuknya.
Tapi, Ghaza sendiri yang bilang kalau gadis yang dia cintai, adalah Bintang. Lalu, bagaimana dengan Bintang, apa kamu juga mencintai Ghaza?
Maka Ghazali mengirimkan pesannya kepada Bintang. Sama seperti tadi, pesannya langsung dibaca, tapi tidak langsung di balas.
"Bila Bintang bilang mencintaiku, maka hari ini juga aku akan pulang ke Indonesia."
"Namun bila, dia bilang tidak mencintaiku. Maka aku akan belajar untuk menghapus perasaan aku ini."
Sudah dua puluh menit, Ghazali menunggu jawaban dari Bintang, tapi belum juga dibalas. Ketika Ghazali mau mengembalikan handphone milik Isabella kepada pemiliknya, ada pesan dari Bintang masuk.
Bintang sangat sayang sama Om Ghaza. Bintang juga sedih saat Om Ghaza pergi, apalagi dia tidak pamit saat pergi, seakan Bintang itu orang yang penting baginya.
__ADS_1
Mendapat pesan seperti itu, Ghazali hatinya terasa di tusuk oleh ribuan jarum.
"Bagaimana mungkin aku tidak menganggapmu orang yang tidak penting!" kata Ghazali dengan menahan suaranya.
"Kamu adalah orang yang paling berharga dalam hidupku! Bahkan lebih berharga dari nyawaku sendiri," Ghazali terus merancu mengungkapkan perasaannya.
"Apakah semua yang ku lakukan kepadamu selama ini tak ada artinya bagimu!" Ghazali memukul dinding yang ada di depannya sampai tangannya bengkak berwarna hijau keunguan.
*******
Satu bulan yang lalu …
Ghazali yang baru pulang dari menjalankan misi kemanusiaannya bersama beberapa tim relawan lainnya yang membantu wabah penyakit menular di sebuah desa. Langsung pulang ke Indonesia karena ingin bertemu dengan sang pencuri hatinya.
Sebenarnya saat mendapat kabar, kalau Bintang datang ke Italia karena ingin bertemu dengannya. Dia ingin langsung berlari pulang ke rumah Uncle Jo, dan bertemu dengannya. Namun keadaan di desa sedang genting-gentingnya, dan tim medis belum terlalu banyak yang datang. Maka Ghazali harus mengalah, karena banyak nyawa yang perlu di selamatkan.
Begitu sampai ke Indonesia dia tinggal di hotel. Begitu selesai cek-in, dia langsung mencari Bintang yang ada di rumahnya karena saat dia sampai waktu sudah malam. Ghazali memarkirkan mobilnya di pojok benteng rumah Erlangga, agar dia bisa melihat kamar Bintang dengan leluasa dari sana.
Ghazali melihat lampu kamar Bintang masih menyala, menandakan dia belum tidur. Ghazali ingin rasanya masuk ke rumah Bintang dan bertemu dengannya. Namun dia belum berani, karena Isabella bilang kalau Bintang kecewa dengannya. Dia mengira kalau dirinya tidak mau bertemu lagi dengan dia.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Ghazali sambil terus melihat ke arah rumah Bintang.
Hampir satu jam Ghazali memperhatikan kamar Bintang. Saat lampu kamar Bintang di padamkan, dan dikira Bintang sudah tidur, Ghazali pun kembali lagi ke hotel tempatnya menginap. Ghazali memilih hotel milik orang lain, agar keberadaanya tidak diketahui oleh orang lain.
Keesokan hari Ghazali mengikuti Bintang, kemanapun dia pergi. Bintang yang sudah masuk kuliah, maka Ghazali pun mengikutinya sampai depan kampusnya. Saat Bintang jalan-jalan ke mall bersama teman-temannya pun dia ikuti.
Seharian dia mengikuti Bintang dan mengambil beberapa foto Bintang tanpa sepengetahuannya. Walau cuma dengan itu, Ghazali sudah sangat senang. Dia bisa mengobati rasa rindunya dengan melihat senyum dan tawa Bintang saat bersama dengan temannya.
Ghazali yang melihat Bintang sedang duduk sendiri di cafe karena temannya sedang pergi menuju toilet. Ghazali memanfaat saat itu dengan datang menghampirinya. Namun niatnya itu harus di urungkan saat Bintang bicara dengan Aria lewat teleponnya. Apalagi dia sedang membicarakan masalah acara pertunangannya nanti.
Dengan perlahan Ghazali kembali lagi duduk di kursinya, dan memperhatikan Bintang dari jauh. Hati Ghazali terasa sangat sakit, dia merutuki dirinya kenapa bisa-bisanya jatuh cinta kepada calon tunangan orang lain, yang merupakan temannya itu. Padahal dia juga tahu rasanya kalau dikhianati oleh temannya sendiri.
Seperti kemarin malam, Ghazali baru pergi meninggalkan rumah Bintang saat lampu kamarnya sudah padam. Hari ini dia mengalami berbagai macam perasaan dalam hatinya. Senang saat melihat Bintang tersenyum dan tertawa. Sedih dan sakit hatinya, saat Bintang berbicara dengan Aria di telepon tadi. Marah pada dirinya tidak karena tidak bisa menemuinya langsung, karena takut kalau Bintang menolak kehadirannya.
Hari ini Ghazali mengikuti Bintang ke perpustakaan kota, dia terus memperhatikan Bintang yang sedang membaca kemudian menulis pada kertas kecil. Ghazali melihat Bintang yang tertidur karena kelelahan mengerjakan tugasnya.
__ADS_1
Ghazali pun menghampirinya, dan duduk di samping Bintang. Bintang yang tertidur dengan bertumpu pada sebelah tangannya, dan sebelah tangannya sedang memegang pensil, terlihat sangat lucu bagi Ghazali.
Jiwa jahilnya bangkit kembali setelah lama mati suri. Difotonya Bintang yang sedang tidur dengan berpose seperti itu. Senyum terpatri di bibir Ghazali saat melihat hasilnya.
"Bintang … aku sangat rindu padamu. Apa kamu juga merindukan ku?" tanya Ghazali sambil mengelus pelan pipi Bintang yang mulus.
Rasa rindu dan cinta Ghazali langsung semakin membuncah saat Bintang membuka matanya.
"Om … aku juga rindu … " kata Bintang kemudian menutup matanya kembali.
Mendengar kata-kata Bintang barusan, terasa ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutnya. Ghazali tidak bisa lagi menahan dirinya lagi. Di dekatkannya wajah dia ke arah wajah Bintang. Kemudian diciumnya bibir Bintang dengan lembut, walau tidak ada balasan dari Bintang, Ghazali sudah sangat senang. Bahkan dia mencium bibir Bintang lebih dari satu kali. Hatinya kini dipenuhi dengan rasa kebahagiaan.
Ghazali pun melakukan pose seperti Bintang. Dia bertumpu dengan satu tangannya untuk menyanggah kepalanya, dan menghadap ke arah Bintang. Dia membiarkan Bintang tertidur seperti itu, dia tidak mau mengusiknya. Ditatapnya wajah Bintang yang sedang tertidur pulas. Ghazali tidak mau menyia-nyiakan waktu yang dimilikinya, maka akan dia manfaatkan dengan sebaik mungkin. Dia menyimpan wajah Bintang saat ini di memori otaknya, agar tidak pernah lupa dan selalu mengingatnya.
Kesenangan Ghazali terusik saat telepon genggamnya berbunyi. Dengan cepat dia pergi meninggalkan Bintang karena tidak mau menganggu tidurnya. Ternyata Uncle Jo yang meneleponnya.
Bintang yang terusik tidurnya karena suara telepon, pun akhirnya membuka matanya.
"Aku sudah tertidur, ternyata … " kata Bintang sambil membereskan buku-bukunya.
"Aku bermimpi bertemu lagi denganmu, Om," kata Bintang saat melihat wallpaper telepon genggamnya yang menampilkan dirinya dan Ghazali yang sedang tersenyum. Semalam Bintang merubah wallpaper di handphone-nya dengan foto dia dan Ghazali.
"Tadi itu terasa sangat nyata … apa karena aku sangat merindukannya?" gumam Bintang sambil melihat telepon genggamnya.
Bintang pun dengan cepat pergi dari gedung perpustakaan kota, karena punya janji dengan Aria untuk bertemu dengannya di taman kota. Namun dia akan mampir dulu ke cafe tempat dia dan teman-temannya makan siang bersama.
Ghazali pun mengikuti Bintang yang berjalan dengan cepat meninggalkan gedung perpustakaan. Dia mengikuti Bintang yang masuk ke cafe yang kemarin di datangi bersama teman-temannya. Saat itulah Amara dan Andre melihat Ghazali yang masuk ke cafe.
********
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
__ADS_1
TERIMA KASIH.