Trio Kancil

Trio Kancil
#BINTANG 29


__ADS_3

     Bintang dan Aurora sudah kembali dari ruang bawah tanah yang tempatnya tersembunyi. Bahkan Bintang yang sering wara-wiri di rumah itu baru tahu ada ruang bawah tanah di kediaman Khalid.


"Ghaza, Bintang sudah milih mau ini yang jadi mas kawinnya nanti," kata Aurora sambil menyerahkan sebuah amplop kepada Ghazali.


"Ternyata Bintang memang wanita hebat! tahu mana yang terbaik diantara yang terbaik!" kata Aurora sambil mengedipkan matanya kepada Ghaza.


"Ini …?!" Ghazali terkejut saat melihat isi dari amplop tersebut.


"Bintang sendiri yang memilihnya, Mah?!" bisik Ghazali.


"Iya, hebatkan dia. Bisa tahu mana yang punya nilai tinggi dan mana yang tidak?" balas Aurora juga sambil berbisik.


"Ghaza, sich nggak masalah. Apa tadi Bintang lihat isinya?" tanya Ghazali masih sambil berbisik.


"Nggak dia cuma asal ngambil kayaknya!" balas Aurora sambil menutup mulutnya dengan jemari tangannya yang lentik.


"Wah … memang, ya. Calon istri Ghaza bukan gadis sembarangan!" Ghazali tertawa tertahan.


"Ya! aset harta kamu berkurang seperempatnya," Aurora juga tertawa tertahan.


"Nggak masalah bagi Ghaza, bahkan bila Bintang ingin lima puluh persen harta Ghaza, sebagai mas kawinnya, akan Ghaza kasih dengan senang hati," balas Ghazali masih sambil berbisik.


     Bintang terlihat bingung saat Ghazali dan Aurora bisik-bisik dari tadi. Dia penasaran dengan apa yang mereka berdua bicarakan. Karena merasa tidak enak hati, Bintang lebih baik izin pulang.


"Oma ... Om, Bintang pulang dulu ya!" pamit Bintang sambil melangkah mendekati mereka berdua, mau salim.


"Tidak Sayang, kita akan makan malam bersama dahulu," kata Aurora kepada Bintang yang saat ini ingin pulang.


"Apa kamu nggak rindu sama aku?! Sehingga ingin pulang secepat ini?!" tanya Ghazali kepada Bintang sambil menatapnya kecewa.


"Tidak bukan itu hanya saja--," Bintang tidak melanjutkan kata-katanya, karena Ghazali membukam bibir Bintang dengan jari telunjuknya.


"Ayo, ikut! Sambil menunggu waktu makan malam," ajak Ghazali kepada Bintang, dan menarik tangannya dengan sangat lembut.


"Ingat Ghaza! Kalian harus bisa mengendalikan diri dari bisikan syaitan!" teriak Aurora saat Ghazali dan Bintang menaiki anak tangga.


"Ghaza nggak janji, Ma!" balas Ghazali.


"Ghaza ...!" teriak Aurora memanggil nama putra bungsunya untuk memperingatkan dia.


      Bintang yang mendengar itu, menjadi merona pipinya. Dia tahu, kalau akhir-akhir ini setiap pertemuan dengan Ghazali pasti aja ada ciuman yang terjadi di antara mereka. Walau kebanyakan tidak sengaja, atau tanpa sadar mereka telah melakukannya.

__ADS_1


"Om … " bisik Bintang sambil mencubit lengan Ghazali.


"Hehehe …," Ghazali hanya bisa tersenyum saja.


      Ghazali mengajak Bintang untuk melihat beberapa tempat yang akan menjadi tempat bulan madu mereka, nantinya.


"Kamu inginnya pergi bulan madu kemana?" tanya Ghazali sambil memeluk Bintang dari belakang, dan dagunya berada di bahu Bintang. Tangan Ghazali menggerakkan mouse untuk menggerakkan kursor di laptopnya.


"Bintang tidak masalah pergi bulan madunya,kemana saja. Asalkan perginya sama Om, itu sudah membuat Bintang senang," jawab Bintang dengan suaranya yang rendah dan menahan malu. 


      Bintang jadi sering salah tingkah, kalau sedang bersama Ghazali belakangan ini. Jantungnya juga selalu bertalu-talu saat bertemu dengan Ghazali. Dia juga takut kalau tidak bisa menahan dirinya saat bersama dengan sang pencuri hatinya itu.


     Bintang sangat suka saat dirinya dan Ghazali berpegangan tangan, atau berpelukkan. Bahkan ciuman yang awalnya selalu berusaha di tolak, akhirnya malah pasrah saja sambil menikmatinya. Waktu bersama Aria saja, Bintang bisa menahan dirinya. Paling cuma berpegangan tangan saja. Berpelukan pun hanya sekilas dan formalitas.


"Hm … bagaimana kalau ke pulau hadiah pemberian Mbah Buyut Christhopher, saja?!" bisik Ghazali tepat di antara telinga dan pipi Bintang.


     Mendengar bisikan Ghazali barusan, Bintang memalingkan wajahnya ke kanan, atau ke arah Ghazali. Sehingga, bibir Ghazali menyentuh pipi dan sedikit sudut bibir, Bintang. Keduanya terkejut dengan kejadian saat ini. Baik Bintang mau pun Ghazali tidak ada yang bergerak untuk merubah posisi mereka saat ini.


      Ghazali menggerakan bibirnya sedikit, sehingga kini bibirnya bertemu dengan bibir Bintang yang lembut dan kenyal. Keduanya pun terbuai oleh bisikan syaitan. Seperti biasa mereka akan mengakhirinya setelah dirasa butuh oksigen.


"Sebaiknya Bintang turun ke bawah saja," kata Bintang dan beranjak dari sofa.


"Apa kamu, tidak menyukainya?!" tanya Ghazali terdengar nada tidak suka.


"Tidak, Om salah. Justru Bintang takut tidak bisa menahan diri lagi, kalau terus dekat dengan Om. Sepertinya kita harus bisa menahan diri untuk tidak bertemu sampai hari pernikahan kita," jawab Bintang masih dengan melihat ke arah matanya Ghazali.


"Kenapa setiap sudah ciuman, kamu tidak mau bertemu dalam waktu yang lama?" tanya Ghazali dengan membalas tatapan Bintang dengan kecewa.


"Seolah kamu, tidak suka berciuman dengan ku. Sehingga lebih suka menghindari ku," lanjut Ghazali.


"Om salah. Bukannya Bintang tidak suka. Jujur Bintang suka saat--," Bintang tidak melanjutkan lagi kata-katanya, karena malu banget. Dia memilih menundukan kepalanya.


"Saat apa?" tanya Ghazali sambil tersenyum dikulum, dan mengangkat dagu Bintang.


"Om, kita bisa ciuman sepuasnya setelah menikah nanti. Jadi bisa tidak kalau menahannya sampai saat hari pernikahan kita nanti. Setelah Bintang, sah menjadi istrinya Om!" balas Bintang sambil mengeluarkan air matanya.


"Maaf Bintang. Karena keegoisan aku, kamu jadi begini," kata Ghazali sambil menghapus air mata Bintang.


"Om janji akan menahan diri sampai saatnya nanti!" lanjut Ghazali dengan nada bersalahnya.


"Janji, loh! Jangan cuma di ucapan saja, tapi harus di perbuatan juga," kata Bintang sambil memencet hidung Ghazali dengan gemas.

__ADS_1


"Sepertinya, benar kata Mama. Kita jangan bertemu dahulu sampai hari pernikahan kita nanti," ucap Ghazali dengan tidak semangat.


"Ya, Bintang rasa itu sangat baik. Kita bertemu lagi saat hari pernikahan kita," Bintang tersenyum dengan sangat manis, dan membuat jantung Ghazali berdetak lebih kencang lagi.


"Bintang … " bisik Ghazali memanggilnya dengan mesra.


"Hm," balas Bintang.


"Sekali lagi, ya?!" pinta Ghazali kali ini meminta izin terlebih dahulu.


Tuk …


      Bintang menyentil kening Ghazali, dengan gemas, sambil tersenyum jahil.


"Baby …!" Ghazali memanggil Bintang dengan gemas langsung digelitik perut Bintang sampai mereka jatuh ke sofa.


"Ampun … Om! Bintang nyerah!" teriak Bintang di sela-sela ketawanya, karena geli digelitik sama Ghazali.


"Nggak akan! sampai rasa sakit di keningku hilang," kata Ghazali yang masih menggelitik Bintang yang berada di pojok sofa karena tadi mundur-mundur.


     Bintang yang kelelahan tertawa akibat gelitikan Ghazali. Tangannya lansung menggapai kepala Ghazali dan mencium kening yang disentil olehnya tadi. Ghazali pun menghentikan aksinya itu, dan menatap mata Bintang yang masih basah karena tadi tertawanya sampai mengeluarkan air mata.


"Sudah, Om. Bintang sudah lelah ketawanya," kata Bintang yang kelelahan tertawa.


"Hm … kita turun ke bawah saja! Berbahaya bila kita berduaan di sini kalau lebih lama," kata Ghazali sambil menuntun Bintang.


Bintang dan Ghazali menuruni tangga sambil bergandengan tangan, dan tersenyum bahagia. Ternyata di bawah sedang ada tamu yang berhadapan dengan Aurora di depan pintu.


"Ghaza! aku ingin bertemu!" teriak seseorang yang ada di depan pintu itu.


Ghazali dan Bintang yang mendengar panggilan seorang perempuan yang sedang berdiri di depan pintu untuk bertamu. Mereka berdua mengalihkan pandangannya, ingin tahu siapa tamu itu.


"Amara!"


"Kak Amara!"


*******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA MUMPUNG HARI SENIN.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.

__ADS_1


TERIMA KASIH


__ADS_2