
Hari ini Bintang berangkat ke kampus seperti biasa. Karena A, anaknya masuk rumah sakit karena demam tinggi, Michael meminta bantuan kepada tim keamanan keluarga Hakim untuk menjaga Bintang. Tanpa sepengetahuan Bintang, dia mengira kalau Michael yang akan bertugas sebagai pengawalnya. Karena handphone Bintang, tiba-tiba mati setelah seseorang menabrak dan menginjaknya sampai pecah layarnya. Si pelaku hanya meminta maaf dan pergi begitu saja.
Perasaan Bintang jadi kesal, karena dia belum telponan dengan suami tercintanya itu. Ghazali menghubungi Bintang, saat dirinya sedang mandi. Ditelepon balik nggak diangkat. Walau semalaman mereka sudah video call berjam-jam lamanya, tetap aja saat pagi hari sudah rindu mendengar suaranya.
Langkah Bintang tidak semangat, kepalanya menunduk, dan bibirnya manyun karena cemberut. Mood-nya jadi jelek gara-gara handphone-nya rusak.
"Hayo! Melamun!" Husna yang berjalan di belakang Bintang, tiba-tiba mengejutkannya.
"Kamu lagi ngelamunin apa? Pagi-pagi sudah melamun, kerjanya!"
"Handphone-ku rusak!" Bintang memperlihatkan handphone yang layarnya rusak parah.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" Husna mengambil handphone milik Bintang. Dibolak-balik benda pipih itu.
"Tadi seseorang, menabrak aku. Handphone-nya jatuh, kemudian ke injak sama dia."
"Kamu minta ganti rugi?"
"Nggak, orangnya langsung kabur."
Bintang dan Husna, melanjutkan pembicaraannya tentang menteri pelajaran, yang sudah dipelajarinya kemarin. Keduanya asik berbincang, meski begitu Bintang berkali-kali melihat ke arah jendela dan kadang pintu. Dia merasa, ada yang sedang mengawasi.
Setelah jam pelajaran pertama selesai, Bintang izin pergi ke toilet. Tadinya Husna juga ikut, tapi ada temannya yang memanggil, agar segera menghadap dosen. Bintang pun akhirnya pergi sendiri, ke toilet khusus wanita.
Saat Bintang sedang mencuci tangannya, ada dua orang perempuan yang masuk ke sana. Bintang menyangka kalau mereka adalah mahasiswa di kampusnya. Namun hati kecilnya berkata kalau dia harus waspada. Dengan cepat kedua perempuan itu memegang tangan Bintang dan menutupkan kain ke hidungnya agar dia pingsan. Meski begitu bintang masih bisa tersadar.
Bintang menggunakan kakinya untuk melawan. Dia menggunakan bros hiasan di jilbabnya untuk menusuk jarinya, agar kesadarannya terjaga. Kedua perempuan itu adalah Agen V dan Agen M yang sedang menyamar sebagai mahasiswa.
Dua lawan satu, mereka berkelahi di dalam toilet wanita. Bintang mengikatkan jilbabnya agar tidak dimanfaatkan oleh musuhnya, yang sudah dua kali menariknya. Bintang tahu kesadarnnya hampir habis. Dia sudah menekan tanda bahaya di jam tangannya, untuk memberi tahu A, kalau dirinya perlu bantuan. Karena sudah merasa terdesak, akhirnya Bintang menekan tanda bahaya di cincin kawinnya yang akan terhubung kepada Ghazali.
__ADS_1
Hanya tiga menit waktu yang bisa membuat Bintang jatuh pingsan, akibat obat bius. Meski hanya tiga menit, dia bisa membuat kedua Agen itu mengalami luka. Agen M sampai muntah darah karena dua kali dada dia kena pukulan dan tiga kali perutnya kena tendangan Bintang yang keras. Sementara Agen V selain mendapat tendangan di perut pukulan di kepala. Dia juga dibanting oleh Bintang, ke lantai toilet.
Bintang yang sudah pingsan akhirnya dimasukkan ke dalam boks container. Kemudian dibawanya ke dalam mobil yang ada di halaman parkir fakultasnya. Mereka berdua juga membuka penyamarannya begitu masuk mobil.
"Aduh … tak menyangka kalau nona muda ini bisa berkelahi. Bila diberi waktu lima menit, yakin aku pasti sudah terkapar tak berdaya, bahkan bisa mati." Agen M membersihkan darah di mulutnya.
"Bukannya sudah ada informasi kalau dia bisa berkelahi," Agen V memberikan salep pada bibirnya yang sobek.
"Kalian berdua kerepotan sudah direpotkan oleh seorang nona muda!" Laki-laki yang bertugas menjadi sopir itu tertawa terkekeh, sampai air matanya keluar.
Mobil mereka sudah keluar kampus Bintang, dan menuju tempat tujuan pertama mereka dahulu. Sedangkan tim keamanan Keluarga Hakim sedang mencari Bintang di fakultas tempatnya belajar. Setelah menerima pesan darurat tadi. Karena mereka berjaga di luar gerbang universitas, jadi butuh waktu untuk sampai di sana.
*****
Ghazali yang sedang memeriksa pasiennya, mendapat sinyal tanda bahaya dari Bintang. Dengan menahan diri dia masih melanjutkan menjelaskan kondisi pasien kepada keluarganya. Sungguh hatinya tidak tenang, rasanya dia ingin cepat berlari menuju istri kecilnya itu.
Begitu Ghazali selesai memeriksa pasiennya. Dia meminta kepada asisten dokter agar mempercepat pemanggilan terhadap pasiennya hari itu, dan menghentikan penerimaan pasien untuk dirinya, biar dokter lainnya yang memeriksa pasien baru. Kini tinggal lima pasien yang harus di tangani olehnya.
Sebenarnya, Ghazali juga menghubungi Erlangga tadi, untuk mencari tahu keberadaan Bintang. Karena dia mendapatkan sinyal tanda bahaya dari Bintang, tapi pasiennya masih ada beberapa orang.
*******
Beberapa jam sebelumnya …
Alex sedang bersama Cantika menikmati waktu luang mereka. Jarang-jarang mereka bisa main bersama si bungsu. Apalagi ada Mentari yang membawa si kembar, jadi makin ramai di rumah Alex. Ketiga orang dewasa itu bercengkrama sambil memperhatikan anak-anak balita itu sedang bermain balon cair yang dibuat menjadi gelembung-gelembung besar.
"Papa! Papa!"
Alex mendengar anak pemudanya memanggil dari dalam rumah. Maka Alex pun bangkit dari duduknya dan datang menghampiri anaknya.
__ADS_1
"Ada apa, Langit?" tanya Alex saat dilihatnya Langit berlari sambil membawa laptopnya.
"Bintang dalam bahaya!"
Alex yang mendengar laporan dari anaknya itu sungguh terkejut, karena tadi dia dan Cantika sempat membicarakan Bintang. Ternyata filling seorang ibu itu selalu benar. Cantika tadi bilang kalau dia kepikiran Bintang terus, dan mengkhawatirkannya.
"Kamu sudah lacak keberadaan Bintang?" tanya Alex pada putranya itu.
"Sudah, dari sinyal alat pelacak dia sekarang bergerak di dalam kota yang jaraknya sekitar dua puluh kilometer."
"Ok, siapkan dirimu dan saudaramu. Bawa juga senjata kalian dan milik Bintang!"
Alex dan si kembar, mencari Bintang lewat alat pelacak yang ada di jam tangannya. Begitu dia mendapatkan sinyal bahaya dari Bintang mereka langsung bergerak.
*******
Alex dan Langit mengendarai mobil, sedangkan Angkasa lebih suka naik motor. Sedangkan Michael dan A bergerak sendiri-sendiri, dari tempat yang berbeda.
Dengan menggunakan alat komunikasi canggih yang tidak akan terkendala oleh sinyal dan kondisi tempat, mereka saling terhubung satu sama lain lewat earphone buatan perusahaan Alex.
"Sinyal dari pelacak dari Bintang ada di gedung bekas ini, kayaknya?!" kata Langit sambil melihat mini laptop miliknya.
"Baiklah kita berpencar, masuk dari berbagai arah!" perintah Alex.
"Siap!" jawab meraka semua.
*******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA MUMPUNG HARI SENIN.
__ADS_1
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
TERIMA KASIH.