
Kini Alex sudah mendapatkan pengobatan secara intensif, di Rumah Sakit Harapan. Begitu juga dengan A, B, dan Alessio. Sedangkan Mark hanya melakukan pemeriksaan biasa saja. Karena dia hanya pingsan pengaruh dari obat bius. Begitu juga dengan Angkasa dan Bintang. Mereka berdua hanya di kasih air infus saja. Alex dirawat satu ruangan dengan si Kembar. Dengan alasan agar mudah merawat dan menjaga mereka secara bersama - sama.
Cantika selalu mengecek keadaan tiga orang itu. Hampir satu jam sekali dia akan memeriksa apa aliran air infus atau darahnya berjalan lancar. Alex mendapat bantuan donor darah dari Ghazali. Karena kondisi badan Fatih tidak memungkinkan dirinya menjadi pendonor, karena beberapa hari belakangan dia sering lembur. Saat ini Angkasa tidur di atas kasur dan ditemani oleh Langit. Sedangkan Alex tidur bersama Ghazali, yang katanya mau menjaga pasien. Tapi sepertinya Ghazali malah tidur pulas.
Cantika kembali membaringkan tubuhnya dikasur bersama Bintang. Sejak sadar tadi Bintang selalu memeluk tubuhnya erat. Bintang yang biasanya ceria kini hanya bisa menangis sambil bilang terus " takut ".
Alex merasakan ada sesuatu yang menimpa perutnya. Dengan perlahan dia membuka matanya dan melihat ada tangan yang melingkar di belakang tubuhnya. Saat Alex memalingkan wajahnya ke belakang. Dilihatnya Ghazali tengah tidur sambil memeluk dirinya.
" Astagfirullah "
" Hei.... Ghazali bangun !"
" Ngapain kamu tidur di sini ?"
Ghazali yang mendapatkan pertanyaan dari Alex hanya merespon biasa saja.
"Jam berapa sekarang ?"
" Jam sebelas malam lebih tiga puluh menit." Jawab Ghazali.
" Bantu kakak ke kamar mandi, mau ambil wudhu."
Ghazali pun membawakan tongkat besi, tempat air infus dan labu darah di gantungkan. Saat itu tanpa sengaja Cantika terbangun mendengar suara orang yang sedang berbicara.
__ADS_1
" Apa Alex sudah siuman ?" Tanya Cantika pada Ghazali yang sedang berdiri di depan pintu kamar mandi.
" Iya, Kak. Barusan."
" Syukurlah dia sudah sadar. Bagaiman kondisinya sekarang ?"
" Kak Al terlihat sudah baikan."
Terdengar lenguhan suara Bintang yang terbangun dari tidurnya. Saat Cantika akan menghampiri Bintang, Ghazali menahannya. Jadinya Ghazali yang menghampiri Bintang.
" Bintang kenapa ?" Ghazali bertanya dengan suara rendah.
" Bintang takut, Om."
" Jangan takut, sini Om peluk." Ghazali naik ke atas kasur dan membaringkan tubuhnya dan memeluk Bintang. Di usap - usapnya kepala Bintang dengan rasa sayang. Dan akhirnya keduanya tertidur dengan saling berpelukan.
Cantika duduk di kursi antara kasur milik Alex dan Angkasa. Sambil menunggu Alex selesai sholatnya, Cantika memeriksa kondisi Angkasa, dan membenarkan selimutnya. Sedangkan Ghazali malah pindah tidur di kasur Bintang. Karena tadi Bintang terbangun saat dirasa tubuh Mamanya tidak berada di sisinya. Dan itu membuat Bintang menangis terisak. Jadi Ghazali menenangkannya. Mereka berdua tidur saling berpelukan, tubuh kecil Bintang seakan berselimutkan tubuh Ghazali. Cantika bingung mau membangunkan Ghazali merasa tidak enak. Sedangkan di sofa sudah ada Erlangga, yang baru saja membaringkan tubuhnya disana. Apalagi Erlangga baru saja mendonorkan darahnya untuk Arga.
" Honey "
Terdengar Alex memanggilnya, Cantika langsung memalingkan wajahnya kearah Alex. Kemudian tersenyum.
" Terima kasih sudah membawa kembali Angkasa dan Bintang."
__ADS_1
" Terima kasih juga, karena sudah kembali dengan selamat," senyum Cantika mengembang dan Air matanya turun membasahi pipinya. Bukan air mata kesedihan, tapi ini air mata kebahagiaan.
" Panggil aku Honey !"
Alex merasa sangat rindu akan panggilan dari Cantika. Karena saat tadi di markas musuh dia selalu memikirkan Cantika yang sedang mengkhawatirkan si Kembar. Alex benar - benar tidak mau kehilangan orang - orang yang di sayanginya.
" Sayang.... terima kasih sudah kembali dengan selamat."
Cantika mengabulkan permintaan Alex, dan itu membuat Alex sangat bahagia. Mata mereka saling menatap satu sama lain menyelami dalamnya perasaan mereka. Tatapan mereka terputus saat Langit bangun dan memanggil Mamanya.
" Mama...." Langit mengigau memanggil Cantika dalam tidurnya.
Waktu menunjukan jam satu dini hari. Dan Alex meminta Cantika tidur di kasurnya. Tentu saja di tolak mentah - mentah oleh Cantika. Bagaimanapun Alex adalah seorang pasien. Akhirnya Alex tidur di kasur dan Cantika tidur di kursi antara kasur Angkasa dan Bintang.
Tiga puluh menit telah berlalu, Alex bangun dan melihat Cantika yang tidur sambil duduk di kursi. Sebenarnya sejak tadi Alex tidak tidur. Dia hanya memejamkan matanya saja, supaya Cantika mengira dia tidur. Alex kemudian bangun dan membopong Cantika, dan menidurkannya di kasur miliknya. Dan kini Alex sendiri duduk di kursi antara kasur Cantika dan Angkasa. Alex tidak tidur tapi dia malah memainkan laptopnya dan mengerjakan sesuatu. Sampai masuk waktu subuh.
Cantika merasa tidurnya nyaman sehingga dia tertidur dengan nyenyak setelah kemarin seharian dirinya dibuat khawatir akan keselamatan kedua anaknya dan Alex. Saat membuka matanya, Cantika begitu terkejut menyadari dirinya sedang tidur di atas kasur yang semalam ditiduri oleh Alex. Dilihatnya sekeliling kamar hanya ada dirinya dan ketiga anak kembarnya. Sedangkan Alex, Erlangga, dan Ghazali, mereka bertiga sudah tidak ada. Dilihatnya jam yang terpasang di dinding menunjukan pukul setengah lima. Ternyata sudah masuk waktu sholat subuh. Dan Cantika pun menjalankan kewajibannya sebagai umat muslim.
* * * * * * *
Berita tentang penyergapan kelompok Mafia yang di pimpin oleh Bagas Dijaya menjadi berita utama pagi ini. Berita juga menyiarkan tentang penculikan si Kembar, Trio Kancil. Para pembaca berita menyangkut pautkan masalah penculikan kali ini dengan kasus penculikan yang beberapa hari lalu terjadi. Keluarga Dijaya sudah benar - benar hancur. Pertama kasus kejahatan putri mereka, Anggit yang di duga melakukan percobaan pembunuhan, yang jatuhnya kasus pembunuhan berencana. Kemudian jatuhnya perusahaan milik keluarga Dijaya yang telah berdiri lebih dari dua puluh lima tahun sebagai perusahaan yang maju. Dan sekarang Bagas Dijaya anak dari Bagus Dijaya di duga merupakan komplotan kelompok mafia.
Itulah berita pagi yang mengguncang negeri ini. Karena seorang Budiono Dijaya adalah seorang pengusaha yang sukses dan anggota dewan. Terkenal akan kebaikan dan kedermawanannya. Dia juga merupakan wakil rakyat yang selalu menyampaikan aspirasi rakyat. Dia sering terjun langsung di masyarakat, dirinya yang sederhana mudah bergaul dengan berbagai golongan. Di kehidupan dengan para tetangganya juga terjalin dengan baik. Tapi kini sayang, gara - gara sifat keegoisan anaknya semuanya jadi hancur. Ibarat pribahasa gara - gara nila setitik rusak susu Sebelanga.
__ADS_1
* * * * * * *
Jangan luka klik like, favorit, hadiah, dan vote. Biar aku makin semangat untuk up setiap hari.