
Satria yang menunggu Langit dan Bintang di bawah pohon, tapi tidak ada turun juga ke bawah. Maka Satria pun menaiki pohon itu untuk mengetahui keadaan di atas.
Saat Satria sampai ke atas balkon kamar utama. Dilihatnya keadaan kamar yang sudah rusak parah. Dengan langkah perlahan, Satria mencari keberadaan Langit dan Bintang. Ketika dia melihat Ada mayat seorang lelaki bule yang tergeletak di lantai dekat pintu kamar. Satria memeriksa keadaan laki-laki bule itu, takutnya cuma pingsan. Tapi setelah diperiksa ternyata dia beneran sudah tewas. Satria pun melanjutkan langkahnya keluar kamar, dan dia juga menemukan seorang laki-laki lagi yang sudah tewas dekat kamar Bintang dengan kepala yang terkena tembakan. Keadaan kamar Bintang juga sangat berantakan, Satria merasa was-was takut terjadi sesuatu kepada Langit dan Bintang. Satria pun menuruni anak tangga dan banyak darah disana.
Tiba-tiba ada sebuah peluru mengarah kepadanya. Untung saja Satria cepat-cepat menunduk dan peluru itu keset. Tak lama terdengar tembakan lagi, rupanya Langit membalas tembakan musuh yang tadi mau menembak Satria.
" Kak Langit." Satria cepat-cepat menuruni anak tangga itu dan bergabung dengan Langit.
" Kalian harus cepat pergi dari sini!" Perintah Paramitha kepada mereka bertiga.
" Kita akan membantu Ayah dan Pak Dirman dulu." Kata Langit sambil memegang tangan ibunya.
" Tidak, kalian harus cepat pergi dari sini sekarang juga." Dengan nafas yang terputus-putus Paramitha meminta anaknya untuk pergi.
" Ibu, Ayah butuh bantuan kita dia sudah terdesak." Kata Bintang yang sedang mendengarkan kata-kata Ayahnya lewat earphone, kalau dia yang sudah kehabisan peluru di pistolnya.
" Tidak! Apapun yang terjadi pada kita. Kalian harus bisa menyelamatkan diri!" Tolak Paramitha atas permintaan Bintang.
" Jangan kalian sia-siakan pengorbanan kami!" Tangannya terulur ke arah ketiga anak itu, memegang satu per satu wajah mereka bertiga. Paramitha menangis tersedu-sedu diantara nafasnya yang sudah berat. Langit yang merasa sudah tidak ada harap untuk hidup pada ibunya, dia juga ikutan menangis.
" Satria bawa Bintang keluar duluan, nanti aku menyusul. Cepat!" Langit mendorong Bintang dan Satria ke arah balkon di lantai dua yang dekat dengan pohon jambu air. Ada dahan yang menjulur ke sana bahkan kita bisa memetik buahnya saat berdiri di balkon itu.
" Kak Langit! Janji harus menyusul kita!" Teriak Bintang saat ditarik paksa oleh Satria. Langit hanya tersenyum menanggapi keinginan adik bungsunya itu.
" Maaf, Bintang. Kakak nggak bisa berjanji kepadamu. Kakak ingin kamu bisa selamat saja sudah membuat Kakak bahagia." Kata Langit sambil melihat Bintang dan Satria menuruni pohon jambu air.
__ADS_1
*******
Langit pun turun ke lantai satu dengan membawa dua pistol di tangannya. Sedangkan Paramitha ditinggalkan di lantai dua sendirian. Saat Langit tiba di lantai satu dilihatnya Pak Dirman sedang diinjak dadanya oleh laki-laki berbadan besar dan pistolnya diarahkan ke kepalanya. Langit pun mengarahkan pistolnya ke arah laki-laki itu. Di waktu bersamaan pistol itu menembakan pelurunya mengarah kepada sasarannya masing-masing.
Tembakan laki-laki itu mengenai kepala Pak Dirman, dan tembakan Langit mengenai kepala laki-laki itu. Dan keduanya kini terbaring tak bergerak. Langit menangisi kepergian Pak Dirman, sehingga dia tidak tahu kalau ada peluru yang mengarah kepadanya juga.
" Langit….! Awas….!" Lazuardi menghalangi peluru yang mengarah kepada anak sulungnya. Dia menjadikan tubuhnya sebagai tameng untuk melindungi Langit dari dua orang yang menembak secara membabi buta.
" Ayah….!!!" Teriak Langit dan langsung membalas tembakan kepada dua orang itu dan mengenai tubuh dan kaki mereka.
Paramitha yang mendengar teriakan suara suaminya, memanggil nama anak sulung mereka, bersamaan dengan suara tembakan yang beruntun. Berusaha sekuat tenaga menuruni anak tangga dengan merangkak. Secepat yang dia bisa, dan tindakannya itu membuat sepanjang jalan yang di lewatinya penuh dengan darah.
Hati Paramitha terasa sakit saat terdengar teriakan Langit memanggil Ayahnya. Setelah terdengar beberapa suara tembakan secara beruntun. Dan di ikuti oleh suara tembakan beruntun yang lainnya.
*******
Ribut yang terkena beberapa tembakan di badan dan kakinya. Memilih cepat-cepat masuk kedalam mobilnya. Sedangkan yang menyalakan api adalah laki-laki bule yang juga sama-sama sudah kena beberapa tembakan dibadannya. Bahkan pelipisnya juga kena peluru yang meleset saat akan mengenai kepalanya. Api menyambar dengan begitu cepat membakar rumah Dokter Lazuardi. Lebih dari sepuluh jirigen berukuran besar, bensin yang disiramkan ke rumah Lazuardi.
Setelah menyalakan api laki-laki bule itu masuk kedalam mobil yang sudah ditumpangi oleh Ribut. Dia menyalakan mesin mobilnya dan langsung kabur dengan kecepatan tinggi. Tanpa mereka sadari kalau rem mobilnya sudah dirusak dan tangki bahan bakarnya sudah bocor.
*******
Langit yang sedang memangku kepala Ayahnya di pangkuannya. Menangis dan meminta ayahnya untuk bertahan.
" Langit cepatlah kamu pergi dari sini. Selamatkan dirimu, dan jagalah adik-adikmu." Kata Lazuardi sambil menatap Langit penuh harap.
__ADS_1
" Tidak Ayah, aku akan membawa Ayah dan Ibu keluar dari sini." Langit berusaha membangunkan tubuh Ayahnya yang bersimbah darah.
" Tidak....Ayah rasa….sudah waktunya…. tiba." Ucap Lazuardi dengan terbata-bata.
" Pergilah…. Selamatkan diri….mu!"
" Jangan…. sia-siakan….pengorbanan….kami!" Kata Lazuardi dengan suara yang makin melemah.
Langit merasa ada seseorang yang menepuk punggungnya. Dilihatnya dari arah belakang ada ibunya yang merangkak dekat dirinya. Paramitha memaksakan dirinya, menggunakan sisa-sisa tenaga terakhirnya untuk menuruni anak tangga menuju lantai satu. Demi melihat keadaan anak sulungnya, dan suaminya tercinta. Harapannya adalah ingin melihat orang-orang yang dia cintai dan sayangi itu dapat hidup. Tapi saat melihat keadaan suaminya, sepertinya tidak ada harapan. Tak ada bedanya, sama seperti dirinya.
Paramita mendekat kearah suaminya dan memegang tangan suaminya,dan tangan mereka saling menggenggam satu sama lainnya. Sebelah tangan Lazuardi memeluk tubuh istrinya. Begitu juga dengan Paramitha, dia membalas pelukan dari suaminya. Kedua pasang mata itu saling memandang mengunci satu sama lain. Terlihat pancaran rasa cinta dan sayang untuk pasangannya itu. Dan senyuman pun terbentuk dari kedua bibir orang yang sudah paruh baya itu. Langit yang melihat akhir dari kedua orang tuanya, yang pergi dengan rasa ikhlas dan bahagia. Hanya bisa menangis histeris, meluapkan rasa kesedihannya.
Karena api sudah menjalar dan menutupi seluruh lantai satu. Maka Langit pun naik ke lantai dua, dan akan turun lewat pohon jambu seperti Bintang dan Satria tadi.
Karena kesedihan yang teramat sangat, ketika menyaksikan kematian orang-orang yang disayanginya. Membuat Langit merasa tertekan karena tidak bisa menolong mereka. Ketika berlari dari rumahnya pun dia tidak tahu arah yang sedang dituju olehnya.
*******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
BUNGA ATAU KOPI JUGA BOLEH ITU MEMBUAT AKU TAMBAH SEMANGAT.
TERIMA KASIH.
__ADS_1