Trio Kancil

Trio Kancil
BAB 18


__ADS_3

Cantika dan Mentari duduk di meja paling pojok, karena tidak mau pembicaraannya terganggu. Cantika menceritakan semua kejadian apa yang terjadi pada hari kemarin. Dan Mentari hanya melongo dan sesekali menimpali ucapan Cantika.


" Jadi rencananya hari ini, setelah anak - anak pulang sekolah mau melakukan tes DNA ? Apa mbak sudah memberi tahu Ayah dan Bunda ( Ja'far dan Sinar) mengenai ini semua ? " , Mentari melihat Cantika dengan penuh selidik.


" Astagfirullah... Kok aku sampai lupa. Karena terlalu banyak pikiran, jadi hal penting malah terlupakan ! " Cantika memegang kepala dengan kedua tangannya.


" Apa Paman sama Bibi nggak lagi sibuk jam segini ? " Cantika sangsi mau menghubunginya takut mengganggu.


" Telepon aja ke kantor ", Kata Mentari.


     Dan Cantika pun menelepon Pamannya itu dan menceritakan semuanya. Tentu saja Pamannya begitu terkejut. Dan dia mendukung untuk tes DNA, dan apapun hasilnya nanti dia akan memastikan kalau Cantika dan anak - anaknya tak akan berpisah. Dan tak akan ada yang bisa memisahkan mereka.


    Cantika pun merasa lega setelah menceritakan semua unek - uneknya yang ada di hati dan pikirannya itu kepada saudara kembar ibunya.


               * * * * * * *


     Saat Alex mengantarkan anaknya kesekolah tadi pagi, dia bertemu dengan gurunya yang waktu masih duduk di SD dulu. Ternyata sekarang gurunya itu telah menjadi Kepala Sekolah dimana tempat anak - anaknya belajar.


     Alex duluan yang mengenali sosok wanita yang sudah tua itu. Bu Wati namanya, guru paling sabar kala itu. Saat mengajar anak - anak SD yang lagi aktif - aktifnya. Ingin tahu segala sesuatu atau berbuat sesuatu. Beliau tidak pernah marah atau kesal pada murid - muridnya. Apalagi Alex dan Fatih itu anak yang paling aktif, tidak mau diam, ingin tahu ini - itu. Ditambah William yang sering berbuat ceroboh dan pengikut dan pendukung setia Alex dan Fatih.


     Alex duduk di ruangan kepala sekolah sambil banyak bercerita mengenai perjalanan hidupnya terutama tentang sekolahnya. Begitu juga Bu Wati bercerita perjalanan karirnya dari awal menjadi guru honorer di sekolahan elite swasta dulu tempatnya Alex sekolah sampai menjadi guru pegawai negeri. Dan sekarang baru tiga tahun menjabat sebagai Kepala Sekolah milik pemerintah, atau sering disebut Sekolah Dasar Negeri.


" Nggak nyangka kalau ketiga bocah kabar itu anak kamu, Lex ?! ", Kata Bu Wati.


" Padahal wajah mereka itu mirip banget sama aku waktu masih kecil " , jawab Alex tersenyum jenaka.


" Iya nggak cuma wajahnya, kepintarannya pun kayaknya turun dari kamu. Jahilnya juga, rasa ingin tahunya juga. Pokoknya tuh anak kaya kamu semua waktu kecil, nggak ada yang dibuang ", Jelas Bu Wati sambil terkekeh ketawa bahagia.


" Gimana kabarnya William ? Aduh jadi rindu saat - saat dulu jadinya ", masih ketawa Bu Wati bertanya keberadaan William.


" Kebetulan dia juga datang kesini,Bu. Tapi sekarang tidak tahu dimana. Karena semenjak datang kesini dia sibuk terus berwisata kuliner ", jawab Alex sambil tertawa.


" Ya, ampun. Tuh anak dari zaman dulu nggak berubah masih suka jajan !? ", Bu Wati tertawa sambil menggelengkan kepalanya.


" Teeeet " ,


" Teeeet " ,


" Teeet " ,


     Suara bell tanda istirahat menghentikan pembicaraan keduanya. Tidak terasa waktu cepat bergulir. Padahal mereka merasa baru sebentar bicara. Kalau membicarakan masa lalu, apalagi itu kenangan yang indah tak akan berasa, sudah banyak menghabiskan waktu.


     Alex dan ketiga anaknya makan bersama, bekal yang mereka bawa. Mereka memilih makan di taman dekat perpustakaan. Karena tempatnya sejuk dan tidak banyak orang yang berlalu lalang disana. 

__ADS_1


     Awalnya mereka terkejut saat Alex berdiri di depan pintu kelas mereka. Karena mereka kira kalau Papanya itu akan pulang dulu. Baru nanti akan menjemput saat pulang sekolah.


     Mereka menghabiskan waktu istirahat mereka disana , makan dan bercanda sampai bel masuk berbunyi.


                   * * * * * * *


     Sesaat setelah Cantika berteleponan dengan Pamannya, ketiga anaknya masuk berlarian sambil tertawa. Dan di belakangnya ada Alex yang tersenyum melihat tingkah mereka.


" Assalammu'alaikum, Mama !!!! " mengucapkan salam bersamaan.


" Wa'alaikumsalam " , jawab Cantika dan Mentari bersamaan.


" Eh, kesayangannya Tante Mentari sudah pulang. Gimana tadi disekolah ? ", Tanya mentari menyambut ketiga ponakannya itu.


" Biasa aja Tante " , jawab Angkasa sekenanya.


" Nggak, hari ini menyenangkan sekali karena ada Papa yang nungguin kita   ! ", Bintang bicara sambil menarik tangan Alex. Dan dibalas dengan senyuman.


" Astagfirullah, ada bule ganteng banget !? " , Mentari terkejut saat melihat Alex yang berdiri disampingnya.


" Ih, Tante nggak boleh kecentilan sama Papanya Bintang ! ", ucap Bintang dengan mimik wajah yang menggemaskan.


" Enak aja. Papanya Langit juga !! ", kali ini Langit juga nggak mau kalah.


" Yang bener itu Papa kita bertiga !!! " Angkasa mengingatkan kembarannya.


" Eh si Trio Kancil udah pulang sekolah ", tiba - tiba Aria datang sambil membawa minuman yang diminta Cantika dan Mentari.


     Mata Aria menatap wajah Alex, ada rasa cemburu di hatinya.


" Biasa aja kali ngeliatnya. Kayak melihat makhluk langka aja !? " Mentari menggoda Aria yang merupakan junior di kampusnya.


 


" Apaan sich ... " Aria manyun.


" Hehehe... Kamu itu banyak saingannya ?, mana pada ganteng - ganteng semua lagi !? " , Mentari makin semangat menggoda Aria


" Om Aria jadi pacarnya Bintang aja !!!, Nanti kalau Bintang udah gede kita nikah !! ", Bintang tersenyum pada Aria.


     Sontak semua yang ada disana tertawa. Kata - kata yang diucapkan Bintang kadang terasa aneh untuk ukuran anak seusianya. Karena Bintang itu sering ikut pemotretan kerja sebagai model dan sehari - harinya sering dicafe, yang melibatkan orang dewasa, makanya omongannya seperti itu. Dewasa sebelum waktunya.


" Tuh dengar, sudah ada yang mau nge booking kamu ! " ,

__ADS_1


" Udah terima aja, nanti kita jadi keluarga ", Mentari tertawa sambil memegang perutnya.


     Sedangkan Aria yang menjadi pusat perhatian, malah memberangutkan wajahnya. 


" Iya, makannya Bintang cepat gede, biar biisa cepat di nikahi ! " , kata Aria.


" Dan untuk kakak seniorku yang selalu nemplok di tembok aku do'ain supaya dapat jodoh laki - laki yang sudah tua " kata Aria merasa jengkel melihat Mentari yang nggak berhenti tertawa.


" Eh tahu nggak, kalau yang tua itu lebih menggoda !? " kata Mentari masih tertawa.


" Iya kalau tuanya kayak Datuk Maringgih, masih mau ? " Aria balik menggoda Mentari


" Ih, amit - amit jabang bayi. Masih banyak yang masih muda " , Mentari sambil mengusap - ngusap perutnya.


" Assalammu'alaikum, ramai bener ,nih!? " Arga yang baru masuk ke cafe memberi salam.


" Wa'alaikumsalam " , mereka serempak menjawab salam dari Arga.


     Arga datang sambil membawa kotak bekal yang diberika Cantika tadi pagi - pagi.


" Kakak...? ", Aria terkejut saat melihat Arga datang dan berdiri didepannya.


" Aria lagi ngapain kamu...? Kok pake seragam karyawan cafe ?! " Arga memandang Aria dengan wajah heran.


     Dalam hati Aria merutuki Arga yang tiba - tiba datang. Bisa - bisa identitasnya kebongkar.


" Eh, Mas Arga kenal juga dengan Aria ? " tanya Mentari.


 


" Iya , dia itu adik sepupuku ", jawab Arga cepat. Belum sempat dicegah Aria.


     Dan Aria hanya diam membisu, tapi hatinya masih merutuki kakak sepupunya itu .


" Jadi kalian bersaudara ?! " tanya Alex, karena keduanya tidak ada mirip - miripnya.


" Ya, begitulah ", jawab Arga.


" Tunggu, apa Mas Arga bener saudaranya Aria ? " Cantika kali ini yang bertanya setelah sejak tadi diam saja menyaksikan interaksi orang - orang disana.


" Iya , dia anaknya Om Shaka Darmawangsa " , kata Arga membongkar identitas Aria tanpa sengaja.


     Aria benar - benar merasa marah, jengkel, malu, perasaannya campur aduk. Karena dia ketahuan telah berbohong. Terutama pada Cantika, dimana dia mengaku butuh pekerjaan untuk biaya kuliah dan dan sewa kamar kos.

__ADS_1


" Shaka Darmawangsa yang seorang pengusaha properti nomor satu ", kata Mentari menatap Aria tak percaya.


                   * * * * * * *


__ADS_2