Trio Kancil

Trio Kancil
BAB 51


__ADS_3

Saat masuk ke dalam ruangan itu, dan melihat kedua anaknya di ikat di kursi. Membuat Alex sangat marah dan rasanya ingin menghujani para Penjahat itu dengan peluru timah panas milik Alessio. 


"Angkasa, Bintang tutup mata kalian rapat - rapat jangan sampai kebuka. Jangan dengarkan apapun suara yang ada di sini. Bayangkan saja kita sekeluarga berlibur di pantai. Kita berenang di lautan." Alex mensugesti kedua anaknya.


     Alex tidak mau anak - anaknya mengalami trauma akibat melihat tindakan kekerasan atau kekejaman di depan mata mereka. Kalau bisa Alex ingin menyelamatkan dan mengeluarkan terlebih dahulu anak - anaknya. Tapi itu sulit karena Bagas tidak mau melepaskan sandera.


" Dor....!!!"


" Dor....!!!"


     Baku tembak terjadi di antara mereka. Alex dan teman - temannya harus hati - hati agar tidak terjadi peluru salah sasaran mengarah pada dua bocah itu.


" Lucuti senjata mereka, jangan sampai mereka menembak lagi !" Perintah Alex.


    Alex melihat wajah Bintang yang ketakutan dengan matanya yang masih terpejam. Tapi Alex bisa melihat dengan jelas tubuh Bintang yang bergetar ketakutan.


    A dan B langsung menendang tangan - tangan para Penjahat yang memegang pistol. Sehingga pistol itu terlempar dari tangan mereka. Begitu juga Alex dan Alessio membuat senjata lawannya terlepas dari tangan mereka.


    Kini mereka berkelahi dengan tangan kosong, empat lawan enam orang. Mereka baku hantam menjadi dua tim. Dua lawan tiga. Para Penjahat kali ini cukup kuat dan ahli bela diri. Alex yang satu tim dengan Alessio harus mengeluarkan ektra tenaga karena Alex harus melawan dua orang, sedangkan Alessio melawan satu orang. Dengan melawan dua orang tidak sering Alex mendapatkan pukulan dan tendangan.


" Papa....!!! Bintang....!!!"


     Teriakkan Angkasa membuat dirinya mengalihkan pandangannya pada anak - anaknya yang sedang duduk di kursi. Sehingga Alex terkena tendangan dari lawannya dan membuatnya terpental jauh kebelakang ya.


" BRUUUUG"


    Kini Alex yang sedang terkapar di lantai, langsung bangun dan berlari ke arah Bintang dan Angkasa. Melihat Alex yang sedang lengah, lawannya mengambil pistol dan mengarahkan kepada Alex.


" Dor....!"


" Dor....!"


     Tubuh itu langsung terkapar tak berdaya di lantai.


" Dor....!"

__ADS_1


" Dor....!"


" Dor....!"


   Kali ini tiga tubuh para Penjahat tumbang satu per satu. Alex membalikkan badannya. Dilihatnya Mark sedang berdiri di depan pintu. Dengan pistol ditangannya yang tadi dia gunakan untuk menjatuhkan para Penjahat itu.


    Kini tinggal dua orang Penjahat lagi yang masih berdiri di sana. Sekarang jadinya A dan B melawan satu orang Penjahat, sedangkan Alessio dan Mark berhadapan dengan Bagas.


    Alex melepaskan ikatan tali yang mengikat Angkasa dan Bintang. Alex menggendong Bintang dengan satu tangannya, dan menuntun Angkasa dengan satu tangan yang lainnya.


" Aku serahkan sisanya pada kalian."


     Alex cepat - cepat membawa kedua anaknya keluar dari ruang bawah tanah itu.


" Angkasa apa kamu masih kuat untuk berjalan ?"


" Masih, Pah."


    Tapi Alex melihat Angkasa yang jalannya terseok - seok. Akhirnya menggendong Angkasa. Dan itu membuat lukanya terbuka kembali. Dan darah itu merembes keluar dan mengenai baju seragam sekolah milik Angkasa.


    Alex berjalan menaiki tangga untuk keluar dari sana dengan napas yang sudah terputus - putus. Keadaan tubuh yang kelelahan di tambah luka tembak. Membuat Alex beberapa kali terhenti jalannya.


    Fatih yang melihat Alex berdiri di depan pintu dengan menggendong kedua anaknya, langsung berlari kearah Alex.


" Alex....!"


     Alex yang melihat sepupunya berlari ke arahnya. Sangat senang sekali, dia tersenyum ke arah Fatih.


" Alex, mereka berdua tidak apa - apakan?"


    Fatih mengambil alih Angkasa dari gendongan Alex. Arga, Ja'far dan Cantika yang tadi masih di dalam mobil pun menyusul Fatih. Cantika sangat senang melihat ketiga orang yang sejak tadi membuatnya khawatir. Ja'far mengambil alih Bintang dari gendongan Alex.


 " Alhamdulillah, Ya Allah. Engkau telah mengabulkan do'a kami." Cantika menangis di hadapan Alex.


" Kamu telah membuktikan pada ku. Kalau kamu bisa melindungi Cantika dan anak - anaknya. Dengan ini aku secara ikhlas menyerahkan Cantika dan si Trio Kancil kepadamu." Kata - kata Arga membuat Alex senang dan bangga akan dirinya.

__ADS_1


    Alex pun tersenyum ke arah Cantika. Dia ingin sekali menghapus air mata yang mengalir di pipi wanita yang di cintainya itu. Alex baru akan melangkah ke arah Cantika, tapi dia sudah tidak kuat lagi untuk memaksa dirinya tetap tersadar.


" Bruuug..."


    Alex yang sudah kehilangan kesadarannya terjatuh di pelukan Cantika. Dan melihat itu Cantika menangis histeris takut terjadi sesuatu pada Alex.


" Alex.... Bangun....!!!"


    Cantika menggoyangkan tubuh Alex berusaha membuatnya tersadar. Arga langsung membopong tubuh Alex, dan membawanya ke Ambulance yang telah di siapkan oleh Fatih. Agar segera mendapatkan perawatan untuk luka - lukanya. Fatih telah menyiapkan empat Ambulance disana. Untuk membawa korban luka, agar segera di larikan ke Rumah Sakit milik keluarganya.


    Sementara itu para polisi dan tentara menyerbu masuk untuk menangkap para Penjahat yang ada di dalam.


    Alessio dan ketiga temannya yang masih berada di ruang bawah tanah. Sudah berhasil melumpuhkan semua para Penjahat. Dan mereka di bantu oleh aparat keamanan membawa semua Penjahat keluar dari sana.


    Fatih membawa Angkasa dan Bintang masuk ke Ambulance untuk mendapatkan perawatan medis. Saat Cantika berdiri di pintu ambulance, terdengar suara tembakan. 


" Dor....!"


" Dor....!"


     Dan ketika Cantika membalikan badannya. Di hadapannya ada Arga yang merentangkan tangannya menghalau peluru agar tidak mengenai Cantika.


" Mas Arga !!!"


" Dor....!"


" Dor....!"


     Bersamaan dengan Arga yang ambruk, terdengar kembali suara tembakan. Kali ini dua orang polisi mengarahkan tembakannya pada lelaki yang sudah menembak Arga. Dan lelaki itu meregang nyawanya di tangan polisi, setelah merebut pistol milik polisi yang membawanya. Maksud lelaki itu ingin menembak Cantika yang kebetulan sedang berdiri tak jauh dari dirinya yang sedang berjalan di giring oleh polisi. Karena dia benci pada wanita yang telah memenjarakan sepupunya itu. Ya, lelaki yang mati di tembak oleh polisi adalah Bagas.


    Fatih yang kebetulan berada di samping Cantika, langsung membawa Arga masuk ke Ambulance untuk mendapatkan perawatan. Arga terkena peluru di lengan atasnya dan bahunya.


Tadi sesaat sebelum Arga terkena tembakan, dia melihat lelaki yang dikenal olehnya, sebagai sepupunya Anggit. Lelaki itu di giring oleh polisi dengan tangan di borgol di depan. Saat arah pandangnya mengarah padanya, lelaki itu mencabut pistol milik polisi dan mengarahkan pistolnya ke arahnya. Tapi Arga langsung menyadari kalau bukan dirinya yang menjadi sasaran tembaknya. Tetapi orang yang berdiri di dekatnya, yaitu Cantika.


* * * * * * *

__ADS_1


Jangan lupa kasih like, favorit, hadiah, dan vote.


Dukungan dari kalian sungguh berarti.


__ADS_2