
Langit langsung melepaskan pelukannya karena dia mengira Almahira tidak menyukai dirinya. Dia juga tersenyum kaku kepada Almahira dan merutuki perbuatannya itu. "Sebaiknya kita kembali ke kelas. Sebentar lagi bel masuk akan berbunyi," kata Langit.
"Apa kamu akan langsung pergi, setelah apa yang kamu perbuat kepadaku barusan?" tanya Almahira dengan ketus karena Langit yang tiba-tiba saja melepaskan pelukannya.
Langit pun diam menatap wajah Almahira. Dia bingung bagaimana menghadapi perempuan dihadapannya ini. Sebab dia tidak mungkin memakai metode seperti papanya untuk meluluhkan hati mamanya saat marah.
"Aku minta maaf karena tidak bisa menahan diri," kata Langit. "Sebaiknya kamu lupakan ke--" Langit tidak bisa melanjutkan ucapannya karena mulutnya dibungkam oleh Almahira dengan jari telunjuknya yang terasa lembut di bibirnya.
"Kamu jahat!" Almahira memukul dada Langit sambil menangis menggunakan sebelah tangannya. Tentu saja Langit tidak merasakan sakit dari pukulan itu.
"Ya, aku jahat karena sudah melakukan hal tidak boleh dilakukan kepadamu," kata Langit lagi sambil menahan sakit di hatinya karena di bilang jahat sama gadis yang di sukai olehnya.
Almahira yang kesal kepada Langit karena diam saja, akhirnya dia mencubit dada Langit saking merasa gemas. Tidak mengerti juga maksud dari pembicaraannya barusan. Namun justru perbuatannya barusan malah membuat perasaan Langit menjadi semakin membuncah.
"Almahira ... jangan memancing aku!" Langit memegang kedua tangan Almahira.
"Kenapa kamu tidak mengerti maksud dari ucapanku aku," kata Almahira.
Langit yang masih awam akan dunia dan hal-hal tentang wanita, tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Almahira. Dia hanya melihat dunia tentang wanita itu dari Cantika dan Bintang. Dimana kedua wanita yang menemani hari-harinya selama ini, selalu jujur akan perasaannya. Mereka juga mengatakan apa yang sedang dirasakannya. Senang dengan apa yang disukainya. Menangis saat hatinya terluka.
"Maaf, kalau kamu merasa tidak nyaman dengan pengakuan perasaanku ini," kata Langit pelan.
Langit yang melihat Almahira menangis tadi, menyimpulkan kalau dia tidak menyukai dirinya. Ditambah lagi Almahira bilang 'jahat' padanya. Semakin mencelos saja hatinya Langit. Padahal ini pertama kali baginya menyukai seseorang.
"Aku juga menyukaimu," lanjut Almahira dengan wajahnya yang memerah karena pengakuan cintanya barusan.
"Tapi kenapa kamu menangis?" tanya Langit tidak mengerti.
"Itu karena aku ... senang," jawab Almahira sambil menahan senyumnya karena malu.
Langit yang mendengar perkataan itu sangat senang sekali. Dipeluknya kembali Almahira dan mengucapkan kata terima kasih, kepada gadis yang sudah mencuri perhatiannya semenjak pertama kali dia melihat di hari pertama masuk sekolah.
"Jadi sekarang kita pacaran!" Langit tersenyum bahagia dan memegang wajah Almahira.
__ADS_1
"Tidak boleh pacaran!" Almahira menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?" tanya Langit yang kini beradu pandang dengan mata Almahira.
"Orangtuaku melarang pacaran," jawab Almahira dengan suara yang lemas.
"Kalau begitu kita menikah saja!" ajak Langit semangat empat lima sambil tersenyum lebar.
Almahira terkejut saat mendengar ucapan Langit barusan kepadanya. Mana mungkin bisa menikah karena mereka itu masih remaja. Namun Almahira merasa senang saat Langit memintanya menjadi pengantin wanita dia.
"Apa kamu sadar dengan ap--" kata Almahira kepotong saat terdengar suara bunyi bel masuk kelas.
"Ayo, kita masuk ke kelas!" ajak Langit sambil menggandeng tangan Almahira.
Almahira senang saat Langit menggandeng tangannya. Desiran halus di hatinya membuat dia tersenyum senang. Almahira rasanya nggak mau melepaskan genggaman tangan Langit, saat mereka akan memasuki kelasnya.
Terlihat jelas rona kebahagiaan dari wajah kedua orang itu. Pancaran mata yang berbinar-binar dan senyum kebahagian selalu menghiasi diri Almahira dan Langit.
Kawasaki yang melihat itu menjadi curiga kepada Langit dan Almahira. Kalau sudah terjadi sesuatu diantara mereka. Tatapan kedua orang itu seperti saling bicara.
*******
Langit dan Kawasaki makan siang bersama di kantin. Tanpa sengaja mereka bertemu dengan Almahira dan Hana. Akhirnya keempat orang itu makan bersama.
Hana yang melihat Langit sedang tersenyum bahagia, membuat dia salah paham. Dia mengira kalau Langit itu suka kepadanya. Sebab saat mereka adu pandang, Langit selalu memberikan senyuman kepadanya.
Kawasaki sangat penasaran, apa yang sudah terjadi pada Langit dan Almahira. Sejak tadi dia memperhatikan keduanya merasa ada yang aneh. Namun saat ditanya Langit malah tidak menjelaskan secara rinci. Dia akan bilang ada sesuatu yang membuatnya senang. Kawasaki semakin curiga saat Almahira selalu terlihat malu sambil tersenyum saat melihat Langit.
"Hai, boleh kita bergabung di sini?" tanya salah seorang murid laki-laki yang datang bersama tiga teman lainnya.
"Mitsubishi kun, silahkan saja masih ada kursi yang kosong," jawab Hana dengan suaranya yang lembut.
"Terima kasih Matsumoto san," balas keempat murid laki-laki itu secara bersamaan.
__ADS_1
Keempat murid laki-laki itu adalah Mitsubishi Dai, Yamaha Ryu, Subaru Sora, dan Hino Rey. Mereka dikenal sebagai anak jenius. Bisa mengerjakan tugasnya dengan kecepatan di atas rata-rata orang pintar.
Academy Matsumoto yang merupakan kumpulan anak-anak cerdas. Jadi, tidak ada murid yang bodoh. Hanya saja persaingan nilai di sana sangat ketat. Tidak jarang nilai urut nomor satu sampai seratus itu sama semua. Mereka mendapatkan nomor urut nilai dari kecepatan mereka mengerjakan soal. Semakin cepat kamu mengerjakan, maka peluang untuk nilai urutan nomor teratas semakin besar. Namun, sebaliknya jika kamu lambat mengerjakan, maka nomor urutan terakhir yang akan di dapatkan.
Mitsubishi Dai memperhatikan Almahira, yang sedang makan. Ada keraguan di hatinya saat ingin mengajaknya bicara.
"Almahira san," sapa Mitsubishi Dai akhirnya.
"Iya, Mitsubishi san. Ada apa?" tanya Almahira, saat dia menghentikan kunyahannya.
"Apa hari Minggu besok, kamu mau pergi kencan denganku!" ajak Mitsubishi Dai secara terus terang dengan suaranya yang lantang penuh semangat
Semua orang yang berada di sana sangat terkejut mendengar perkataan Mitsubishi Dai. Bahkan Kawasaki dan Almahira sampai tersedak. Langit menatap tajam ke arah laki-laki yang sudah berani mengajak kencan calon istrinya itu.
"Aku harus cepat-cepat mengikat Alma. Agar tidak akan mengganggu lagi!" gumam Langit dengan geram.
Almahira yang diberi air minum oleh Hana, langsung menghabiskannya satu gelas itu. Dengan mukanya yang masih merah akibat tersedak tadi. Dia meminta maaf kepada Mitsubishi Dai.
"Maafkan aku, Mitsubishi san. Hari itu aku sudah punya janji bersama keluargaku. Kami ada acara pribadi," kata Almahira sambil menangkupkan telapak tangannya.
"Tidak apa-apa Almahira san, Minggu depan atau Minggu depannya lagi juga bisa. Masih banyak waktu buat kita pergi berkencan," kata Mitsubishi Dai kukuh ingin mengajak kencan Almahira.
"Maaf … Mitsubishi san, aku sudah punya tunangan. Jadi tidak boleh pergi berkencan dengan laki-laki lain," balas Almahira sambil tersenyum simpul dan melirik ke arah Langit.
"Apa!" teriak beberapa orang yang duduk berkumpul di meja Langit.
*******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
TERIMA KASIH.
__ADS_1
*******