
Kebanyakan dari murid yang berada di kapal laut itu, ingin mendatangi Pulau Hi. Maka sudah diputuskan mereka akan mampir dulu ke Pulau Hi, untuk melihat monumen dan jejak-jejak sisa dari ledakan bom.
"Ada waktu sekitar satu setengah jam sampai matahari benar-benar tenggelam," kata Mitsubishi Dai.
"Kita manfaatkan waktu yang singkat itu untuk melihat batu monumen di sana!" Lovely berteriak membangkitkan semangat teman-temannya.
"Ayo!" teriak mereka penuh semangat.
Akhirnya kapal laut pun bersandar di pelabuhan yang ada di Pulau Hi. Sebagian besar dari mereka begitu semangat, dan mereka pun berjalan menuju batu monumen yang bertuliskan nama-nama korban dan sejarah singkat tentang kejadian ledakan bom di sana.
Monumen yang dibuat dari batu marmer hitam dan ada logo sekolah Academy Matsumoto. Membuat mereka penasaran dengan nama-nama yang tertulis di sana. Langit pun mencocokan nama yang ada di monumen itu dengan data-data yang dia dapat dari ruang rahasia Honda.
Langit dan Almahira melihat sebentar di sana. Sebab Langit lebih tertarik mengunjungi gudang penyimpanan tempat pusat bom meledak yang berada di tengah-tengah pulau. Posisi yang sangat strategis untuk menjadi titik pusat ledakan bom yang sekali meledak akan menghancurkan area sekitarnya. Meski sudah dua puluh tahun berlalu, puing-puing bangunan masih dibiarkan berserakan. Sisa-sisa bahan dan barang yang biasa dipakai untuk membuat karya para murid. Banyak berserakan di sana.
Langit mencoba mencari petunjuk apa yang menyebabkan bom itu meledak. Kenapa juga meski di gudang penyimpanan bom itu meledaknya? Bila karya cipta hasil kelompok murid, seharusnya berada di villanya masing-masing. Langit juga penasaran kelompok mana yang sudah membuat barang seperti itu.
Reruntuhan gudang yang memiliki tiga lantai benar-benar hancur. Sulit bagi Langit, untuk mencari petunjuk di tempat itu hanya dalam waktu singkat. Perlu banyak waktu untuk melakukan pembongkaran dan penyelidikan yang lama, agar hasilnya akurat.
Ternyata bukan hanya Langit dan Almahira yang mengunjungi reruntuhan itu. Lovely dan Mitsubishi Akai juga datang mengunjungi tempat itu, kemudian di susul oleh Yamaha Ryu dan Hino Rey. Subaru Sora, Mitsubishi Dai, Kawasaki Kenzo, Matsumoto Hana, juga datang berpasang-pasangan.
"Kalian juga datang ke sini?" tanya Daihatsu Sena dan Hino Akagi yang datang menyusul mereka.
"Ya, aku ingin melihat pusat bom yang meledak dulu, di sini," jawab Kawasaki.
"Menurut kalian aneh tidak, kenapa hasil karya murid di simpan di gudang perlengkapan bahan-bahan. Harusnya 'kan di simpan di tempatnya masing-masing?!" Yamaha Ryu mengungkapkan ada yang ada di pikirannya.
"Apakah menurut kalian kalau bom itu sengaja di bawa kesini. Lalu baru di ledakan di sini karena posisi ini berada di tengah-tengah ke lima villa?!" Subaru Sora langsung menimpalinya.
"Pasti ada tujuan tertentu kenapa bom di bawa ke titik pusat ini?!" Hino Akagi ikut bicara.
Langit dan Almahira hanya menyimak dan memperhatikan mereka satu per satu. Langit meminta Almahira untuk mengingat apa yang diucapkan oleh mereka dan mimik wajahnya serta reaksinya.
Langit terus menggenggam tangan Almahira, agar merasa tenang. Walau nantinya hubungan mereka akan diketahui, dia sudah berani mengambil resiko.
__ADS_1
Saat mereka memeriksa reruntuhan, dari jauh kedengaran suara ledakan yang sangat besar. Membuat semua orang yang ada di pulau itu, terkejut.
"Suara apa itu?" Matsumoto Hana langsung memeluk Kawasaki Kenzo, yang berdiri tepat di sampingnya.
"Sepertinya itu ledakan bom!" Subaru Sora menjawab.
"Tapi dari mana asalnya?" Hino Rey dan Yamaha Ryu yang berdiri di atas puing-puing melihat ke daerah sekitarnya.
"Sepertinya dari arah laut!" Lovely menunjuk ke arah kepulan asap yang membumbung tinggi.
"Jangan bilang kalau itu arah pelabuhan?!" Mitsubishi Akai memekik.
Semua yang ada di sana mendadak terdiam. Kemudian mereka berlari ke arah pelabuhan. Ternyata kapal laut yang mereka tumpangi tadi meledak, dan kini hanya ada api yang sedang berkobar melahap kapal laut yang tadi mereka tumpangi.
"Bagaimana ini?!" tanya Hino Rey dengan panik dan air matanya langsung bercucuran. Kemudian, dipeluknya oleh Yamaha Ryu, agar tunangannya itu merasa lebih tenang.
"Ho, sepertinya kini kita sedang terdampar di pulau kematian," kata Mitsubishi Akai, dengan senyum menyeringai.
"Hei, jangan bicara begitu! Seolah-olah kita sedang dalam survival, yang berusaha untuk bertahan hidup," balas Kawasaki Kenzo dengan nada sewot.
Kawasaki yang tidak suka dengan pasangan itu, hendak menimpalinya. Namun, Matsumoto Hana, menahan tunangannya itu, dan meminta membiarkannya jangan ditanggapi lagi.
Almahira bergetar tubuhnya karena dia juga merasa takut dan panik. Langit yang melihat kondisi istrinya seperti itu, langsung mengajaknya pergi menjauh dari kumpulan murid-murid Academy Matsumoto lainnya.
"Jangan takut, aku sudah mengirim tanda sinyal bahaya sama paman Akira, sebelum datang ke pulau ini, tadi." Langit memeluk erat tubuh Almahira.
"Aku entah mengapa tiba-tiba saja merasa takut, kalau kejadian dua puluh tahun lalu akan terjadi lagi di sini. Kita 'lah para korban---"
Langit menempelkan jarinya di bibir Almahira, sehingga terhenti omongannya. Kemudian, dia menggelengkan kepalanya.
"Jangan bilang seperti itu!" bisik Langit.
Almahira hanya bisa memeluk tubuh suaminya, untuk menghilangkan rasa ketakutan dan pikiran buruknya.
__ADS_1
*******
Sementara itu, di tempat Akira. Sinyal bahaya dari Langit sudah berhasil terbaca. Maka dia mulai bergerak. Namun, saat akan melacak keberadaan lokasi Langit dan melihat melalui satelit, apa yang sedang terjadi. Dia mengalami kesulitan. Data yang di berikan oleh Langit juga tidak sempurna, berbeda dari biasanya. Akira sendiri menjadi bingung, apa sinyal itu beneran tanda bahaya, atau tidak sengaja ke tekan.
Maka Akira pun menghubungi Suzuki, dan menanyakan ke adaan Langit.
"Suzuki kun, apa Langit sama, saat ini sedang bersamamu?" tanya Akira saat dia berhasil menghubungi.
"Langit sama, sedang bersama temannya. Mereka tadi pulang ke Pulau Mori. Aku sedang berada di Pulau Oka, sekarang." Suzuki mulai kepikiran keadaan murid-muridnya.
"Baru saja Langit sama, mengirim tanda sinyal bahaya. Tapi, aku tidak bisa melacak posisinya meski sudah mencari lewat satelit."
"Apa mereka saat ini dalam bahaya? Semalam juga villa kami di serang oleh beberapa orang. Saat kita sedang melakukan interogasi, para pelaku di tembak mati oleh sniper."
"Kamu harus mengutamakan keselamatan Langit sama. Ingat itu!"
"Iya, Oji san. Bukan hanya Langit sama, yang akan aku lindungi. Semua orang yang menjadi tanggung jawabku, akan aku lindungi."
*******
Apa yang akan terjadi di Pulau Hi?
Apakah ada musuh di dalam Pulau Hi?
Akan ada korban di antara mereka, siapa sajakah mereka?
Tunggu kelanjutan di Bab-Bab berikutnya!!!
*******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
__ADS_1
TERIMA KASIH.