
Trio Kancil dan Danang masih berjalan menyusuri bibir pantai. Ditemani malam yang bertabur bintang di langit malam. Keempatnya terlibat percakapan yang lumayan seru, bagi Si Trio Kancil. Mereka banyak bertanya tentang kehidupan para nelayan tradisional. Dan Danang pun bercerita dengan begitu antusias.
" Pak, apa masih jauh?" Tanya Langit, karena dia merasa tidak enak telah digendong begitu lama.
" Tidak sebentar lagi juga sampai. Tuh kalian bisa lihat ada bangunan di atas tebing itu!" Tunjuk Danang.
" Ah iya, aku dapat melihatnya!" Kata Angkasa dan Langit bersamaan.
" Nah itu berarti sudah dekat dengan rumah Bapak," Kata Danang.
" Rumah yang di atas tebing itu punya Bapak?" Tanya Bintang.
" Buka itu hanya rumah kosong. Tak ada penghuninya." Jawab Danang.
" Tapi rumah Bapak tak jauh dari sana." Lanjut Danang lagi.
Mereka meski sudah berjalan agak lama sekitar hampir sepuluh menitan, belum juga sampai di bawah tebing itu.
" Pak, kok kita nggak sampai - sampainya ke tebing itu?" Tanya Bintang yang sudah merasa sangat capek.
" Hahaha…. Sebentar lagi kok." Danang malah tertawa saat mendengar perkataan Bintang.
Dan benar saja, akhirnya mereka sampai ke bawah tebing itu. Dan kini mereka, masih harus berjalan menuju ke atas lagi.
Jangan ditanya bagaimana muka Bintang saat melihat jalanan yang menanjak itu. Wajah Bintang langsung pucat pasi. Bintang sudah merasa dirinya antara hidup dan mati. Karena kakinya sudah terasa mati rasa karena terlalu dipaksakan untuk berjalan.
" Pak, sekarang kita harus berjalan ke atas lagi?" Bintang tidak percaya ternyata dirinya masih harus berjalan lagi. Apalagi kali ini jalanannya menanjak.
" Hahaha…. Kenapa? Bintang sudah capek, ya?" Tanya Danang saat melihat reaksi wajah Bintang.
" Iya, Pak." Jawab Bintang lesu.
" Ayo sini, Bapak gendong!"
Danang jadinya memangku Langit di tangan kanannya, dan Bintang di tangan kirinya.
" Apa Bapak tidak merasa berat menggendong kita berdua?" Tanya Binatang.
" Tidak, Bapak itu sudah biasa manggul barang yang berat - berat!" Jawab Danang.
" Angkasa masih kuatkan berjalan naik keatas?" Tanya Danang pada Angkasa yang diam saja sejak tadi.
__ADS_1
Mendapat pertanyaan untuknya, Angkasa hanya menganggukan kepalanya. Angkasa sungguh sudah merasa sangat capek. Rasanya dia sudah ingin berendam di air panas untuk menghilangkan rasa lelahnya itu.
Mereka berjalan sekitar lima ratus meteran dari pantai tadi ke rumahnya Danang.
" Akhirnya sampai juga?" Kata Danang begitu sampai di rumah semi permanen itu. Danang menurunkan Bintang dan Langit. Dan mereka duduk di kursi bambu yang ada di teras depan rumah.
" Bu…. Ibu…!" Panggil Danang pada istrinya.
" Iya, sebentar!" Teriakan suara wanita terdengar dari dalam.
" Ini kita kedatangan tamu!" Kata Danang sambil masuk ke dalam rumah.
Tak berapa lama Danang dan istrinya datang menghampiri Angkasa dan saudara kembarnya. Yang masih duduk di teras depan rumah.
" Kenalkan ini istri Bapak, namanya Lastri."
" Bu mereka ini anak - anak yang Bapak bicarakan barusan."
" Ini namanya Angkasa, yang ini Langit, dan gadis cantik ini Bintang." Danang mengenalkan mereka bertiga kepada istrinya.
Ketiga bocah itu memperkenalkan diri mereka masing-masing, dan mencium tangan Lastri dengan takzim.
" Bu, cepat ambil air panas dan masukan kedalam baskom besar. Buat merendam kaki mereka!" Perintah Danang pada Lastri.
Lastri membawa satu baskom besar yang sudah terisi seperempatnya dengan air yang agak panas.
" Ayo rendam kaki kalian. Katanya kalian sudah berjalan sejak tadi pagi." Lastri membantu Langit membukakan sepatunya.
Trio Kancil, kemudian memasukan kaki mereka ke dalam air panas itu. Dan mereka merasa enakan, rasa sakit dan pegal di kakinya berangsur menghilang. Kaki mereka yang bengkak karena kebanyakan jalan tadi sudah agak membaik.
Danang datang dengan membawa ramuan obat buat mengobati kaki Langit.
" Langit coba angkat kakinya. Biar Bapak obati luka sama memarnya!" Danang duduk di samping Langit, dan menopangkan kaki milik Langit, kemudian dia mengolesi luka dan memar di kakinya Langit.
*****
Cantika yang masih saja menangis, kini berada di dalam kamarnya ditemani Zahra dan Gaya. Siang tadi Zahra menghubungi Gaya dan menceritakan apa yang terjadi kepada Si Trio Kancil. Dan Gaya pun cepat - cepat datang ke rumah Cantika.
Cantika yang sejak tadi tidak ada makanan yang masuk ke dalam perutnya, kini hanya terbaring lemah di atas kasurnya, dengan selang infus yang tertancap di tangan kirinya. Tiap kali Cantika makan maka makan itu akan dimuntahkannya kembali.
Bukan hanya Zahra dan Gaya yang menemani Cantika dirumah itu. Ada Aurora dan Khalid juga. Ja'far dan Sinar kebetulan sedang pergi ke Amerika untuk menjenguk Mentari yang sudah menikah dengan William.
__ADS_1
" Pah, Alex barusan bilang apa?" Tanya Aurora saat Khalid sesaat setelah mengakhiri panggilannya dengan Alex.
" Mereka belum menemukan anak - anak. Tapi sudah ditemukan jejak bekas keberadaan mereka tadi." Kata Khalid.
" Kita tidak boleh membuat Cantika lebih khawatir lagi." Lanjutnya.
" Iya, apalagi sekarang sedang hamil muda. Rentan keguguran, jadi jangan biarkan dia stress." Kata Aurora.
*******
Alex yang masih merasa tidak tenang hatinya, dia memilih melanjutkan pencariannya terhadap ketiga anak kembarnya itu seorang diri. Dengan membawa perlengkapan yang kira - kira akan dia butuhkan saat dalam perjalanan pencarian mereka.
" Aku akan pergi sebentar untuk menelusuri hutan sebelah sana. Kalian beristirahat saja. Pulihkan kondisi tubuh, agar besok kalian bisa kembali melanjutkan pencariannya lagi" Perintah Alex kepada Tim Bantuan Penyelamat.
" Baiklah. Anda juga sebaiknya hati - hati. Karena ini sudah malam. Dan medannya sangat gelap, sehingga kita tidak dapat melihat dengan jelas." Kata salah seorang Tim Penyelamat.
" Benar. Mungkin saja akan ada hewan yang akan anda temui nantinya." Kata Tim Penyelamat lainnya lagi.
" Baiklah. Aku akan lebih hati - hati lagi." Kata Alex pada mereka.
Saat Alex berjalan menelusuri ke dalam hutan yang sudah gelap. Dan saat ditengah jalan dia merasa ada yang mengikutinya. Alex langsung dalam keadaan bersiaga, kalau - kalau ada binatang buas yang sedang mengintainya.
Krek!!!
Krek!!!
Terdengar suara seperti dahan atau ranting yang patah terinjak. Alex langsung mengeluarkan pisau miliknya yang tadi berada di saku samping celananya.
Alex juga cepat - cepat mematikan lampu yang terpasang di kepalanya. Agar dapat menyembunyikan dirinya di kegelapan hutan. Alex juga menyembunyikan dirinya dibalik sebuah pohon yang cukup besar.
Alex dapat mendengar dengan jelas suara langkah yang berat itu mendekat kepadanya. Tak berapa lama Alex dapat melihat adanya bayangan yang bergerak menuju ke arah dia berada sekarang. Dan bayangan itu pun mendekat kearahnya dengan sangat cepat.
*******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA MUMPUNG LAGI HARI SENIN NIH.
KASIH BINTANG LIMA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS YA.
TERIMA KASIH.
__ADS_1
KUNJUNGI KARYA AKU YANG LAINYA. NGGAK KALAH SERU LOH : MAMAKU WANITA SUPER & PAPAKU SUPER GENIUS