Trio Kancil

Trio Kancil
#BINTANG 35


__ADS_3

     Satu Minggu telah berlalu, semenjak hari pernikahan Bintang dan Ghazali. Keduanya belum bisa tinggal bersama. Bintang menjalani hari-hari seperti biasanya. Pergi kuliah, ke kantor perusahaan property KINGDOM, dan belajar memasak menu-menu baru. 


      Teman-temannya Bintang juga sudah banyak yang tahu akan digelarnya pesta pernikahannya dengan besar-besaran, yang akan diadakan satu Minggu lagi. Tanpa mereka tahu kalau proses ijab qobul-nya sudah dilaksanakan.


     Saat ini seperti biasa, Bintang dan teman-temannya makan siang di cafe langganan mereka. Mereka bersenda gurau dan menggoda Bintang.


"Bintang, sebaiknya kamu di KB dulu. Jangan dulu punya anak!" kata Luna ketika mereka sedang asik membahas masalah anaknya Husna dan anaknya Luna.


Bintang yang hendak memasukan sendok berisi nasi itu, akhirnya diturunkan kembali.


"Kenapa?" tanya Bintang dan Selena bersamaan penasaran.


"Kamu itu masih muda, rentan terjadi keguguran, atau ibu meninggal saat melahirkan," jawab Luna sambil menyuapkan tiga potong kentang goreng ke dalam mulutnya.


"Ya, alat-alat reproduksinya belum matang di usia kamu yang masih belia ini," tambah Husna, "tunggu satu tahun lagi, saja. Agar semuanya benar-benar dalam keadaan siap. Baik badan kamu dan mental kamu."


Bintang dan Selena yang masih awam akan pengetahuan tentang ilmu reproduksi, mendengarkan dengan seksama. Karena itu dirasa penting bagi mereka.


"Yah … padahal Om Ghaza ingin punya banyak anak, kayak papa."


Wajah Bintang terlihat sangat kecewa saat mendengarnya. Sebenarnya dia juga ingin cepat-cepat punya anak yang mirip dirinya atau suaminya.


"Itu tinggal konsultasikan saja kepada Dokter ahli kandungan, bersama suami kamu," kata Husna sambil menatap Bintang.


     Di tengah pembicaraan mereka, datanglah Amara dengan wajahnya yang sembab habis menangis. Dia mendatangi Bintang dengan tujuan yang sama seperti dahulu.


"Bintang, kumohon lepaskanlah Ghaza untuk aku! Karena papa mengira kalau aku masih kekasihnya Ghaza." Amara malah duduk bersimpuh di lantai cafe, dan menarik banyak pengunjung di sana.


"Kondisi papaku saat ini dalam keadaan kritis! Keinginan dia adalah melihat aku menikah dengan Ghaza. Aku mohon kembalikan Ghaza kepadaku …." Sambil terisak-isak Amara menangis di sana.

__ADS_1


Bintang dan teman-temannya sangat terkejut dengan aksi Amara ini. Bukan hanya mereka orang-orang di sekitar mereka pun langsung melihat ke arah Amara, mencari tahu apa yang sedang terjadi.


"Maaf, Kak Amara. Bintang tidak akan menyerahkan Om Ghaza kepadamu," balas Bintang sambil berusaha membangunkan tubuh Amara yang masih saja duduk bersimpuh di lantai.


"Kumohon Bintang kembalikan Ghaza kepadaku!" teriaknya semakin membuat orang-orang yang ada di sana penasaran dengan apa yang terjadi.


"Tidak Kak Amara! Kakak duluan yang selingkuh dengan sahabat Om Ghaza. Wanita macam apa yang sudah selingkuh, lalu ditinggalkan. Kini memohon kepadaku untuk mengembalikannya kepadamu. Tidak akan!" Bintang tidak akan mau, apalagi dia sekarang mereka sudah menjadi suami istri.


     Orang-orang di sana terdiam menyaksikan drama mini cafe, yang dimana lakonnya adalah Bintang dan Amara, sedangkan yang lainnya adalah penonton.


"Aku dan Ghaza masih saling mencintai! Oleh karena itu biarkan kami bersatu," Amara menangis tergugu, seakan dia adalah seorang wanita yang sudah terdzholimi.


"Dapat pemikiran dari mana Kak Amara?! kalau Om Ghaza masih mencintai Kakak?!" tanya Bintang dengan nada kesalnya, saat mendengar kata-kata Amara barusan.


"Aku masih bisa merasakannya kalau Ghaza masih mencintaiku!" kata Amara masih kukuh dengan perasaannya.


     Bintang sungguh kesal dengan mantan pacar suaminya itu. Rasanya dia ingin mengacak-acak rambut Amara. Lalu menggundulinya.


"Kamu diam saja! Ini tidak ada hubungannya sama kamu!" bentak Amara kepada Luna sambil menatapnya nyalang.


Luna merasa telah di remehkan oleh Amara, jadi dia makin emosi di buatnya.


"Hei! Aku sudah baik hati memberi nasehat sama kamu. Jangan jadi wanita murahan yang berusaha merebut suami orang lain! Mana harga diri kamu sebagai wanita terhormat!" bentak Luna gantian nggak mau kalah.


"Siapa yang ingin merebut suami orang! Aku hanya ingin, agar dia mengembalikan kekasihku padaku saja!" kata Amara tidak mau kalah.


     Semua orang di sana makin diam ingin melihat dan mendengar apa yang sedang terjadi karena tokohnya kini telah berganti. Luna tersenyum mencibir ke arah Amara, yang entah sampai kapan akan duduk bersimpuh di sana.


"Asal tahu saja, Ghazali dan Bintang itu sudah me-ni-kah! Jadi mereka itu adalah pasangan su-ami is-tri."

__ADS_1


       Mendengar perkataan Luna barusan, Amara sangat shock. Wajahnya langsung pucat pasi. Kemudian dia mengarahkan pandangannya ke arah Bintang yang masih duduk cantik di kursinya.


"Itu … bohong 'kan?" tanya Amara dengan tatapan matanya yang terluka, ke arah Bintang.


"Apa yang dikatakan oleh Luna itu adalah benar."  Bintang menundukkan kepalanya, "kita berdua sudah menikah!"


      Bintang memperlihatkan cincin kawinnya yang berharga puluhan miliyar, kepada Amara. Tubuh Amara pun langsung jatuh terkulai lemas. Baru tahu dengan kenyataan ini, dan itu membuatnya sangat shock.


******


     Di sebuah ruangan yang luas dan dipenuhi oleh beberapa komputer dan senjata api yang berjajar rapi di sisi kanan dan sisi kiri ruangan itu. Sedang diadakan rapat dadakan. Ada sekitar sepuluh orang yang hadir di sana.


     Para agen bayaran mengadakan rapat lagi, karena ada permintaan dari klien mereka. Meminta secepatnya misi mereka dijalankan.


"Huh, dia itu maunya apa! Seenaknya menyuruh ini itu kepada kita!" Agen X merasa sangat kesal karena jadwal kencannya harus terganggu karena ada panggilan dari pimpinan ketua kelompoknya.


"Tenang, dia sudah memberikan lagi tambahan bayaran buat kita, dua Milyar untuk tiap orang yang akan ikut misi besok," kata Agen V sambil mengepulkan asap rokoknya ke arah muka Agen X, sehingga terbatuk-batuk.


"Kau … jangan seenaknya membuang asap rokokmu pada muka tampanku!" teriak Agen X sambil mendorong kening Agen V dengan dua jari tangannya.


     Ketua kelompok mereka menjelaskan akan melakukan operasi penculikan terhadap Bintang saat di dalam gedung kampusnya. Karena selama pengamatan ini, Bintang punya bodyguard yang selalu mengikutinya kemanapun dia pergi. Hanya saja saat berada dalam lingkungan kampus ada banyak celah. Bodyguardnya hanya menunggu di luar kampusnya.


"Dengar meski kemungkinan ini berhasil, kalian jangan lengah. Karena tim keamanan keluarga Khalid selalu bergerak cepat." 


     Agen S yang merupakan seorang pemimpin para Agen di sana, memberikan peringatan kepada semua anggotanya. Karena lawan mereka sekarang bukan orang dari kelompok biasa.


"Kita akan bergerak secara estafet!" dia mengakhiri rapatnya malam itu.


*******

__ADS_1


JANGAN LUPA BACA KARYA AKU YANG LAINNYA YA.



__ADS_2