Trio Kancil

Trio Kancil
#BINTANG 20


__ADS_3

"Om, kita batalkan saja pertunangan ini!" kata Bintang dan itu sukses membuat Aria terkejut.


     Tidak ada angin, tidak ada hujan, kata-kata yang diucapkan oleh Bintang itu bagaikan peting di siang bolong bagi Aria.


"Kenapa?" suara Aria tercekat menahan sakit di hatinya. Mata yang selalu menatapnya penuh cinta kepada Bintang, kini menatapnya penuh dengan kekecewaan.   


"Karena ... setelah Bintang renungi dan dipikir kembali ... Bintang tidak bisa melanjutkan hubungan ... lagi dengan ... Om." Bintang menangis tersedu-sedu mengungkapkan isi hatinya yang selama ini membuatnya galau.


"Apa Bintang sudah tidak cinta dan sayang lagi sama Om?!" tanya Aria dengan suaranya yang bergetar dan matanya yang berkaca-kaca.


"Bintang masih sayang sama Om, itu tidak akan pernah hilang selamanya!" bantah Bintang yang kini wajahnya sudah di penuhi air mata.


"Hanya saja … " Bintang menggigit bibir bawahnya yang masih bergetar karena menahan tangisannya.


"Bintang … baru menyadarinya … kalau perasaan ini tidak sama seperti dulu," kata Bintang yang sudah tidak bisa menahan isak tangisnya.


     Kini kedua tangan Bintang sibuk menghapus air mata di pipinya yang mulus dan berwarna merah. Suara tangisannya masih bisa didengar dengan jelas meski dia berusaha untuk menahannya.


"Apa, karena Ghaza?" tanya Aria dengan suaranya yang tercekat, karena menahan suara tangisnya.


"Ya, ternyata ... orang yang ... Bintang sukai ... adalah Om Ghaza!" kata Bintang setelah menarik napasnya dalam-dalam, kemudian menundukkan kepalanya. Dia tak sanggup melihat wajah orang yang pernah menempati posisi tertinggi di hatinya itu.


     Mendengar ucapan Bintang barusan, air mata Aria lolos jatuh di pipinya. Ternyata yang dia takutkan selama ini, kini menjadi nyata. Ketergantungan Bintang kepada Ghazali dari kecil,membuatnya tidak bisa membedakan mana sayang dan cinta kepada laki-laki. Aria akui bahwa Bintang itu lebih dekat dengan Ghazali, walau sama dirinya pun Bintang juga dekat.


     Aria tidak mau jika harus menyerah begitu saja. Dia juga akan memperjuangkan cinta untuk gadisnya. Meski ini hati Bintang tidak sepenuhnya menjadi miliknya.


"Bintang, Om tidak bisa melepaskan mu begitu saja," kata Aria setelah dia berhasil menguasai hatinya yang kacau barusan.


"Kamu tahu kan, betapa cintanya aku kepadamu!" Aria mengulurkan tangannya kepada tangan Bintang yang berada di atas meja.


"Om, sudah menanti belasan tahun. Hanya ingin menjadikan dirimu, ratu di hatiku dan dikehidupanku," kata Aria yang membuat Bintang makin menangis tersedu-sedu.


"Maaf, Om," hanya itu kata yang keluar dari mulut Bintang di sela-sela tangisnya.


"Om, tidak akan membatalkan pertunangan ini! Kita akan melangsungkannya hari lusa besok!" ucap Aria dengan nada tegasnya.


"Tapi Om, kalau kita memaksakan melanjutkannya. Hanya akan ada kesedihan dan kesengsaraan dalam kehidupan kita," bantah Bintang yang kekeh nggak mau melanjutkannya lagi.


"Bintang, selama ini. Banyak hal yang Om korbankan demi kamu, tidak bisakah kali ini kamu yang berkorban demi Om?" tanya Aria sambil menatap Bintang penuh luka di hatinya.

__ADS_1


     Bintang yang hati dan pikirannya masih labil, menjadi bingung harus bagaimana. Terlalu banyak pikiran dan kurangnya istirahat dan asupan makanan, membuat Bintang pingsan. Dia terjatuh ke lantai karena tidak ada yang menahan tubuhnya.


"Bintang!" Aria panik saat melihat Bintang hampir terjatuh ke lantai, karena tak sadarkan diri. Tangan Aria yang ingin menggapai Bintang ternyata tidak sampai dan akhirnya jatuh ke lantai.


"Bintang …!" panggil Aria sambil menepuk-nepuk pipinya.


    Aria cepat-cepat keluar dari ruang privasi yang ada di restoran milik Arga itu. Dia membopong Bintang, dan membawanya ke rumah sakit Harapan milik keluarga Hakim.


    Bintang pingsan cukup lama, meski sudah lebih dari tiga jam. Bintang masih juga belum membukakan matanya. Aria sangat panik dan merasa bersalah.


"Bintang, aku mohon. Bangunlah … " suara lirih Aria terdengar di ruang rawat itu. 


      Aria kini sedang duduk di kursi samping brankar, sambil memegang tangan Bintang. Saat dirasa ada pergerakan dari tangan Bintang, Aria sangat senang.


"Bintang … bangun, Sayang," panggil Aria dengan suaranya yang lembut.


    Bintang membuka matanya dengan perlahan. Dia melihat Aria yang sedang duduk di sampingnya, sambil memegang tangannya, dan terus memanggil namanya.


"Bintang, apa ada yang sakit?" tanya Aria dengan panik karena Bintang tidak merespon panggilannya.


"Bintang … " panggil Aria lagi.


"Ya, Om … " jawab Bintang dengan suaranya yang pelan.


"Hm … " Bintang menggelengkan kepalanya pelan.


"Maafkan Om, jika gara-gara keegoisan Om telah membuatmu jadi seperti ini?!" kata Aria dengan sangat berat karena dia tahu akhirnya harus menyerah juga.


"Bintang yang harusnya minta maaf, karena telah melukai hati Om," sanggah Bintang yang mengakui kalau dirinya begitu egois. Demi memikirkan kebahagian dirinya, dia telah melukai orang yang telah lama mencintainya itu.


"Om, akan melepaskan mu. Jika Ghaza datang dan meminta dirimu dengan cara yang baik, sebelum pertunangan kita. Namun bila kita sudah bertunangan, maka aku akan mempertahan dirimu untuk selalu di sisiku," kata Aria dengan sangat serius.


"Om … " panggil Bintang dengan merasa bersalah.


"Bagaimana? Om rasa ini sudah adil! Kita sama-sama ingin menggapai kebahagian bersama dengan orang yang kita cintai," kata Aria dengan serius.


"Bintang juga ingin kita semua bisa hidup bahagia," balas Bintang dengan menatap Aria merasa bersalah.


    Bintang kini berpikir bagaimana kalau Ghazali tidak datang sampai batas waktu yang sudah ditentukan oleh Aria. Apalagi Ghazali tidak tahu akan adanya pertaruhan ini.

__ADS_1


"Halo, Isabella," sapa Bintang begitu panggilannya tersambung.


"Bintang?" panggil Isabella di seberang sana.


"Ya, ini aku."


"Ada apa?" tanya Isabella.


"Bagaimana keadaan Om Ghaza sekarang?" tanya Bintang.


"Oh, dia baru saja sadar tadi pagi," jawab Isabella.


"Syukurlah … lalu apa kamu akan datang ke sini, untuk menghadiri acara pertunanganku?" tanya Bintang dengan suaranya yang tercekat. Padahal kemarin-kemarin bila membicarakan soal pertunangannya dengan Aria, dia akan sangat bahagia dan semangat.


"Tentu saja. Aku dan yang lainnya akan datang besok menggunakan pesawat jet kami," jawab Isabella.


"Ah, syukurlah. Lalu apa Om Ghaza juga akan datang?" tanya Bintang penasaran.


"Oh Ghaza, tidak tahu. Soalnya dia kan masih di rumah sakit. Kita tidak tahu kapan dia bisa dibawa pulang?" jawab Isabella dengan nadanya penuh penyesalan.


Mendengar perkataan dari Isabella, barusan membuat Bintang merasa sesak dadanya. Rasanya dia ingin menangis dan mengungkapkan semuanya kepada Isabella, dan memintanya agar membawa paksa Ghazali agar bisa datang sebelum pertunangan dengan Aria dilaksanakan.


"Halo, Bintang apa kamu masih di sana?" tanya Isabella, karena tidak terdengar suara dari Bintang.


"Iya, aku masih di sini. Isabella, apa bisa aku minta tolong ...?" tanya Bintang penuh harap.


"Ya, tentu saja!" jawab Isabella.


*******


Bintang berdiri di depan cermin, yang menampilkan sosoknya yang kini telah di dandani dengan begitu cantik, layaknya sebuah boneka. Hari ini dimana, Aria dan dirinya akan bertunangan.


"Ya Allah, semoga Engkau memberikan yang terbaik buatku," doa Bintang yang sering dia panjatkan.


"Engkaulah yang tahu terbaik untukku, karena Engkaulah Maha Penyayang," doa yang diucapkan oleh Bintang secara lirih.


*****


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAVORIT, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.

__ADS_1


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.


__ADS_2