
Aurora yang sedang rebahan sambil baca novel, dikejutkan dengan suara dering handphone-nya. Tertera nama ID Amara di layar disana.
"Assalammu'alaikum," kata Aurora begitu dia mengangkat teleponnya.
"Wa'alaikumsalam," jawab Amara suaranya yang serak.
"Kenapa Amara? Kok suara kamu serak begitu?" tanya Aurora begitu mendengar suara Amara.
"Ma, Ghaza marah sama Amara. Kemudian dia bilang ingin mengakhiri hubungan ini?" jawab Amara sambil terisak.
"Maksudnya kalian sekarang sudah putus!" kata Aurora setengah berteriak.
"Iya, Ma. Ghaza juga tidak bisa dihubungi lagi," lanjut Amara dengan suaranya yang tertahan.
"Memangnya kenapa kalian sampai putus?" tanya Aurora penasaran
"Saat itu, aku sedang bersama dengan Andre mataku kelilipan debu. Andre mencoba membantuku dengan meniup mataku yang kelilipan. Saat itu Ghaza ada di belakangku. Dia marah dan ingin mengakhiri hubungan kita," jelas Amara dengan diselingi oleh tangisannya.
******
Aurora sebenarnya tidak mau ikut campur masalah percintaan anaknya. Dia juga nggak mengekang mereka pacaran, tidak seperti Khalid yang melarang anaknya pacaran. Makanya dulu Ghazali pacaran diam-diam.
Aurora pun, mencari keberadaan Ghazali. Ingin tahu tentang kebenarannya. Saat Aurora melewati ruang makan dilihatnya Ghazali dan bintang sedang makan siang bersama, dan duduk berdampingan.
"Ghaza, apa benar kamu sudah putus dari Amara?" tanya Aurora tiba-tiba, begitu masuk ke ruang makan.
Pertanyaan itu membuat Ghazali dan Bintang terkejut. Sampai-sampai Ghazali tersedak makanannya.
"Mama tahu dari mana?" tanya Ghazali sambil memandang ke arah Aurora.
"Barusan Amara menelepon Mama," jawab Aurora sambil duduk di kursi yang berada di depan Ghazali dan Bintang.
"Oh, iya kita berdua sudah putus!" kata Ghazali sambil mengelap mulutnya pakai tisu.
"Katanya itu kamu salah paham?" Aurora mengatakan apa yang tadi Amara bilang.
__ADS_1
"Mama, Ghaza bisa membedakan mana yang meniup mata! Mana yang berciuman!" kata Ghazali dengan memasang wajah kesal.
"Mungkin karena posisi kamu, di belakang mereka? Atau jarak kalian jauh?" tanya Aurora ragu-ragu salah menduga.
"Baik, Mama lihat dari sana. Bintang sini berdiri menyamping," Ghazali pun berdiri mengajak Bintang seperti posisi Amara dan Andre pada malam itu.
"Posisi Mama adalah aku. Ini posisi Amara dan Andre. Kalau dia bilang sedang meniup matanya yang kelilipan, maka posisinya seperti ini … " Ghazali meniup mata Bintang.
"Sedangkan yang Ghaza lihat adalah mereka melakukan hal seperti ini … " Ghazali benar-benar mencium Bintang seperti yang dilakukan oleh Amara dan Andre.
Ghazali mencium Bintang sebagaimana ciuman orang dewasa sering lakukan. Ini pertama kali bagi keduanya melakukan ciuman seperti ini. Bintang yang awalnya terkejut akhirnya pasrah dan malah terbuai menikmatinya. Dia juga mengcekram pinggang Ghazali dengan kuat..
Sementara Aurora yang melihat Ghazali dan Bintang melakukan adegan live show di hadapannya, sangat terkejut sampai dia tidak bisa berkata apa-apa, bahkan bergerak saling shock-nya.
Kedua orang itu baru melepaskan ciumannya setelah mereka merasa puas. Ghazali dan Bintang yang baru saja sadar dengan apa yang telah mereka perbuat, langsung memisahkan diri dan menjauh satu sama lain. Jantung mereka berdua berdetak sangat kencang, bahkan Bintang merasakan sakit di dadanya.
"Apa yang kamu lakukan Ghaza!" suara Aurora yang keras memenuhi ruang makan, bahkan sampai ke ruangan di sebelahnya. Aurora murka saat melihat kelakuan anak bungsunya itu. Bahkan Bintang pun langsung merasa ketakutan.
"Iya inilah yang mereka lakukan, dihadapan ku!" jawab Ghazali sambil menatap Aurora.
"Bintang kamu pulang sendiri, ya," kata Ghazali sambil pergi meninggalkan ruang makan dengan memasang wajah menahan amarahnya.
Bintang pun pulang sendiri, dengan mobil miliknya. Hatinya saat ini sungguh tak menentu, tapi yang jelas kini dia marah sama Ghazali.
"Aku membencimu, Om!" kata Bintang sebelum meninggalkan rumah Khalid. Matanya melihat ke arah kamar Ghazali.
Ghazali saat ini sedang marah, pada dirinya sendiri. Sudah dua kali dia melakukan yang seharusnya tidak dia lakukan kepada Bintang. Bahkan dia mengakui kalau dirinya adalah laki-laki brengsek. Ghazali merasa Bintang itu punya daya pikat yang terlalu kuat baginya. Dia juga sudah lama tahu hal itu sejak lama.
Sementara Aurora yang marah bercampur terkejut tak percaya, kini menelpon suaminya. Untuk membicarakan masalah ini. Dia tak habis pikir kalau putranya berani melakukan hal itu.
Khalid juga sangat terkejut saat mendengar cerita Aurora. Sehingga dia memanggil Ghazali untuk disidang.
"Apa yang tadi siang kamu lakukan terhadap Bintang?!" tanya Khalid dengan suaranya yang tegas dan tatapan matanya yang tajam.
"Maksud Papa, hal yang aku dan Bintang lakukan tadi siang? Kita melakukan hal banyak sekali tadi siang," jawab Ghazali meski tahu maksud dari pertanyaan dari Khalid barusan.
__ADS_1
"Memangnya apa saja yang telah kalian lakukan berdua tadi siang?" tanya Khalid dengan nada suara yang tajam dan matanya tak lepas dari Ghazali.
"Ghaza dan Bintang tidur bersama--," kata Ghazali.
"Apa kamu bilang! Apa kamu tahu yang kamu lakukan adalah dosa besar!" Khalid berdiri dari duduknya dengan sangat marah dengan kelakuan anaknya. Bahkan dia tidak akan segan untuk menghajar anak bungsunya itu.
"Papa dengarkan dulu, Ghaza selesai bicara!" Ghazali tanpa sadar meninggikan suaranya.
"Ghaza tunjukan sopan santun mu kepada Papa!" bentak Aurora sambil menatap tajam putranya, karena telah berani meninggikan suaranya terhadap orang tuanya.
"Kita berdua ketiduran di sofa, tanya saja pada Mama?" bela Ghazali karena merasa tersudutkan.
Khalid pun beralih ke arah Aurora, dan dilihat istrinya itu menganggukan kepala, membenarkan apa yang Ghazali katakan.
"Papa ingin tahu apa yang kamu lakukan terhadap Bintang di ruang meja makan!" tanya Khalid dengan menatap tajam ke arah putra bungsunya.
Ghazali terdiam, kemudian dia menundukkan kepalanya, "Ghaza mencium Bintang, Pah." jawab Ghazali dengan suaranya yang lirih.
Mendengar pengakuan Ghazali, Khalid sangat marah, dan dia memberikan sebuah tamparan yang sangat kuat kepada putra bungsunya itu. Sampai-sampai muka Ghazali berpaling ke arah samping dengan kuat.
Ghazali merasakan telinganya mendengung dan pipinya panas, akibat dari tamparan yang diberikan oleh Khalid. Sudut bibirnya pun robek dan mengeluarkan sedikit darah.
Seumur hidupnya, baru kali ini Khalid marah kepada Ghazali. Putra kesayangan yang selalu manja kepadanya itu. Perbuatannya hari ini membuat dirinya benar-benar murka oleh tingkah lakunya.
"Kenapa kamu melakukan itu kepada Bintang, hah!" bentak Khalid dengan napasnya yang memburu karena menahan amarah.
Ghazali terdiam bingung mau berbicara apa, saat menghadapi amukan Papa-nya.
*******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA YA. MUMPUNG LAGI HARI SENIN.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK YA
TERIMA KASIH.
__ADS_1