
Malam ini Chelsea tidur di apartemen Paris. Sementara, Angkasa dan Peter akan membicarakan mengenai informasi yang baru saja didapatkan hari ini. Angkasa duduk sambil memangku laptopnya, dia membaca daftar riwayat milik Savior Caracas. Pengusaha muda yang berhasil membangkitkan perkebunan anggur milik keluarganya. Dia kembangkan usaha keluarganya dengan membuat pabrik anggur yang berkualitas, salah satu terbaik di dunia. Meski saat itu usianya baru tujuh belas tahun. Kegigihan dia, yang menjadi kepala keluarga, menggantikan ayahnya yang meninggal. Membuahkan hasil hanya dalam dua tahun. Selanjutnya, dia melebarkan bisnisnya ke dunia perhotelan dan properti, dengan menggunakan nama istrinya, Wina.
"Hebat juga, ayahnya Chelsea!" seru Angkasa, kagum.
"Menurutku, istrinya yang lebih hebat," balas Peter.
"Aku belum baca riwayat milik Wina."
Wina adalah anak perempuan dari keluarga Santiago. Menikah muda dengan kekasihnya, Savior Caracas. Pebisnis ulung di dunia bisnis perhotelan. Dia membeli hotel-hotel yang hampir bangkrut, kemudian di desain ulang dan melakukan promosi dengan besar-besaran. Sehingga dalam satu tahun, uang modal bisa kembali lagi.
"Wah, hebat juga, ya! Mamanya Chelsea," kata Angkasa sambil manggut-manggut.
"San-tiago?" Angkasa bergumam. Otaknya sedang berpikir untuk mengingat-ingat nama ini.
"Ah! Temannya Papa!" Pekik Angkasa sambil berdiri. Untuk laptopnya masih di pegang.
Angkasa pun menghubungi papanya, untuk menanyakan tentang orang yang memiliki nama Santiago. Dulu nama itu sering terdengar saat Alex berbicara dengan temannya.
"Assalammu'alaikum, Pah," sapa Angkasa.
"Wa'alaikumsalam," jawab Alex.
"Pah, Angkasa mau tanya tentang keluarga Santiago? Apa Papa kenal mereka?"
" Keluarga Santiago? Ada beberapa orang yang Papa kenal. Kenapa?"
"Angkasa mau tanya, apa Papa, kenal dengan orang yang bernama Wina?"
"Wina? Papa kenal dia karena rekan bisnis perhotelan di Eropa. Kenapa dengan dia?"
"Eh, bukannya dia sudah meninggal, Pah?"
"Apa maksud kamu? Belum juga satu bulan kita bertemu di perkumpulan para pengusaha properti," jawab Alex dengan agak terkejut saat mendengar kata-kata Angkasa.
"Apa Papa punya daftar riwayat milik Wina yang kumplit? Sebenarnya beberapa Minggu yang lalu, ada seorang wanita memberikan bayi perempuan bernama Chelsea. Dia minta Angkasa untuk menjaganya dari orang yang bernama Madrid. Karena orang itu sudah membunuh orang tua Chelsea, Savior Caracas dan istrinya, Wina."
Alex sangat terkejut, karena sekitar dua Minggu yang lalu Savior menelepon dirinya. Dia memberitahu sebuah rahasia yang selama ini, disembunyikan oleh sahabatnya. Alex secepatnya melakukan penyelidikan itu. Meski akhirnya, dia tidak menyangka kalau sudah dikhianati oleh orang yang dipercayainya.
"Lalu, di mana anaknya Wina, sekarang?"
"Dia sedang bersama Paris, Pah. Chelsea memanggil Paris dengan sebutan Mama. Sedangkan sama Angkasa dia manggil Papa."
"Kamu masih berhubungan dengan Paris?"
__ADS_1
"Paris kuliah di sini juga, Pah."
"Sebaiknya kamu menjaga jarak dengan Paris. Chelsea juga kalau bisa antarkan ke sini. Biar Papa yang melindunginya!"
Angkasa sangat terkejut dengan perkataan papanya barusan. Dia tidak mengerti maksud dari menjaga jarak dengan Paris. Bukannya hubungan mereka selama ini baik-baik saja.
"Angkasa!"
"Ah, iya, Pah. Hanya saja Chelsea tidak bisa jauh dari Paris. Dia sangat bergantung padanya. Kadang sama Angkasa juga."
"Kamu juga, mulai sekarang biasakan menjaga jarak dengan Paris. Papa tidak mau mendengar kalau kamu dekat, apalagi menjalin hubungan asmara dengan Paris!"
Angkasa terasa disambar petir saat mendapat ultimatum dari papanya. Baru saja dia akan berusaha untuk mengakui perasaannya. Mana mungkin dia harus menghilangkan perasaannya begitu saja.
"Memangnya ada apa, Pah?"
"Helsinki, melakukan jual beli senjata produksi Andersson, ke dunia bawah. Dia melakukan itu secara diam-diam. Papa tidak suka, kalau barang produksi keluarga kita dimanfaatkan di jalan tidak benar. Papa buat itu untuk digunakan oleh para tentara yang menjaga negaranya. Bukan untuk kelompok Mafia atau Yakuza."
"Kenapa, Daddynya Paris melakukan itu?"
"Karena dia butuh uang banyak! Dan hubungan Papa dengannya juga semua sudah berakhir. Semua kerjasama kita dihentikan."
"Darimana Papa tahu kalau Uncle Helsinki, melakukan jual beli di dunia bawah?"
"Jadi, maksudnya Savior Caracas juga orang dari dunia bawah?"
"Iya. Lalu Madrid Brazzaville, adalah saingannya."
"Madrid?"
Akhirnya nama itu juga bisa muncul dari mulut papanya. Orang yang tidak diketahui informasinya. Ternyata orang dari dunia bawah.
"Baiklah Papa akan kirimkan semua file tentang orang-orang yang kamu sebutkan tadi."
"Iya, terima kasih, Pah."
Angkasa pun mengakhiri pembicaraan ditelpon dengan papanya. Sekarang pikiran dia kalut, bagaimana bisa dia harus menjauhi Paris. Bukan Paris yang sudah melakukan kejahatan, melainkan daddynya. Jadi, kenapa juga dia harus menjauhinya.
Peter terdiam melihat Angkasa. Dia tahu kalau saat ini, tuannya itu pasti sedang terguncang perasaannya. Saat Angkasa pergi ke kamar tidurnya pun dia biarkan saja. Meski pembicaraan mereka tadi belum selesai.
"Pasti dia nggak akan bisa tidur sampai pagi," kata Peter bermonolog.
*******
__ADS_1
Pagi-pagi saat sarapan Paris dan Chelsea datang ke apartemen Angkasa. Wajah berbinar penuh kebahagiaan, Paris tampakan saat bertatap muka dengan Angkasa.
Angkasa menatap gadis di depannya dengan rasa terluka dihatinya. Dirasa tak sanggup untuk menjauh saat ini, Angkasa memilih menundukkan kepalanya. Setelah semalaman dia berpikir mungkin jalan yang terbaik baginya adalah menjaga jarak dulu dengan Paris. Meski dia tidak akan langsung bisa untuk menjauh darinya.
"Angkasa, apa kamu sedang tidak enak badan?" tanya Paris.
"Papa," panggil Chelsea sambil merentangkan tangannya.
"Aku cuma kurang tidur," jawab Angkasa sambil membawa Chelsea dalam gendongannya.
"Mau aku buatkan air jahe?" tawar Paris.
"Tidak, terima kasih," jawab Angkasa sambil berjalan menjauh dari Paris.
Paris pun mengekori Angkasa ke meja makan. Peter sedang menyusun menu makanan untuk sarapan hari ini.
"Wah, ada nasi goreng! Aku mau buat bubur bayi dulu buat Chelsea," kata Paris sambil mencari mangkuk milik Chelsea.
Mereka pun sarapan bersama dengan banyak diam. Sungguh Paris, merasa ada yang aneh. Angkasa menjadi sering memalingkan wajahnya saat tidak sengaja beradu pandang dengannya. Peter diam fokus sama makanannya.
"Apa ada sesuatu yang tidak beres?" tanya Paris karena penasaran dengan tingkah Angkasa dan Peter.
"Ya, sebenarnya nyawa Chelsea sedang diincar kelompok dunia bawah. Jadi, semalaman aku berpikir kalau sebaiknya, Chelsea kita titipkan kepada Papa. Biar Mama yang mengasuh dan merawatnya," kata Angkasa dengan suara pelan.
"Tidak! Bagaimana bisa, kamu berpikiran begitu?" tanya Paris.
"Kita tidak tahu, seberapa bahayanya orang yang bernama Madrid. Bila Chelsea, dititipkan sama Papa, dia bisa melindunginya." Jelas Angkasa yang sekilas melihat ke arah Paris.
"Lalu, bagaimana kalau dia menangis ingin bersama denganku?" tanya Paris dengan wajahnya yang sendu.
*******
Apa yang akan terjadi sama hubungan Angkasa dan Paris kedepannya?
Alex sudah memberikan ultimatum kepada Angkasa!
Tunggu kelanjutannya ya
*******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAVORIT, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
__ADS_1
TERIMA KASIH.