
Alex dan Cantika memutuskan langsung mencari alamat rumah Dokter Lazuardi, begitu pulang dari universitas tadi.
" Honey, apa kamu tidak lelah?" Tanya Alex sambil mengarahkan pandangannya pada Cantika yang duduk di kursi penumpang yang berada disisinya.
" Tidak, Sayang. Aku baik - baik saja." Cantika tersenyum ke arah suaminya.
" Baiklah kalau begitu kita, berangkat…!" Alex bersemangat dan itu membuat Cantika tertawa.
Selama dalam perjalanan Alex dan Cantika terlibat pembicaraan yang menyenangkan. Alex maupun Cantika selalu bisa menikmati moment - moment saat mereka hanya berdua. Karena dulu mereka tidak pacaran, tak lama bertemu langsung lamaran, kemudian menikah dengan dadakan. Jadi sekarang mereka berpacaran setelah menikah.
" Sayang, apa benar ini jalan menuju rumah Ayah?" Tanya Cantika yang merasa ragu.
" Iya kata orang tadi, alamat rumah ini berada di atas bukit." Jawab Alex.
" Mungkin saja salah, daerah sini kok sepi. Nggak ada penduduknya!" Kata Cantika sambil melihat pemandangan pohon - pohon di sisi - sisi jalan.
" Baiklah, kita akan tanya lagi bila kita bertemu dengan penduduk di sekitar sini!" Kata Alex sambil memegang tangan Cantika.
Tak berapa lama mereka bertemu dengan seseorang yang sedang berjalan dengan membawa dua ekor kambing.
" Maaf permisi, Pak. Mau tanya alamat rumah ini?" Alex turun dari mobilnya dan menghampiri pria paruh baya.
Begitu kertas yang beralamatkan rumah Dokter Lazuardi kepada lelaki itu. Reaksi pertama kali yang diperlihatkan oleh orang itu adalah mengerutkan keningnya.
" Kalian mau apa mencari rumah Dokter Lazuardi?" Nada bicara lelaki itu tidak bersahabat.
" Kami hanya ingin bertemu dengan keluarganya Dokter Lazuardi?" Jawab Alex setenang dan sehalus mungkin.
"Mereka semua sudah mati!" Teriak lelaki itu dan cepat - cepat berlalu meninggalkan Alex.
Cantika yang mendengar itu di dalam mobil pun sangat terkejut. Tak menyangka kalau ada orang yang tahu tentang keluarganya.
" Apa benar mereka semua sudah meninggal?" Gumam Cantika.
" Honey, sebaiknya kita cepat - cepat pergi dari sini!" Kata Alex sambil melajukan mobilnya kembali.
Di tengah jalan mereka bertemu kembali dengan seorang Kakek - Kakek dan seorang pria dewasa. Dan Alex pun memutuskan untuk kembali bertanya kepada mereka.
" Permisi, mau tanya alamat ini di sebelah mana, ya?" Tanya Alex kepada kedua orang itu.
Alex pun memberikan kertas alamat tadi, kepada mereka. Dan reaksi mereka berdua sama seperti pria tadi.
" Mister ini mau apa mencari alamat rumah itu?" Si Kakek yang bertanya.
" Kami sedang mencari anggota keluarga Dokter Lazuardi!" Kata Alex.
__ADS_1
" Tapi sepertinya mereka semua sudah meninggal dunia." Jawab Si Kakek itu.
" Apa?" Alex terkejut, ternyata perkataan lelaki tadi itu benar.
" Iya, sebuah tragedi berdarah telah terjadi di rumah Dokter Lazuardi!" Jawab Kakek.
" Bisa Kakek antar kami ke alamat ini?" Pinta Alex.
" Tapi buat apa kesana?" Tanya Si Kakek itu.
" Kami hanya ingin melihatnya agar tidak tidak penasaran." Jawab Alex.
" Baiklah akan saya antarkan!" Jawab lelaki yang tua itu.
*******
Alex melajukan kendaraannya menuruti arahan dari si Kakek. Mereka mengendarai sekitar lima belas menit, dengan medan jalanan yang menanjak. Karena posisi rumah itu berada di atas bukit.
" Itu Mister rumahnya, Dokter Lazuardi!" Tunjuk si Kakek.
Alex dan Cantik mengalihkan pandangan mereka ke arah yang ditunjuk oleh Si Kakek. Dan betapa Alex dan Cantika, terkejut melihat pemandangan di depan mereka.
Alex menepikan kendaraannya tepat di depan gerbang rumah bertingkat yang berukuran besar. Keadaan rumah itu sangat mengenaskan, jauh berbeda dengan yang berada di foto.
Rumah yang dulunya megah itu kini terlihat sangat mengerikan. Terbayang bagaimana ganasnya Si Jago Merah Melahap semua bangunan itu. Kini rumah itu tinggal menyisakan kerangka bangunan yang sudah hangus.
" Kek. Apa Kakek tahu apa yang terjadi disini?" Tanya Cantika.
" Kakek kurang tahu secara pastinya. Apa yang terjadi di sini saat itu." Si Kakek berdiri di samping Cantika dan Alex.
" Hanya saja malam itu, ada beberapa mobil asing yang memasuki gerbang rumah Dokter Lazuardi." Si Kakek mulai bercerita.
" Kemudian tak berapa lama, terdengar suara tembakan beberapa kali dan jeritan, di dalam rumah Pak Dokter."
" Karena malam itu sangat sepi jadi meski dari kejauhan, suara - suara itu dapat terdengar dengan jelas."
" Kami, warga yang rumahnya berada tak jauh dari sini. Berkumpul, dan datang berbondong - bondong ke sini."
" Dan saat sampai kesini, ternyata rumah Pak Dokter sudah terbakar oleh api yang sangat besar."
" Kami para warga tidak bisa mengevakuasi para penghuni rumah, karena api sudah sangat besar dan menyambar - nyambar. Dan sudah merembet ke semua bagian rumah."
" Mobil pemadam kebakaran pun baru datang menjelang subuh."
" Dan api dapat dipadamkan saat hari sudah terang."
__ADS_1
" Kami, warga dan tentara yang membantu saat itu. Bersama - sama mengevakuasi seluruh mayat penghuni di rumah Pak Dokter."
" Di rumah itu punya pembantu tiga orang yang bagian bersih - bersih rumah dan mencuci. Satu orang supir,dan satu orang tukang kebun."
" Tapi kami tidak menemukan mayat ketiga anak Pak Dokter dan anak sopirnya."
" Padahal jelas - jelas saya bertemu dengan mereka, saat mobil mereka berpapasan dengan kami, yang baru saja pulang kerja malam."
" Dan mobil itu pun ada di halaman rumah, saat kebakaran itu terjadi."
Si Kakek itu bercerita sambil memandang rumah yang telah hangus. Dan dia juga menitikkan air matanya. Mengingat kenangan masa lalu.
" Padahal Pak Dokter dan keluarganya, semuanya adalah orang yang sangat baik."
" Suka membantu warga miskin disini. Bila hasil panennya banyak, mereka akan membagikan sebagiannya kepada kami."
" Bila kami sakit, Pak Dokter akan mengobati kami, dengan cuma - cuma. Bahkan warga yang harus dirawat ke rumah sakit pun akan dibantu olehnya."
" Kami semua sangat terpukul atas kejadian ini. Kami merasa sangat kehilangan seorang yang kami anggap sebagai pahlawan."
Si Kakek menyeka air matanya yang terus mengalir di pipinya yang sudah keriput.
" Lalu, kenapa kalian mau mencari tentang keluarganya Pak Dokter?" Si Kakek itu melihat ke arah Cantika dan Alex.
" Itu karena..." Cantika merasa tercekat tenggorokannya karena menahan tangisannya.
" Saya adalah anak dari putra sulung Dokter Lazuardi," kata Cantika dengan suara rendah.
Mendengar pernyataan Cantika, Si Kakek sangat terkejut. Kemudian menatap Cantika dengan mata yang masih berkaca - kaca.
"Maksudnya.... Den Langit…. saat itu... bisa selamat dari kebakaran yang besar itu." Tanyanya sambil tergagap.
" Iya, Kek. Ayah bisa selamat. Hanya saja beliau kehilangan ingatannya." Jawab Cantika.
" Alhamdulillah, Ya Allah!" puji si Kakek.
" Terus dimana Den Langit sekarang?" si Kakek sangat senang mendengarnya.
*******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
KASIH JEMPOL YANG BANYAK YA.
DUKUNG AKU TERUS.
__ADS_1
TERIMA KASIH.