Trio Kancil

Trio Kancil
#BINTANG 43


__ADS_3

     Ghazali yang berhasil menjatuhkan Agen L, sampai tidak berdaya. Tiga tembakan yang ditembakan mengenai semua, kepada target. Ghazali kembali menyembunyikan badannya. Karena dia tidak tahu jumlah musuh, dan berada di mana saja mereka.


     Para tim keamanan yang masih dalam keadaan sadar. Segera memberi laporan ke pusat untuk meminta dikirimkan bantuan lagi. Karena banyak yang mengalami luka patah tulang di lehernya. Sepertinya musuh tahu kalau mereka menggunakan baju Anti peluru. Sehingga dia mengincar bagian yang tidak terlindungi. Walau sebenarnya leher itu masih terlindungi oleh baju Anti peluru dan helm-nya.


    Bintang berjalan mengendap-endap dan mendekati Ghazali. Dia bersembunyi di balik kursi besi yang berada di depan ruang kamar inapnya.


"Masih ada, musuhnya?" tanya Bintang dengan berbisik.


"Tidak tahu, Ben," jawab Ghazali sambil menyerahkan satu pistolnya kepada Bintang.


"Punya siapa, ini?" tanya Bintang sambil membolak-balikkan pistol yang ada di tangannya.


"Tim keamanan keluarga Hakim," jawab Ghazali, kemudian dia berlari menjauhi TKP, sambil menuntun Bintang. Digenggamnya dengan erat tangan istrinya itu.


*******


    Saat Ghazali dan Bintang berada di parkiran. Mereka berdua bertemu dengan salah seorang agen yang menculik Bintang, yaitu Agen E.


"Hohoho … ternyata nona muda ini, menghampiri sarang musuh, dengan sendirinya." Agen E tertawa senang.


"Apa kamu temannya, orang-orang yang sudah menculik istriku?!" Ghazali sangat marah karena masih ada kawanan para penculik yang berkeliaran.


"Iya, Tuan Muda Ghahza! hohoho …," Agen E tertawa dengan khasnya.


    Ghazali dan Bintang sudah siap memasang kuda-kuda. Kalau-kalau mereka nggak bisa menggunakan pistol. Karena kedua Agen itu berdiri tanpa membawa senjata.


"Agen Y, hati-hati terhadap yang perempuan. Dia bisa berkelahi juga, hohoho …," kata Agen E dengan gaya bicara khasnya.


"Sayang sekali, ya. Padahal aku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama sama dia tadi. Ternyata dia target kita?!" kata Agen Y dengan lemas.


    Bintang yang mendengarnya, merasa kesal. Ghazali, dia sungguh marah. Hampir saja dia akan menerjang Agen Y, kalau tidak di tahan oleh Bintang.


"Angkat tangan kalian!" Ketua tim keamanan keluarga Hakim datang di belakang punggung mereka.

__ADS_1


"Kenapa kalian lama sekali?" Ghazali melampiaskan kemarahannya kepada tim keamanan.


"Maaf Tuan Ghaza. Kita harus membagi tugas dalam menangkap musuh dan mengevakuasi dulu para pasien," kata Ketua Tim.


"Ya sudah, tangkap mereka dan interogasi. Siapa yang sudah menyewa mereka?!" kata Ghazali sambil menatap tajam pada Agen Y, yang dari tadi memandangi Bintang.


    Saat dua anggota tim keamanan, akan memborgol mereka. Agen E menembakan pelurunya dari dua pistol yang di sembunyikan dibalik kedua sakunya.


    Ghazali langsung menerjang Bintang, saat pistol itu menembakan pelurunya dengan cepat. Sementara seorang anggota tim keamanan terkena tembak di dada. Untungnya, dia memakai baju Anti peluru.


    Sedangkan Agen Y menembakan pelurunya kepada anggota tim yang akan memborgolnya, dan satu lagi kepada ketua tim keamanan keluarga Hakim.


    Sambil rebahan, Ghazali menembakkan tangan Agen E dan agen Y, bersamaan. Sehingga kedua pistol itu terlepas dari kelompok mereka.


    Diluar dugaan. Kalau kedua agen itu jago ilmu bela diri. Kini keduanya sedang berkelahi dikeroyok sama anggota tim keamanan. Tak berapa lama, akhirnya mereka bisa dikalahkan juga.


   Tim keamanan keluarga Hakim, yang menyerbu ruang bawah tanah juga sudah berhasil melumpuhkan ke enam agen di sana. Kini Rumah Sakit Harapan dipenuhi oleh para anggota tim keamanan keluarga Hakim. Agen yang hanya mengalami luka ringan langsung dibawa ke markas. Sedangkan Agen L, dirawat di rumah sakit di ruang bawah tanah.


*******


    Kini Ghazali dan Bintang tidur di Hotel Luna. Niatnya sih tadinya nggak akan ngelakuin apa-apa. Mereka cuma mau pindah tidur. Karena di rumah sakit kini banyak orang. Jadi Ghazali memilih tidur di hotel.


    Awalnya Bintang malu, kalau harus pake baju tidur transparan itu. Tapi dari pada pakai baju yang basah karena keringat. Jadinya dia ganti baju juga. Lagian Bintang berpikirnya, nggak apa-apa dilihat sama suami.


    Namun apa daya, seorang Ghazali tidak bisa menahan hasratnya saat melihat Bintang mengganti bajunya dengan baju tidur yang masih baru, milik Mamanya yang ada di lemari baju.


      Padahal mereka akan melakukan malam pertama setelah acara resepsi. Sesuai rencana awal pernikahan mereka. Akhirnya ini malah berakhir dengan malam pertama mereka. Ghazali senang sekali, dia merasa mendapat durian runtuh. 


     Keduanya larut dalam surganya dunia. Bintang tidak menyangka, apa yang sering teman-temannya dulu di Amerika bicarakan, kini dia juga bisa merasakan. Apalagi dengan pasangan halalnya.


     Bintang dan Ghazali, yang awalnya sangat malu. Kini keduanya sudah tidak malu lagi. Malah Ghazali memintanya lagi selepas subuh. Walau badannya terasa sakit, tapi Bintang menyukainya.


"Abang, bagaimana kalau nanti Mama sama Oma menanyakan kita tidur dimana?" tanya Bintang kepada Ghazali.

__ADS_1


    Semalam saat akan melakukan malam pertama. Ghazali protes, masa menyebutnya Om terus. Meski kini sudah menjadi suami istri. Akhirnya setelah melakukan diskusi yang singkat, keduanya akhirnya memutuskan memanggil dengan sebutan Abang.


"Bilang aja kita tidur di hotel," jawab Ghazali sambil merapikan anak rambut di kening Bintang.


"Lalu, bila mereka menanyakan pada Bintang, apa sudah melakukan malam pertama? Bintang harus bilang ap" tanya Bintang sambil ikut memainkan rambut suaminya.


"Jawab saja, sudah!" Ghazali tersenyum hangat kepada Bintang.


"Kalau mereka marah?" Bintang menatap mata Ghazali.


"Bilang saja, mau cepat-cepat ngasih cucu!" Ghazali memencet hidung Bintang yang mancung.


    Sehari semalam mereka menginap di hotel. Karena kedua orang itu mengalir darah keluarga Green, nggak kebayang mereka melakukannya berapa lama. Ghazali sampai memberikan salep kepada Bintang, biar tidak bengkak. Bintang sich manggut-manggut aja nurut sama suami. Apalagi Bintang melihat bibirnya sudah sangat bengkak.


*******


     Sementara itu, Alex dan Khalid sedang menginterogasi, para pelaku penculikan Bintang. Mereka mengakui kalau mereka, adalah agen bayaran. Mereka dibayar untuk mengasingkan Bintang ke luar pulau tak berpenghuni.


"Ayo katakan, siapa yang menyuruh kalian untuk menculik putriku!" tanya Alex sambil duduk manis. Sedangkan Michael yang melakukan eksekusi kepada mereka.


"Aku tidak tahu," jawab Agen E yang mukanya kini sudah babak belur.


"Baiklah. Michael …," tanpa bicara lebih lanjut, Michael memahami keinginan tuannya.


     Michael pun mengeluarkan alat interogasi buatan Langit saat dia duduk di kelas lima sekolah dasar.


      Ketiga agen itu kini tertawa terus, tanpa bisa berhenti. Kaki mereka dipasangi alat yang ujung pakai bulu. Bulu itu terus menggelitik kaki mereka, mereka sampai menangis-menangis akibatnya. Bahkan agen E sampai ngompol di celana.


*******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.


TERIMA KASIH.

__ADS_1


__ADS_2