Trio Kancil

Trio Kancil
BAB 57


__ADS_3

" Anda ingin tahu kebenarannya ?" Alex membuka laptop yang sejak tadi dibawanya.


" Inilah fakta yang luput dari kebenaran atas kesalahan Anda itu" Kata Alex sambil memperlihatkan isi laptopnya.


     Budiono melihat sebuah Vidio yang sedang di putar dari laptop milik Alex. Vidio itu memperlihatkan rekaman CCTV di sebuah loby hotel yang terasa familiar baginya. Dilihatnya dua orang pria mencoba membuka pintu yang ada pojok. Tapi sepertinya mengalami kesulitan. Kemudian salah seorang pergi dan seorang yang lainnya masih mencoba untuk membuka, kemudian pintu itu terbuka dari dalam oleh seseorang.


    Budiono terkejut saat melihat orang yang membuka pintu dari dalam adalah dirinya. Gambar Vidio menunjukan kalau dirinya cepat - cepat pergi dari sana tanpa menoleh ke belakang. Dan orang yang berdiri di depan pintu tadi didatangi oleh seseorang dan mereka pergi dengan arah yang berlawanan dengan Budiono.


    Budiono menatap Alex tak percaya. Saat Alex mematikan laptopnya.


" Jadi bisa di katakan kalau Yusuf tidak melihat ada mayat di tangga darurat. Karena dia tidak pernah kesana."


    Budiono tidak bisa berkata - kata lagi. Dia benar - benar merutuki kebodohannya. Karena rasa takutnya yang berlebihan karena telah melakukan kesalahannya dia jadi paranoid terhadap Yusuf.


" Seandainya saya menjadi anda, Pak Budiono. Waktu itu di sana tidak ada saksi mata dan tidak ada CCTV di tangga darurat saat itu."


" Saya akan pura - pura menjadi saksi orang pertama yang menemukan Pak Damar, dan memanggil pihak pegawai hotel untuk membawanya ke Rumah Sakit. Apalagi saat anda membuka pintu itu sudah ada orang lain di sana. Maka aku akan minta bantuannya karena ada orang yang tergeletak di tangga darurat. Mungkin polisi hanya akan meminta keterangan pada anda saja yang menjadi saksi dan tinggal anda beritahu saja kalau anda tidak tahu apa - apa."


    Alex pasang senyum mengejek pada Budiono.


" Sehingga Anda tak perlu membuat kejahatan lainnya."


     Mendengar perkataan Alex, Budiono membenarkannya. Kenapa waktu itu dia tidak bertindak seperti apa yang dikatakannya. 


" Tapi bagaimana kalau aku malah di jadikan tersangka oleh polisi ?"


" Katakan saja yang sebenarnya, bahwa anda melakukan pembelaan diri karena di serang terlebih dahulu oleh Pak Damar." 


    Alex menilai kalau Budiono ini berpikiran pendek. Tidak bisa mengambil peluang yang bisa melepaskan dirinya dari tuduhan.


     Budiono membenarkan lagi apa yang Alex katakan. Seandainya saja dia juga mengaku yang telah menendang Damar dan terjatuh dari tangga sehingga mengakibatkan kematian Damar. Itu pembunuhan tak sengaja yang dilakukan karena pembelaan diri dari serangan si korban, untuk mempertahankan nyawanya. Bila di vonis bersalah juga dia bisa menjadi tahanan luar yang wajib lapor setiap saat.


     Apalah daya kayu sudah menjadi arang bahkan abu. Dan waktu tidak bisa diputar kembali. Budiono sekarang hanya bisa meratapi nasibnya.


" Jadi apa yang seharusnya saya lakukan sekarang ?" Tanya Budiono sambil menatap Alex.


" Serahkan diri anda pada pihak berwajib. Dan tarik Baharudin dan Bagus juga. Karena mereka otak kejahatan dari kasus setelahnya."


" Kalau aku masuk penjara. Bagaimana dengan istri saya, Dewi ?" Budiono menatap istrinya yang sedang menangis di pelukan Sinar.


" Biar Mbak Dewi, tinggal bersama aku saja." Jawab Sinar sambil mengelus punggung Kakak perempuannya itu.


" Ya itu benar, Pih. Papi harus mempertanggung jawabkan semua perbuatan kejahatan yang Papi lakukan."

__ADS_1


" Mami akan sering jenguk Papi di sana."


     Dewi menangis tersedu meratapi kehancuran keluarganya. Dia tak mau ikut Gunawan yang sekarang tinggal di Italia. Lebih baik baginya ikut Sinar, satu - satunya keluarga yang menyayangi dia dari dulu.


     Budiono pun mau menyerahkan diri didampingi oleh pengacaranya. Tapi sebelum itu Alex bertanya tentang rekaman mobil milik Yusuf saat kecelakaan itu terjadi. Dan Budiono menjawab kalau dia tidak tahu akan bukti itu ada dimana sekarang.


           * * * * * * *


     Cantika masih meneteskan air matanya. Seandainya Budiono bertindak seperti apa yang dikatakan oleh Alex. Maka Ayah dan Ibunya tentu masih hidup.


" Honey, kenapa masih menangis ?"


     Alex juga merasa ikut sedih melihat air mata Cantika yang dari tadi terus keluar.


" Aku jadi teringat kedua orang tua ku. Itu saja." Cantika berusaha senyum kepada Alex.


" Bagaimana kalau kita pergi ziarah ke makam orang tua mu." Ajak Alex.


    Mendengar itu Cantika menyetujuinya. Kali ini di akan pergi berziarah bukan hanya dengan ketiga anaknya saja. Tapi dia juga akan mengajak calon suaminya itu.


* * * * * * *


Di belahan dunia lainnya, lebih tepatnya di negara Italia. Seorang lelaki berdiri di gedung pencakar langit dia sedang menghubungi seseorang lewat handphonenya. Lelaki itu terlihat marah karena orang yang dihubunginya, tidak menjawab juga panggilannya. Lelaki itu melampiaskan kemarahannya dengan menyapu semua barang yang ada di atas meja sambil berteriak.


" Sial....!!!"


" Kalian semua !!!! Tunggu saja pembalasan ku !!!"


     Kemudian dia kembali menghubungi seseorang. Dan kali ini panggilannya di terima. Dia berbicara pakai bahasa Itali.


" Aku minta kamu pinjamkan dua kelompok pasukan terbaik yang kamu miliki !" Katanya pada orang yang berada di seberang telepon sana.


" Untuk apa kamu meminjam orang - orang ku ?"


" Aku punya tugas penting untuk mereka kerjakan."


" Pekerjaan apa yang harus mereka lakukan."


" Aku ingin membalas orang - orang yang telah menghancurkan markas milik anak ku."


" Hahaha.... Sudah kubilang kalau anak kamu itu masih bayi. Dia sangat lemah."


Lelaki yang menjadi lawan bicaranya, tertawakan meremehkan mendiang anak kesayangannya. Dan dia tentu saja tidak terima anaknya direndahkan. Walau pada kenyataannya anaknya seperti itu.

__ADS_1


" Makannya akan aku balas mereka semua yang telah membunuh anak kesayangan ku."


" Berapa bayaran yang akan kamu berikan untuk dua kelompok pasukan terbaik ku ?"


" Berapapun yang kamu minta."


" Bagaimana dengan jalur perdagangan ke kawasan Asia milikmu ?"


" Kalau itu tak akan aku berikan !"


" Lalu apa gantinya"


" Amerika Latin !"


" Baiklah. Aku setujui kesepakatan ini !"


" Oke. Aku tunggu nanti malam di bandara."


" Oke. Tapi apa kamu tahu siapa yang akan kamu hadapi itu ?"


" Ya dan Tidak peduli siapa dia. Akan ku balas penderitaan yang di rasakan oleh anak ku !"


    Lelaki itu mengakhiri pembicaraan lewat teleponnya. Kini pandangannya mengarah pada Papan Dart kemudian dia melemparkan anak panahnya pada foto yang terpasang disana. 


     Foto gadis cantik berjilbab sedang tersenyum manis, kini rusak karena tertancap sama anak panah.


" Aku pulang....!"


" Tunggu saja kejutan dari ku !"


" Bagas, Papa akan membalaskan dendam untuk mu."


Lelaki yang sedang berdiri di ruangan kantor yang sangat luas dan menatap marah pada foto di Papan Dart, adalah Bagus.


* * * * * * *


Sementara di belahan dunia lainnya lagi, tepatnya Amerika. Willi mendatangi rumah Arthur dan melaporkan apa yang sudah terjadi pada Alex dan anak - anaknya.


* * * * * * *


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, SAMA VOTE NYA. AYO DUKUNG AKU TERUS.


KUNJUNGI JUGA KARYA AKU YANG LAINNYA YA.

__ADS_1



__ADS_2