Trio Kancil

Trio Kancil
#BINTANG 12


__ADS_3

    Aria kembali kerumah Bintang, setelah dari rumah Fatih. Dilihatnya Bintang sedang berdiri di balkon kamarnya memandang langit yang mulai cerah, karena sudah beranjak siang.


"Bintang!" Aria memanggil dari bawah, di depan mobil sport mewahnya. Dia melambaikan tangannya ke arah Bintang.


   Merasa ada yang memanggilnya, Bintang pun menundukkan kepalanya. Dilihatnya Aria sedang lemabaikan tangannya, maka dia pun membalas lambaian tangannya.


   Aris senang melihat Bintang sudah mulai bangun. Aria pun menggerakkan kedua tangannya sebagai bahasa isyarat mengajaknya jalan-jalan dan makan bersama. Bintang tersenyum bahkan tertawa, melihat gerak tubuh Aria saat mempraktekkan bahasa isyaratnya. Maka dia pun menyetujui jalan-jalan dan sarapan bareng di pinggir jalan.


   Aria memilih sarapan bubur, karena seharian kemarin Bintang hampir tidak makan dan minumnya. Nutrisinya hanya lewat cairan infus saja. Aria membeli bubur di tempat langganannya sejak SMP. Walau sekarang penjualnya sudah ganti sama anaknya, tapi rasa masih sama enaknya.


"Mang Asep, bubur ayam pake ati seperti biasa, dua mangkuk ya!" pesan Aria kepada Mang Asep pedagangnya yang sudah tahu menu kesukaannya. Bubur ayam pakai ati, tanpa dikasih kacang dan daun bawang.


"Siap, Den! Wah kali ini calon bininya di ajak lagi," kata Mang Asep yang suka bercanda. Apalagi setiap saat Bintang datang bersama Aria, pasti tak luput dari godaannya.


"Iya, Mang. Om Aria itu kalau jajan kesini nggak suka ngajak-ngajak. Katanya takut Bintang kecantol sama Mang Asep," balas Bintang.


   Beberapa orang yang sedang berkunjung di sana langsung tertawa, mendengar ucapan Bintang barusan. Bahkan istri, Mang Asep yang selalu ikut membantunya di saat waktu banyak pembeli, pun ikut tertawa lepas.


"Haha … aduh semalam mimpi apa ya, Mang Asep. Sampai-sampai Non Bintang kasih gombalan seperti itu," kata Mang Asep sambil tertawa.


*******


Satu jam sebelumnya …


  Bintang duduk di sofa dekat jendela sambil melihat matahari pagi dan awan-awan yang berarak di langit. Dengan melihat pemandangan yang indah itu, membuat hati dan pikirannya jadi lebih baik.


"Nona, saya sudah menemukan keberadaan tuan Ghaza. Ternyata sekarang dia sedang berada di Italia di kediaman Uncle-nya," kata Michael yang berdiri di dekat sofa yang diduduki oleh Bintang.


   Bintang hanya diam saja, tidak memberikan respon apa pun. Melihat itu Michael merasa heran, karena biasanya Bintang selalu ingin tahu keadaan Ghazali.


"Apa Nona akan menemui tuan Ghaza, di sana?" tanya Michael sambil memperhatikan Bintang.


"Tidak," jawab Bintang dengan suaranya yang masih serak. Kemudian dia meminum perasan jeruk lemon yang di buatkan oleh Aria, sebelum dia pergi tadi.


"Nona yakin tidak mau pergi menemuinya?" tanya Michael lagi dengan tatapan merasa ada yang aneh dengan Nona Mudanya itu.

__ADS_1


"Biarkan Om Ghaza menenangkan pikirannya dahulu. Kasihan dia baru putus dari pacarnya. Padahal mereka sudah lama berpacaran," jawab Bintang kemudian dia melanjutkan lagi minumnya sampai habis.


"Aku rasa bukan karena itu, dia pergi?!" kata Michael lagi yang matanya tidak luput dari mengawasi reaksi Bintang.


"Uncle, apa kamu tahu, sakit rasanya saat orang yang kita cintai dan dipercaya, ternyata malah menghianati kita?!" kata Bintang sambil melihat ke arah Michael.


    Michael diam saja, tidak mau menjawabnya, karena ini bagian sensitif bagi wanita. Apalagi ditambah Michael salah paham, dia berpikir kalau saat ini, Bintang dalam posisi itu.


"Kekasih Om Ghaza itu selingkuh dengan sahabat baiknya sendiri. Om begitu terluka, sampai-sampai tidak bisa berpikir dengan jernih. Makanya saat ini dia sedang menenangkan diri ke rumah Uncle-nya," lanjut Bintang.


"Lalu apa Nona masih marah sama tuan Ghaza?" tanya Michael sambil berjongkok di hadapan Bintang.


"Sudah tidak marah lagi, Bintang sudah memaafkannya. Mungkin Om Ghaza melakukan itu kepada Bintang tanpa sadar, karena hati dan pikirannya sedang kalut kala itu," jawab Bintang.


"Bila Nona ingin menemui tuan Ghaza, bilang saja. Nanti aku akan mengantarkan nona," kata Michael sambil sedikit tersenyum.


"Hm," Bintang menganggukan kepalanya.


*******


   Bintang asik membaca novel sambil ditemani keripik ubi ungu dan segelas air teh hangat. Sesekali dirinya melihat ke arah Aria yang sedang bekerja. Dia paling suka saat melihat Aria sedang konsentrasi dalam pekerjaannya.


   Bintang tidak berani mengganggu, bila Aria sedang seperti itu. Berbeda saat dengan Ghazali, Bintang akan mengganggunya bila Ghazali tak mengindahkan keberadaannya. Makanya dulu saat Bintang masih kecil, selalu duduk dipangkuan Ghazali, setelah besar dia akan duduk disampingnya dan bersandar di bahunya. Ghazali merasa tidak terganggu dengan perbuatan Bintang yang seperti itu.


"Om, mau minum apa?" tanya Bintang sambil berjalan ke arah Aria.


"Hm … teh tawar saja," kata Aria sambil mengangkat kepalanya dan tersenyum ke arah Bintang.


"Nggak mau kopi?" tanya Bintang lagi, karena biasanya Aria suka kopi buatannya.


"Semalam, Om sudah kebanyakan minum kopi," kata Aria sambil tersenyum.


"Oke, akan Bintang buatkan teh spesial buat calon tunangan tercinta!" balas Bintang sambil tersenyum jahil.


"Kamu itu … " Aria tersenyum geli melihat Bintang mengangkat kedua tangannya di atas kepalanya dan membentuk hati.

__ADS_1


   Bintang pun pergi ke pantry yang berada di lantai tiga kantornya Aria. Hampir semua karyawan di sana, sudah tahu siapa Bintang. Jadi tidak akan ada yang menegurnya bila dia berkeliaran di waktu jam kerja kantor.


   Bintang pun membuat dua gelas air teh tawar untuknya dan untuk Aria. Saat Bintang sedang menunggu rebusan airnya matang, dia duduk di kursi yang sering dipakai oleh para karyawan yang ingin makan atau minum disana.


"Sedang apa kamu duduk-duduk santai disini!" bentak seorang wanita cantik berpenampilan seksi dengan dua kancing kemejanya yang dibuka dan rok span-nya yang setengah paha, memperlihatkan kakinya yang jenjang dan mulus.


"Sedang merebus air," jawab Bintang dengan wajahnya yang terlihat malas karena melihat penampilan wanita yang berdiri di depannya.


"Buat apa merebus air, tuh disana ada dispenser! Tinggal pencet air panasnya akan keluar," katanya dengan nada ketus. Kemudian wanita itu membuat segelas kopi tanpa gula. 


     Bintang terus memperhatikan wanita itu sampai ke luar dari pantry. Bersamaan dengan itu, airnya sudah matang. Bintang suka membuat teh dengan air rebusan dari pada air panas dari dispenser. Sebab rasanya berbeda dengan dari hasil air rebusan.


   Ketika Bintang masuk kedalam ruang kantor Aria, wanita tadi juga berada disana. Bahkan kopi yang dibuat olehnya juga ada di meja Aria.


"Hei, kamu ngapain masuk kesini! Tanpa ketuk pintu lagi!" bentak wanita itu kepada Bintang.


    Namun Bintang diam saja dan meletakan dua gelas air teh hangat di atas meja, kemudian Bintang kembali duduk dan melanjutkan membaca novelnya.


"Hei, kamu! Cepat keluar dari sini!" bentak wanita itu kepada Bintang.


"Maaf Tante, Bintang sedang ingin duduk di sini," jawab Bintang tanpa melihat ke arah wanita itu.


   Aria yang tadinya sedang fokus bekerja, menghentikan pekerjaannya dahulu, dan melihat siapa yang dimaksud oleh Selly, pegawai baru, yang merupakan temannya semasa SMA, dulu.


"Apa yang kamu lakukan pada kekasihku?!" tanya Aria dengan menatapnya tajam.


"Maksud kamu ... gadis itu adalah Bintang!" kata wanita itu terkejut, saat melihat wajah Bintang yang bengkak itu.


*******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV,, HADIAH, DAN VOTE NYA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.

__ADS_1


__ADS_2