
Maka Angkasa pun mencoba melihat kalung yang dipakai si bayi. Ada nama yang tertera di sana.
"Chelsea." Angkasa menyebutkan kata yang ada di kalung itu.
"Jadi, bayi ini namanya Chelsea?!" Paris dan Athena bersamaan menyebut nama si bayi.
"Iya, aku rasa nama bayi ini adalah Chelsea." Angkasa mencubit gemas pipi si bayi.
"Tuh, lihat kalian sudah cocok! sudah seperti mama dan papanya!" Athena tertawa lepas melihat kepada Paris dan Angkasa.
Athena, berniat meninggalkan mereka, tapi oleh Paris di tahan tangannya. Kedua gadis itu saling menatap.
"Mau kemana kamu?!" tanya Paris dengan nada ketus.
"Ya, mau pulang 'lah! Ngapain berdiri di sini terus!" jawab Athena tidak kalah ketusnya.
"Ini bayi, tanggung jawab kamu!" Paris nggak mau ketiban sial.
"Bayi nya suka sama kamu! Jadi, kamu yang tanggung jawab untuk mengurusnya," kata Athena sambil tersenyum jail, kepada Paris yang masih saja menggendong Chelsea.
"Nggak mau! Pokonya aku nggak mau mengurus bayi, nggak dikenal!" teriak Paris.
Angkasa berdecak kesal melihat tingkah kedua gadis didepannya. Dia lebih memilih pergi duluan dari sana karena orang yang berlalu lalang memperhatikan mereka. Paris dan Athena yang sedang bersitegang tidak menyadari kalau Angkasa sudah pergi meninggalkan mereka. Sementara, Chelsea sudah tertidur dalam gendongan Paris.
"Tunggu, Darling, pergi kemana?" Paris menengok ke kanan dan kiri jalan, tapi Angkasa tidak ada di sana.
"Rasain, kamu ditinggal pergi sama si gigolo galak." Athena pun tertawa senang.
"Ini gara-gara kamu!" Paris pun meninggalkan Athena.
*******
Angkasa pergi ke tempat biasa teman-temannya nongkrong. Bangunan megah seperti sebuah sebuah hotel. Setiap orang juga di beri satu unit kamar. Angkasa suka datang ke sana saat dia ingin menyendiri atau menenangkan pikiran akibat otak yang selalu sering dipaksa untuk berpikir. Di sini juga dia tidak akan mendengar nyanyian suara cempreng milik Athena.
Sebenarnya, bukan Angkasa saja yang begitu. Banyak dari mereka yang setipe dengan Angkasa, yang datang ke sana hanya untuk mencari ketenangan tanpa gangguan orang lain.
Angkasa, biasanya hanya menyapa mereka saja, setelah itu dia akan pergi ke lantai atas. Di sana ada tempat khusus untuknya. Teman-teman Angkasa itu adalah kumpulan anak remaja dari para pengusaha terkenal, yang juga sudah membuat bisnis sendiri tanpa campur tangan orang tuanya. Kebanyakan mereka statusnya siswa sekolah menengah atas atau mahasiswa. Di sini juga mereka bisa menjalin kerja sama dengan anggota yang lainnya. Paris juga merupakan salah satu dari mereka.
Angkasa lebih suka memilih atap sebagai tempatnya menghabiskan waktu. Dia juga bisanya mengerjakan tugas kuliah atau memeriksa hasil laporan dari usahanya di sana. Sambil menikmati pemandangan matahari terbenam, Angkasa menyelesaikan tugas kuliah hari ini.
Angkasa tidak tahu kalau saat ini Paris sedang menunggu dirinya di depan pintu apartemen, sambil menggendong Chelsea.
__ADS_1
*******
Athena melihat Paris yang menggendong Chelsea, sedang berada di depan pintu apartemen milik Angkasa. Dia merasa kasihan juga melihatnya.
"Kamu ngapain di depan pintu apartemen orang lain?" tanya Athena ucapannya tidak sesuai dengan apa yang tadi dia niatkan.
"Menunggu Darling, pulang!" jawab Paris ketus.
"Kasihan bener di telantarkan sama si gigolo galak," kata Athena sambil tersenyum mencemooh.
"Tunggu! Gigolo galak, itu siapa?" tanya Paris menghentikan langkah Athena yang hendak masuk ke dalam apartemennya.
"Siapa lagi kalau bukan penghuni apartemen sebelah," jawab Athena sambil mencebik.
Paris diam tidak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan. Paris tidak menyangka kalau Angkasa berubah menjadi orang yang seperti itu. Selama satu tahun ini mereka hanya berkomunikasi lewat telepon atau video call. Bertemu secara langsung pun hanya lima kali.
Angkasa yang dikenal oleh Paris, adalah laki-laki dingin yang jarang mau berhubungan langsung dengan para wanita. Dia selalu jaga jarak sama para wanita yang tergila-gila padanya. Bahkan bisa dihitung teman-teman yang berjenis kelamin wanita yang menjadi teman Angkasa.
"Apa sekarang Darling, jadi laki-laki penjahat kelamin?!"
"Tidak! Tidak! Tidak mungkin!"
"Tapi, bagaimana kalau yang dia katakan itu benar!"
Paris bermonolog sendiri dan kadang menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran buruk dia. Paris percaya pada Angkasa kalau dia adalah pria baik-baik.
Paris sudah berapa kali menelpon Angkasa, tapi tidak di jawab juga. Itu malah menguatkan pikirannya kalau apa yang dikatakan oleh Athena benar adanya.
Jam di tangannya sudah menunjukan pukul 22.15 tapi Angkasa belum kelihatan batang hidungnya. Paris yang masih menggendong Chelsea. Dia kadang berdiri, duduk, terus begitu kalau dirasa kaki dan pinggangnya sakit.
Untungnya dia tidak kesepian karena Chelsea sudah sejak tadi bangun. Paris sangat senang ternyata Chelsea sudah bisa diajak bicara meski ucapannya kadang setengah-setengah atau terpotong.
Angkasa terkejut saat melihat ada Paris yang sedang berdiri sambil menggendong Chelsea. Dia tidak menyangka kalau Paris sedang menunggunya di depan pintu.
"Kenapa kamu di sini?!" tanya Angkasa dengan nada datarnya.
"Tentu saja, aku menunggumu, Darling." Paris tersenyum bahagia saat melihat Angkasa.
"Ini, sudah malam! Kenapa kamu tidak pulang ke tempatmu." Angkasa berdiri saling berhadapan dengan Paris.
"Ini Chelsea mau di kemana 'kan?" tanya Paris sambil menatap Chelsea yang sudah tidur kembali karena kelelahan bermain.
__ADS_1
"Ya, bawa saja denganmu! Nanti aku akan membelikan segala kebutuhan untuk Chelsea!"
"Aku tidak butuh itu. Uang aku juga banyak. Namun, aku tidak bisa mengurusnya. Aku juga kuliah dan bekerja. Jadi ...." Paris terkejut saat Angkasa mengambil alih Chelsea dan menggendongnya.
"Sudah biar aku saja yang menjaga dan mengurusnya! Kamu pulang saja sekarang!" Perintah Angkasa kepada Paris yang masih menatap kepadanya. Angkasa pun dengan cepat masuk ke dalam apartemennya, tanpa dia tahu kalau Paris, berhasil menahan pintunya agar tidak menutup.
Ini pertama kalinya bagi Paris masuk ke apartemen milik Angkasa. Selama dia berteman dengan Angkasa, biasanya tidak membolehkan teman-temannya masuk ke tempat area pribadi.
Angkasa yang baru saja menidurkan Chelsea di atas kasurnya. Dia dikejutkan oleh Paris yang berdiri dibelakangnya. Angkasa yang paling tidak suka saat ada orang lain masuk ke area pribadinya.
"Apa yang kamu lakukan di sini!" Bentak Angkasa kepada Paris sambil menarik tangannya agar keluar dari kamarnya.
"Ada yang ingin aku tanyakan dan pastikan kepada kamu," kata Paris sambil berusaha melepaskan dirinya dari cengkeraman tangan Angkasa.
Paris pun menggigit tangan Angkasa, agar melepaskan cengkraman pada tangannya. Akhirnya, Angkasa melepaskan Paris.
"Apa benar sekarang kamu menjadi seorang gigolo?!" tanya Paris to the points.
Angkasa terkejut mendengar apa yang baru saja Paris katakan. Dia tidak pernah kebayang Paris bisa punya pikiran seperti itu.
"Kenapa kamu punya pikiran seperti itu!" Angkasa merasa harga dirinya sudah dihina oleh Paris.
"Karena ada seseorang yang memberitahu aku. Kalau kamu itu seorang gigolo! Padahal aku cium kamu saja, marahnya kayak aku sudah melakukan kejahatan besar sama kamu," Paris bicara dengan nada yang tinggi, karena tidak suka saat Angkasa bicara membentak dengan suaranya yang tinggi.
"Katakan siapa dia?!" Angkasa menatap tajam kepada Paris karena tidak suka dirinya merasa terhina.
*******
Apakah Paris akan bilang siapa orang yang sudah menyebutnya seorang gigolo?
Apa yang akan Angkasa lakukan selanjutnya?
Tunggu kelanjutannya ya.
*******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAVORIT, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
TERIMA KASIH.
__ADS_1