Trio Kancil

Trio Kancil
BAB 56


__ADS_3

Cerita masih Flashback,


     Budiono sedang berdiri di balkon kamarnya yang berada di lantai tiga. Dia melihat sebuah mobil yang dikenalinya menepi di depan pintu gerbang depan rumahnya. Dilihatnya Gunawan turun dari mobil itu. Kemudian mobil itu melaju kembali meninggalkan pekarangan rumahnya. Budiono cepat - cepat turun untuk menemui anaknya. Ingin tahu kenapa Gunawan bisa ikut mobil Yusuf.


" Gunawan, Papi tadi lihat kamu pulang naik mobil ?!"


" Iya, Pih. Motor Gunawan mogok saat di Bandung, kebetulan ada Pak Yusuf yang berbaik hati membolehkan Gunawan ikut pulang."


" Pih, motor Gunawan yang sedang di bengkel itu. Nanti bila sudah beres akan di titipkan di kantor perusahaan Papi cabang Bandung."


    Budiono sebenarnya agak was - was saat melihat mobil Yusuf berhenti di depan gerbang rumahnya tadi.


" Kamu cerita apa saja sama Pak Yusuf, saat di perjalanan pulang tadi ?" Budiono ingin sekali tahu apa saja yang mereka bicarakan. Dia takut kalau Yusuf membicarakan tentang dirinya dengan Gunawan.


" Ya cerita masalah yang di hadapi sama Gunawan, Pih."


" Kamu cerita semuanya pada Pak Yusuf ?" Budiono masih mengorek anaknya.


" Ya, tentang Gunawan yang difitnah menghamili Maya. Maya yang seorang diri menghadapi cibiran tetangganya, karena hamil di luar nikah. Karena Ayahnya sudah meninggal menyusul Ibunya yang meninggal satu tahun lalu." 


" Kamu bercerita kalau ayahnya Maya telah meninggal ?" Budiono begitu terkejut.


" Iya, Ayahnya yang meninggal di temukan di tangga darurat Hotel Matahari, beberapa bulan yang lalu."


Derrrr


    Bagai disambar petir, Budiono begitu terkejut sekaligus takut. Saat mendengar penuturan anaknya. Keringat mulai bermunculan di pori - pori kulit wajahnya. Wajahnya mendadak pucat.


" Terus apa tanggapan Pak Yusuf, mengenai kematian Ayahnya Maya ?"


" Pak Yusuf bilang kalau semua yang bernyawa pasti akan merasakan yang namanya mati."


     Budiono mulai merasakan tubuhnya bergetar. Dia lekas berdiri dan akan kembali ke kamarnya.


" Oh, ya Pih. Tadi Pak Yusuf sedang bersama temannya yang seorang polisi. Dia menyarankan untuk melaporkan Joni ke daftar pencarian orang."


    Budiono merasakan kepalanya menjadi sakit, serasa telah di hantam pakai Godam. Keringat juga sudah membasahi tubuhnya. Dia menaiki anak tangga dengan langkah berat. Setelah sampai di kamarnya, dia menelepon temannya yang juga seorang polisi.


" Baharudin, aku harus bagaimana?"


" Ada apa "


" Tadi Gunawan menceritakan tentang kematian ayahnya Maya pada Yusuf. Dan kebetulan juga dia sedang bersama seorang polisi."

__ADS_1


" Siapa nama polisi itu ?"


" Aku tidak tanya namanya siapa. Yang jelas dia adalah polisi yang sedang menjalankan tugasnya mengantarkan Yusuf ke Bandung, hari ini."


" Ok, akan aku cek nanti "


" Bagaimana kalau kejadian itu ke bongkar ?"


" Tenang saja semuanya akan aman."


" Baik aku percayakan semuanya padamu." Budiono mengakhiri panggilan telephone dengan Baharudin.


                 * * * * * * *


     Lima hari setelah kepulangan Gunawan dari Bandung. Budiono mendapat kabar dari Gunawan kalau polisi yang membantunya itu di temukan meninggal dunia tepi jalan. Di duga polisi itu menjadi korban begal. Karena kendaraan bermotornya yang biasa dia pakai tidak di temukan. Gunawan sangat terpukul akan kejadian itu. Padahal kemarin sore Gunawan bertemu Awan dan berterima kasih padanya. Karena berkat polisi itu Gunawan bisa menemukan Joni, dan memasukannya ke dalam penjara atas tindakan pemerkosaan dan perbuatan tak menyenangkan, serta memberikan kesaksian palsu atau memfitnah Gunawan.


Budiono kemudian mendatangi rumahnya Baharudin dan menanyakan masalah kasus pembegalan yang terjadi pada seorang polisi.


" Baharudin apa kamu yang membunuh polisi yang bernama Awan ?"


" Iya, mungkin lebih tepat lagi kalau adik anda, Bagus yang mengeksekusinya. Awan, kita lenyapkan karena dia sudah tahu kalau Damar meninggal bukan karena kecelakaan, tapi karena di bunuh."


" Apa maksud kamu ?"


" Kamu tahu itu dari mana ?"


" Aku mendengarnya sendiri. Saat dia sedang menelepon seseorang di kantor tiga hari yang lalu."


" Tapi kenapa kamu membunuhnya !"


    Budiono merasa gusar akan tindakan yang di lakukan oleh teman dan adiknya itu. Karena untuk menutupi satu kesalahan dirinya, dia harus membuat kesalahan lainnya. Padahal dengan kematian Damar, membuat hidup Budiono tidak tenang.


" Karena nama aku pun akan terseret dalam kasus ini. Dan aku tidak mau masuk penjara."


" Terus apa kamu sudah mengantongi bukti yang telah didapatkan oleh polisi itu."


" Hanya sebuah buku catatan yang merangkai kejadian pada hari itu. Dan dia juga sudah curiga kalau yang selama ini menguntit Yusuf adalah pelaku pembunuh Damar."


" Aku sangat kesal, kenapa sekarang menjadi begini keadaannya !"


" Wajar saja, bila kita ingin menutupi kejahatan kita, maka kita akan membuat kejahatan yang baru untuk menutupinya."


" Kalau begitu cukup sampai disini. Kita akhiri semuanya !" Budiono sudah tidak akan sanggup lagi bila harus membuat kejahatan baru lagi. Sekarang dirinya pasrah bila ada yang melaporkannya.

__ADS_1


" Tidak bisa, kita harus menuntaskan semuanya. Agar kita semua aman. Kamu tenang saja karena ada anak buah Bagas yang selalu terus mengawasi Yusuf selama dua puluh empat jam.


* * * * * * *


Budiono hari itu sedang duduk bersama Dewi di kursi halaman belakang sambil menikmati pemandangan taman bunga yang sedang bermekaran. Kemudian terdengar Gunawan memanggilnya, dan memberitahu bahwa Yusuf dan istrinya telah meninggal karena kecelakaan saat pulang dari Surabaya. Dan dia akan pergi melayat ke rumahnya.


     Mendengar itu kemudian Budiono menelepon Baharudin dan menanyakan tentang kecelakaan itu.


" Aku dengar kalau Yusuf telah meninggal karena mengalami kecelakaan ?"


" Iya, dan aku yang melakukannya. Karena dia mulai menyelidiki masalah yang terjadi padanya akhir - akhir ini. Dan sebelum dia mengetahuinya lebih jauh maka lebih baik kalau kita singkirkan saja secepatnya."


" Aku tidak suka, kalau kamu mempermainkan nyawa seseorang seperti tidak ada artinya."


" Hei Budiono apa kamu tahu, kalau Bagus yang meminta aku untuk melenyapkan Yusuf bila ada kesempatan. Dan dia akan memberi ku uang yang banyak."


Flashback off.


\* \* \* \* \* \* \*



Semua orang yang sedang berada di ruangan itu terdiam hanyut akan cerita Budiono. Cantika tidak bisa membendung lagi air matanya yang telah menumpuk di kelopak mata indah miliknya.


" Kenapa Papi tak pernah cerita kepada Mami soal masalah ini ?"  Tanya Dewi sambil berurai air mata.


" Karena keadaan saat itu Papi dalam ketakutan."


" Sebenarnya anda adalah orang bodoh yang pernah saya temui." Kata Alex tajam.


     Mendengar ucapan Alex, Budiono tidak terima akan penghinaan terhadap dirinya itu.


" Apa maksud anda ?"


" Anda ingin tahu kebenarannya ?" Alex membuka laptop yang sejak tadi dibawanya.


" Inilah fakta yang luput dari kebenaran atas kesalahan Anda itu" Kata Alex sambil memperlihatkan isi laptopnya.


\* \* \* \* \* \* \*


Jangan lupa klik like, favorit, hadiah, dan vote.


Dukungan kalian sangat berarti buat ku.

__ADS_1


   


__ADS_2