Trio Kancil

Trio Kancil
#ANGKASA 11


__ADS_3

     Angkasa menatap Chelsea yang sejak tadi bergelayutan padanya. Ada rasa iba terhadap bayi itu, di umurnya baru satu tahun, dia harus kehilangan orang tuanya. Angkasa belum juga mendapatkan informasi tentang orang yang bernama Caracas dan Madrid. Apakah itu nama asli atau samaran? Orang Jerman atau bukan? Peter juga belum mendapatkan informasi apapun. Padahal ini sudah seharian mereka mencari semua hal tentang mereka.


     Chelsea turun dan bermain sendiri di karpet bersama beberapa jenis mainan yang Angkasa sempat beli dulu. Chelsea yang asik bermain dan sesekali dia memanggil papa, kepada Angkasa. Angkasa perhatikan wajah ceria Chelsea yang sedang memainkan mobil. Angkasa pun akhirnya, turun dari sofa, dan ikut bermain dengan Chelsea.


     Suara bel berbunyi, maka Angkasa pun melihat siapa tamu yang datang. Ternyata Paris yang membawa sesuatu. Angkasa pun membuka pintunya dan membiarkan Paris masuk. Ternyata yang dibawa adalah pizza dan burger, yang sengaja dia pesan untuk dimakan bersama.


"Jangan protes, kita makan malam bersama!" kata Paris saat Angkasa hendak membuka mulutnya.


"Makan lah, makanan yang sehat! Jangan biasakan makan junk food," pungkas Angkasa.


"Aku lelah kalau harus masak. Seharian ini aku berbenah. Tenagaku terkuras," kata Paris sambil memasang wajah memelas.


"Asuh saja Chelsea, biar aku yang masak," kata Angkasa.


     Paris langsung berbinar-binar saat mendengar, Angkasa akan memasak untuknya. Senyum kebahagiaan tidak bisa disembunyikan dari wajahnya yang cantik. Biasanya Paris kalau sedang dalam mode happy, dia akan melompat ke dalam pelukan Angkasa. Hanya saja saat ini dia tidak boleh melakukan itu lagi, atau Angkasa akan marah padanya.


     Angkasa pun mengeluarkan bahan-bahan untuk membuat sup kentang, iga bakar dan salad buah. Segala tindakan yang dilakukan oleh Angkasa, tidak luput dari perhatian Paris. Punggung Angkasa terlihat begitu menggoda di mata Paris. Dia sudah sangat ingin sekali memeluknya dari belakang. Lengan kokoh yang lincah mengolah bahan-bahan masakan itu, membuat Paris ingin bergelanyut mesra.


"Ma-ma ... Ma-ma!" panggil Chelsea kepada Paris sehingga membuyarkan lamunan indahnya.


"Eh, iya, Sayang. Ada apa?" tanya Paris dan turun ke lantai bermain bersama.


    Paris pun akhirnya main dengan Chelsea, menuruti apa mau si bayi. Sampai Angkasa, memanggil mereka. Paris pun dengan sigap menjawab dan menghampiri Angkasa di meja makan. Sup kentang, iga bakar dan ada dua mangkuk salad buah sudah tersaji di meja.


"Wah, Angkasa, memang benar-benar hebat!" pekik Paris penuh kekaguman dan bangga kepada pujaan hatinya.


    Angkasa yang tadinya tersenyum menyambut Paris dan Chelsea. Hilang saat lagi-lagi Paris, memanggil namanya dengan Angkasa. Sekarang, dia baru sadar kalau panggilan 'Darling' adalah hal yang dia sukai. Dia merasa kalau Paris sangat mencintai dirinya. Namun, ketika memanggilnya dengan nama, seakan ada batas jarak yang memisahkan. Angkasa juga baru sadar. Tidak menyukai itu.

__ADS_1


"Honey!" panggil Angkasa dengan suara lirih dan sangat pelan.


     Panggilan sayang dari Angkasa, untuk Paris dahulu. Itu terjadi saat dia kalah taruhan sama, Bintang. Hukumannya harus memanggil Paris, dengan 'Honey' selama satu bulan full, tanpa ada kesalahan panggilan satu kali pun. Bila dilanggar akan ditambahkan satu hari. Alhasil, Angkasa memanggil Paris dengan sebutan 'Honey' selama enam bulan. Entah disengaja atau tidak, hanya Angkasa yang tahu.


     Walau cuma gumaman lirih, Paris dapat mendengar panggilan itu. Ada rasa haru dan bahagia yang dirasakan oleh Paris. Dia rindu dipanggil 'Honey' oleh Angkasa. Diletakkan Chelsea di meja bar dekat Angkasa berdiri. Paris pun berdiri berhadapan dengan Angkasa. Tubuh Paris dan Angkasa perbedaan tingginya, sebatas dagu. Paris menatap dan menantang Angkasa. Keduanya saling mengunci, baik Paris dan Angkasa punya satu pikiran, hanya saja keduanya tidak berani memulainya.


"Darling." Suara pelan keluar dari bibir ranum berwarna merah segar, mengalun dengan melodi yang terdengar indah.


"Honey." Panggilan yang sudah sangat lama, tidak lagi didengar oleh Paris.


     Air mata bahagia Paris langsung meluncur jatuh membasahi pipinya. Dia rindu akan panggilan itu lagi. Dulu, dia selalu bilang kepada Bintang, kalau Angkasa melakukan kesalahan atau lupa memanggil dengan 'Honey'. Hasilnya selama satu semester dia dipanggil 'Honey' oleh Angkasa.


     Paris melangkah dengan pelan sampai tubuhnya menempel dengan Angkasa. Paris menjinjitkan kakinya, ingin menggapai tujuan yang sejak tadi menjadi fokusnya. Mereka berdua, saling bisa merasakan hembusan napas.


"Ma-ma ... Pa-pa!"


'Padahal, tinggal sedikit lagi!', gumam kedua orang itu sangat kecewa.


     Akhirnya, mereka makan dengan tenang. Wajah mereka masih saja merah, meski sudah beberapa menit berlalu. Hanya ada suara Chelsea saja yang terdengar di ruangan itu.


*******


"Biarkan Chelsea tidur denganku malam ini," kata Angkasa saat melihat bayi itu sudah tidur di pangkuan Paris.


"Hm, biar sama aku saja!" Paris melirik ke arah Angkasa yang duduk disampingnya.


"Tidak boleh membantah! Mulai sekarang jangan biarkan Chelsea selalu bergantung kepadamu. Ini demi kebaikannya juga. Kita tidak tahu apa dia masih punya keluarga atau tidak. Akan sulit nanti, jika Chelsea, diambil sama keluarganya lagi." Angkasa yang duduk berdempetan menatap Paris, dengan sungguh-sungguh.

__ADS_1


     Mata Paris langsung berkaca-kaca dan bibirnya bergetar menahan tangis. Dia merasakan takut kehilangan Chelsea. Seakan dia adalah ibu kandung, dan Chelsea itu anaknya.


"Aku nggak mau. Chelsea adalah anakku!" Air mata Paris, meluncur membasahi pipinya yang mulus.


     Angkasa pun menghapus air mata di pipi Paris, dengan lembut. Ada rasa iba juga melihat Paris yang sudah sangat menyayangi Chelsea.


"Tapi, keluarganya 'lah yang berhak." Angkasa berkata dengan berbisik dan Paris semakin kencang menangisnya, sehingga membuat Chelsea, terbangun dan ikut menangis.


     Angkasa pun membawa Chelsea ke pangkuannya. Serta, Paris dalam pelukannya. Kedua orang itu akhirnya diam sambil memeluk Angkasa.


"Apa nanti akan begini, jika aku punya istri dan anak?" gumam Angkasa.


"Harus bisa membuatnya tenang, selain harus bisa membahagiakan perasaannya," lanjutnya dalam hati.


     Tidak sampai sepuluh menit, keduanya sudah tertidur. Akhirnya, Angkasa pun membawa mereka ke kamar tidurnya. Dia membaringkan Chelsea, kemudian kembali membopong tubuh Paris dan menidurkannya di atas kasur. Satu kecupan diberikan di kening Chelsea. Lalu, Angkasa ragu mau memberikannya juga untuk Paris. Namun, godaan bibir merah milik Paris, menjadi magnet bagi Angkasa, diciumnya bibir ranum milik Paris. Bukan hanya sekali, dia melakukannya. Angkasa seolah terhipnotis oleh kelembutan struktur bibir Paris, sehingga ingin merasakannya lagi dan lagi, sampai dia merasa puas.


*******


Efek Kelas sedang belajar Adult Romance, si Angkasa jadi korban :)


*******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAVORIT, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.

__ADS_1


__ADS_2