
Ghazali baru saja mau menaiki anak tangga, tapi langkahnya terhenti saat Isabella memanggilnya.
"Ghaza!" panggil Isabella lagi sambil mengelus perutnya yang sudah semakin besar.
"Hm, ada apa?!" balas Ghazali kesal karena hari ini orang-orang di sekitarnya terus saja memanggil namanya.
Biasanya di hari Minggu ini merupakan hari paling tenang dalam hari-harinya selama ini. Chat-an bersama Bintang, dan membaca buku seharian. Namun hari ini Bintang sama sekali tidak mengirim pesan kepadanya. Di tambah orang-orang yang ada di Indonesia memintanya untuk pulang.
"Tadi Bintang menelepon, dan katanya ingin aku datang ke Indonesia … " kata Isabella ragu untuk melanjutkan kata-katanya lagi.
"Ya," jawab Ghazali singkat. Kemudian dia menaiki kembali anak-anak tangganya menuju lantai paling atas. Ghazali tidak suka pakai lift yang ada di pojok dinding kanan, lebih nyaman kalau menaiki tangga, itung-itung olahraga.
Isabella yang melihat itu, jadi kesal. Dia tahu apa yang sedang terjadi di antara keduanya.
"Aku bingung sama hubungan kalian! Kalau sama-sama suka, tinggal bilang saja! Apa susahnya, sich!" teriak Isabella dari lantai bawah dan masih dapat didengar oleh Ghazali.
"Ghaza! Kamu itu laki-laki! Harusnya berani ngomong kalau suka sama Bintang! Sudah tahu Bintang itu anaknya polos, harus dikasih bimbingan yang keras, agar dia tahu betapa besar rasa cintamu untuknya!" Isabella masih berteriak dari bawah, dan Ghazali pun menghentikan langkahnya.
"Tapi aku bukanlah laki-laki yang dicintainya!" Teriak Ghazali frustasi membalas perkataan sepupunya itu.
"Bintang itu juga mencintaimu, hanya saja dia masih bingung dengan perasaannya," kata Isabella sambil melihat Ghazali dari bawah.
"Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu?!" tanya Ghazali sambil membalikan badannya menghadap Isabella yang kini berada di bawah anak tangga.
"Buat Bintang sadar akan perasaannya kepadamu!" kata Isabella dengan memberikan dukungan terhadap Ghazali.
"Selagi ada waktu … sebelum dia menjadi milik orang lain … gapai dia yang menjadi sumber kebahagian mu, Ghaza!" kata Isabella sambil menatap Ghaza penuh rasa sayang.
"Aku ingin melihatmu yang selalu diselimuti aura kebahagiaan seperti dulu. Ghaza yang selalu membawa suasana menjadi hangat dan penuh tawa. Hanya Bintanglah yang bisa membuatmu kembali lagi seperti dulu." Isabella dengan cepat menaiki anak-anak tangga menuju Ghazali.
"Ghaza yang selalu dirindukan oleh orang-orang bukanlah Ghaza yang seperti ini," lanjut Isabella sambil menepuk pundak Ghazali.
"Pulanglah … dan raih Bintang mu kembali," bisik Isabella sambil menatap Ghazali.
__ADS_1
Ghazali menganggukan kepalanya, dia kali ini harus mempertaruhkan segalanya. Keluarganya, sahabatnya, dan gadis yang dicintainya. Ghazali tidak peduli hasil akhirnya akan seperti apa, tapi dia akan memperjuangkannya sampai akhir.
Ghazali bekerja keras selama tiga hari ini, untuk menyelesaikan semua pekerjaannya sebelum pulang ke Indonesia. Dia juga memajukan jadwal operasi beberapa pasiennya, dan meminta asistennya untuk melakukan pemeriksaan rutin terhadap pasien yang sudah ditanganinya. Ghazali juga sudah memberitahu kepada pasien dan keluarganya, kalau dia akan kembali lagi ke Indonesia. Jadi asistennya lah yang akan melanjutkan tugasnya disana, untungnya para pasien dan keluarganya memahaminya.
Untuk perusahaan milik keluarganya sudah ada orang kepercayaan yang selalu Ghazali andalkan disana, jadi dia tidak perlu banyak melakukan pekerjaan untuk diselesaikan olehnya.
Semua berjalan dengan lancar sesuai dengan rencana yang dibuat oleh Ghazali. Namun manusia itu hanya punya rencana, tapi Allah-lah sebaik-baik perancang rencana.
Ghazali jatuh pingsan tak sadarkan diri, karena bekerja terlalu keras. Sampai-sampai dia dirawat di rumah sakit, selama tiga hari terbaring lemah di rumah sakit.
"Ghaza … mana yang sakit Sayang?!" tanya Aurora dengan matanya yang berkaca-kaca.
Begitu mendengar Ghazali masuk rumah sakit karena tiba-tiba tak sadarkan diri. Aurora langsung mendatangi Italia saat itu juga menggunakan jet pribadi keluarga Hakim.
"Hati Ghaza yang sakit, Ma," ucap Ghazali dengan suaranya yang lemah.
"Kenapa hati kamu sakit, Sayang?" tanya Aurora dengan lembut sambil mengelus pipi putranya yang kini menjadi semakin tirus.
"Ghaza, kamu tidak boleh egois! Bintang sudah punya orang yang dicintai olehnya," kata Aurora dengan menatap nanar pada sosok putra bungsunya itu.
"Bukannya Mama juga pernah merasakan, apa yang aku rasakan sekarang?" tanya Ghazali kepada Aurora.
"Kamu itu … kenapa segalanya mirip Mama, sich!" Aurora menjawab dengan kesal karena mengikatkan dirinya yang dulu.
"Tentu saja, karena Ghaza kan anak Mama Aurora?! Masa kayak Tante Sinar?!" balas Ghaza sambil terkekeh.
Aurora yang saat itu sedang berada di Madinah untuk memperdalam ilmu agamanya, dan mendengar Khalid akan dijodohkan. Dia langsung datang ke Indonesia dan membuat kekacauan di rumah Khalid. Aurora membuat sebuah drama, dan Khalid pun jadinya ikut mendukungnya. Sehingga Lukman, membatalkan perjodohan Khalid dengan anak pengurus pesantren, dan langsung menikahkan Khalid dengan Aurora.
"Jangan bilang kamu juga akan membuat kekacauan di hari pertunangan mereka?!" Aurora mengeluarkan aura yang mencekam.
"Kalau dulu Mama bisa, kenapa Ghaza tidak bisa?!" balas Ghaza dengan senyum jahil miliknya.
Aurora terdiam, pikirannya melayang saat dia dan Khalid berniat menjodohkan Ghaza dengan anak kenalan mereka. Supaya Ghazali bisa secepatnya melupakan perasaannya terhadap Bintang. Bahkan seandainya Ghazali balikan lagi dengan Amara, dia akan langsung menikahkan saja mereka.
__ADS_1
Namun kini, saat melihat besarnya rasa cinta putranya itu kepada Bintang. Membuat Aurora mengurungkan niatnya itu. Putra bungsunya itu sembilan puluh persen mirip dirinya. Bahkan Khalid juga sering bilang Ghaza itu mirip sekali dengan dirinya dalam segala hal, mau itu hoby atau kelakuannya.
"Mama mau mendukungku, kan?" tanya Ghazali penuh harap, karena dia butuh sekutu untuk melancarkan rencananya.
"Tapi, jika Bintang memilih Aria. Kamu harus berlapang dada menerimanya," jawab Aurora dengan suaranya yang lembut.
Ghazali menganggukan kepalanya, dan tersenyum senang, karena Aurora menyerah dan berbalik mendukungnya. Akhirnya dia punya juga sekutu yang punya kuasa di keluarganya.
"Apa Mama punya rencana untuk menggagalkan pertunangan Bintang?" tanya Ghazali kepada Aurora yang kini sedang menyuapinya.
"Kenapa tanya sama Mama? harusnya Mama yang tanya, apa rencana kamu untuk menggagalkan pertunangan mereka?!" Aurora balik bertanya sambil menyuapi lagi anaknya itu.
"Apa Ghaza culik saja Bintangnya, ya?!" Ide Ghazali yang terlintas begitu saja dalam otaknya.
"Jangan berbuat kejahatan, itu nanti akan merugikan kamu!" Aurora memperingatkan Ghazali.
"Lalu apa, dong Ma?" tanya Ghazali setelah dia meminum segelas air yang ada di atas nakas di sampingnya.
"Pikirkan kira-kira apa yang akan membuat Bintang memilih kamu daripada dia memilih Aria?!" Aurora memberikan nasehat untuk anaknya, karena dia tidak mau nantinya terjadi perpecahan di keluarganya gara-gara Ghazali.
Mendengar ucapan Aurora barusan, membuat Ghazali berpikir keras. Kira-kira hal apa yang bisa membuat Bintang memilih dirinya dari pada Aria.
"Ayo Ghaza, pikirkan cara itu," gumam Ghazali.
*******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
MUMPUNG LAGI HARI SENIN, KASIH VOTE KALIAN.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
TERIMA KASIH.
__ADS_1