Trio Kancil

Trio Kancil
#BINTANG 37


__ADS_3

     Kelima orang itu masuk ke dalam gedung bekas itu, lewat jalan yang berbeda-beda. Suasana seram dan mencekam dapat Langit rasakan di sana. Gedung itu sebenarnya masih kokoh jika dilihat dari tembok dan tiang-tiang penyangganya.


     Langit mengandalkan alat pelacak yang di tanam di jam tangan Bintang. Jadi, dia langsung bergegas menuju titik sinyal yang dipancarkan olehnya. Titik itu ada di bangunan paling atas. Maka Langit berlari menaiki anak tangga yang jumlahnya pasti lebih dari ribuan, karena bangunan itu punya tiga belas lantai.


"Kenapa aku tidak bawa alat yang bisa buat manjat ke tempat tinggi?"


      Dengan langkah yang lebar dan gerakan yang gesit, membuat Langit sampai lebih cepat. Tidak sampai lima belas menit dia sudah berada di atap gedung. Langit terlebih dahulu sampai di sana di banding dengan yang lainnya.


    Langit mengitari tempat itu, tapi tidak menemukan Bintang. Dia mengecek lagi layar laptopnya, untuk memeriksa keberadaan Bintang. Skala pencariannya semakin diperkecil lagi dan lagi. Sampai Langit menemukan titik itu pada kotak peti yang ada di pojok dekat pagar batas.


    Langit pun, langsung membongkar kotak peti itu. Dia menggunakan pistol untuk membuka kunci petinya. Alangkah terkejutnya Langit saat melihat isi kotak peti itu.


"Bintang!" teriak Langit sekuat tenaganya memanggil saudara kembarnya.


     Teriakan Langit, terdengar sampai ke bawah. Oleh Alex, Angkasa, Michael, dan A. Semua orang jadi panik, sesaat setelah mendengar teriak dari Langit yang sedang berada di atap.


     Alex dan yang lainnya berlari ke atap gedung. Saat mereka sampai sana, Langit sedang memeluk baju Bintang sambil nangis tersedu-sedu.


"Langit, ada apa?" Alex yang berlari duluan menghampiri Langit.


"Bintang, Pa!" Langit menunjukan baju yang dipakai oleh Bintang tadi pagi, ada banyak noda darahnya.


     Alex merasa nyawanya ditarik dari tubuhnya, saat melihat ada noda darah gamis putrinya itu. Alex, kemudian bisa menguasai dirinya dan dengan cepat meminta bantuan kepada Khalid.


"Pah, Bintang hilang! Alex tidak bisa menemukannya. Pakaian, jam tangan, tas, dan aksesoris lainnya di lepas dari tubuh Bintang," Alex terisak menangis saat menelepon Khalid.


"Tenang, Papa sama Ghaza sedang menuju tempat Bintang."


      Mendengar penjelasan Khalid barusan, membuat Alex merasa lebih tenang. Berarti putrinya masih hidup. Kini dia beralih kepada Langit, yang masih saja menangis sambil memeluk gamis Bintang.


"Sudah, berhenti menangis. Bintang baik-baik saja. Opa Khalid sama Om Ghaza sedang menuju ke tempat Bintang." Alex menepuk pundak Langit.


    Langit yang tadinya menangis tersedu-sedu, akhirnya diam. Saat tahu saudaranya masih hidup. Langit langsung bangkit kembali, dan mengecek lagi laptopnya. Tapi semua sinyal milik Bintang ada di tempatnya kini.

__ADS_1


"Pah, bagaimana cari tahu lokasi keberadaan Bintang?" tanya Langit sambil mengerutkan keningnya.


"Kita, ikuti sinyal dari alat pelacak Om Ghaza," Alex tersenyum kepada putranya itu.


     Angkasa yang sedang memeriksa barang-barang milik Bintang. Merasa ada yang aneh, dengan kasus penculikan kali ini.


"Pah, merasa aneh nggak dengan kasus penculikan Bintang kali ini?" tanya Angkasa yang masih memeriksa tas milik mini Bintang, yang selalu diselempangkan di bahunya. Biasanya isi tas itu cuma dompet dan handphone-nya. Tapi kali ini ada jam tangan yang dipasangi alat pelacak, dan bros yang dipakai di hijabnya.


"Benar juga, Kenapa penculik membuka baju Bintang dan melepaskan semua benda yang ada di tubuhnya?!" tanya Alex baru menyadari kejanggalan ini.


"Mungkin untuk menghilangkan jejak Bintang?!" Langit mengelap air matanya memakai gamis Bintang yang ada di dekapannya.


"Nggak harus buka bajunya juga!" bentak Angkasa karena panik.


"Bisa-bisa si Ghaza, marah!" gumam Alex, mengingat betapa posesifnya Ghazali kepada Bintang sejak kecil.


     Kelima orang itu, akhirnya pergi meninggalkan gedung itu, dan mengikuti jejak sinyal dari Ghazali. Ternyata posisinya berada di luar kota.


"Pah, Om Ghaza kayaknya pakai helikopter buat mengejar Bintang!" 


     Langit yang sejak tadi mengikuti jejak Ghazali, terkejut saat tahu pergerakan Ghazali yang begitu cepat. Apalagi kini telah menuju ke pulau seberang.


******


     Agen V dan Agen M, yang berhasil menculik Bintang. Mereka membawa Bintang ke sebuah tempat, lalu melucuti semua yang menempel pada tubuh Bintang. Karena mereka mengantisipasi adanya alat pelacak yang ada pada Bintang. Kemudian mengganti gamisnya dengan yang baru. Namun ada satu yang lupa mereka lepas, yaitu cincin kawin Bintang. Ghazali sengaja memasang alat pelacak di dalam berliannya.


     Mereka menyimpan barang-barang milik Bintang ke dalam sebuah kotak container, dan menyimpannya di atap gedung kosong. Untuk mengecoh tim keamanan keluarga Hakim.


     Saat ini Bintang sedang di sekap di sebuah kapal feri, dalam keadaan masih pingsan. Sedang menuju ke pulau tak berpenghuni, untuk mengasingkan Bintang, sesuai keinginan klien mereka.


******


     Sedangkan Gahazali yang baru kembali dari rumah sakit. Langsung mendatangi markas keamanan Keluarga Hakim yang ada di komplek mansion utama keluarga Hakim. Dengan bantuan Khalid dan beberapa anggota tim. Mereka melakukan pengejaran terhadap Bintang, menggunakan helikopter.

__ADS_1


     Dengan mengandalkan alat pelacak yang terpasang dari cincin kawin Bintang, Ghazali langsung menuju kesana. Kecemasan Ghazali semakin bertambah, saat tahu pergerakan Bintang yang meninggalkan pulau menuju pulau lainnya.


"Pah, mereka membawa Bintang keluar pulau!" teriak Ghazali kepada Khalid saat melihat pergerakan Bintang lewat laptopnya.


"Tenangkan hati dan pikiranmu dulu. Agar kamu bisa mengambil keputusan yang tepat, saat menyelamatkan Bintang nanti."


     Khalid menepuk pundak putra bungsunya, sambil menasehatinya. Dia tidak mau kalau Ghazali sampai kehilangan ketenangannya dan malah membuatnya celaka nanti.


     Ghazali bergumam, "siapa yang telah menculik Bintang kali ini? dan apa tujuannya?"


     Melihat putra bungsunya melamun, membuat Khalid, menatap kasihan padanya. Padahal sampai semalam dia terlihat sangat bahagia. Apalagi saat video call dengan istri kecilnya itu. Berbeda dengan putra sulungnya, Ghazali lebih bisa mengungkapkan ekspresi perasaannya kepada istrinya. Tidak peduli meski ada orang lain di dekatnya.


"Kamu, tenang saja. Bintang pasti baik-baik saja," kata Khalid.


"Iya, Pah. Hanya saja Ghaza sedang berpikir. Siapa yang sudah menculik Bintang? Terus tujuannya apa?" tanya Ghazali sambil melihat ke arah Khalid.


" Papa dapat laporan, kalau ada sebuah kelompok yang mengikuti Bintang selama ini!"


"Siapa mereka, Pah?" tanya Ghazali penasaran.


"Mereka adalah kelompok para mantan calon agen dan mantan agen rahasia yang di keluarkan atau pensiun dini." Khalid memberitahu Ghazali tentang kelompok mereka.


"Apa nama kelompok mereka, Pah?"


"Namanya adalah Agen ALFABET." Khalid membuka sebuah file di alam laptop mini miliknya. Kemudian menyerahkannya kepada Ghazali, yang berisi laporan tentang kelompok itu.


*******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.

__ADS_1


__ADS_2