
" Akira gunakan senjata andalan mu ! Dan naiklah ke lantai atas !"
" Maaf Bos, ini bisa sangat berbahaya. Apa tidak apa - apa aku menggunakannya di sini ?" Tanya Akira pada Alex.
" Asalkan kamu bisa fokus sama musuh - musuh mu." Kata Alex.
Akira berlari menaiki anak tangga sambil menenteng sebuah koper.
" Bos musuh menggunakan barang - barang buatan Kak Shin." Akira memberi laporan pada Alex begitu menginjak ujung anak tangga.
" Wow, ternyata musuh kali ini di lengkapi peralatan canggih !" Seru Alex tak percaya.
" Kalau begitu aku harus minta Papa Khalid menurunkan pasukannya !"
" Tunggu aku rasa itu tidak perlu ?" Akira berkata ragu - ragu.
" Apa maksudnya ?"
" Tidak ada senjata yang sempurna tanpa memiliki kekurangan," Kata Akira.
" Begitu juga dengan senjata buatan Kak Shin, bisa dikalahkan dengan waktu." Jawab Akira.
" Maksud kamu ?" Alex tidak mengerti.
" Mereka akan kehabisan oksigen, dengan kepala tertutup sepeti itu."
" Ada batasan isi tabung oksigen yang di pasang di punggung mereka."
" Kapasitasnya mungkin sekitar lima belas atau dua puluh menit."
" Setelah oksigen ditabungnya habis mereka akan membuka penutup wajahnya, karena harus menghirup udara dari luar kalau tidak mau mati kekurangan oksigen."
" Maka kita harus bertahan sebentar lagi. Setelah mereka membuka penutup wajahnya, kita incar bagian itu."
Akira menerangkan senjata produksi hasil karya Kakak kandungnya.
" Berarti kematian tidak bisa dihindari, dengan menembak bagian itu ?"
" Tergantung pada keberuntungan !" Teriak Akira sambil berlari menuju atap rumah Cantika.
* * * * * * *
Sementara di dalam kamar Erlangga, orang - orang disana terdiam tegang. Mereka terus mendengar suara barang - barang pecah saling bersahutan di lantai bawah.
Cantika memeluk ketiga anaknya dengan erat. Dia mencoba memberikan ketenangan kepada mereka. Walaupun dirinya sendiri merasa sangat takut.
" Pah, kita di rumah Kak Cantika sedang diserang oleh sekelompok orang tak dikenal." Lapor Ghazali pada Papanya lewat handphonenya.
" Papa akan kirim pasukan ke sana !" Jawab Khalid di sebrang sana.
" Hati - hati, Pah. Kayaknya mereka kuat. Karena dari tadi adu kekuatan senjata belum berhenti juga."
" Iya. Tunggu Papa kesana sekarang."
* * * * * * *
Sementara di lantai satu musuh sudah mulai memasuki dalam rumah.
" Semuanya hati - hati !!!"
" Musuh sudah ada yang masuk ke dalam rumah." Alex memberi peringatan kepada teman - temannya yang ada di bawah.
__ADS_1
Prang....!!!
Prang....!!!
" Akh....!" Teriak B, yang bahunya terkena tembakan lawan.
" B, kamu menghindari dari arah sana !"
" Merapatkan ke arah Michael." Perintah Alex.
" Akira apa sudah selesai persiapannya ?" Tanya Alex pada Akira yang sedang berada di atap.
" Sudah siap. Teman - teman menjauh dari dari jarak tembak senjata manis ku ini !" Kata Akira sambil melemparkan beberapa bola ke atas langit.
Senjata milik Akira yang di lemparkan ke atas langit kemudian ada bagian yang terbuka dan berubah menjadi baling - baling. Bola - bola itu terbang dengan menggunakan alat kontrol jarah jauh. Bola - bola milik Akira adalah senjata sejenis pistol, tapi yang ditembakkannya adalah sinar Laser. Senjata yang mampu menembus baja sekali pun. Jadi musuh yang menggunakan baju Anti peluru pun akan dapat ditembus olehnya. Bola - bola itu di lengkapi dengan kamera yang dapat berputar 360°.
" Akira fokus jangan sampai salah sasaran !" Alex memperingatkan.
" Ya siap Bos !" Kata Akira yang matanya tak lepas dari layar laptop miliknya.
Jari - jarinya menari lincah diatas keyboard. Mengerjakan dan menembakan bola mana yang dia pilih untuk menyerang lawan.
Dan senjata Akira ampuh untuk menjatuhkan para musuh. Buktinya sudah sekitar sepuluh orang musuh mati di tempat.
Sementara musuh yang masuk ke dalam rumah. Di intai oleh Alex dari atas, begitu jarak tembak bisa dilakukan. Alex langsung menembakan pelurunya pada kepala musuhnya. Dan musuhnya itu langsung tumbang.
Melihat itu Alessio yang berada di dekat musuh, sungguh terkejut. Kalau Alex tidak cepat menembaknya. Maka dirinya yang akan mati.
" Terima kasih Bos !" Kata Alessio pada Alex.
" Sekarang para musuh sudah mulai kehabisa oksigennya. Serang muka mereka saat penutup wajahnya dibuka !" Perintah Alex pada teman - temannya.
Dan benar saja beberapa dari pihak musuh mulai membuka penutup wajah mereka. Kesempatan ini tak di sia - siakan oleh Michael. Michael yang ahli menggunakan pistol dengan menggunakan kedua tangannya. Dua tembakan langsung dia arahkan pada dua orang musuh. Seketika itu juga keduanya langsung tumbang.
" Mark jangan keluar !" Alex memberi peringatan, ketika melihat Mark lewat kamera CCTV, dia terlihat hendak ke luar rumah.
" Akira belum selesai dengan pekerjaannya."
Mendengar peringatan Alex, Mark langsung berlari masuk lagi. Dia tidak mau tubuhnya terkena tembakan Bola - Bola milik Akira.
" B apa kamu sudah menghabisi semua musuh mu di sebelah sana ?" Tanya Alex.
" Sudah Bos !"
" A bagaimana dengan kamu ?"
" Masih ada sekitar dua orang lagi."
" Alessio bantu A, karena posisi kamu yang paling dekat dengan A !"
" Siap Bos !" Alessio berlari sambil menunduk takut kalau masih ada musuh yang bisa melihat gerakannya.
" Akira apa semua musuh di luar sudah kamu bereskan semuanya ?"
" Sebentar Bos. Akan aku kelilingi dulu seluruh area rumah ini."
Akira menggerakkan bola - bolanya mengelilingi rumah Cantika. Akira terus memperluas jaringan edar bola - bolanya sampai bagian luar gerbang rumah Cantika.
" Bos semua musuh di luar sudah tidak bersisa." Lapor Akira.
" Bagus. Kalian semua masih harus waspada. Jangan sampai kita kecolongan dengan pihak musuh." Perintah Alex pada semua temannya.
__ADS_1
" Entah kenapa aku masih tidak tenang. Apa masih ada hal yang terlewatkan?" Alex bertanya dalam hatinya.
* * * * * * *
Sementara itu Fatih dan Khalid sudah bersiap - siap bersama pasukan khususnya menuju rumah Cantika. Mereka semua sudah memakai perlengkapan tempurnya dengan lengkap. Menurut laporan Ghazali, pihak musuhnya sangat kuat.
" Karena waktu sudah masuk sini hari, kalian jangan ribut. Jangan sampai memancing reaksi warga." Perintah Khalid pada bawahannya.
" Gunakan kecepatan maksimal, agar dalam sepuluh menit kita sudah sampai ke sana !" Perintah Fatih pada anggota yang bagian mengendalikan kendaraan yang mereka bawa.
Bukan hanya mobil untuk pasukannya saja yang datang ke rumah Cantika. Tapi Khalid juga membawa tiga mobil Ambulance dan dua mobil pemadam kebakaran miliknya.
" Ghazali Papa sudah sampai di dekat rumah Cantika. Bagaimana dengan keadaan disana ?" Khalid menghubungi Ghazali lewat telepon selulernya.
" Ghazali tidak tahu keadaan diluar kamar. Tapi sudah tidak terdengar suara - suara lagi."
" Kalau begitu Papa dan pasukan akan masuk ke dalam rumah."
Khalid dan pasukannya di bagi empat kelompok yang terdiri dari lima orang. Tiga kelompok masuk melalui jalan berbeda. Dan satu kelompok yang pimpin oleh Fatih menjaga di luar gerbang.
Khalid melihat banyak mayat yang bergelimpangan di hampir seluruh bagian halaman. Keadaan rumah Cantika benar - benar hancur.
" Alex, ini Papa !!!" Teriak Khalid.
" Bagaimana keadaan di dalam ?" Khalid masih berteriak.
" Disini sudah aman Tuan." Michael yang muncul dari balik pintu, memberi tahu keadaan di dalam.
" Sebaiknya kalian cepat angkat mayat - mayat itu kedalam mobil dan bawa ke markas di sisi kota !" Peritah Khalid pada pasukannya.
Dan setelah semua mayat hampir di bawa, ternyata ada musuh yang pura - pura mati. Kemudian dia memberondong pasukan Khalid menggunakan dua pistolnya.
Dari dalam Alex yang berada di lantai dua menembakan peluru andalannya ke arah musuh. Dan musuh langsung jatuh tak berdaya.
Pasukan Khalid yang telah dilengkapi oleh pakaian khusus tidak ada yang terluka. Paling - paling bagian tubuh yang terkena tembakan akan memar - memar.
Setelah semua mayat musuh di angkut ke dalam mobil. Kini bagian mobil pemadam kebakaran yang bekerja. Mereka menyemprot seluruh area rumah Cantika untuk menghilangkan noda darah dan bau amis. Serta menghilangkan bau mesiu yang dikeluarkan dari senjata api yang mereka pakai.
Khalid datang menemui Alex di lantai dua.
" Kamu hebat !!! sudah menjalankan tugas dengan baik !" Khalid memeluk Alex dan dibalas pelukan oleh Alex.
" Terima kasih, Pa."
" Dimana bocah manja itu ?"
" Mamanya sangat khawatir dan memaksa ingin ikut kesini. Kalau saja Zahra tidak menenangkannya."
" Hehehe....dia kan putra manja kesayangan Papa. Yang sering buat semua orang kalang kabut." Alex tersenyum mengingat kelakuan Ghazali.
" Dia ada di kamar " Alex menunjuk ke arah kamar Erlangga.
" Ghaza buka pintunya ! Ini Papa !" Khalid mengetuk pintu kamar Erlangga yang di kunci dari dalam.
" Sebutkan dulu password nya !" Teriak Ghazali dari dalam.
* * * * * * *
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, SAMA VOTE.
DUKUNG AKU TERUS YA.
__ADS_1