
Bintang merasa sangat gugup dan bimbang hatinya. Dari dalam hati kecilnya dia berharap Ghazali datang sebelum waktu pertunangan dia dan Aria. Namun orang yang ditunggu-tunggu tidak muncul juga.
"Ya Allah, ada apa denganku. Kenapa aku selalu berharap Om Ghaza adalah jodohku. Padahal Engkaulah yang paling tahu siapa yang terbaik buatku," Bintang bermonolog di depan cermin sambil melihat dirinya kini yang sudah berdandan cantik. Walau di make up dengan sederhana sesuai keinginannya, Bintang terlihat seperti seorang bidadari bermata biru.
Lamunan Bintang teralihkan oleh suara ketukan di pintu kamar hotel beberapa kali. Bintang pun berjalan ke arah pintu dan membukanya karena ingin melihat ada siapa.
"Bintang!" suara ketiga temannya itu langsung terdengar begitu pintu dibuka.
"Hai kalian kenapa datangnya terlambat?!" tanya Bintang kepada ketiga temannya itu.
"Aku harus meminta bobokan si bungsu dulu. Tahu mommy sama Daddy-nya mau pergi dia merengek ingin ikut," kata Husna memasang wajah meminta maaf, karena datang tidak sesuai dengan janjinya.
"Kalau aku tadi berkelahi dulu sama Nyi Pelet gara-gara anakku di beri hadiah sama Daddy-nya. Dia menuduh aku yang telah menghasutnya agar minta hadiah kepada dia. Buat apaan, duit ku juga banyak," Luna memasang wajahnya yang kelihatan kesal sekali.
"Uh … Uh … Mbak ku yang cantik ini lagi kesal karena bertemu dengan mantan rivalnya," kata Bintang menggoda Luna, yang sudah menjadi hobinya kini.
"Iya mereka berdua nggak kasihan sama aku yang menunggu di lobi hotel," kata Selena sambil manyun karena kesal.
Mereka duduk di sofa kamar yang khusus hanya boleh di tiduri oleh keluarga Andersson. Hotel Artemis merupakan salah satu hotel milik Alex, yang ada di Indonesia. Keempat sahabat ini sedang asik berbincang, sampai ada ketukan di pintu.
"Bintang ayo bersiap pihak keluarga laki-laki sudah datang!" Cantika dan Mentari berdiri di depan pintu kamarnya.
"Ayo kita juga harus turun ke bawah," ajak Husna kepada kedua temannya itu.
"Bintang kami ke bawah dulu, ya!" ketiga temannya pamit duluan.
Suara dering telepon milik Bintang berbunyi dengan sangat nyaring. Dengan cepat Bintang mengangkat panggilan nomor asing itu. Dia berharap itu adalah nomor orang yang sedang di rindukannya.
"Siapa?" tanya Cantika kepada Bintang dengan gerakan mulutnya saja tanpa suara. Bintang hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Halo, ini dengan siapa?" tanya Bintang kepada Si Penelepon.
__ADS_1
"Apa benar ini dengan Nona Bintang?" Si Penelepon malah bertanya bukannya menjawab.
"Iya benar, saya Bintang. Anda siapa?" tanya Bintang lagi.
"Saya orang yang telah menolong pemilik handphone ini, dan menghubungi nomor anda. Disini hanya ada satu nomor saja, yaitu nomor anda," jawab Si Penelepon.
"Apa anda mengenal pemilik handphone ini, disini identita yang tertera di KTP-nya bernama Al Ghazali Green Hakim," lanjut Si Penelepon.
Mendengar kabar yang di dapatkannya barusan Bintang langsung lemas. Seakan sebagian nyawanya di tarik keluar. Kedua kakinya tidak mampu menopang berat badannya lagi. Air mata Bintang langsung membasahi pipinya yang chubby dan mulus itu.
"Om … Om Ghaza!" isak tangis Bintang langsung pecah tidak dapat ditahan oleh dirinya lagi.
Cantika dan Mentari yang melihat itu langsung panik. Kemudian mereka memapah Bintang ke sofa di dekat dia terjatuh tadi. Bintang yang masih menggenggam handphone-nya, kembali berbicara kepada Si Penelepon.
"Halo, sekarang anda sedang di mana?" tanya Bintang lagi sambil menangis yang tidak bisa dihentikan olehnya.
"Saya masih di jalan raya, tapi orang itu sudah di bawa ke rumah sakit--," panggilannya terputus.
Tamu dibawah sudah banyak, dan acara pembukaan sedang dilangsungkan. Mereka semua yang hadir di sana, sangat terkejut saat melihat Bintang yang penampilannya begitu mempesona dan memukau banyak orang berlari begitu cepat melewati aula yang dipakainya untuk acara pertunangan antara dirinya dan Aria.
Orang-orang di aula itu merasa aneh dan terkejut saat melihat calon perempuannya malah berlari ke luar hotel. Para tamu undangan pun membicarakan yang tidak-tidak, karena melihat calon wanitanya meninggalkan acara pertunangan mereka, dan meninggalkan calon laki-lakinya di sana sendirian.
Aria yang melihat Bintang berlari begitu kencang ke arah luar hotel, langsung panik karena takut terjadi sesuatu kepada Bintang. Aria pun berlari menyusul Bintang. Teman-teman Bintang merasa aneh dengan kejadian barusan.
"Bintang, kenapa?" tanya Husan dan kedua teman yang lainnya hanya menggelengkan kepala mereka.
"Apa telah terjadi sesuatu kepadanya?" tanya Bryan kepada Husna yang berada dalam rangkulannya.
"Tidak tahu, karena barusan dia masih baik-baik saja," jawab Husna kepada suaminya yang posesif itu.
Alex dan Erlangga pun langsung berlari menyusul Cantika yang berlari mengikuti Bintang. Keadaan di aula pesta menjadi gaduh karena kejadian barusan. Tak ada seorang pun yang memberikan keterangan atau konfirmasi dari tuan rumah atas kejadian barusan.
__ADS_1
"Honey ada apa? Kenapa Bintang berlari ke luar hotel?" tanya Alex kepada Cantika yang wajahnya sangat pucat.
"Barusan Bintang mendapatkan telepon dari seseorang, kalau Ghaza telah mengalami kecelakaan di jalan raya. Kini dia dibawa ke rumah sakit," kata Cantika dengan nadanya yang panik.
Fatih datang berjalan dengan pelan-pelan sambil memapah Mentari yang sedang hamil besar. Dia pun tidak tahu soal Ghazali yang ada di Indonesia. Sebab kabar yang di tahu kalau Ghazali masuk rumah sakit di Italia beberapa hari yang lalu.
"Fatih, kamu yakin kalau Ghazali masih di Italia?" tanya Alex pada sepupunya itu.
"Aku … kurang tahu secara pasti," jawab Fatih.
"Ghaza sudah sampai ke Indonesia tadi sore, bersama dengan Aurora," suara berat Jonathan mengejutkan mereka yang sedang berada di sana.
"Benarkah!" tanya semua orang yang ada di sana.
*******
Bintang mengendarai motor milik pegawai cafe Mama-nya yang kebetulan baru turun diparkiran hotel tadi. Jadinya Bintang mengendarai motor menggunakan gamis indah lengkap dengan riasa cantik diwajahnya. Bahkan helmnya tidak bisa membungkus kepalanya dengan sempurna.
Dalam pikirannya saat ini adalah cepat-cepat sampai ke rumah sakit, agar dia bisa melihat keadaan Ghazali. Bintang tidak tahu rumah sakit mana tempat Ghaza dibawa tadi. Dia hanya mengandalkan pemikirannya, kira-kira akan di bawa kemana para korban kecelakaan biasanya di bawa.
Bintang memilih rumah sakit milik pemerintah sebagai tujuan awalnya. Dengan kecepatan maksimal dan menyalip tiap kendaraan di depannya, Bintang melajukan motornya.
Lima belas menit dia baru bisa sampai ke rumah sakit milik pemerintah kota. Bintang cepat-cepat menuju ke ruang UGD, dan mengecek apa ada pasien kecelakaan yang bernama Ghazali.
"Suster apa tadi ada korban kecelakaan yang di bawa ke sini?" tanya Bintang dengan napas yang memburu karena habis berlari dengan cepat ke ruang UGD itu.
******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN, VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
__ADS_1
TERIMA KASIH.