
Alex datang ke kantornya George, dengan hati yang panas. Disana dia disambut gembira oleh George. Nggak ada panas, hujan, atau angin, seorang Alexander Green Andersson menginjakan kakinya di perusahaan miliknya.
" Hai bro, tumben kamu datang kesini. Ada apa ? " Tanyanya dengan senyum bahagia.
" Ada yang ingin aku tanyakan. Apa kau ingat saat di Bali, enam tahun yang lalu. Kau bilang mau memberiku hadiah ? " dengan mata tajam Alex menatap George.
" Bali... ? Enam tahun yang lalu.. ? " George coba mengingat - ingat.
" Ya, kamu mau memberiku hadiah karena telah membantu perusahan Daddy-mu. Dan kita makan malam bersama " , dengan tidak sabar Alex coba mengingatkannya.
" Oh, aku ingat. Aku meminta karyawan disana untuk mengantarkannya ke kamar mu. Tapi katanya kamu tidak juga membukakan pintunya. Akhirnya barang itu dikembalikan lagi padaku " , kata George.
" Tapi tenang saja, barangnya masih ada kok. Aku simpan dirumah , nanti aku antarkan ke rumah mu ", lanjutnya lagi.
" Barang.... ? Kau mau memberiku hadiah berupa barang ? " Alex bertanya untuk meyakinkannya.
" Iya, barang - barang peninggalan ibu ku dan ibu mu saat mereka selalu bersama " , George menjawabnya.
" Kamu nggak mengirimkan seorang wanita untuk menghiburku ? " Tanyanya lagi.
" Kau pikir aku gila melakukan itu ! , Aku tahu kamu tidak akan menyentuh wanita, kecuali wanita itu istrimu " , George teringat ucapan yang selalu Alex katakan saat dia mengajaknya bersenang - senang dengan wanita.
" Aaaaaah.... Sial ! " Alex berteriak melampiaskan amarahnya.
" Sebenarnya ada apa ? " George tidak mengerti apa yang sudah terjadi pada Alex.
" Aku tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi saat itu ? " , Alex kemudian dia menceritakan secara garis besar yang pada hari itu.
" Apa kau mengalami
Lucid Dream atau sebaliknya ? " George penasaran.
" Aku nggak tahu. Hanya saja aku merasa sedang bermimpi, tapi aku merasa tubuhku terangsang " . Alex menyandarkan tubuhnya di sofa dengan mata terpejam.
Terdengar suara pintu dibuka, dengan spontan kepala dua orang laki - laki itu memalingkan mukanya ke arah sumber suara.
" Hai, Amanda sayang ada apa kemari ? " , George menyambut seorang wanita seksi dengan kecupan di pipinya.
__ADS_1
" Aku mau makan siang bersama tadinya. Tapi ternyata kamu sedang sibuk " , kata wanita itu.
" Sayang... kalau tidak salah kamu dulu ada di Bali, kan ? Ikut makan malam sama kami ? " George menunjuk Alex dan dirinya.
" Hem, kapan ya ?! " Amanda coba mengingat kapan dirinya pernah makan malam bersama seorang Alexander.
" Eman tahun yang lalu, bersama Silvia juga saat itu ! " , George coba mengingatkan Amanda.
" Oh, jadi pemuda tampan waktu itu adalah tuan Alex !!! " dirinya tidak percaya, saat itu Alex berpakaian santai dan jarang orang melihat dia berpenampilan seperi itu.
" Tapi saat itu Silvia bilang kalau pemuda itu adalah kekasihnya yang sedang merajuk. Sehingga mendiamkannya, makanya dia mau menyusulnya ke kamar mereka menginap " , lanjut Amanda.
" Apa.... !!!! " George dan Alex bersamaan.
George menyangka wanita yang tidur bersama Alex adalah Silvia. Sedangkan Alex merasa bersyukur malam itu dia salah masuk kamar. Karena dia tahu saudara tiri yang tergila - gila padanya itu bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang dia mau.
" Apa kamu malam itu tidur dengan Silvia ? " George memandang Alex, tak percaya.
" Aku tidak pernah tidur dengan wanita itu !!! " Alex meninggikan suaranya.
" Sudahlah aku mau pulang ", Alex berdiri dan berjalan ke arah pintu.
" Iya tadi pagi dia datang ke rumah mengantarkan surat undangannya. Katanya pestanya bulan depan " , Fatih mengundang George, karena di juga temannya sewaktu kuliah.
" Tak menyangka manusia kaku itu bisa menikahi gadis cantik apalagi umurnya masih muda ". George tertawa, dan di ikuti oleh Alex.
* * * * * * *
Kini Alex mendatangi kediaman Grandpa Albert, kakeknya Fatih. Saat memasuki ruang keluarga dilihatnya Fatih sedang tiduran di pangkuan neneknya, Grandma Laura. Fatih sering bermanja - manjaan saat bertemu dengan neneknya itu. Alex datang menghampiri mereka yang sedang duduk - duduk santai sedang menikmati waktu kebersamaan dengan cucu kesayangannya itu.
" Wah sudah menikah, masih saja bermanjaan pada Grandma ", Alex tersenyum geli melihat Fatih tiduran dipangkuan neneknya sambil di elus - elus kepalanya.
" Sirik bilang aja !? ", Fatih memejamkan matanya menikmati elusan di kepalanya.
" Ya, seenggaknya sekarang kamu sudah punya isteri. Manja - manjanya sama dia dong. Masa masih saja sama Grandma ", Alex merasa sebal melihat kelakuan Fatih yang masih kayak anak kecil.
" Fatih ada yang mau aku bicarakan ", Alex berdiri dan berjalan ke lantai atas menuju kamar Fatih.
__ADS_1
Alex duduk di sofa dekat jendela, sedangkan Fatih duduk di kursi meja belajarnya, yang sering dia gunakan waktu masih kuliah.
" Apa yang mau kamu bicarakan ?"
" Apa kamu tahu, kalau kemera CCTV di lorong lantai kamar tempat kita menginap dulu waktu di Bali, telah hilang ?! ", Alex menatap Fatih.
" Apa maksudnya ?", Fatih duduk menumpukan kakinya di kursi.
" Yah, dulu waktu aku mau mencari wanita yang tidur denganku. Aku meminta ke pihak Hotel untuk memperlihatkan rekaman CCTV di bagian lantai aku menginap. Aku ingin mengambil gambar wajah wanita yang tidur dengan ku ",
" Tapi saat di cek tanggal dan jam pengambilan gambar. Ternyata rekaman waktu itu tidak ada alias hilang ! "
" Sepertinya ada seseorang yang mengambil rekaman di waktu itu ",
" Aku bertanya pada pegawai disana apa ada suatu kejadian yang tidak biasanya pada saat itu ? mereka menjawab tidak ada kejadian aneh ataupun luar biasa ",
" Aku jadi curiga kalau rekaman itu disembunyikan pasti ada sesuatu yang tidak boleh orang tahu ", Alex memberitahu Fatih kejadian saat dirinya kembali ke Bali, Eman bulan setelah kejadian itu.
" Apa mungkin sebenarnya kamu waktu itu di jebak oleh seseorang. Dan dia takut dirinya terekam oleh kamera, sehingga berusaha memusnahkan barang bukti itu. ?! ", Fatih berspekulasi setelah memikirkan berbagai kejadian yang menimpa saudaranya itu.
" Aku tidak tahu siapa orangnya dan untuk apa dia menjebak aku " Alex memijit kepalanya yang mulai terasa berat.
" Yah... mungkin saja orang yang dendam sama kamu ?"
" Atau orang yang sangat membenci dengan kesuksesan kamu, Al ?" lanjut Fatih.
" Dan fakta yang aku tahu tadi siang adalah, Amanda bilang kalau Silvia dulu waktu di Bali mengaku pacar aku. Dan katanya aku sedang merajuk karena tiba - tiba pergi setelah makan malam "
" Untungnya aku salah masuk kamar. Ternyata Silvia menyusul aku ke kamar ",
" Wah serius ?" Fatih agak terkejut mengetahui itu.
" Entahlah, itu Amanda yang bilang ".
" Apa ini yang di sebut salah alamat membawa nikmat " Fatih tertawa kencang dan mendapat lemparan bantal kursi dari Alex.
" Bisa jadi si Silvia ada kaitannya dengan itu ?! "
__ADS_1
" Tapi sekarang itu sudah tidak ada gunanya lagi " Fatih tersenyum mengejek pada Alex.
* * * * * * *