
Bintang yang masih cemberut karena ulah jahil Ghazali kini hanya diam. Dia nggak merespon apapun yang diucapkan oleh Ghazali. Erlangga yang melihat semua itu, hanya bisa tertawa tertahan saat melihat kelakuan Ghazali.
"Rasain!" Kata Erlangga tanpa suara, kepada Ghazali, dan itu malah membuat Ghazali makin gemas.
"Sudah, jangan marah lagi. Katanya sudah gede, tapi masih kekanakan begini. Mudah marah hanya digoda sedikit," kata Ghazali sambil memegang tangan Bintang, tapi dengan cepat Bintang menepis tangan Ghazali agar tidak menyentuhnya.
Bintang langsung berdiri dan berjalan ke arah dapur. Marah sama Ghazali membuatnya haus dan lapar. Melihat Bintang beranjak dari sofa, membuat Ghazali langsung mengikutinya.
"Kenapa lagi Bintang? Apa dia marah sama Ghaza?" tanya Mentari yang baru datang bersama Pelangi habis dari halaman belakang, kepada Fatih yang sedang duduk di sofa yang berhadapan dengan sofa yang diduduki oleh Ghazali dan Bintang.
"Biasalah Ghaza selalu begitu kalau sama Bintang. Sering menjahilinya, bila Bintang sudah marah, dia sendiri yang pusing," jawab Fatih tentang kelakuan adik kandungnya itu.
"Sebenarnya yang kekanak-kanakan disini itu Bintang apa Ghaza, sich?" Pelangi bertanya kepada orang yang ada di ruangan itu.
"Keduanya!" jawab mereka semua serempak.
Sementara di dapur, Bintang yang sedang minum air dikejutkan oleh pelukan Ghazali dari belakang. Sehingga air yang ada di mulutnya menyembur keluar.
"Om Ghaza! Apa-apaan sich!" Bentak Bintang kepada Ghazali yang masih memeluknya erat.
"Maafkan aku, Bintang. Aku janji nggak akan melakukan itu padamu lagi," Ghazali memohon dengan suaranya yang lirih.
"Lepas!" Kata Bintang dengan suaranya yang mulai meninggi.
"Nggak akan aku lepas sampai kamu mau mau memaafkan ku," balas Ghazali.
"Apa Om, tahu bahwa perkataan Om tadi telah melukai hatiku!" Bintang berbicara dengan suaranya yang bergetar menahan tangisnya.
Mendengar suara Bintang yang bergetar karena menahan tangisannya membuat Ghazali membalikan tubuh Bintang, dan kini dia memeluknya dari depan.
__ADS_1
"Maafkan aku," jawab Ghazali lirih, "Aku salah, kamu memang pantas untuk menjadi istrinya Aria. Karena Bintang adalah wanita yang Sholeha."
"Bintang tidak merasa sudah jadi wanita Sholeha. Namun selalu berusaha menjadi yang lebih baik lagi dari waktu ke waktu. Bintang juga tahu masih kekanak-kanakan, belum dewasa. Sekarang Bintang sedang belajar untuk menjadi istri yang pantas untuk Om Aria. Apa yang dikatakan Om Ghaza tadi membuat aku merasa semua usahaku sia-sia." Bintang berkata sambil menangis, dan membiarkan Ghazali memeluknya.
Ghazali merutuki dirinya karena kebodohannya membuat hati Bintang terluka. Tadi Ghazali bilang kalau Bintang masih kekanakan belum pantas menjadi seorang istri, dan meminta Bintang disuruh belajar sama Mamanya, atau kakak iparnya.
Sebenarnya nggak salah juga Ghazali bilang begitu. Karena usia Bintang yang masih belia, baru berumur tujuh belas tahun. Dia masih kuliah juga, dan belum bisa mengurus urusan rumah. Tapi karena Bintang sedang datang bulan, jadi emosinya sensitif banget.
Dalam diri Ghazali yang ditakutkan adalah jika perkataan Erlangga itu adalah benar. Tanpa sadar kalau dihatinya rasa untuk Bintang itu sudah ada. Ghazali juga sering bilang, kalau Bintang itu baginya masih anak kecil, tapi hatinya berkata lain. Kadang jantungnya bertalu-talu saat melihat Bintang tersenyum dan memanggil namanya, tapi kadang biasa saja. Saat Bintang membanggakan Aria didepannya, dia merasa tidak suka mendengarnya.
Hubungannya dengan Amara pun sudah terasa hambar sejak lima tahun belakangan ini. Apalagi selama hampir sepuluh tahun Ghazali menghabiskan waktunya kuliah di Jerman. Teman-temannya sudah banyak yang bilang kalau Amara sering terlihat jalan bareng sama Andre yang merupakan sahabatnya sejak kecil. Saat kedua orang itu ditanya masalah ini, mereka menyangkalnya.
"Ayo bilang Bintang ingin apa? Agar marahnya hilang," tanya Ghazali sambil mendongakkan wajah Bintang agar menghadapnya. Dihapusnya air mata di pipi Bintang oleh ibu jarinya. Bintang malah menggelengkan kepalanya, karena masih marah.
"Kita main ke Mall?!" Ajak Ghazali sambil tersenyum manis kepada Bintang. Seperti terhipnotis oleh senyuman Ghazali, akhirnya Bintang menganggukan kepalanya.
"Yes!" Saking senangnya Ghazali tanpa sadar mencium mata dan bibir Bintang yang memerah karena habis menangis.
"Om … " panggil Bintang lirih, ketika tautan mereka sudah lepas.
"Untuk yang barusan aku nggak akan minta maaf," kata Ghazali dengan suaranya yang lembut dan menatap Bintang.
"Kak Bintang!" Dua anak kecil berlari kearah Bintang dan Ghazali.
"Rayyan … Rayhan …." Panggil Ghazali saat melihat ada kedua anak kembar keponakannya itu.
"Eh, Om Ghaza dicari sama Oma di depan!" Kata Rayuan sambil menunjuk ke arah luar dapur. Ghazali pun pergi dari dapur. Dalam hatinya dia berterima kasih kepada kedua keponakannya yang sering membuat rusuh dirinya. Karena bisa terlepas dari rasa canggungnya antara dia dan Bintang.
"Kalian habis dari mana, kok baru sampai?" tanya Bintang kepada adik sepupunya itu.
__ADS_1
"Habis dari rumah Kakek Ja'far!" jawab Rayhan dengan penuh semangat.
"Ngapain saja kalian saat di rumah Kakek Ja'far?" tanya Bintang lagi agar pikirannya lepas dari Ghazali.
"Kasih makan ikan yang banyak, terus memancing ikan yang besar, terus bakar ikannya," celoteh kedua anak kembar yang belum genap empat tahun itu.
Mentari menikah dengan Fatih, setelah perceraiannya dengan William. Kini mereka memiliki dua orang anak kembar laki-laki yang lucu dan menggemaskan.
Saat tahu Mentari dan Gaya sedang mengandung, Cantika merengek kepada Alex agar diizinkan untuk punya anak lagi. Karena anaknya kebanyakan laki-laki, cuma Bintang saja anak perempuan satu-satunya. Meski Cantika sudah susah payah merayu Alex, bayi yang dilahirkannya laki-laki kembali meski tidak kembar. Jadi Alex dan Cantika punya lima anak laki-laki dan satu anak perempuan.
"Oma … Opa … " panggil Bintang saat melihat Aurora dan Khalid. Mereka langsung berpelukan.
"Kenapa tidak bilang-bilang kalau kamu sudah berada di Indonesia?" tanya Aurora sambil mengelus kepala Bintang.
"Sebenarnya Bintang datang kesini habis dari Jepang sama Langit. Karena rindu sama Om Aria, jadi dipercepat kedatangannya kesini," jawab Bintang.
"Tuh dengar Ghaza, Bintang sudah mau menikah sama Aria. Lalu kamu kapan akan menikah?" tanya Aurora kepada Ghazali yang duduk di sofa sambil memainkan handphone-nya.
"Terserah mereka saja, toh mereka yang akan menjalaninya," Ghazali malah sewot saat ditanya begitu.
"Hei, Ghaza mana sopan santun mu! kepada orang tua," suara Aurora menggelegar di ruang keluarga Erlangga.
"Sudah, Mah. Ghaza lagi cemburu," bisik Fatih kepada Aurora.
"Eh,"
*******
MAMPIR KE KARYA BARU AKU,
__ADS_1
Kisah Poligami: Mentari menjadi madunya Zahra.