
Langit mengitari asrama putra untuk tingkat SMA. Diam-diam dia berjalan dengan langkah ringan agar tidak disadari oleh orang lain. Bagi orang yang ahli bela diri, nggak sulit melakukan itu.
Jam malam mulai di berlakukan di sana mulai jam 23.00 tidak ada yang boleh keluar masuk asrama. Bila melanggar akan kena hukuman. Namun, di saat waktu itulah paling bagus buat Langit untuk memeriksa keadaan di sana.
Di lorong yang cahaya temaram itu, Langit menelusuri sepanjang jalan itu. Dia menghafal dan mencatat nomor kamar beserta nama-nama para penghuninya. Mulai dari anak-anak tingkat kelas satu yang terdiri di lantai dua dan tiga. Kemudian kelas dua, lantai empat dan lima. Selanjutnya kelas tiga lantai enam dan tujuh.
Bagi Langit itu tidaklah sulit untuk dilakukan, dengan kecepatan tangan dan kakinya, dia berhasil menyelesaikan semuanya hanya dalam waktu satu setengah jam saja. Langit sudah berhasil mengantongi nama-nama murid laki-laki tingkat SMA.
Langit yang baru saja masuk ke dalam kamarnya, dikejutkan oleh Kawasaki yang sedang berdiri di dekat jendela kamarnya. Posisi dia berdiri dekat dengan kasur Langit.
"Aduh gawat!" gumam Langit dalam hati.
Dengan langkah perlahan Langit berjalan menuju kasur nya. Boneka palsunya dia gulung kembali, karena terbuat dari bahan silikon(dacron), jadi mudah untuk membereskannya. Langit memperhatikan Kawasaki yang masih saja berdiri di depan jendelanya.
"Kawasaki kun," panggil Langit dengan suaranya yang rendah. Namun tidak ada reaksi dari Kawasaki.
"Kawasaki kun!" Langit meninggikan suaranya. Lagi-lagi tidak ada respon darinya.
Langit pun bangun dan menghampiri Kawasaki, yang diam saja saat dipanggil olehnya. Ternyata dia sedang tertidur sambil berdiri. Maka Langit pun membangunkannya.
"Kawasaki kun!" Langit menggoyangkan badannya.
"Hm, ada apa?" tanya Kawasaki dengan suaranya yang parau khas orang baru bangun tidur.
Langit diam memandanginya, "benar tadi dia itu tidur?" gumamnya dalam hati.
"Eh? Kenapa aku berdiri di sini?" Kawasaki seperti orang yang linglung, saat mendapati dirinya yang berdiri di depan jendela.
Kawasaki melihat ke arah Langit meminta jawabannya. Namun, Langit hanya mengangkat bahunya saja. Kawasaki pun berjalan kembali ke kasurnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Langit kini tahu kalau Kawasaki punya kebiasaan tidur sambil berjalan. Langit mencatat dalam otaknya, hal yang baru diketahuinya tentang teman sekamarnya itu.
*******
Saat sarapan pun semua siswa datang ke ruang makan. Lagi-lagi Langit mendapat kiriman makanan untuknya. Kali ini Suzuki yang membawanya. Semua murid terpana saat melihat guru dingin yang tanpa ampun, saat menghukum muridnya yang lupa mengerjakan tugasnya. Memberikan makanan untuk Langit.
__ADS_1
Sebenarnya Langit tidak enak, sama guru yang selalu membawakan makanan untuknya. Maka dia pun memberikan kode kepada Suzuki.
"Sensei terima kasih banyak! Sudah mau direpotkan oleh saya," Langit mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Suzuki.
"Tidak apa-apa. Lagian aku kebetulan lewat saja ke sana, dan teringat sama kamu," balas Suzuki dengan mukanya yang datar.
Bisik-bisik dari para murid yang ada di sana, membuat Langit merasa tidak nyaman. Dia pun dengan cepat menghabiskan sarapannya dan meninggalkan ruangan makan yang masih dipenuhi oleh para murid yang sarapan.
Langit berjalan ke gedung sekolah yang jaraknya lumayan jauh meski area sekolahnya bersebelahan dengan gedung asramanya. Asrama murid laki-laki berada di sebelah kanan area sekolah Academy Matsumoto, sedangkan asrama murid perempuan berada di sebelah kiri.
Dari arah berlawanan Langit melihat Almahira sedang berjalan dengan seorang murid perempuan yang cantik dan gerak tubuhnya anggun seperti seorang putri Daimyo yang dibesarkan dengan penuh aturan kelas bangsawan.
Langit tersenyum ke arah Almahira dengan ramah saat mereka berpapasan di depan gerbang sekolah. "Assalam--" Langit tidak melanjutkan ucapannya karena seseorang langsung menerjangnya.
"Onii san!" Seorang gadis langsung melompat ke punggung Langit.
Semua orang yang berada di sana, terkejut dengan perbuatan yang dilakukan oleh seorang murid anak perempuan.
"Hikari, lepaskan!" Langit mencoba melepaskan tangan Hikari dari lehernya.
"Hehe…!" Hikari anak dari Shin Kishimoto seorang Yakuza dan ahli IT Jepang yang banyak membuat barang-barang untuk dunia militer. Sedangkan ibu Hikari seorang ilmuwan terkenal yang sudah lama meninggal dunia. Dia anak yang suka berbuat semaunya, dan sangat tomboy.
"Onii san, jahat! Tidak bilang-bilang kalau mau sekolah lagi--" Langit langsung menutup mulut Hikari menggunakan satu tangannya. Kemudian dia menarik Hikari untuk menjauh dari sana.
"Ada apa sich?" tanya Hikari sambil cemberut, begitu mereka sampai di tempat yang sepi.
"Hikari dengarkan aku! Kamu tidak boleh membuka identitas asli siapa diriku ini. Kamu harus bisa menjaga rahasia!" Langit meminta kepada Hikari dengan suaranya yang tegas.
"Kenapa, Onii san?" tanyanya dengan suara lemah.
"Karena ada yang harus aku lakukan di sekolahan ini," jawab Langit dengan sedikit berbisik.
"Apa ini misi rahasia?" tanya Hikari sambil berbisik dan menatap Langit curiga.
"Iya. Jadi kamu pura-pura nggak tahu siapa aku, ya!" pinta Langit.
__ADS_1
Hikari menganggukan kepalanya, kemudian menutup mulutnya dengan gerakan mengunci. Langit pun tersenyum simpul kepada anak perempuan yang sudah dianggapnya adik itu.
*******
Saat Langit pergi ke lantai atas naik melalui lift. Dia bertemu dengan Suzuki dan Toyota. Langit pun memberi salam kepada gurunya itu.
"Langit kun, apa kabar?" tanya Toyota saat bertemu dengan Langit di dalam lift.
"Baik sensei! Bagaimana dengan sensei?" Langit balas menanyakan kabar gurunya itu.
"Baik!" jawabnya sambil tersenyum ramah.
"Halo Suzuki sensei, apa kabar?" tanya Langit sebagai formalitas atas adab kesopanan kepada gurunya. Walau tadi saat sarapan mereka juga bertemu.
"Baik," jawabnya dengan muka datar.
Langit pun memperhatikan keduanya lewat pantulan pintu lift. Bagaimana gestur tubuhnya. Kira-kira berapa tinggi badan mereka. Juga gaya penampilan guru-gurunya itu. Bagi Langit saat seperti ini, tidak boleh lengah kepada siapa pun.
Langit pun menajamkan pendengarannya. Suara mereka berdua sudah direkam dalam otaknya. Gaya bicara, dan kebiasaan mereka saat berbicara. Seperti Toyota punya kebiasaan berkata 'yaa' hampir di setiap ucapannya.
Berbeda dengan Suzuki yang tidak banyak bicara. Dia akan menanggapi obrolan orang lain dengan kata 'hm' dan menganggukan kepalanya.
Langit menyandarkan tubuhnya ke dinding lift. Saat di lantai tiga ada banyak murid lainnya yang masuk ke dalam lift. Salah satunya Almahira dan teman perempuannya. Lift pun menjadi penuh.
Langit menarik Almahira saat akan terhimpit oleh murid yang lainnya. Dia pun menariknya ke pojok lift di samping dirinya. Almahira gugup saat melihat Langit berdiri di sampingnya. Serta menjadi tameng baginya agar tidak terhimpit oleh orang lain.
Langit hanya tersenyum manis saja kepada Almahira. Tidak tahu kalau senyumannya itu membuat gadis berjilbab itu, jantungnya berdetak dengan kencang.
Saat itu lift tiba-tiba berhenti di tengah jalan.
*******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
__ADS_1
TERIMA KASIH.
********