
Langit menatap kepada ayahnya Almahira. "Kenalkan mana saya Langit," jawab Langit kemudian mencium tangan ayahnya Almahira.
Rafli--ayahnya Almahira--menerima uluran tangan Langit. Dia hanya mengerutkan keningnya, saat Langit mencium tangannya dengan takzim.
"Kenapa kamu mencium tanganku?" tanya Rafli karena orang bule biasanya hanya menyapa saja saat bertemu, tapi pemuda yang berada di depannya itu malah mencium tangannya sebagai penghormatan. Seperti yang dilakukan oleh orang-orang Indonesia.
"Karena ini yang diajarkan oleh mama dan papa," jawab Langit dengan senyum ramahnya.
"Siapa nama aslimu?" tanya Rafli karena pemuda di depannya itu bertampang bule tapi namanya Langit.
"Langit Andersson," jawab Langit lancar lewat mulutnya, tapi hatinya berdoa 'ampuni aku Ya Allah, sudah membohongi calon mertuaku. Mudah-mudahan mereka nanti tidak marah.'
Rafli mengerutkan keningnya. Kemudian dia duduk di sofa yang dekat dengan pintu. Seakan menjadi petugas keamanan yang tidak akan membiarkan orang keluar masuk ke rumah seenaknya sendiri.
"Mau apa kamu kesini?" Lanjut Rafli menginterogasi Langit.
"Ayah, jangan begitu!" Kartini mengingatkan suaminya karena dia tidak suka akan perkataannya itu.
Namun Rafli, tidak mengindahkan perkataan istrinya. Dia malah asik menatap Langit yang terlihat tenang setelah Almahira memegang tangannya dan tersenyum.
'Aduh, ini malah si Kakak yang terjerat cinta sama ini bule,' gumam Rafli dalam hatinya karena melihat pancaran rasa cinta dan sayang dari Almahira untuk Langit.
"Saya kesini mau minta izin kepada Ayah dan Ibu untuk menjadikan Almahira sebagai istriku!" Langit berkata dengan tegas dengan menatap kedua orang tua Almahira, agar mereka juga bisa melihat kesungguhan lewat tatapan matanya.
Almahira matanya terbelalak dan tangannya menutup mulutnya. Dia tidak menyangka kalau Langit akan mengatakan hal seperti itu kepada orang tuanya. Begitu juga dengan Kartini, dia begitu terkejut dengan keberanian Langit meminta anaknya untuk bisa dijadikan istrinya.
'Hebat juga ini pemuda bule. Dengan berani meminta izin untuk menikahi Almahira. Aku suka dengan orang yang terus terang seperti ini.' gumam Kartini sambil tersenyum bahagia karena akan punya mantu bule yang tampan.
__ADS_1
"Apa kamu tahu dan sadar, dengan apa yang baru saja dikatakan kepada kami!" Rafli menatap tajam ke arah Langit. Baginya pemuda dihadapannya ini hanya seorang bocah yang lagi mengalami pubertas pertama. Jadi menganggap mudah urusan rumah tangganya.
"Iya, Langit tahu dan sadar. Saat ini meminta izin untuk bisa menikahi Almahira. Aku dengar dari Almahira, kalau Ayah dan Ibu tidak membolehkannya pacaran. Jadi aku ajak menikah saja. Agar kita tidak terjebak dalam kubangan dosa, akibat punya perasaan saling mencintai." Langit dengan tegas berbicara tentang perasaannya dengan Almahira.
" Omong kosong apa ini! Kamu pikir hidup berumah tangga itu mudah. Jangan menggugu hawa napsu, jadi dengan mudahnya mengucapkan kata nikah. Aku tidak mau putriku hidup bersama laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Biasanya orang yang berkata dengan mudah mengajak menikah malah sangat mudah bilang cerai." Rafli memberi sindiran keras kepada Langit.
Langit mengedipkan matanya berkali-kali saat mendengarkan perkataan calon mertuanya itu. Kemudian dia melihat ke arah Almahira yang duduk sambil menundukkan kepalanya. Langit menggenggam tangan gadisnya itu, dan sebaliknya Almahira membalas genggamnya dengan lembut.
"Maksud Ayah dengan bertanggung jawab itu dalam hal lahir dan batin?" tanya Langit dengan rasa was-was takut salah arti dari maksud calon mertuanya itu.
"Iya. Apa kamu sudah mampu untuk membiayai kehidupan keluargamu kelak. Jangan bilang kalau kamu mau memberi makan anak dan istrimu dari harta orang tuamu!" Rafli memberi jawaban dan peringatan kepada Langit.
Almahira merasa sedih saat dirasa restu Ayahnya itu begitu sulit untuk didapat. Air matanya jatuh menetes di bajunya yang sedang dia pakai. Langit juga dapat ikut merasakan kesedihan yang ada di hati gadis pujaannya itu.
"Aku siap bertanggung jawab lahir dan batin untuk membahagiakan gadis yang aku sayangi dan amat dicintai," balas Langit dengan rasa penuh percaya diri.
"Bisakah kamu berjanji Nak?" tanya Kartini karena dia melihat putrinya sedang menahan tangisannya. Lagian dia sudah suka kepada Langit saat melihatnya pertama kali tadi.
"Kamu muslim?" tanya Rafli kepada Langit.
"Iya, saya muslim. Makanya aku mau mengajak Almahira menikah. Baik Langit maupun Almahira tidak mau jatuh ke dalam kubangan dosa napsu sesaat, dikarenakan takut tidak bisa menahan perasaan ini," jawab Langit yang kemudian memegang dadanya.
"Oke. Sekarang bagian itu sudah tidak menjadi masalah. Apa kamu mampu membiayai keperluan keluargamu sehari-hari nantinya?" tanya Rafli seperti dosen yang sedang menyidang mahasiswanya.
"Apa biaya untuk sebulan hidup berkeluarga, tiga ratus ribu dollar cukup?" tanya Langit.
Dalam otaknya dia mengingat-ingat pendapatan paling sedikit saat ini di perusahaan buatannya sendiri. Dia tidak mau memakai uang harta warisan untuk memberi makan anak dan istrinya. Seperti papa dan mamanya, meski banyak harta. Mereka mengkhususkan uang untuk makan dan minum harus dari hasil usahanya sendiri.
__ADS_1
Langit tidak sadar kalau ucapannya itu membuat calon istri dan kedua mertuanya itu menganga. Tidak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan.
"Kamu ... punya uang ... sebanyak itu dari mana?" tanya Rafli yang masih terkejut.
"Ya, dari usaha Langit. Aku juga 'kan--" Langit hampir membongkar identitasnya sendiri.
Langit akan memberitahu siapa dirinya, jika hanya dia dan mertuanya yang berbicara tanpa ada Almahira di sini. Bagi Langit uang segitu hanya jatah jajannya dari mamanya. Cantika tidak akan membiarkan anak-anaknya hidup boros. Maka semua laporan keuangan perusahaan anak-anaknya dia periksa.
"Apa pekerjaan kamu sampai bisa membiayai kehidupan keluargamu kelak dengan tiga ratus ribu dollar per bulannya." Rafli menatap tajam ke arah Langit.
"Langit suka membuat game online. Maka aku dan beberapa teman di Amerika membuat perusahaan game online. Sebenarnya mereka yang berada di kantor. Sementara aku 'kan masih sekolah," jawab Langit sambil tertawa kikuk.
"Ya sudah kita makan malam dulu yuk!" ajak Kartini karena hari sebentar lagi akan gelap.
Almahira dan Kartini menyiapkan makanan yang akan dihidangkan malam ini. Sedangkan Langit dan Rafli masih di ruang tamu.
"Ayo kita ke sana! Mereka pasti sudah menunggu," ajak Rafli dan berdiri dari kursinya.
"Rajawali ada surat cinta dari macan jantan," kata Langit tiba-tiba dan membuat Rafli mematung saat mendengar ucapan dari Langit barusan.
"Kamu itu bicara apa sih! Mana ada Rajawali dan macan jantan di sini?" Rafli berbicara dengan gugup.
"Anda pasti mengerti dengan kode barusan," kata Langit menatap ke arah mata Rafli.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Rafli dengan nada yang serius.
*******
__ADS_1
HAI TEMAN-TEMAN, SAMBIL MENUNGGU KELANJUTAN DARI TRIO KANCIL. BACA KARYA DARI SAHABATKU