Trio Kancil

Trio Kancil
Season 2 # Chapter 42


__ADS_3

    Semua orang yang berada di ruang tamu, mengeluarkan air mata. Saat mendengar cerita Bintang dan Sakti mengenai kejadian tragis dari keluarga Dokter Lazuardi. Cantika menangis dalam pelukan Alex, tak kuasa saat mendengar kematian kedua Kakek dan Neneknya.


    Bintang yang masih menangis dalam rangkulan Satria, sesekali melanjutkan ceritanya, dan kadang diperjelas lagi oleh Satria. Kejadian tragis yang menimpa keluarganya dikarenakan dendam dari seorang anak pemberontak negara.


    Sakti yang tak bisa menghentikan tangisannya yang tersedu-sedu, mulai saat Bintang bercerita Kalau Ayah mereka, sengaja mengirimnya lebih cepat ke Jerman agar dapat menjauhkannya diri dari tragedi itu. Tangisannya semakin menjadi saat Bintang bercerita ketika ibu yang disayanginya menjadikan tubuhnya sebagai tameng untuk menghadang peluru yang ditembakkan oleh kelompok pemberontak itu. Sakti sebenarnya sudah tidak kuat lagi saat mendengar ketika Pak Dirman di tembak, dan Ayahnya menyelamatkan Kakaknya dari tembakan beruntun dua kelompok pemberontak, dengan menggunakan tubuhnya yang sudah mulai menua.


" Walau begitu, Ayah dan Ibu meninggal dalam keadaan ikhlas. Mereka berdua pun menyambut kematiannya dengan rasa bahagia." Kata Bintang yang teringat dengan kata-kata yang diucapkan oleh Ibunya untuk terakhir kalinya.


" Kakak minta maaf, Bintang. Kurang berusaha dalam mencari kamu dan Satria, maupun Kak Langit. Tidak seperti dirimu yang selalu masih berusaha mencari Kakak." Kata Sakti masih dengan air matanya yang mengalir di pipinya.


" Tidak apa-apa Kakak, Bintang juga kurang maksimal dalam mencari kalian. Justru Alex dan Cantika yang berusaha maksimal mencari keberadaan kita." Ucap Bintang.


" Sebenarnya Cantika hanya ingin meneruskan apa yang dilakukan oleh Ayah saat hidupnya. Beliau pernah bercerita kepada Kakek (Oemar), ingin mengetahui siapa dirinya sebelum hilang ingatan. Karena ada sesuatu hal penting yang harus dilakukan olehnya. Tapi Kakek melarangnya, biarkan saja kehidupan masa lalu itu, dan lihatlah kedepan dengan kehidupannya yang sekarang." Kata Cantika teringat saat ayahnya masih hidup dulu.


" Saat ini sudah sepantasnya keluarga kita bersatu lagi dan menjalani kehidupan ini jauh lebih baik lagi. Agar pengorbanan mereka semua tidak sia-sia." Kata Sakti dan di angguki oleh Bintang dan Satria.


" Terus kenapa kalian berdua bisa menikah?" Tanya Sakti kepada Bintang dan Satria.


" Sebenarnya saat kita di Kalimantan, ada laki-laki yang tergila-gila kepada Bintang. Dia dan orang tuanya meminta agar bisa dinikahkan dengannya. Tapi Bintangnya tidak mau." Jawab Bintang sambil memasang wajah sebal karena teringat kembali kejadian itu.


" Jadi untuk menghindari dia, kamu menikahi Sakti?" Tanya Sakti lagi.


" Tidak, yang sebenarnya adalah karena salah seorang kerabat yang menolong kita. Meminta aku untuk menikahi putrinya, katanya anak gadisnya itu suka sama aku. Bintang ngamuk saat mendengarnya. Makanya dia meminta aku untuk menikahinya, padahal dia lulus sekolah saja belum." Satria menceritakan kenapa dia bisa menikah sama Bintang.


" Nggak…. Nggak, yang benar itu Satria tidak mau menikahi perempuan itu karena Bintang lebih cantik dari dia." Bintang membantah cerita suaminya itu.


" Lalu siapa yang melempari aku sama batu! Karena cemburu dan minta cepat dinikahi oleh aku." Balas Satria.


" Tunggu bukannya karena semua ini do'a dari Kak Angkasa sebelum berangkat ke Jerman. Ditambah permintaan dari Ibu dan Kak Langit." Kata Bintang dengan muka yang memerah karena malu.

__ADS_1


    Sakti malah tertawa mendengar cerita kenapa dua orang itu bisa menikah. Ternyata kadang hanya dari kata-kata yang diucapkan oleh kita bisa menjadi do'a untuk orang lain.


*******


     Mereka semua berencana akan menginap dirumah Cantika. Bahkan Sakti meminta Pak Danang sekalian mengajak Venus dan Galaksi saat menjemput Si Kembar yang sedang main dirumahnya. Ditambah keluarga Khalid yang ikut datang karena di telepon oleh Alex. Jadinya rumah itu ramai sekali. Mereka makan ikan bakar dan makan nasi liwet buatan Bintang yang memasak pakai resep ala Paramitha.


     Cantika dan Alex akhirnya mengundurkan kembali jadwal keberangkatannya ke Amerika atas keinginan Cantika dan anak-anaknya. Walau tadinya Alex nggak setuju, apalagi Arthur sudah menyiapkan sambutan untuk kedatangan cucu-cucunya itu.


" Tante dan Mama Aurora cepat banget akrabnya." Kata Cantika sambil memeluk dua wanita yang berbeda usia itu.


" Tentu saja, Kak Aurora itu orangnya menyenangkan jadi mudah akrab." Kata Bintang sambil mengedip-ngedipkan kedua matanya, lucu.


" Sepertinya kamu punya teman yang langsung cocok, ya?" Tanya Satria yang baru datang, sambil mencubit kedua pipi Bintang.


" Ya, kita berdua cocok. Mas boleh nggak kalau besok kita menginap di rumah mertuanya Kak Aurora. Ternyata mertuanya itu sahabat lama ayah! Aku ingin bertemu." Kata Bintang merajuk kepada Satria, suaminya.


" Nggak apa-apa, tenang saja. Kalau mau pulang nanti bisa di anter sama pesawat keluarga Hakim!" Jawab Aurora.


    Mendengar itu Bintang dan Satria melongo, membayangkan kekayaan keluarga Hakim, sampai-sampai punya pesawat pribadi.


" Beneran Kak Aurora?" Tanya Bintang lagi untuk memastikan.


" Iya, beneran. Kalau perlu nanti aku dan suamiku ikut kalian pulang." Jawab Aurora seenaknya tanpa bertanya dulu kepada Khalid, apa punya waktu luang untuk mengunjungi rumah Bintang.


*******


   Malam besoknya, giliran rumah Lukman yang jadi tempat berkumpulnya semua orang. Lukman sangat antusias menyambut kedatangan mereka. Terutama kedua anak sahabatnya, Bintang dan Satria.


    Kedua kakak beradik itu banyak mendengar cerita tentang kisah ayahnya saat masih muda. Meraka berdua pun belum pernah mendengar cerita itu. Sehingga membuatnya antusias saat Lukman menceritakannya.

__ADS_1


    Besoknya mereka berencana akan mengunjungi makam Lazuardi dan korban lainnya. Khalid mengerahkan kekuatannya hanya untuk dapat mengetahui dimana lokasi kuburan mereka.


******


    Tidak terasa kini satu Minggu telah berlalu. Akhirnya Cantika dan Alex beserta anak-anaknya, berangkat ke Amerika.


" Sayang apa semua keperluan punya kamu nggak ada yang tertinggal?" Tanya Cantika kepada Alex yang sedang duduk di sofa kamarnya sambil memangku laptop miliknya.


" Tidak Honey, semuanya sudah aku kemas." Alex menyimpan laptopnya di meja dan berjalan ke arah Cantika yang sedang memakai jilbabnya. Alex memeluknya dari belakang.


" Honey, sepertinya sejak kemarin lusa, aku belum menjenguk baby. Apa dia baik-baik saja?" Tanya Alex sambil mencium pipi Cantika.


" Tenang saja, baby kita baik-baik saja. Justru dia makin anteng, sejak kemarin lusa." Jawab Cantika karena selama dua hari ini dia sibuk menyiapkan keperluan anak-anaknya, ditambah anak-anaknya tidur dikamar bersama mereka tadi malam. Jadinya Alex tersisihkan.


" Tapi aku merasa tidak baik-baik saja." Tangan Alex mulai tidak bisa diam.


" Sayang satu jam lagi kita akan berangkat ke bandara!" Kata Cantika sambil menahan diri.


" Tenang saja, kita berangkat pakai pesawat milikku. Jadi nggak akan ketinggalan pesawat." Alex menggendong Cantika dan membaringkannya di atas kasur mereka. Cantika akhirnya pasrah saja.


******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


BUNGA ATAU KOPI JUGA BOLEH ITU MEMBUAT AKU MAKIN SEMANGAT LAGI.


TERIMA KASIH.

__ADS_1


__ADS_2