Trio Kancil

Trio Kancil
BAB 49


__ADS_3

Alex mengeluarkan dua pistol dan empat tabung peluru yang berbentuk bulat sebesar anak kelereng. Dan memasukan amplop yang tadi di bawa dari ruang kerja, ke dalam kopernya yang bisa berubah fungsi menjadi tas ransel, yang dapat memudahkannya di bawa ke mana - mana. Melihat peralatan Alex, Alessio menjadi penasaran.


" Bos itu pistol pelurunya, dari karet ?"


" Ya, dan sudah aku modifikasi."


" Tapi kenapa kaya mainan ? Apa benar bisa di gunakan ?"


" Kau meremehkan hasil karya yang aku buat ?"


" Ya, terlihat tidak meyakinkan."


     Pistol Alex sekilas modelnya seperti pistol pada umumnya. Tapi tabung kecil yang berisi peluru karet yang disimpan di atasnya, membuat pistol itu seperti mainan.


" Kau akan melihatnya nanti. Apa pistol aku atau pistol kamu yang akan banyak menjatuhkan lawan !"


    Alex tersinggung, hasil karyanya di remehkan oleh bawahannya. Padahal itu merupakan salah satu senjata canggih dari hasil ciptaannya.


                * * * * * * *


     Alex dan teman - temannya kembali menyusuri lorong tadi, dan kembali ke ruang tengah. Dari hasil peretasan kamera CCTV, tadi ada lorong rahasia lainnya di balik lemari hias yang ada di ruang tengah. Lemarinya mudah untuk ditemukan, tapi tombol pintu masuknya sulit untuk ditemukan. Ke empat orang itu meraba - raba benda yang kira - kira bisa di jadikan tombol pintunya.


     Saat mata Alex melihat hiasan berbentuk boneka kucing, Alex coba mengambilnya. Tapi tertanam kuat di meja. Alex mencoba memutar boneka kucing itu, dan perlahan lemari hias itu terbuka lebar. Memperlihatkan lorong tangga menuju ke bawah. Keempatnya langsung masuk ke dalam, menyusuri lorong tangga yang di terangi lampu temaram. Ternyata tangganya berbentuk spiral dan memiliki banyak anak tangga.


     Berbeda dengan ruang rahasia bawah tanah tadi yang memiliki banyak ruangan seperti kamar. Di ruang bawah tanah ini berbentuk sel penjara. Ada banyak ruang sel yang saling berhadapan disana. Suasana yang gelap hanya di teranggi lampu temaram beberapa buah, suhu lembab, ruangan berbentuk sel penjara. Melihat ini semua Alex marah, karena kedua anaknya diperlakukan seperti ini. Mereka menyusuri satu per satu ruang sel penjara, tapi tidak ada tanda - tanda keberadaan si Kembar.


" Dor....!!!"


" Dor....!!!"


     Terdengar suara tembakan yang dilancarkan ke arah mereka. Tapi tidak berhasil mengenai satu orang pun di antara mereka. Alex menembakan peluru tanpa suara ke arah yang gelap, dan terdengar suara sesuatu yang jatuh.


" Brug....!"


" Brug....!"


     Alex tersenyum, bidikannya mengenai sasaran. Alessio yang melihat itu merasa sangat kagum pada Bosnya. Dan mereka semua bergerak ke arah asal tembakan tadi. Saat mereka berlari kesana terlihat ada dua orang Penjahat sudah terkapar di sana. Karena penasaran Alessio memeriksa mereka berdua. Tidak ada bekas tembakan apalagi darah dari kedua Penjahat itu. Dan itu makin membuat Alessio penasaran.


" Bos bagaimana bisa mereka....?"


" Ini peluru bius yang duri jarumnya akan keluar saat mengenai objek."

__ADS_1


     Alex menjawab rasa penasaran dari Alessio. Sebenarnya bukan hanya Alessio yang di buat penasaran. Tapi A dan B juga sangat penasaran akan kehebatan pistol buatan Alex.


" Wah, hebat !" Jawab mereka bertiga kompak.


" Aku juga mau Bos !" Pinta Alessio.


" Bukannya kamu bangga akan pistol milik kamu ?"


" Ini berbeda dengan yang itu !"


     Mendengar itu Alex tersenyum mengejek. Dan Alessio sangat sebal melihatnya.


" Ya nanti kalau semua urusan kita di Indonesia sudah beres semua. Aku akan berikan ini padamu." Kata Alex yang membuat Alessio senang.


     Mereka kembali menyusuri lorong penjara itu, dan mereka banyak menemui musuh yang menggunakan pistol.


" Dor....!!!"


" Dor....!!!"


" Dor....!!!"


     Tembakan banyak di lancarkan ke arah mereka berempat. Dan keempatnya menghindar, kemudian membalas tembakan itu. Sampai lagi - lagi Alessio ke habisan pelurunya. Melihat itu Alex melemparkan dua pistol hasil rampasan dari musuh, ke arah Alessio.


     Alessio pun menangkap pistol pemberian Alex. Dan dia mau tidak mau harus menggunakan pistol itu sekarang.


" Dor....!!!"


" Dor....!!!"


" Dor....!!!"


     Suara tembakan saling bersahutan di lorong temaram itu.


                 * * * * * * *


     Di tempat anak - anak di sekap, Angkasa duduk terikat di kursi begitu juga dengan Bintang. Ruang sel yang kecil dan gelap membuat keduanya ketakutan. Apalagi terdengar suara tembakan yang saling bersahutan tiada henti. Angkasa yakin kalau orang - orang yang di sebut penyusup oleh para Penjahat adalah Papa dan teman - temannya yang akan membebaskan mereka.


" Kak, Bintang takut," suara Bintang terdengar lemah.


" Tenang, itu sepertinya Papa datang untuk menolong kita,"

__ADS_1


" Apa benar itu Papa ?" Bintang senang mendengar perkataan Angkasa.


     Terlihat seorang laki - laki muda masuk ke dalam sel tahanan yang di diami oleh Angkasa dan Bintang.


" Kalian ini sebenarnya siapa ?"


" Kalau Om nggak kenal kami. Kenapa Om menculik kami !!!"


     Angkasa berusaha tidak takut dan gugup di hadapan Bos Penjahat itu.


" Yah, tadinya aku hanya ingin bertukar kalian dengan sepupuku yang di penjarakan oleh ibu kalian itu."


" Maksud Om. Tante Anggit ?"


" Ya, dia sepupu yang sangat aku cintai."


" Kalau gitu kenapa dulu nggak Om nikahi aja Tante Anggit nya, sehingga tidak perlu bertunangan dengan Om Arga."


" Itu karena Anggit telah menolak ku. Dan memilih laki - laki yang di cintai ya."


" Ya, dan Mama kami nggak salah apapun, tapi Tante Anggit selalu jahat sama kami."


" Itu karena cinta dia buta."


" Sama kayak Om. Cinta Om juga buta."


     Lelaki itu terdiam sesaat, mendengar ucapan Angkasa. Dirinya sedih dan marah saat melihat Anggit di tangkap oleh polisi. Makanya dia berinisiatif menculik anak dari perempuan yang telah melaporkan sepupunya pada polisi. Kemudian mereka melakukan barter dengan kebebasan Anggit. Tapi tidak pernah terpikirkan olehnya kalau akan terjadi seperti ini. Markasnya di serbu oleh orang - orang yang akan membebaskan dua bocah dihadapannya ini. Dan dari pantauan kamera CCTV, mereka bukan orang sembarangan. Banyak anak buahnya yang jadi korban, padahal penyusupnya cuma empat orang. Dan yang lebih mengejutkannya lagi, ada ketua dari kelompok Eyeshadow di antara mereka. Salah seorang pemimpin Mafia terkenal di Italia. Tadi dirinya sempat ragu, akan kehadiran dari seorang Alessio di markasnya. Tapi saat kamera CCTV menangkap jelas wajahnya, dia yakin kalau itu Alessio adalah benar.


                * * * * * * *


     Di tempat lain Fatih di bantu pihak aparat kepolisian dan TNI sedang bersiap - siap akan menuju lokasi penyekapan si Kembar. Alex memberi tahu Akira kalau yang dihadapi mereka kemungkinan sekelompok mafia. Karena jumlah orangnya banyak dan di lengkapi dengan senjata api. Akira pun memberi tahu Fatih akan informasi dari Alex. Maka Fatih pun minta bantuan jajaran tentara angkatan darat untuk membantu pembebasan keponakannya itu.


Hari sudah mulai memasuki senja, saat mereka mulai berangkat menuju lokasi.



\* \* \* \* \* \* \*


Jangan lupa kasih jempolnya, ya.


Hadiah kado sama vote nya juga.

__ADS_1


Terus kasih bintang lima.


Biar aku makin semangat lagi dalam membuat ceritanya.


__ADS_2