
Angkasa yang masih fokus mengendarai mobilnya menuju ke rumah sakit tempat Sofia Praha di rawat. Ada amarah dalam hatinya ingin menghajar laki-laki yang harus dipanggil Daddy karena sudah menikahi putrinya.
Dokter yang dipanggil oleh Langit, segera memeriksa keadaan Sofia. Namun, itu tidak ada perkembangan apapun dari pasien. Dokter pun bicara dengan Langit kenapa memanggilnya. Langit beralasan kalau tadi dirinya merasa melihat Sofia Praha menggerakkan jari tangannya.
"Dokter, akan lebih baik kalau satu jam sekali di adakan pemeriksa keadaan pasien," kata Langit. Sebenarnya, Langit sengaja memanggil dokter karena ingin bicarakan hal ini di hadapan Helsinki. Kalau dia tidak akan punya waktu untuk membawa Sofia karena akan ada pengecekan rutinnya di perbanyak.
"Satu lagi, dokter. Izinkan pihak kepolisian menjaga pasien karena dia itu adalah korban pembunuhan yang masih hidup." Jelas Langit yang membuat Helsinki, semakin kesal.
Langit sengaja buat kesal Helsinki. Ada rasa kesenangan tersendiri saat melihat orang yang telah membuat saudaranya bersedih, kini memasang wajah kesal. Langit tidak akan membiarkan Helsinki berbuat sesuai keinginannya. Langit akan terus menjegal setiap tindakan yang dilakukan oleh Helsinki.
******
Akira yang semenjak pagi berkutat di depan laptopnya, akhirnya menemukan di mana Paris berada. Maka dia pun langsung menghubungi Angkasa.
"Paman Akira, bisa 'kah pergi duluan ke Perancis. Nanti aku menyusul!" Perintah Angkasa kepada Akira.
"Baik, Tuan muda Angkasa. Hanya saja akan ada satu orang lagi yang mengikuti aku," kata Akira kepada Angkasa.
"Iya, bawa saja dia sekalian." Angkasa tahu kalau Athena akan selalu ikut kemanapun Akira pergi.
Angkasa pun berlari menuju ruang rawat Sofia Praha. Saat dia melihat Helsinki berdiri di dekat brankar. Tanpa aba-aba, Angkasa meninju wajah mertuanya. Langit memasang wajah terkejut.
"Waw, aku seumur hidup tidak akan berani menonjok muka ayah mertua," kata Langit sambil menutup mulutnya.
Helsinki yang tidak dalam mode siap menerima pukulan. Tubuhnya terhuyung ke belakang dan menabrak meja nakas.
"Apa-apaan ini. Kamu datang-datang langsung main pukul. Kenapa?" Suara Helsinki yang nyaring membuat dokter memintanya untuk keluar ruangan pasien.
"Itu hanya salam pembuka, bila kelakuan Anda membuat Paris, semakin bersedih. Bukan hanya muka tapi seluruh tubuh akan aku hajar!" peringatan Angkasa untuk mertuanya.
"Kakak, salah. Harusnya tanya dulu, di mana Paris?" Langit mengingatkan Angkasa.
"Akira sudah menemukan di mana Paris berada. Aku pun sudah mendapat bukti kalau Paris sedang berada di rumahnya yang ada di Perancis." Angkasa tersenyum kecut ke arah mertuanya.
'Kenapa aku harus punya mertua seperti dia,' batin Angkasa merutuki.
*******
Bintang pun mulai menyelidiki siapa pemuda yang bernama Milan. Ketua kelompok mafia yang merangkap sebagai bandar judi dan pengusaha properti. Milan juga termasuk dari salah satu kelompok yang membeli senjata dari Helsinki.
__ADS_1
"Huh, kenapa sih aku harus sering terlibat dengan orang-orang dari kelompok mereka," gerutu Bintang.
"Mommy ...," kata Chelsea sambil menunjukan kertas yang terdapat coretan pensil.
"Chelsea, anak pintar. Sini sama Mommy!" Bintang melambaikan tangannya agar Chelsea berjalan ke arahnya.
Chelsea pun menuruti perintah Bintang, dia melangkah dengan lancar bahkan kadang agak berlari jalannya. Bintang senang saat Chelsea memanggilnya dengan kata Mommy. Entah siapa yang menyuruhnya, hanya saja Bintang merasa senang.
Bintang pun memangku Chelsea, sambil membaca artikel tentang Savior Caracas dan Wina Santiago. Chelsea pun menunjuk-nunjuk layar laptop yang menampilkan orang tuanya.
"Mereka itu mama sama papa kamu," kata Bintang.
"No ... Mama Papa!" Kepala Chelsea di gelengkan.
"Apa ini Mama Papa kamu?" Bintang menunjukan foto Angkasa dan Paris saat pernikahan mereka.
"Papa ...," kata Chelsea sambil menunjukan foto Angkasa.
"Ini Mama!" kata Bintang sambil menunjukan foto Paris yang berjilbab, tapi Chelsea diam sambil melihat foto itu lebih lekat.
Kemudian, Bintang menunjukan foto Paris yang tanpa jilbab. "Ini Mama!"
"Yes, Mama!" jawab Chelsea sambil menganggukkan kepalanya, sambil telunjuknya menunjuk foto Paris.
"Chelsea, mereka juga Mama Papa kamu." Bintang menunjukan foto Caracas dan Wina.
"No ... Mama Papa," kata Chelsea.
"Mama Papa!" kata Bintang lagi. Namun, tetap saja Chelsea bilang bukan bahkan sampai nangis. Sehingga, Bintang merasa bersalah. Sehingga, akhirnya membiarkan saja.
"No ... Mama Papa," kata Chelsea sambil terisak.
"Iya, terserah kamu saja. Apa sih yang dilakukan oleh Paris dan Angkasa? Sampai ini anak malah mengakui mereka sebagai Mama Papa-nya."
"Mommy ... Papa Mama," Chelsea menunjuk foto Angkasa dan Paris saat mereka menikah.
"Iya, tuh kamu langsung mengakui Paris yang berjilbab sebagai Mama nya." Chelsea menunjukan foto Angkasa, Paris dan Chelsea saat di taman kemarin.
Bintang pun berharap kalau nanti Akira bisa membawa Paris kembali ke sisi mereka. Bintang sudah melarang Angkasa, untuk ikut ke Perancis. Sebab, keadaan di sini juga membutuhkannya. Sepertinya, Madrid mulai menyadari kehadiran Chelsea di sana.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang membuat Madrid membunuh Wina dan Caracas?" Bintang bermonolog sambil memikirkan hal yang bisa membuat kedua orang itu saling bertikai.
"Apa karena bisnis? Tapi kalau itu sudah jelas kalau semua hasil bisnis Madrid jauh lebih banyak dibandingkan usaha milik Caracas," lanjut Bintang.
"Apa ada hal yang lainnya, yang tidak diketahui oleh banyak orang?" Bintang mencatat dalam sebuah buku kecil tentang hal-hal yang dia anggap penting.
*******
Madrid berdiri di depan deretan makam dan di sana ada batu nisan dengan nama Savior Caracas yang bersebelahan dengan Wina Santiago. Dua buket bunga dia pegang di kedua tangannya. Kemudian, dia meletakkan di atas kuburan yang masih terlihat baru.
"Kawan, maaf keluarga kamu harus menjadi korban," kata Madrid sambil memasang wajah yang keras.
*******
Angkasa menatap Helsinki dengan jengah. Dia sangat benci dengan tipe orang yang memiliki sifat munafik. Kebohongan dan penghianatan yang dilakukan oleh Helsinki kepada keluarga Andersson, menambah nilai jelek Helsinki di mata Angkasa.
"Aku harap, kedepannya Uncle bisa berpikir lebih baik lagi. Jangan membuat Paris kecewa, dengan diri Uncle yang seperti ini." Angkasa tidak mau nantinya melihat Paris bersedih karena mengetahui kebenaran tentang Daddynya.
"Justru aku berharap kedepannya Paris bisa lepas dari kamu!" kata Helsinki.
"Sepertinya itu tidak akan terjadi, sayang sekali, ya." Angkasa tersenyum kecut.
"Kita lihat saja!" kata Helsinki menantang
Angkasa menatap tajam kepada Helsinki dan terlihat kekesalan di wajahnya yang tampan. Sedangkan, Langit hanya diam memperhatikan pertikaian antara menantu dan mertua itu. Langit pun kecewa kepada Helsinki, yang dia kenal dulu adalah orang yang baik dan sangat menyayangi Paris. Bahkan, dia rela melakukan apa saja, demi membuat Paris, senang.
"Ya, aku akan membawa Paris, kembali ke sisiku!" kata Angkasa dengan yakin.
*******
Mengapa Madrid membunuh Caracas dan Wina?
Akankah Akira berhasil membawa kembali Paris ke sisi Angkasa?
Tunggu kelanjutannya ya
*******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAVORIT, HADIAH DAN VOTE NYA MUMPUNG HARI SENIN.
__ADS_1
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK YA.
TERIMA KASIH.