
Cerita masih flashback...
Bintang yang sedang berada di paviliun memperhatikan Lazuardi dan Pak Dirman dan mendengarkan apa yang mereka bicarakan walau tidak mengerti maksudnya. Mereka membakar ikan bersama dan makan nasi liwet bersama-sama orang yang sedang memanen ikan ( aku lupa bahasa Indonesianya: Ngabeudahkeun balong, itu apa? Kasih tahu ya, biar nanti aku revisi)
" Ayo Yudha makan nih yang banyak! Biar kuat manggul karung gabahnya nanti." Kata Langit sambil menyodorkan ikan bakar yang ada di piring lodor dekatnya kepada Yudha.
" Uh...Uh…!" Yudha tersenyum dan memberi respon dengan tangan di katup tanda dia berterima kasih.
" Ayo Pak Ujang juga makan yang banyak! Nasi liwetnya masih banyak nih." Kata Paramitha sambil memberikan sangku nasi kepada bapaknya Yudha.
" Terima kasih Bu Dokter. Nanti kalau masih lapar, saya akan menambah!" Jawab Ujang sambil tersenyum malu.
" Pak Ustadz dan Jamil juga nambah, ya! Masih banyak nih!" Kata Lazuardi meminta para pengurus panti asuhan dan pengurus masjid setempat yang ikut membantu memanen ikan.
" Terima kasih Pak Dokter, saya sudah cukup." Jawab Pak Ustadz.
" Saya juga sudah kenyang, baru juga sudah nambah dua kali." Jawab Pak Jamil sambil tertawa. Mendengar ucapan Pak Jamil orang-orang disana tertawa, karena dia dikenal orang yang suka ngebanyol.
" Pak Ujang nanti uang hasil jual ikannya dikasihkan ke Pak Ustadz dan Pak Jamil, ya!" Pinta Lazuardi dan di iyakan oleh Ujang.
" Terima kasih ya Pak Dokter, mudah-mudahan ini menjadi ladang amal pahala buat Pak Dokter dan semua keluarga." Kata Ustadz yang sering mengurus anak yatim/piatu dan orang-orang miskin di daerah mereka.
" Aamiin" Jawab semua orang disana.
" Pak Dokter dan Bu Dokter dapat salam dari anak-anak panti. Mereka bertanya kapan mau datang kesana lagi. Mereka rindu ingin bertemu, katanya!" Ucap Pak Jamil sambil tersenyum lebar.
Mendengar ucapan Pak Jamil, Lazuardi dan Paramitha langsung mencelos hati mereka. Karena mereka tidak tahu akan selamat atau tidak dari incaran kelompok Charnyy Dracon.
" In sha Allah, kalau kita ada umur dan rezeki. Kita ingin mendatangi panti bertemu dengan anak-anak." Jawab Lazuardi dan diangguki oleh Paramitha.
Semua orang disana tertawa dan bercanda sambil menikmati hasil panen kebun. Mereka ingin menikmati saat-saat terakhir mereka dengan kenangan yang indah.
*****
Lazuardi dan Paramitha duduk di kursi keluarga hanya berdua. Karena yang lainnya sedang sibuk membersihkan bekas makan bersama tadi.
" Sayang terima kasih sudah menemaniku selama ini." Kata Lazuardi sambil menggenggam tangan Paramitha yang sedang duduk di sampingnya.
" Justru aku, yang harusnya berterima kasih. Untuk semua cinta dan perhatian yang Mas sudah berikan kepadaku selama ini."
__ADS_1
" Mungkin aku tidak akan bisa bertahan saat penyakit menggerogoti ku dulu. Berkat kesabaran Mas yang selalu menyemangati dan mengobati penyakitku, aku bisa sembuh lagi." Kata Paramitha dengan mata berkaca-kaca.
" Seandainya hanya aku saja yang mereka incar, aku ridha melawan mereka sendiri. Tapi mereka tidak akan pernah mau melepaskan orang-orang yang kita cintai." Kata Lazuardi sambil menghapus air mata di pipi istrinya.
" Aku ridho bila nanti aku juga meninggal karena bisa menyelamatkan anak-anak kita." Paramitha mencium tangan Lazuardi yang tadi dipakai untuk menghapus air matanya.
" Maaf karena aku, kamu juga jadi ikut terlibat." Lazuardi mulai berkaca-kaca matanya.
" Tidak, aku justru bangga punya suami yang selalu mengabdi kepada negara dan juga rakyat negeri ini." Kini giliran Paramitha yang menghapus air mata Lazuardi.
" Aku bangga memiliki istri sepertimu, yang selalu setia mengikuti kemanapun aku pergi." Kata Lazuardi.
" Karena itu adalah salah satu tugas seorang istri yang harus selalu berada di samping suaminya." Balas Paramitha.
" Aku mencintaimu Mas." Bisik Paramitha dengan mesra.
" Aku jauh lebih mencintai kamu." Balas Lazuardi dengan senyuman.
Lagi-lagi Bintang yang sedang mengambil boneka dan buku novel yang disimpan dekat nakas ruang keluarga menjadi saksi interaksi orang tuanya. Dan itu dianggap biasa oleh Bintang, karena keduanya sering terlihat mesra.
*****
" Aduh yang mau pergi keluar negeri, semangat amat!" Goda Bintang kepada kakak keduanya.
" Kamu itu bukannya bantuin Kakak membereskan kamar malah mengajak berantem." Kata Angkasa saat melihat Bintang berbaring di kasurnya.
" Sini biar ibu bantu." Kata Paramitha sambil membereskan meja belajar milik Angkasa.
" Sudah Angkasa bereskan semuanya, Bu. Hanya saja saat meninggalkan rumah, kamar Angkasa terlihat rapi." Kata Angkasa sambil tersenyum lebar pada ibunya.
" Jadi semuanya sudah selesai nih ceritanya?" Tanya Paramitha sambil senyum menggoda anak laki-lakinya itu.
" Sudah dong, Bu. Angkasa kan rajin, nggak seperti putri cengeng disana!" Bibir Angkasa manyun menunjuk Bintang yang masih saja berbaring di kasur.
" Apa kata Kakak barusan? Aku cengeng? Kata siapa?" Bintang bangun dari rebahannya.
" Buktinya semalam siapa yang menangis gara-gara nonton sinetron!" Jawab Angkasa sambil menjauhi Bintang yang sudah siap menyerangnya.
" Bintang nggak cengeng, itu karena kasihan saja sama anak kecil yang di jahatin sama mama tirinya." Teriak Bintang sambil mengejar Angkasa yang lari keluar kamar.
__ADS_1
Paramitha yang melihat tingkah anaknya itu, hanya tertawa terkekeh. Kemudian dia membaringkan tubuhnya di kasur milik Angkasa. Paramitha bisa mencium wangi anak keduanya itu dibantah yang sedang dipeluknya. Diambilnya pigura foto Angkasa, diusapnya foto wajah anaknya itu.
" Akankah keajaiban itu terjadi padamu lagi, Nak." Paramitha teringat kembali saat dia dulu sakit parah, ternyata dia tidak tahu kalau sedang hamil. Dan suatu keajaiban Angkasa bisa hidup, karena selama kehamilannya dia mengkonsumsi obat keras.
Air mata Paramitha jatuh membasahi pipinya saat mencium foto Angkasa. " Ya Allah selamatkan lah semua anak-anakku." Doanya yang selalu dilantunkannya setiap saat.
*****
Lazuardi sedang membereskan semua dokumen miliknya dan menyimpannya di dalam brankas rahasia miliknya. Dan Langit masuk kedalam kamar yang pintunya sudah terbuka.
" Ayah, Langit kemarin menanam modal di perusahaan milik teman Langit yang hampir bangkrut, dan mereka minta untuk diakuisisi?" Tanya Langit minta pendapat kepada Lazuardi.
" Kenapa kamu selalu berinvestasi di perusahaan yang hampir bangkut?" Lazuardi selalu merasa heran dengan anak sulungnya itu. Dia senang sekali membangun kembali perusahaan-perusahaan yang diambang kebangrutan. Katanya dia tertantang dengan itu semua.
" Kasihan, Yah. Itu perusahaan teh milik keluarga teman Langit saat kuliah kemarin. Katanya dari pada di jual ke orang lain, dia nawarin dulu ke Langit. Dan Langit bisa melihat banyak peluang dari perusahaan ini buat dikembangkan kedepannya." Kata Langit.
" Seperti apa?" Tanya Lazuardi sambil duduk di kursi meja rias milik istrinya.
" Ya, jenis olahan dari teh bisa dikembangkan. Misal teh seduh, teh celup, teh yang dikemas di kotak atau botol. Bahkan Langit berencana akan mengekspornya ke Malaysia dan Singapore. Karena Langit punya teman kuliah orang sana." Jawab Langit penuh semangat.
" Bagus, Ayah bangga padamu." Kata Lazuardi kepada putra sulungnya.
" Lalu kenapa tidak kamu urus perkebunan milik keluarga dan pabrik-pabrik milik Ayah!" Tantang Lazuardi.
" Itu Langit juga sedang belajar, karena perusahan milik Ayah juga sudah ada yang mengurusnya." Kata Langit.
" Ya, itu terserah kamu saja."
" Tapi, Ayah ingin kamu selalu bisa menjaga dan membimbing adik-adikmu." Kata Lazuardi.
" Oh, iya Yah. kenapa ada pistol di bawah meja ruang tamu?" Tanya Langit.
*******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK, ITU GRATIS....
SUKUR-SUKUR DITAMBAH DENGAN KASIH BUNGA ATAU KOPI.
__ADS_1
TERIMA KASIH.