Trio Kancil

Trio Kancil
#ANGKASA 09


__ADS_3

     Brooklyn datang menghampiri rumah Paris, ketika melihat Peter yang memanggul tubuh dua orang, lewat kedepan rumahnya. Dia yakin, kalau ada Peter, pasti di situ ada Angkasa. Tentu saja yang berhubungan dengan Angkasa di daerah sana hanya, Paris. Maka, dengan langkah cepat, Brooklyn menuruni anak tangga dan berlari ke rumah Paris. 


     Pintu rumah Paris, akses masuknya menggunakan kode pin. Brooklyn salah satu orang yang diberikan kode pin itu oleh Paris. Bila ada apa-apa dengannya, jadi mudah masuk. Paris tidak sembarangan memberikan kode pin rumahnya. Hanya kepada orang-orang dipercaya olehnya yang diberi tahu.


"Paris, apa kamu baik-baik saja?!"


     Brooklyn melihat ada Angkasa di sana sedang berdiri di depan pintu kamar Paris. Kedua pemuda itu saling tatap. Ada rasa saling tidak suka dari kedua pasang mata itu. Angkasa tidak suka dengan kehadiran Brooklyn, begitu juga sebaliknya.


"Paris, kamu baik-baik saja 'kan?" tanya Brooklyn lagi.


"Iya, aku baik-baik saja. Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku," jawab Paris.


"Tapi, tadi aku lihat ada Peter membawa dua orang keluar dari rumah kamu."


"Tadi ada dua orang penyusup masuk ke rumah. Mungkin mereka pencuri baru, yang bahkan tidak bisa menggunakan pistol dengan baik. Ilmu beladiri juga mereka kayaknya tidak bisa," kata Paris kemudian berjalan ke arah Brooklyn, dan melewati Angkasa begitu saja.


"Tapi, kamu tidak apa-apa 'kan? Tidak terluka?" tanya Brooklyn terlihat khawatir, sambil memeriksa tubuh Paris.


"Iya, aku baik-baik saja. Tidak terluka sama sekali." Paris mencoba menenangkan Brooklyn.


     Angkasa sangat kesal kepada Paris. Tanpa bicara apa-apa, dia langsung keluar rumah. Datang tak diundang pergi tanpa pamit, mungkin itu yang cocok untuk Angkasa.


'Oke. Jika ini yang kamu inginkan' batin Angkasa sambil masuk ke dalam mobilnya.


     Paris bengong, menatap ke pargian Angkasa. Dia mengira Angkasa tadi sama-sama ingin menyentuhnya, tapi melihat sikapnya ini, membuat Paris sadar jika apa yang direncanakan oleh Bintang itu salah. Tidak butuh perasaan atau pikiran kalau sama Angkasa.


     Paris dengan langkah seribu miliknya, langsung mengejar Angkasa. Dia tidak mau ada kesalahpahamaan di antara mereka berdua. Paris pun berhasil masuk ke dalam mobil Angkasa yang sudah menyala mesinnya.


     Angkasa terkejut dengan kedatangan Paris yang tiba-tiba masuk ke dalam mobilnya. Keduanya saling memandang. Paris menarik napasnya untuk menenangkan jantungnya yang masih berdebar karena mengingat saat dia dan Angkasa yang hampir ciuman tadi.


"Kenapa kamu datang dengan tiba-tiba dan juga pergi dengan tiba-tiba?" tanya Paris sambil menatap mata Angkasa dengan tatapan menahan sakit.

__ADS_1


"Apa kamu tidak suka aku datang?" tanya Angkasa bukannya menjawab pertanyaan Paris.


"Aku suka sekali. Aku senang bisa melihatmu lagi. Aku sangat merindukan kamu. Aku sangat ingin bertemu dengan kamu. Tapi, bukannya aku tidak dibolehkan oleh kamu untuk melihat, bertemu dan bicara sama kamu lagi." Air mata Paris pun meluncur dengan deras menahan rasa rindunya kepada pujaan hatinya.


     Diraihnya wajah Angkasa, dan Paris tangkup wajahnya dengan kedua tangannya. Angkasa yang badannya tertahan oleh sabuk pengaman dan kedua tangannya memegang setir mobil. Angkasa yang belum siap dengan semua ini, diam tak membalas, ketika ciuman hangat diberikan oleh Paris. Dia hanya pasrah dan menikmati bibir lembut Paris. Bibir yang beberapa hari lalu dia cium dengan cara kasar.


     Ketika Angkasa hendak membalasnya, Paris cepat-cepat mengurainya. Paris melakukan ini, hanya ingin mengetahui perasaan Angkasa untuknya memalui ciumannya. 


"Maaf, lagi-lagi aku melakukan kesalahan yang tidak bisa kamu maafkan." Paris tertawa garing dan dengan cepat membuka pintu mobil dan berlari masuk ke dalam rumah. Dia akhirnya bisa tahu dengan tidak ada balasan dari Angkasa seperti sebelum-sebelumnya.


'Ya, mana mungkin mau membalas ciuman kalau tidak punya perasaan,' batin Paris.


'Kenapa juga aku ngikutin cara Bintang!'


     Angkasa masih terdiam, mengingat lagi kata-kata yang diucapkan oleh Paris. Dia ingat kalau dia sendiri yang meminta jangan pernah muncul lagi dihadapannya. Angkasa memandangi rumah Paris. Sambil menenggelamkan wajahnya di kedua tangan yang memeluk stir.


     Angkasa pun masih diam di sana sampai lampu kamar Paris, dimatikan. Angkasa baru menyadari, dia tidak melihat kalau Brooklyn keluar dari rumah Paris.


"Menjijikan!" lanjut Angkasa.


     Angkasa pun pergi dari sana dengan perasaan dongkol. Dia berpikir bisa-bisanya dia terbuai oleh ciuman Paris, yang lembut dan hangat. Angkasa, menepikan mobilnya yang baru saja berjalan tak berapa jauh dari tempat Paris. Dia melihat sosok wanita yang beberapa hari lalu, membawa Chelsea dan menyerahkannya kepada Athena. Angkasa pun keluar dari mobil dan berlari ke arah wanita itu. Betapa terkejutnya Angkasa melihat keadaan wanita itu. Wajahnya banyak luka memar dan pandangannya kosong.


"Nyonya! Apa kamu ingat kepadaku?" tanya Angkasa. Namun, wanita itu hanya diam tak menjawab.


"Anda telah menitipkan Chelsea kepada kami. Ingat?!" Angkasa kembali melanjutkan bicaranya.


"Chelsea? Chelsea! Selamatkan dia! Jangan sampai Tuan Madrid menemukannya!" kata wanita itu.


"Siapa dia? Tuan Madrid itu?" tanya Angkasa dengan rasa penasaran tinggi.


"Orang yang sudah membunuh Tuan Caracas ayahnya nona Chelsea," jawab wanita itu dengan lemah dan terjatuh, mulai tak sadarkan diri.

__ADS_1


"Hei, Nyonya! Sadarlah!" Angkasa mengguncangkan badannya.


*******


     Angkasa membawa wanita itu ke rumah sakit, tempat dia magang. Banyak dokter kenalannya yang bisa di mintai tolong untuk menjaga wanita, yang tahu segala tentang Chelsea. 


     Wanita itu dimasukan ke dalam ruang ICU karena mengalami koma. Ada banyak luka dalam di tubuhnya. Angkasa pun meminta untuk menyembunyikan keberadaan wanita ini kepada pihak rumah sakit. Hanya dia satu-satunya petunjuk yang tahu tentang siapa Chelsea? Sebab, nyawa Chelsea juga dalam bahaya. Entah karena apa? Sampai anak berusia satu tahun harus diincar nyawanya.


"Pastinya Chelsea, adalah anak yang memiliki pengaruh pada Tuan Madrid. Sehingga dia ingin membunuhnya juga." Angkasa bermonolog saat dia melihat keadaan wanita itu.


"Sepertinya aku harus mencari informasi dulu tentang orang yang bernama, Madrid dan Caracas?!"


    Angkasa pun memulai dengan mencari informasi tentang orang-orang yang memiliki nama itu. Karena tidak diketahui nama lengkap mereka, apa pekerjaan mereka. Dia Juga menyuruh Peter mengerahkan kemampuannya sebagai pasukan bayangan yang bekerja secara diam-diam. Angkasa memberi kemudahan akses untuk Peter, menggunakan nama Angkasa Andersson. Agar bisa berjalan dengan lancar dan cepat. Angkasa bukan orang yang suka santai saat sedang melakukan sesuatu pekerjaan. Baginya lebih baik cepat selesai jangan di tunda-tunda.


******


Para nama tokoh sudah saling bermunculan. Siapa Chelsea mulai terkuak sedikit-sedikit?!


Tunggu kelanjutannya ya.


******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAVORIT, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.


Mampir juga ke karya Author Shan nen, ya.


Baca kasih like, komen, dan bunga juga.

__ADS_1



__ADS_2