Trio Kancil

Trio Kancil
Season 2 #Chapter 7


__ADS_3

Terdengar kumandang adzan isya, sesaat setelah anak - anak merendam kaki mereka.


" Bapak tinggal ke masjid dulu, ya!" Danang yang baru saja selesai mengobati kaki Langit, langsung berdiri.


" Pak, Angkasa boleh ikut!" Angkasa yang masih duduk merendam kakinya meminta izin ikut pada Danang.


" Langit juga!" Langit turun dari kursi bambu itu, dengan meringis menahan sakit.


" Kalian masih capek, dan baru saja merendam kaki kalian," Danang menatap ketiganya.


" Kalian shalatnya nanti saja dirumah," Lastri keluar rumah sambil membawa air teh hangat manis dan ubi rebus.


     Jadinya Danang berangkat ke masjid tanpa Si Trio Kancil. Dan mereka bertiga beristirahat untuk memulihkan tenaga mereka. Apalagi mereka juga merasa lapar. Ubi rebus satu piring itu habis oleh mereka bertiga.


" Ya Allah, baru sekarang ini merasakan ubi rebus begitu enak dan nikmat!" Kata Langit.


" Iya, Bintang nggak nyangka kalau ubi rebus itu enak banget. Mama biasanya mengolah kembali menjadi aneka makanan yang baru." Bintang masih menikmati ubi rebusnya.


" Apa ubi itu banyak jenisnya, ya? Karena, saat Tante Gaya pulang dari Bandung kan suka bawa oleh - oleh ubi Cilembu!" Kata Angkasa.


" Ah, iya ubi Cilembu itu lembut dan manis banget. Bintang sangat suka!" Bintang mengingat betapa sukanya dia pada ubi Cilembu, sampai - sampai habis hampir satu piring sendirian.


" Iya dan nantinya kamu, suka sering kentut!" Angkasa terkekeh mengejek Bintang.


" Iya, Kak Bintang jangan terlalu banyak makan ubinya. Nanti kentut terus, malu sama yang punya rumah," Langit ikut - ikutan menggoda Bintang.


     Mendengar ejekan saudara kembarnya itu, Bintang langsung menyimpan lagi ubi rebus yang akan dimakannya itu. Bintang tersadar kalau dia banyak makan ubi, dia akan sering kentut. Apalagi suaranya yang besar. Jadinya sekarang Bintang cemberut, karena sebenarnya dia masih ingin memakan ubi rebusnya itu.


" Loh kok, Bintang cemberut. Ada apa?" Danang yang baru pulang dari masjid, merasa heran saat melihat wajah Bintang yang cemberut dan diam saja.


     Ketiga bocah itu, melihat ke arah Danang. Dan ada dua anak laki - laki datang bersamanya.


" Kenalkan ini anak - anak Bapak?"


" Yang ini anak Bapak yang sulung namanya Didi. Dan ini anak bungsu Bapak namanya Dodo." Danang memperkenalkan kedua anaknya itu.


" Didi…. Dodo…. Ini anak - anak yang tadi bicarakan. Ayo kalian kenalan dan bertemanlah dengan baik." Kata Danang lagi.


    Si Trio Kancil berkenalan dengan Didi dan Dodo. Mereka berlima cepat akrab, apalagi Didi anaknya suka ngebanyol, dan Dodo anaknya lucu.


" Ayo kita makan malam dulu," Lastri datang dari dalam dan mengajak semua anak - anak yang sedang asyik bercanda di teras depan rumah.


" Maaf hanya ada ini untuk menu makan malamnya. Makanlah walau cuma hanya ada ikan saja,'' Kata Danang.


" Tidak apa - apa, Pak. Justru kami berterima kasih atas kebaikan semua keluarga Bapak." Kata Bintang dengan sopan.

__ADS_1


" Iya, Pak. Kami sangat senang sekali," Angkasa mengiyakan perkataan Bintang.


" Kami juga suka ikan. Apalagi ikan bakar ini sangat wangi. Pasti enak rasanya." Langit sudah menelan air liurnya saat mencium wangi ikan bakar itu.


" Ayo cepat dimakan, kalian jangan sungkan - sungkan," Lastri yang sedang menghidangkan makanan untuk suaminya turut bicara. 


     Mereka akhirnya makan malam hanya dengan ikan bakar saja. Dan mereka semua sungguh menikmatinya. Apalagi Si Trio Kancil yang seharian ini baru makan nasi. Sebenarnya ketiganya malu saat ingin nambah, tapi Danang yang tahu kalau mereka masih ingin makan. Dan meminta mereka bertiga untuk tambah lagi, apalagi nasi dan ikannya masih ada.


    Kelima bocah itu masih saja ngobrol dengan serunya walau jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Dan Danang mereka untuk cepat - cepat tidur.


" Besok kita datangi rumah hantu itu," kata Didi, saat tadi Angkasa menanyakan rumah besar yang ada di atas tebing.


" Jangan, Bintang takut." Ucap Bintang sambil memeluk tubuh Angkasa.


" Jangan takut Kak Bintang disana banyak pohon yang bisa dipetik buahnya," kata Dodo sambil berbisik.


" Langit penasaran ingin melihat kesana!" Ucap Langit sambil melihat ke arah Angkasa.


" Aku juga ingin kesana!" Kata Angkasa.


" Kakak…." Bintang merasa tidak setuju.


" Kamu tinggal jangan ikut kita kesana. Diam saja disini?!" Kata Angkasa lagi.


*****


    Sementara itu Alex yang sedang berada di tengah hutan, merasa sedang ada yang mengikuti dirinya. Alex langsung dalam keadaan siaga, kalau - kalau ada binatang buas yang sedang mengikutinya.


Krek!!!


Krek!!!


    Suara ranting yang patah karena terinjak itu, terdengar di antara suara - suara binatang malam. Alex langsung mengeluarkan pisau miliknya. Dan dia juga mematikan lampu yang terpasang di helmnya.


    Alex juga menyembunyikan dirinya di balik pohon yang agak besar. Dan suara langkah itu terdengar semakin mendekat. Alex dapat melihat ada sebuah bayangan yang bergerak ke arah dirinya. Dan bayangan itu pun bergerak dengan cepat.


Brug….


    Alex dan bayangan itu saling menerjang satu sama lainnya.


" Kau….!!!" Teriak Alex.


" Sedang apa kamu disini?" Tanya Alex sambil melepaskan kuncian pada laki - laki yang selalu setia kepadanya.


" Aku sangat mencemaskan mereka. Apalagi nona Bintang!" 

__ADS_1


" Seharusnya kamu ikut saja dari awal. Jangan mengejutkan aku begini!" Ucap Alex.


" Maafkan saya Tuan," katanya penuh penyesalan.


" Michael, lihat ini!" Kata Alex saat dirinya menyalakan lagi lampu di kepalanya, dan dia menemukan sisa-sisa buah yang bekas dimakan.


" Sepertinya mereka tadi sempat disini!" Alex sangat senang dengan temuannya itu.


    Michael pun ikut berjongkok di samping Alex dan melihat sisa - sisa bekas makanan.


" Ya, sepertinya tadi mereka melalui jalan ini." Kata Michael.


*******


Pagi - pagi sekali kelima bocah itu sudah mandi. Karena sejak dari subuh mereka sudah bersiap - siap akan pergi ke rumah hantu di atas tebing. Yang sejak semalam mereka bicarakan. Angkasa, Langit, dan Bintang meminjam pakaian milik Didi, walau umur mereka baru enam tahun Minggu kemarin. Tapi mereka memiliki postur tubuh yang bongsor. Bahkan tinggi badan mereka lebih tinggi walau sedikit.


" Aduh, ini anak Bapak tumben sudah ganteng pagi - pagi begini. Biasanya kalau libur susah disuruh mandi." Kata Danang.


" Kita mau jalan - jalan, Pak!" Jawab mereka serempak.


" Memangnya kalian tidak capek, setelah seharian kemari jalan kaki?" Tanya Danang pada Trio Kancil.


" Alhamdulillah sudah baikan, Pak. Kaki Langit juga sudah nggak bengkak lagi. Dan memarnya sudah agak mendingan warnanya," kata Langit sambil memperlihatkan memar di kakinya itu.


" Kalian jangan jauh - jauh mainnya, ya!" Pinta Danang.


" Nggak kok, Pak. Kita mau main ke dekat tebing itu." Tunjuk Bintang.


" Oh, Hati - hati. Dan kalian jangan main di dekat rumah hantu itu, ya!" Dadang memberi peringatan kepada lima bocah itu.


     Kelima bocah itu saling pandang satu sama lain.


" Hehehe…." Kelimanya hanya tertawa garing memperlihatkan deretan gigi mereka.


********


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN, VOTE NYA JUGA YA


KASIH BINTANG LIMA JUGA.


DUKUNG AKU TERUS YA.


TERIMA KASIH.


KUNJUNGI JUGA KARYA AKU YANG LAINYA : MAMAKU WANITA SUPER & PAPAKU SUPER GENIUS.

__ADS_1


__ADS_2