
Alex memasuki gerbang puing - puing rumah Dokter Lazuardi. Dilihatnya pintu yang berdiri kokoh itu sudah hangus dan berwarna hitam.
" Pintu yang bagus walau pun rumah ini terbakar tapi pintunya masih bisa berdiri kokoh." Alex menyentuh daun pintu itu.
" Hati - hati Bos, jangan sampai membuat para penunggu di rumah ini menjadi marah," kata Akira.
Dan Alex membalasnya dengan tatapan yang sangat tajam. Dan akhirnya Akira mengangkat dua jarinya menandakan damai sambil nyengir melihatkan giginya yang gingsul.
" Nyerah, Bos!"
Michael dan Erlangga mengikuti mereka dari belakang. Dengan arah pandang yang berbeda tiap masing - masing orang itu. Erlangga merasa ngeri saat melihat rumah besar itu dari luar. Sudah mirip banget dengan rumah hantu yang ada di film - film horor Hollywood. Sedangkan Michael melihat rumah yang besar dan pasti di jamannya dulu itu merupakan rumah yang sangat megah dengan taman yang tertata rapi. Saat dilihatnya satu set kursi dan meja di taman itu dan ada dua ayunan di pohon yang besar di dekat sana.
Begitu pintu dibuka mereka sepertinya langsung memasuki ruang tamu yang lumayan luas. Satu set sofa yang sudah hangus terbakar masih ada di sana.
Pigura foto keluarga yang berukuran sangat besar yang berada di dinding tembok itu masih utuh hanya hangus bagian samping piguranya.
" Lihatlah foto ini!" Kata Alex pada mereka yang sedang di belakangnya.
" Wah apa ini wajah keluarga Nyonya Cantika dari pihak Ayahnya?" Tanya Akira sambil melihat foto keluarga di dinding itu.
Dan kini wajah anak - anak Dokter Lazuardi sudah berubah menjadi lebih dewasa. Langit yang mempunyai wajah mirip dengan Erlangga pun kini telah menjadi seorang pria dewasa. Angkasa juga telah menjadi seorang pemuda dibandingkan dengan foto yang di rumah hantu. Dan si gadis kecil Bintang, kini telah menjadi gadis remaja. Begitu pula dengan wajah Dokter Lazuardi dan Dokter Paramitha, kini sudah mulai kelihatan memasuki usia paruh baya.
" Kak, aku jadi semakin yakin. Kalau orang yang aku temui di universitas itu adalah anaknya orang ini karena wajah mereka begitu mirip. Seperti wajah aku dan ayah yang begitu mirip." Erlangga menunjuk wajah Angkasa.
" Paman Angkasa, Erlangga. Jangan panggil orang ini. Kalau Kakakmu mendengar itu, dia pasti akan ngomelin kamu." Kata Alex.
" Ya, maksudku wajahnya mirip Paman Angkasa." Erlangga mengoreksi ucapannya.
" Ayo, kita lanjutkan lagi!" Ajak Alex memasuki ruang keluarga.
Di ruang keluarga yang sudah hangus itu masih bisa dikenali. Kalau ruangan inilah yang sama dengan yang ada di foto. Baik bentuk barang dan tata letaknya hampir sama. Tidak banyak yang mereka lihat di ruangan ini.
" Sepertinya ruang keluarga ini yang ada di dalam foto itu!" Kata Erlangga sambil mengarahkan pandangannya mengelilingi seluruh ruangan itu.
" Iya, kamu benar Er." Alex membenarkan apa yang dikatakan oleh adik iparnya itu.
__ADS_1
" Disini tidak ada apa - apa yang bisa dijadikan petunjuk, ya?" Tanya Akira setelah mengelilingi ruangan itu dua kali.
" Kalau begitu, kita lanjutkan lagi keruangan berikutnya!" Alex berjalan keluar dari ruangan itu.
Mereka melanjutkan lagi penelusurannya ke arah ruang makan dan merangkap dengan dapur. Ruangan ini memiliki ruang yang sangat luas. Alex mengarahkan pandangannya mengelilingi ruangan itu. Kemudian Alex berjalan ke salah satu sudut ruangan itu.
" Sepertinya disini dulu menjadi salah satu tempat eksekusi." Kata Alex sambil melihat dinding yang ada bekas peluru disana.
" Ya, dan aku bisa pastikan malam itu banyak peluru yang di hujani di rumah ini!" Akira pun menemukan sekitar ada tiga bekas peluru yang bersarang di dinding dekat kulkas.
" Disini juga ada!" Tunjuk Erlangga. Ada dua buah bekas peluru di kitchen set.
" Dan orang itu berlindung disini." Tunjuk Michael pada meja bar* yang menjadi sekat di dapur dan meja makan.
Disana sangat banyak bekas peluru yang bersarang. Terbayang bagaimana malam tragedi itu begitu mencekam. Dengan banyaknya tembakan yang diarahkan kepada para penghuni rumah.
Erlangga begitu merinding saat melihat banyak sekali bekas peluru yang melubangi meja bar itu. Erlangga bisa membayangkan kejadian malam tragedi itu, pasti tidak jauh dengan saat rumahnya di serang oleh Mafia beberapa bulan yang lalu. Yang untungnya malam itu tidak ada yang meninggal di pihak keluarganya.
" Ayo kita lanjutkan lagi perjalanan kita." Erlangga sudah nggak mau berada disana lebih lama.
" Baiklah, ayo kita lanjutkan ke ruangan lainnya!" Perintah Alex kepada Akira dan Michael. Dan kedua orang itu pun mengikuti Alex dari belakang.
" Disini Anam nggak ada bekas peluru!" Kata Akira setelah mengelilingi ruang perpustakaan pribadi keluarga Dokter Lazuardi.
Begitu juga dengan Alex dan Michael, tidak menemukan hal aneh dan mencurigakan yang bisa menjadi petunjuk.
" Oke, kalau begitu kita lanjut ke ruangan lainnya." Alex mengajak meneruskan perjalanannya.
Mereka berempat memasuki kamar yang sederhana, terlihat kalau kamar ini adalah kamar para pembantu.
" Di kamar ini juga, sepertinya tidak terjadi pengeksekusian disini." Kata Akira.
Begitu juga beberapa kamar setelahnya. Sudah bisa dipastikan kalau malam itu para pembantu tidak ada di kamarnya karena tidak ada bekas peluru di kamar mereka.
Akhirnya mereka menaiki anak tangga. Dan disana lagi - lagi ada beberapa bekas tembakan di pagar pegangan tangga dan di dindingnya.
__ADS_1
" Kak Al, apa ini bekas darah, ya?" Tunjuk Erlangga di lantai tangga.
Alex pun mengalihkan penglihatannya ke lantai tempat kakinya berpijak. Dilihatnya ada bekas darah yang diseret dari lantai atas menuju ke lantai bawah.
" Ya sepertinya ini bekas darah." Kata Alex yang sedang berjongkok melihat bekas darah itu.
" Wah, kalau melihat keadaan seperti ini. Namanya pembantaian!" Kata Akira.
" Aku tidak mengerti bukankah rumah ini milik seorang Dokter?" Tanya Michael.
" Ya, itu benar." Jawab Alex.
" Tapi dilihat dari tragedi yang sudah terjadi disini. Ini seperti serangan Gangster dengan dua kubu." Kata Michael.
" Ya, kami para Yakuza juga akan menghabisi keluarga penghianat dengan…." Akira menghentikan ucapannya dan mengalihkan pandangannya kepada Alex.
" Hey, keluarga mereka bukan penghianat sebuah organisasi kan?" Tanya Akira.
Alex lumayan terkejut dengan omongan Michael dan Akira. Jujur Alex juga curiga sejak kemarin. Kenapa ada orang - orang yang bersenjata menyerang keluarga Dokter Lazuardi.
" Aku tidak tahu. Makannya sekarang sedang aku selidiki!" Jawab Alex.
" Apa benar kalau keluarga Ayah terlibat organisasi terlarang?" Tanya Erlangga yang sejak tadi menyimak pembicaraan mereka.
" Kakak tidak tahu, makanya ayo kita selidiki." Ajak Alex sambil menaiki lagi anak tangganya.
********
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA MUMPUNG HARI SENIN.
KASIH JEMPOL YANG BANYAK YA.
DUKUNG AKU TERUS.
TERIMA KASIH.
__ADS_1
KUNJUNGI KARYA AKU YANG LAINNYA