Trio Kancil

Trio Kancil
#BINTANG 30


__ADS_3

     Kini Ghazali, Bintang, dan Amara duduk di ruang tamu. Mereka bertiga sudah dua menit cuma duduk terdiam. Tiada ada seorang pun yang memulai pembicaraannya. Bintang hanya menundukkan kepalanya, karena malu. Semenjak duduk di sana, Ghazali terus hanya memandanginya. Membiarkan Amara yang duduk di depannya, tak diliriknya sekalipun.


"Hm …," suara dehaman Amara mulai terdengar, tetapi tidak bisa memancing Ghazali yang masih asik memandangi wajah Bintang. 


"Loh, kok pada diam. Apa nggak ada yang mau kalian bicarakan?" tanya Aurora yang membuat ketiga orang itu mengalihkan perhatiannya kepada sosok yang kini berjalan menuju kursi yang ada di samping Ghazali.


"Amara katanya ada yang mau kamu bicarakan kepada Ghaza?!" tanya Aurora sambil melihat kepada mantan pacar putra bungsunya itu.


"Iya, itu Ma … aku mau bicara sesuatu yang penting berdua saja sama Ghaza," kata Amara sambil tersenyum malu.


     Mendengar perkataan Amara barusan, membuat Ghazali dan Bintang, membelalakkan matanya. Keduanya tak menyangka kalau dia akan bilang seperti itu.


"Katakan saja disini, sekarang!" balas Ghazali dengan nadanya yang dingin.


"Tapi ini, pembicaraan yang agak rahasia." Amara melihat ke arah Bintang, seolah dia tidak ingin kalau Bintang mendengar apa yang akan dibicarakan dengannya.


     Bintang tahu diri, kalau dia tidak diinginkan keberadaannya di sana. Namun dengan memasang wajah yang tebal muka, Bintang masih asik duduk di sofa yang berdampingan dengan Ghazali.


"Katakan saja apa yang kamu ingin katakan sekarang! Aku tidak mau menyembunyikan sesuatu dari calon istriku." Ghazali menggenggam tangan Bintang, dan jari jemari mereka saling bertautan.


"Iya, Amara. Akan lebih baik kalau kamu bicarakannya di sini bersama kami. Agar tidak terjadi fitnah di antara kalian," kata Aurora sambil melihat ke arah Amara, yang kini dia terlihat sedang memelototi Ghazali dan Bintang.


"Amara …?!" panggil Aurora untuk menyadarkannya kembali dia ke dunia nyata.


"Eh, iya Mah." Amara malah tersenyum malu karena ketahuan sedang memandangi Ghazali. 


"Sebenarnya aku kesini hanya ingin bilang, kalau papa sedang sakit keras dan dia ingin bertemu denganmu Ghaza," kata Amara dengan memasang mimik wajahnya yang sedih.


"Papa kamu sakit apa Amara?" tanya Aurora terkejut.


"Papa punya penyakit gagal ginjal, Ma." 

__ADS_1


     Amara meneteskan air matanya di pipinya yang mulus. Kemudian mengusapnya dengan agak kasar, dan menarik napasnya juga dengan kasar.


"Terus sekarang papamu dirawat di mana?" tanya Aurora lagi karena penasaran.


"Papa dirawat di Singapura, bersama mama yang mengurus segalanya di sana," jawab Amara.


"Kata Mama, sudah beberapa kali papa menanyakan Ghaza. Katanya ingin bertemu dengan Ghaza," lanjut Amara.


"Aku mohon Ghaza, temuilah Papa. Karena kita tidak tahu sampai kapan umur papa masih bisa hidup," pinta Amara kepada Ghazali.


     Sementara Ghazali hanya diam menyimak saja, tanpa ada keinginan untuk menanggapi obrolan Amara. Dia sudah muak dengan Amara dan keluarganya. Selama lima tahun belakangan dia menyelidiki tentang Amara dan keluarganya.


       Keluarga Amara selalu menggunakan nama Hakim atau Ghazali Hakim sebagai jaminan mereka saat bekerjasama dengan para rekan bisnisnya. Mereka melakukan segala cara agar semua proposal kerjasama mereka dengan perusahaan lain bisa disetujui.


     Sedangkan Amara, dia tidak ada masalah kecuali perselingkuhannya dengan sang sahabat baiknya dari kecil. Karena pada dasarnya Amara adalah gadis yang baik dan penurut.


      Ghazali juga tahu perasaan Amara kepadanya benar-benar tulus. Hanya saja Amara tidak bisa menjaga hatinya, karena terhasut oleh omongan orang lain. Seandainya dulu Amara mau diajak nikah, dan tinggal di jerman. Mungkin kini status mereka sudah jadi orang tua. Sudah lama perasaan Ghazali terhadap Amara memudar. Bukan karena masalah Amara yang selingkuh. Namun hatinya lah yang sudah berpaling. Hanya saja Ghazali terlambat menyadarinya.


Kini dia sudah punya penggantinya yang lebih baik. Setiap dalam doanya Ghazali selalu meminta yang terbaik buatnya, dan kini dia sudah menemukannya. Bahkan hatinya sudah di kuasai oleh Bintang sepenuhnya. Bintang sang penguasa hatinya yang kini telah bertahta dalam hidupnya. Wanita pilihannya yang tak akan dilepaskannya lagi.


"Jadi, Ghaza apa mau menemui Papa di Singapura sesuai keinginannya?" tanya Amara dengan penuh harap.


"Maaf Amara, sepertinya aku tidak bisa! Saat ini aku sedang sibuk menyiapkan pernikahan kami," tolak Ghazali kemudian melihat kembali ke arah Bintang dan tersenyum kepadanya.


"Aku mohon, Ghaza! temui Papa sebentar saja," pinta Amara sedikit memaksa.


"Akan aku pikirkan setelah hari pernikahanku, tapi aku tidak janji," ujar Ghaza sambil berdiri dan mengajak Bintang pergi dari ruangan itu.


"Maaf ya Amara, waktunya kurang tepat. Kami saat ini sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan pernikahan Ghaza dan Bintang.


"Nggak apa-apa, Ma. Mungkin ini juga salah Amara, karena terlalu bodoh. Padahal selama ini Amara masih mencintai Ghaza, dan tidak tahu kalau Andre memanfaatkan aku untuk menjatuhkan Ghaza," kata Amara sambil menghapus air matanya.

__ADS_1


"Maksud kamu?" tanya Aurora, dirinya takut kalau Andre nantinya mencelakai Ghazali.


"Andre itu selalu iri dengan apa yang dimiliki oleh Ghaza, Ma!" jawab Amara sambil menatap Aurora.


"Dulu juga saat Ghaza mengajak menikah, Andre memintaku jangan dulu, karena umurku masih sangat muda dan harus menjadi wanita hebat biar bisa sepadan dengan Ghaza," balas Amara masih dengan isak tangisnya.


"Aku bodoh, Ma. Padahal saat itu aku senang sekali. Namun ada rasa kurang percaya diri dari hatiku, kalau melihat Ghaza dari keluarga kalangan atas, baik dari keluarga pihak Ibu atau keluarga pihak Ayah." Amara menundukan kepalanya.


"Mungkin kalian tidak berjodoh. Semoga kamu bisa secepatnya menemukan jodohmu," kata Aurora penuh harap.


"Amara masih mencintai Ghaza, Ma. Seandainya Ghaza ingin menjadikan aku yang kedua pun, aku siap." Amara memandang ke arah Aurora dengan tatapan penuh harap bisa menjadi menantunya.


"Kamu ini bicara apa! Kenapa kamu ingin menjadi istri kedua buat Ghaza?!" tanya Aurora kurang suka dengan perkataan Amara barusan.


"Bukannya dulu juga Kak Fatih punya dua istri! Maka aku pun siap jika Ghaza memintaku menjadi istrinya yang kedua," jawab Amara seolah-olah memaksa ingin menjadi menantu keluarga Hakim.


"Maaf saja aku tidak ada niatan untuk poligami! Cukup Bintang seorang yang akan menjadi istriku, selamanya sampai maut memisahkan," kata Ghazali yang kembali ke ruang tamu, karena handphone dia tertinggal di sofa.


"Jadi cari laki-laki lain saja! Aku tidak mau menjadikan kamu sebagai istriku," kata Ghazali sambil meninggalkan ruangan itu.


"Ghaza akan aku pastikan kamu dan Bintang, berpisah dan tidak akan bersama selamanya," gumam Amara dalam hati sambil melihat punggung Ghazali yang berjalan memasuki ruang keluarga. Aurora dapat melihat ekspresi Amara dengan jelas.


*******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA MUMPUNG HARI SENIN.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.


  

__ADS_1


__ADS_2