
Seperti biasa Langit dan Almahira pergi makan malam ke rumah Dewi. Mereka berdua memanfaatkan kesempatan ini untuk berduaan, walau hanya beberapa menit. Setidaknya, bagi mereka berdua punya waktu, untuk memperhatikan satu sama lain. Mencurahkan perhatian dan kasih sayangnya. Saling berkomunikasi, mengungkapkan apa yang ada di hati dan pikiran mereka berdua.
Langit yang berjalan sambil bergandengan tangan dengan Almahira. Sesekali Langit mengecup tangan istrinya, dan itu membuat Almahira tersipu malu.
"Sayang, nanti jika aku sudah selesai menjalankan misi ini. Mungkin aku nggak akan sekolah lagi di sini," kata Langit.
Tiba-tiba Almahira berhenti dan membuat Langit juga menghentikan langkahnya. Kedua pemuda-pemudi itu saling menatap. Terlihat jelas kalau Almahira terlihat sedih karena mendengar ucapan dari Langit.
"Kenapa?" tanya Langit dengan suaranya yang lembut.
"Kenapa Ayang, bicara seperti tadi?!" Almahira malah balik bertanya.
Langit agak terkejut saat mendengar perkataan istrinya itu. Kemudian dia tersenyum.
"Karena aku ingin cepat-cepat menyelesaikan kuliahku. Selanjutnya akan membawa kamu ke Amerika. Kita akan tinggal bembangun keluarga kita di sana," jawab Langit sambil mengusap lembut pipi Almahira.
Kini Almahira semakin merona pipinya karena mendengar ucapan Langit, barusan. Senyum manis langsung tercipta, saat kedua mata mereka saling memandang. Keduanya saling mendekat dan menghapus jarak mereka. Satu ciuman hangat mereka lakukan di pinggir jalan.
Keduanya cepat-cepat mengurai pelukan mereka saat ada suara klakson mobil yang berhenti di bahu sisi jalan, dekat mereka berdiri. Kedua orang itu malu karena sudah bermesraan di tempat umum. Apalagi Almahira, dia sudah ingin bersembunyi di mana saja, asal jangan ketahuan sama orang lain.
"Onii san, kenapa kalian bermesraan di pinggir jalan? Seperti tidak ada tempat saja!" gerutu Hikari dari dalam mobil yang diturunkan kaca jendelanya.
"Lalu harusnya di mana? 'Kan ini juga jalanan sepi. Kalian juga selalu berciuman di tempat umum!" kata Langit tidak terima di omeli oleh Hikari.
"Itu bukan aku yang memulai tapi, Hoshi kun yang suka memulai," balas Hikari dan mendapat tatapan tajam dari Suzuki.
"Ya, calon suami kamu itu yang sering memulainya, sampai-sampai para tetangga juga tahu," sindir Langit karena kebenarannya justru sebaliknya. Hikari 'lah yang selalu memulai duluan.
"Kalau hal seperti itu, calon suamiku ini jago. makanya aku banyak belajar darinya," balas Hikari sambil terkekeh.
__ADS_1
"Oh, benarkah? Akhirnya kamu mengakui kehebatan ku!" pungkas Suzuki, sambil melihat dan tersenyum pada Hikari.
"Onii san dan Alma chan, mau kemana?" tanya Hikari pengalihan pembicaraan, dan selain itu dia juga penasaran. Dia tidak mau menanggapi perkataan calon suaminya yang akan malah rasa malu.
"Kita mau ke rumah Dewi sensei," jawab Almahira, sambil menahan senyum karena melihat interaksi antara Suzuki dan Hikari.
"Kalau begitu sekalian ikut dengan kami naik mobil. Kita bisa pergi ke sana bareng!" ajak Hikari dan diangguki oleh Suzuki.
Kini keempat orang itu mengunjungi rumah Dewi dengan menaiki mobil Suzuki. Ternyata Suzuki siang tadi meminta Dewi untuk dibuatkan sate dan acar. Suzuki sangat senang dengan masakan buatan Dewi. Tidak jarang dia menyuruh Dewi untuk memasarkan menu kesukaannya. Murid-murid yang selalu makan di tempat Dewi sangat senang saat tahu menu makan malam adalah sate.
Suasana di sana sangat rame seperti biasanya. Tidak hanya yang muslim saja yang ikut makan di rumah Dewi. Murid yang non muslim juga banyak yang ikut makan malam di sana karena masakan Dewi terkenal enak.
Semua orang akan bubar sekitar jam 21.00 atau lebih sedikit karena pintu gerbang akan di tutup jam 22.00 oleh penjaga yang bertugas.
Langit pun mengantar Almahira sampai ke depan gerbang. Setelah pelukan perpisahan dan dua kecupan di wajahnya. Almahira pun masuk ke asrama putri. Setelah memastikan istrinya sudah masuk ke dalam asrama, Langit baru pergi menuju ke asrama putra.
Langit membaca sampai tengah malam, setelah itu dia tidur sekitar jam satu dini hari. Tanpa Langit tahu kalau di suatu ruangan di gedung sekolahnya ada orang yang sedang menempatkan tas-tas yang berisi bahan baku pembuatan bom. Orang yang berpakaian serba hitam dan memakai penutup kepala sedang merakit beberapa buah bom dalam jumlah yang sangat banyak.
*******
Langit, Almahira, Kawasaki, dan Daihatsu Sena setiap hari sepulang sekolah mereka akan melakukan kerja kelompok untuk belajar bersama. Untuk membuat proyek karya cipta yang akan mereka buat saat ujian nanti.
Kedekatan mereka berempat semakin solid dari hari ke hari. Kini mereka sudah saling memahami karakter teman mereka. Awalnya mereka sering berdebat satu sama lain. Terutama Kawasaki dan Daihatsu Sena yang sering bersebrangan dalam keinginan mereka.
Langit dan Almahira pun akan memanfaatkan waktu itu untuk saling memperhatikan. Mereka berdua melakukan skinship--skin to skin relationship--saat nggak ada orang lain atau ketika Kawasaki dan Daihatsu Sena lengah atau tidak memperhatikan.
*******
Satu bulan kemudian ....
__ADS_1
Murid-murid Academy Matsumoto sudah mulai mempersiapkan diri untuk acara kegiatan di pulau terpencil itu. Setiap kelompok sudah membuat blue print karya mereka masing-masing. Setiap kelas muridnya akan dibagi lima kelompok yang akan berpencar di lima pulau. Jadi satu pulau itu terdapat lima kelompok dari lima kelas.
Nama-nama pulau itu adalah Pulau Yama (gunung), Pulau Taki (air terjun), Pulau Numa (rawa), Pulau Higata (pasir laut berlumpur), dan Pulau Mori (hutan). Sedangkan Pulau Hi (api) tidak lagi di gunakan setelah kejadian dua puluh tahun yang lalu. Pulau yang di gunakan sebagai tempat mengawasi seluruh acara kegiatan itu bernama Oka.
Langit membakar semua blue print karya Mazda, setelah semuanya dia baca dan pelajari. Sebenarnya sangat disayangkan bagi Langit. Hasil riset, penelitian dan karya cipta yang sudah jadi, harus di musnahkan.
Dengan matanya sendiri, Langit menyaksikan semua hasil jerih payah pemikiran seorang jenius, berubah menjadi abu. Setelah itu Langit hancurkan lagi buku yang sudah jadi abu arang sampai sehancur-hancurnya. Buku-buku karya profesor yang dulu dibawanya dari ruang rahasia di toilet kepala sekolah, Langit simpan di dalam brankas. Sehingga tidak akan ada orang yang dapat membukanya.
*******
APAKAH ADA YANG MENUNGGU AKSI LANGIT DI PULAU TERPENCIL?
AKAN ADA SCENE AKSI DI SANA.
BACA TERUS YA, KELANJUTAN CERITANYA.
*******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN, VOTE NYA MUMPUNG HARI SENIN.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
TERIMA KASIH.
*******
MAMPIR JUGA YA. BACA KASIH LIKE+KOMEN KE KARYA TEMAN AKU. AUTHOR: NOPHIE
__ADS_1