Trio Kancil

Trio Kancil
Season 2 #Chapter 36


__ADS_3

Cerita masih flashback....


Setelah Langit selesai berbicara masalah bisnis dengan ayahnya. Dia hendak pergi keluar dari kamar orang tuanya. Saat dia sampai di depan pintu, Langit membalikan badannya, dan ingat ada hal lain yang ingin ditanyakan kepada ayahnya.


" Ayah, aku lupa sebenarnya ada yang mau aku tanyakan tadi itu?" Tanya Langit masih berdiri di depan pintu kamar.


" Hm, apa itu?" Tanya Lazuardi menghentikan kegiatannya merapikan meja rias milik istrinya.


" Kenapa ada pistol di bawah meja di ruang tamu?" Tanya Langit.


" Oh, Ayah menyuruh Pak Dirman untuk membersihkannya tadi." Jawab Lazuardi.


" Itu pistol ada pelurunya, bahaya kalau menyimpannya sembarangan." Kata Langit.


" Ya, nanti Ayah akan menyimpannya. Sekarang kamu bereskan barang-barang berharga milikmu. Dan simpan ditempat yang aman. Karena Ayah melihat ada beberapa dokumen penting yang tergeletak di meja belajar kamu." Kata Lazuardi.


" Baik, Ayah!" Kata Langit dan membalikan badannya. Dia dia terkejut saat ada Bintang di balik tubuhnya.


" Kamu itu ngagetin Kakak saja!" Langit mencubit kedua pipi Bintang. Dan itu membuat Bintang kesakitan. Bintang pun menginjak kaki Langit, dan mengaduh kesakitan. Karena takut balasan dari Langit, Bintang cepat-cepat berlari.


" Ayah, Kak Langit nakal!" Teriak Bintang sambil berlari ke arah Lazuardi, meminta perlindungan kepada ayahnya.


" Ih, dasar bocah!" Langit nggak jadi mengejar Bintang. Dia pun pergi masuk ke kamarnya yang berada di dekat kamar orang tuanya.


    Setelah kepergian Langit, Bintang mendatangi Lazuardi. Dia memeluk leher ayahnya dari belakang.


" Ayah…. Sedang apa?" Tanya Bintang dengan nada suaranya yang khas, manja anak remaja.


" Baru selesai membereskan dokumen-dokumen milik Ayah. Kamu mau apa? Menemui Ayah dengan cara seperti ini pasti ada maunya!" Kekeh Lazuardi kepada putri satu-satunya.


" Nggak, Bintang hanya rindu sama Ayah saja." Bintang mencium pipi Lazuardi.


" Barusan Bintang tertidur sejenak, dan dalam mimpi. Ayah memakai baju tentara, katanya mau pergi melawan musuh. Tapi Bintang nggak mengijinkan Ayah pergi, soalnya Ibu juga ikut. Bintang nangis sejadi-jadinya." Cerita Bintang dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


" Untung ada Mbak Lasmi yang bangunin Bintang. Ternyata itu mimpi, tapi terasa nyata." Lanjut Bintang.


" Kamu itu, makannya kalau tidur harus berdoa dulu. Biar tidak mimpi buruk!" Lazuardi memencet hidung mancung Bintang.


" Hehehe…. Apa tadi Bintang yang berdoa dulu ya?" Tanyanya pada dirinya sendiri.


" Sama mandi, Ini sudah sore. Sebentar lagi Ashar." Pinta Lazuardi kepada Bintang.


" Mandinya nanti kalau sudah jam lima!" Bintang melepaskan pelukan pada ayahnya, Lazuardi.


" Kebiasaan kamu ini, kalau disuruh suka ngebantah." Kata Lazuardi.


" Bintang nggak suka ngebantah Ayah. Hanya menunda waktunya saja, sampai Bintang mau mengerjakannya." Bintang pun mencium pipi ayahnya lagi sebelum pergi keluar kamar orang tuanya.


" Filling anak polos itu selalu kuat." Gumam Lazuardi.

__ADS_1


*******


     Waktu tidak terasa cepat berlalu, kini sudah malam. Dan Angkasa akan berangkat ke bandara. Diantar oleh Langit, Bintang, dan Satria.


" Nak, kamu baik-baik disana ya!" Kata Paramitha sambil memeluk tubuh Angkasa dengan erat dan tangisan yang tertahan. Karena mungkin saja ini adalah pelukan terakhirnya untuk putra keduanya itu.


    Paramitha juga melakukan hal yang sama kepada Langit dan Bintang, juga Satria.


" Ibu yang mau pergi itu Kak Angkasa, kita hanya mengantar ke bandara saja." Kata Bintang dalam pelukan Paramitha, ibunya.


" Iya, ibu tahu. Hanya saja ibu ingin kalian semua bisa selamat." Kata Paramitha. Dan keempat anak itu berpikir, ibunya ingin mereka selamat sampai kembali ke rumah.


" Bu, kita berangkat ya!" Pamit Langit.


" Jaga adik-adikmu, karena hanya kamu yang Ayah dan Ibu bisa andalkan." Paramitha memeluk anak sulungnya itu.


    Mereka berempat pun pamitan kepada semua penghuni rumah. Dan hanya Lazuardi dan Dirman yang paling tegar dengan perpisahan ini, yang lainnya menangis tersedu-sedu. Karena akan berpisah dengan mereka, tidak akan mendengar canda tawa yang setiap hari terdengar.


*******


" Satria kamu bawa mobilnya pelan-pelan ya. Jangan ngebut, karena jam keberangkatannya juga masih lama" kata Paramitha sambil mengusap wajah anak angkatnya yang sudah dibesarkan olehnya sejak berumur tiga tahun.


" Iya, Bu. Satria akan menjalankannya pelan-pelan." Jawab Satria sambil tersenyum manis.


" Kalian semua jangan langsung pulang begitu sampai bandara. Tunggu Angkasa sampai take off." Pinta Lazuardi.


" Baik Ayah!" Jawab serempak mereka sambil tertawa.


" Iya, Pak." Jawab mereka berempat kompak kemudian tertawa lagi bersama.


    Satria mengendarai mobil dengan kecepatan sedang sesuai perintah ibu angkatnya.


" Kak Angkasa jangan lupa ya. Nanti bawa oleh-oleh khas negara Jerman." Kata Bintang sambil menyandarkan kepalanya ke bahu Angkasa.


" Emm ini anak kalau ada maunya manja-manja ke Kakak. Coba kalau nggak ada, kayak kucing liar!" Kata Angkasa sambil memencet gemas hidung Bintang.


" Eh, Kak Langit apa itu gelang pemberian dari temannya Ayah?" Tanya Bintang ketika melihat Langit pakai gelang di tangannya.


" Iya, tadi sewaktu beres-beres di kotak perhiasan nemu ini. Coba dipakai dan lupa membukanya kembali." Langit tertawa karena kecerobohannya.


" Yang akan jadi istrinya Kak Langit enak ya! Sudah disediakan satu kotak perhiasan. Harta Kak Langit juga udah banyak." Kata Bintang.


" Itu karena Kak Langit sudah pandai cari uang sejak duduk di sekolah menengah atas." Lanjut Angkasa sambil menjembel kedua pipi Bintang dan menggoyangkannya kekiri dan kekanan.


" Bintang juga bisa punya banyak uang kalau kamu sudah bekerja nanti." Kata Langit.


" Mening Bintang nikah sama orang yang punya banyak harta. Biar tidak capek kerja cari uang. Hehe…." Canda Bintang.


" Hei yang banyak harta itu belum tentu bisa membuatmu bahagia." Nasehat Langit.

__ADS_1


" Iya, bener tuh. Lagian kamu itu harusnya cari laki-laki yang sayang dan bertanggung jawab sama istri." Tambah Angkasa.


" Iya tentu saja, Bintang mau cari suami yang cinta dan sayang sama aku seorang!" Bintang memasang wajah cemberut.


" Iya, cari laki-laki yang kaya Satria!" Lanjut Langit.


" Kok Kak Satria, sich!" Kata Bintang sambil mengerutkan keningnya.


" Dia itu tipe laki-laki bertanggung jawab dan bisa membimbing gadis seperti kamu!" Kata Langit lagi.


    Satria yang disebut-sebut namanya hanya tersenyum malu, karena mendengar ucapan Langit.


" Hehehe…. Nggak kebayang ya, kalau Bintang dan Satria bisa menikah!" Ucap Angkasa. Dan akhirnya mereka berempat malah tertawa geli.


    Tidak terasa akhirnya mereka sampai juga ke bandara. Karena keberangkatan masih lama mereka berempat, menunggu di tempat makanan cepat saji. Mereka hanya beli minuman dan kentang goreng.


   Meja di samping mereka kosong karena baru saja ditinggalkan oleh pengunjung. Langit melihat ada koran di meja, yang ditinggalkan oleh pengunjung barusan. Langit tergoda saat melihat judul berita yang ditulis dengan huruf-huruf besar. Langit pun mengambil koran yang di atas meja itu.


" Polisi mengalami kesulitan, dalam memecahkan kasus kebakaran berantai" Langit membaca judul berita di koran itu.


    Langit pun membaca berita itu sampai selesai. Dan dia berpikir kalau ada orang yang dikenalnya menjadi salah satu korban.


" Ternyata keluarga Pak David juga jadi ikut menjadi korban." Gumam Langit saat tahu kalau salah satu kenalan ayahnya itu ikut menjadi korban dari kasus besar ini.


" Kak Langit baca apa?" Tanya Satria.


" Nih, kamu tahu kasus besar ini? Apa kamu disuruh ikut menyelidikinya" Langit memberikan koran itu pada Satria.


" Kakak ini bagaimana? Satria kan baru masuk sekolahan polisi." Jawab Satria.


" Berita-berita seperti ini hanya bisa diberikan lewat koran saja, ya?" Tanya Langit.


" Mungkin saja, agar masyarakat tidak resah!" Jawab Satria.


" Apa kamu tahu kalau keluarga teman Ayah yang menjadi korban?!" Ucap Langit dengan bersuara rendah dan hanya bisa di dengar oleh Satria.


*******


Epilog:


Setelah keempat anak muda itu pergi, para penghuni rumah sudah bersiap-siap. Karena menurut informasi yang di dapat mereka akan melakukan serangan saat tengah malam. Kecuali kasus keluarga David, mereka melakukan serangan sekitar jam setengah sembilan malam. Jadi mereka semua sudah siapa di waktu itu. Hanya Lazuardi saja yang duduk di ruang tamu.


*******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


BUNGA ATAU KOPI JUGA BOLEH, MALAH BIKIN SEMANGAT.

__ADS_1


TERIMA KASIH.


__ADS_2