Trio Kancil

Trio Kancil
#ANGKASA 39


__ADS_3

     Angkasa, Bintang, Langit dan Paris mendadak pucat wajahnya. Mereka takut kalau Athena yang merupakan cucu dari San Marino, ketahuan oleh Jonathan.


"Kenalkan namanya, Athena. Dia calon istriku!" kata Akira.


     Jonathan pun tertawa dengan terkekeh karena dia berpikir kalau Athena itu lebih pantas menjadi anak dari Akira. Dibandingkan dengan menjadi calon istrinya.


"Kamu ... ternyata, suka daun muda, ya?" tanya Jonathan kepada salah seorang kepercayaan Alex.


"Ya, sebenarnya tidak. Kecuali dia ...." Akira melirik dan tersenyum kepada Athena.


"Apa di begitu spesial?" bisik Jonathan kepada Akira.


"Iya, dia sangat spesial. Sering membuat aku pusing dan menderita," jawab Akira dengan berbisik pula.


     Selagi Akira dan Jonathan bicara, keenam orang lainnya saling pandang. Mereka bertanya-tanya, apakah keadaan sudah aman?


     Bintang yang sering melakukan komunikasi dengan keluarga Jonathan. Mencoba melobi agar mereka bisa di berikan kamar secara terpisah-pisah kecuali Angkasa dan Paris. Bintang beralasan sudah lelah dan mengantuk ingin segera beristirahat. Maka, Jonathan meminta mereka untuk makan dahulu sebelum istirahat.


     Athena meminta tidur bersama Bintang atau Akira. Dia merasa tidak tenang kalau tidur sendiri di tempat asing. Apalagi tempat tinggal ini adalah salah satu dari kelompok mafia terkenal di Italia. 


     Maka Akira mengajaknya untuk tidur di kamar yang sama. Hanya saja Akira tidur di sofa, sedangkan thena tidur di kasur. Bintang tidur dengan Chelsea. Dia juga sudah menelpon Ghazali apa yang sudah terjadi tadi. Bahkan Ghazali juga sampai menelpon Jonathan, jangan berbuat macam-macam kepada Chelsea. Setelah yakin akan mendapat jaminan keamanan, baru Bintang merasa aman.


     Langit seperti biasa, kegiatan dia sebelum tidur adalah video call dengan sang istri tercintanya. Langit dan Almahira akan berbicara selama tiga puluh menit. Mereka membicarakan kegiatan sehari-hari yang telah mereka lalui.

__ADS_1


     Angkasa dan Paris melepas rasa rindu yang sangat besar, karena baru saja mereka beberapa jam menikah, harus dipisahkan. Paris juga merasa sangat senang bisa berkumpul lagi dengan suaminya itu.


******


      Setelah sarapan Bintang dan Isabella mengasuh Chelsea dan putrinya Isabella. Mereka bermain di taman belakang rumah. Kedua balita itu asik bermain bola yang ukurannya hampir sama dengan badan mereka, saling lempar dan mengejar serta tertawa.


"Kasihan sekali Chelsea. Dia masih bayi, tetapi sudah banyak mengincar nyawanya!" Isabella melihat Chelsea dengan tatapan penuh iba. Dia juga memikirkan putrinya, yang ada kemungkinan menjadi incaran musuh Ayah atau kakeknya.


"Iya. Bayi yang tidak tahu apa-apa, dan belum bisa melakukan apapun, sudah dianggap sebagai orang yang berbahaya. Hanya karena dia terlahir dari seorang Ayah yang berkecimpung di dunia bawah," balas Bintang.


"Makanya, suamiku dulu tidak mau aku kembali kepada orang tuaku. Dia minta aku ikut bersamanya dan melupakan semuanya yang berhubungan dengan aku." Isabella mengingat kembali kehidupan rumah tangganya yang hanya seumur jagung.


"Iya, makanya Papa kemarin tidak menyetujui pernikahan Kak Angkasa dan Paris. Karena yang Papa tahu, Uncle Helsinki ikut gabung dengan Red Dragon. Ternyata dia itu kembarannya Uncle Helsinki," kata Bintang.


"Kalau sekarang sudah setuju kayaknya."  Bintang tertawa mengingat semalam, Angkasa mati-matian bicara dengan Papanya tentang Rio de Janeiro. Orang yang telah menyamar menjadi Helsinki, dan menjual senjata buatan Andersson, ke dunia bawah.


******


     Langit sekarang sedang bersama Jonathan yang ahli dalam membuat senjata dan membuat mobil. Dia saat masih muda suka ikut Arthur dan bekerja kepadanya. Kedua orang itu asik membicarakan rencana pembuatan mobil tipe terbaru kemudian membuat senjata. Inilah yang paling Langit sukai. Dia menyerap ilmu dari Jonathan, untuk membuat suatu senjata sederhana dan tidak mengakibatkan kematian.


******


     Akira dan Athena pergi kencan. Mereka asik menghabiskan waktu hanya berdua saja. Mereka bersenang-senang dan tidak mau diganggu sama apapun. Maka, mereka menonaktifkan handphone-nya.

__ADS_1


     Tempat-tempat yang dianggap romantis oleh para pasangan. Mereka berdua datangi tempat itu kemudian berfoto untuk mengabadikan kenangan mereka.


******


     Sedangkan Angkasa sedang bersama Paris, di dalam kamarnya. Dia akan menceritakan semuanya yang terjadi setelah mereka berpisah kemarin. Angkasa mengajak Paris duduk di sofa, kemudian menyerahkan buku harian milik orang tuanya. Serta album foto yang berisikan keluarga Alaric, yang punya anak kembar, Helsinki dan Rio de Janeiro.


"Paris ini milik kedua orang tuamu. Ada buku harian milik Mommy dan Daddy kamu. Juga album foto milik keluarga Daddy yang ternyata memiliki saudara kembar. Maaf baru sekarang aku memberitahu. Karena kemarin kamu kayaknya belum siap." Angkasa melihat Paris menitikan air matanya saat melihat buku harian milik Mommy-nya. Jelas kalau dia sedang sangat merindukan sosok yang sudah meninggalkannya sewaktu masih kecil.


     Angkasa menjadi seorang dokter pun, karena janjinya kepada Paris sewaktu masih kecil. Kalau dia akan menyembuhkan sakit Mommy-nya. Walau janji itu tidak terlaksana karena keburu meninggal. Paris kecil pun begitu terpukul karena kematian Mommy yang begitu sangat disayangi olehnya. Jadinya, Angkasa berusaha agar bisa menjadi dokter yang hebat agar bisa mengobati orang-orang yang sedang sakit. Agar Paris tidak bersedih karena orang yang di sayangi dan dicintainya sakit, apalagi sampai meninggal.


     Paris membuka lembar demi lembar buku harian milik Mommy-nya. Bagian awal dia baca sambil senyam-senyum karena menceritakan bagaimana kehidupan Paris dan kedua orangtuanya yang sangat membahagiakan, waktu kecil dulu. Bagian tengah sudah mulai menitikan air mata. Bagian itu ketika Mommy dia mulai menjalani pengobatan penyakitnya. Tulisan itu menceritakan, bagaimana dukungan Daddy dan Paris begitu sangat berarti baginya yang sudah hampir putus asa karena tidak kuat menahan rasa sakit dalam masa pengobatan. Hanya kata-kata sayang dan penyemangat dari Helsinki menjadikan dia terus bertahan dan senyuman Paris yang membuat dirinya menjadi kuat dan bertekad untuk sembuh.


    Paris tidak sanggup lagi melanjutkan membaca buku harian milik Mommy-nya. Angkasa pun menarik Paris ke dalam pelukannya. Angkasa tahu pasti Paris sangat sedih saat membaca tulisan tangan ibu mertuanya yang bergelombang. Angkasa yakin kalau dia, menulis itu sewaktu dalam keadaan sakit. Kata-kata yang terangkai pun begitu menyayat hatinya, saat dia membaca kemarin.


"A–Aku ... tidak bisa membayangkan Mommy saat itu, kesakitan seperti apa? Karena dia tidak pernah memperlihatkan kepadaku. Justru senyumannya yang terlukis di wajahnya yang pucat. Wajah Mommy saat itu tidak mau hilang, terus membayangi aku. Dulu aku sering menangis karena sangat merindukan senyumannya. Namun, kini aku menangis karena membayangkan bagaimana perjuangan Mommy untuk bisa sembuh. Agar bisa melihat aku tumbuh besar dan hidup bahagia." Paris menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Angkasa. Dia tidak peduli jika akan mengundang orang untuk datang ke dalam kamar. Namun, untungnya itu kamar ada peredam suaranya.


******


Bagaimana dengan nasib Sofia, Rio de Janeiro, Venesia, dan Madrid?


Tunggu kelanjutannya ya.


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAVORIT, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA YA.

__ADS_1


TERIMA KASIH.


__ADS_2