Trio Kancil

Trio Kancil
Season 2 #Chapter 8


__ADS_3

Pagi hari ini udara di pantai masih terasa segar. Karena matahari masih malu - malu muncul di ufuk timur. Kelima bocah itu dengan alasan pergi jalan - jalan sekaligus olahraga, berjalan menuju ke arah tebing. Di setiap jalan yang mereka lalui, saat mereka berpapasan dengan orang - orang, pasti mereka akan saling menyapa.


" Di, siapa anak - anak bule ini?" Tanya salah seorang teman Didi.


" Mereka teman aku dari kota!" Jawab Didi.


" Kalian mau kemana?" Tanya lagi.


" Mau jalan - jalan saja, keliling - keliling pantai gitu," Didi tersenyum memperlihatkan gigi kelincinya.


" Ah, tadinya mau aku ajak berenang di laut," 


" Ya, kapan - kapan lagi, nanti kita berenang bareng." 


" Kalau gitu aku pergi dulu!" Temannya Didi pun pergi meninggalkan mereka.


    Kelima anak itu pun melanjutkan lagi perjalanan mereka. Ternyata lumayan jauh juga dari rumah Danang ke tebing dimana rumah hantu itu berada. Mereka harus berjalan sekitar lima belas menit.


     Akhirnya mereka berlima telah sampai ke atas tebing itu. Ternyata rumah hantu itu lumayan besar ukurannya. Model rumahnya bergaya Eropa jaman Belanda. 


     Rumah itu juga dikelilingi oleh pagar besi yang tinggi. Mungkin tingginya sekitar dua meter setengahan. Halaman yang sangat luas itu dipenuhi oleh tumbuhan ilalang yang sudah tumbuh tinggi. Ada pohon mangga, pohon delima dan pohon jambu biji  yang ditanam di dekat pagar besi itu. Yang dahan - dahannya menjulur ke luar pagar. Di dekat pintu gerbang itu dulunya sepertinya ditanami oleh pohon yang merambat. Karena ada kerangkai besi yang berdiri di sisi kanan dan kiri depan pintu gerbang.


" Gimana apa kita jadi masuk?" Tanya Didi pada ketiga bocah kembar itu.


" Mau ngapain sich kita kesini?" Tanya Bintang sambil mengeratkan pegangan tangannya pada Angkasa.


" Mau memetik buah mangga sama jambu!" Jawan Didi.


" Hei kita tidak boleh sembarangan memetik buah di rumah orang lain. Apalagi ini yang punya rumahnya sudah nggak ada," ucap Bintang sambil membelalakan matanya pada saudara kembarnya itu.


" Aku hanya penasaran saja dengan isi rumah hantu itu." Kata Angkasa.


" Nggak, Kak Bintang. Kita kesini hanya ingin melihat bola crystal, yang akan memancarkan cahaya warna - warni bila terkena cahaya matahari." Kata Dodo.


" Mana ada bola crystal yang seperti itu!" Bintang tak percaya.


" Makannya kita mau lihat!" Ucap Angkasa.


" Bagaimana kamu tahu tentang bola crystal itu?" Tanya Bintang lagi.


" Saat tengah hari, dan sinar matahari masuk ke salah satu jendela di rumah itu. Dan mengenai bola crystal itu, maka akan terpancar cahaya warna - warni di ruangan itu." Jawab Didi.


" Ayo kita masuk sekarang!" Ajak Didi.

__ADS_1


" Kita masuknya lewat mana?" Tanya Langit. Karena pintu gerbang itu terkunci.


" Kita lewat sini!" Kata Dodo.


    Ternyata ada bagian pagar besi yang telah rusak dan bisa dimasuki oleh tubuh anak - anak. Didi terlebih dahulu masuk ke dalam. Kemudian disusul dengan yang lainnya. Ternyata di taman depan rumah itu ada satu set meja dan kursi yang tergeletak, mungkin tertiup angin dan hujan. Mereka terus memasuki halaman itu. Dan sampai mereka ke depan sebuah jendela kaca yang tinggi, berdaun pintu dua.


" Di ruangan ini, bola crystal itu berada." Kata Didi sambil menunjuk ke dalam jendela itu.


" Karena saat ini masih pagi, jadi cahaya mataharinya belum masuk menyinarinya!" Jelas Didi.


" Jadi kita akan menunggu sampai siang disini?" Tanya Bintang sambil menengokan wajahnya di kaca jendela itu.


" Sebenarnya, aku bisa membuka jendela ini, kalau kalian mau masuk kedalam!" Ucap Didi.


" Aku mau melihat kedalam!" Kata Langit.


" Aku juga ingin masuk kedalam." Kata Angkasa.


" Bintang nggak mau ikut!" Tolak Bintang.


" Ya udah kamu tunggu saja disini." Kata Didi sambil tersenyum.


     Melihat senyum Didi, Bintang jadinya merinding dibuatnya. Dilihatnya sekelilingnya, halaman yang sangat luas, sepi tidak ada siapa - siapa. Hanya ada suara hewan saja.


     Kemudian Didi mencongkel kunci slot jendela itu, menggunakan kawat tipis. Dan jendela kaca itu pun terbuka. Mereka masuk satu persatu. Ternyata ruangan yang mereka masuki adalah ruang keluarga. Bisa dilihat dari satu set kursi santai, lemari bufet minimalis dan ada televisi di atasnya. Lemari buku yang berukuran kecil, yang dipenuhi oleh buku bacaan. Karpet yang dihamparkan di tengah - tengah ruangan di depan kursi.


" Mana bola crystal yang kamu maksud itu?" Tanya Angkasa.


" Nih!" Jawab Didi yang berdiri di dekat meja hias berukuran sedang yang berjejer benda - benda antik. 


     Dan ada bola crystal yang dimaksud oleh Didi disana. Ternyata ada hiasan lainnya yang bentuk bangunan terkenal di dunia. Seperti candi Borobudur, candi Prambanan, menara Eiffel, menara Pisa, patung liberty, menara jam Big Ben, dan ada beberapa miniatur bangunan dunia terkenal lainnya.


" Hai, Kak lihat ada lukisan foto keluarganya juga!" Ucap Dodo yang berdiri agak jauh dari jendela.


" Mana?" Ketiga bocah kembar itu penasaran melihat ke arah Dodo.


    Keempat orang itu menghampiri tempat Dodo berdiri. Dan saat mereka sampai kesana dan melihat lukisan foto yang lumayan besar ukurannya.


" Aaaaaakh!!!"


" Om Erlangga….!"


" Mana mungkin!!!"

__ADS_1


    Trio Kancil berteriak bersamaan saat melihat salah seorang yang wajahnya mirip dengan Om mereka, Erlangga. Ketiga bocah itu langsung merinding.


" Apa? Siapa? Yang mana?" Didi jadi penasaran saat melihat reaksi ketiga anak bule itu.


Si Trio Kancil menunjuk ke arah salah seorang yang ada di lukisan foto keluarga itu.


" Emang dia mirip siapa?" Tanya Dodo sambil mengamati wajah seorang pemuda tampan yang sedang tersenyum cerah.


" Dia mirip Om Erlangga. Adiknya Mama kami." Jawab Angkasa.


" Hei, bukannya Grandpa pernah bilang. Kalau Om Erlangga itu mirip Kakek Yusuf, ya?!" Ucap Langit.


    Ketiga saudara kembar itu saling pandang satu sama lain.


" Atau jangan - jangan ini rumahnya Kakek Yusuf dulunya!" Kata Angkasa, sama persis dengan apa yang dipikirkan oleh saudara kembar lainnya.


" Jadi orang ini namanya Yusuf, Kakek kalian?" Tanya Didi.


" Mungkin saja. Karena Kakek Ja'far dulu pernah cerita kalau Kakek Yusuf itu hilang ingatan dan dia tidak tahu siapa dirinya." Kata Langit sambil mengamati wajah yang mirip Erlangga itu.


" Ya bisa jadi. Karena rumah ini sudah puluhan tahun tidak berpenghuni." Kata Didi.


" Terus keluarga yang lainnya kemana?" Tanya Dodo.


Keempat anak itu kembali terdiam. Mereka berpikir. Kalau Yusuf menghilang dan lupa siapa dirinya. Kenapa keluarganya tidak mencarinya.


" Kita tidak tahu. Karena sampai Kakek Yusuf meninggal pun, tidak diketahui siapa keluarganya." Jelas Bintang.


" Bagaimana kalau nanti kita tanya pada Bapak. Siapa pemilik rumah hantu ini?!" Didi melihat ke arah Trio Kancil.


*******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN, VOTE NYA JUGA YA.


KASIH BINTANG LIMA JUGA YA DAN JEMPOL YANG BANYAK.


DUKUNG AKU TERUS YA.


TERIMA KASIH.


KUNJUNGI KARYA AKU YANG LAINNYA JUGA YA. NGGAK KALAH SERU....


Rekomendasi Novel yang sangat bagus untukmu, Mamaku Wanita Super & Papaku Super Genius, di sini dapat lihat: http://h5.mangatoon.mobi/contents/detail?id\=1308725&\_language\=id&\_app\_id\=2

__ADS_1


__ADS_2