Trio Kancil

Trio Kancil
#LANGIT 40


__ADS_3

   Langit dan yang lainnya, membaringkan teman-teman mereka yang sudah tidak sadarkan diri. Kemudian Langit, mengambil sesuatu di saku dalam jaketnya. Dia menyuntikan penawar racun yang dia buat kemarin, sesuatu yang ramu oleh Mazda dan Kartini.


"Kita tunggu reaksinya, bagaimana nanti?!" Langit memperhatikan teman-teman yang lainnya.


"Apa yang kamu berikan tadi kepada mereka?!" Mitsubishi Akai bicara dengan membentak Langit.


"Kamu, telat kalau protes. Seharusnya tadi waktu aku mau memberi suntikan buat mereka," jawab Langit.


"Sudah, Darling. Kita percayakan saja sama dia. Asal kamu tahu kalau dia itu punya saudara dokter yang jenius. Pasti dia juga bisa mengobati mereka," kata Lovely sambil bergelayut manja kepada Mitsubishi Akai.


"Benarkah itu, Honey?!" tanya Mitsubishi Akai.


"Iya, saudara kembar dia, itu laki-laki jenius di dunia kesehatan, terutama di dunia kedokteran." Lovely memperhatikan Langit, dan malah ditatap malas oleh Langit.


*******


     Waktu berjalan dengan lambat, Langit sesekali memeriksa keadaan teman-temannya. Dia tahu kalau mereka belum meninggal. Hanya saja jantungnya berdetak sangat lemah, sehingga tidak terasa. Serta suhu tubuh menjadi dingin, akibat efek dari racun ditambah suhu udara yang sangat dingin malam ini, membuat tubuh mereka seperti es.


    Almahira dan Subaru Sora duduk berdempetan. Saling berbagi kehangatan, walau suhu udara di gua sudah jauh lebih hangat karena ada tiga api unggun di sana.


     Langit memperhatikan teman-teman yang lainnya. Mereka diam dalam lautan mimpi malam yang terasa mencekam, hanya dirinya yang masih terjaga. Sambil menunggu dan memeriksa keadaan teman-temannya yang tidak sadarkan diri. Langit mencoba merangkai kembali kejadian hari ini. Mulai dari mereka saat di Pulau Oka, setelah menyerahkan hasil karya cipta kelompok.


     Langit sudah bisa mengingat dan merangkaikan kembali semua hal yang terjadi tadi, dalam otaknya dia berpikir keras. Dia juga mengingat-ingat lagi nama-nama orang yang meninggal dalam ledakan bom itu.


     Langit yang memejamkan matanya, langsung terbelalak, begitu dia menyadari sesuatu. Untuk memastikannya, di butuh bantuan dari Almahira.


"Sayang," bisik Langit sangat pelan di telinga Almahira. 


     Almahira pun membuka matanya, dan melihat Langit ada di depannya. Langit pun mengulurkan tangannya, mengajak istrinya untuk berdiri. Mereka berjalan ke luar gua.


     Angin malam yang berhembus masih terasa sangat dingin. Membuat Almahira menggigil kedinginan. Langit pun cepat-cepat memeluknya. Dia harus secepatnya membicarakan sesuatu yang penting itu.

__ADS_1


"Sayang, coba sebutkan nama-nama korban yang ada di batu monumen tadi!" pinta Langit.


     Almahira pun menyebutkan nama-nama yang ada di monumen itu. Otak Langit juga ikut mengingat kembali nama-nama yang ditulis dalam dokumen rahasia yang dia bawa dari ruang rahasia kepala sekolah.


"Yap, akhirnya aku tahu siapa musuh dalam selimut yang ada di balik kejadian yang menimpa kita."


"Siapa?"


"Itu nanti kamu juga akan tahu. Sekarang kita harus cepat-cepat kembali ke dalam gua, sebelum dia berbuat nekad lagi!"


     Langit dan Almahira pun berlari, kembali ke dalam gua. Langit yang melihat bayangan orang yang sedang mengarahkan senjata ke arah Jantung Mitsubishi Akai yang sedang tertidur. Tanpa membuang waktu, Langit langsung menyerang orang itu.


"Maaf. Aku menggagalkan aksi kamu!" Langit berkata dengan rasa penuh kemenangan karena berhasil menggagalkan percobaan pembunuhan.


"Almahira, bangunkan yang lainnya!" perintah Langit, sedangkan dia sendiri membangunkan Mitsubishi Akai dan dua teman yang ada di dekatnya.


"Aku tidak menyangka kalau akan cepat sekali ketahuan!"


"Hebat! Hebat! Aku sejak awal sudah kagum kepadamu." Sosok itu bertepuk tangan dan tertawa terkekeh.


"Langit kun, ada apa ini?" tanya Kawasaki yang baru bangun dan masih mengumpulkan kesadarannya.


     Teman-temannya yang lain juga sudah bangun semua. Mereka malah terbengong saat mendengar Langit, berbicara sesuatu yang tidak mereka mengerti.


"Langit kun, jangan bilang kalau ada musuh dalam selimut itu adalah Subaru Sora?!" tanya Mitsubishi Akai, menatap temannya yang bernama Subaru Sora.


"Iya, Mitsubishi san. Bahkan dia 'lah yang tadi hendak menancapkan belati yang sedang dipegangnya ke arah jantungmu!" jawab Almahira sesaat mengalihkan pandangannya kepada Mitsubishi Akai. Langit tadi memintanya untuk mengawasi teman-temannya yang masih tidak sadarkan diri.


"Apa!" Semua orang-orang yang ada di sana berteriak terkejut karena mendengar ucapan Almahira.


"Ya, Subaru Sora. Adik dari Subaru Akemi, salah satu korban dari ledakan bom di Pulau Hi, dua puluh tahun yang lalu. Kamu memalsukan usia dengan memanfaatkan wajah baby face yang kamu miliki. Sesungguhnya, usia aslimu adalah 23 tahun. Subaru Akemi, merupakan salah satu dari lima asisten guru yang menjadi pendamping kala itu. Entah apa yang terjadi, kelima asisten yang jadi korban dalam insiden kecelakaan itu, tidak ditulis dalam batu monumen." Langit memberitahu informasi yang membuat orang-orang yang ada di sana lagi-lagi dibuat terkejut.

__ADS_1


"Akan aku tambahkan lagi informasi yang aku punya. Subaru Akemi terjerat suatu skandal dengan salah satu guru pendamping, padahal dia sudah bertunangan dengan Mitsubishi Hiro. Bisa dipastikan kalau insiden Pulau Hi dua puluh tahun lalu, Mitsubishi Hiro juga terlibat. Hanya saja kamu salah sasaran kalau mau membunuh si kembar Mitsubishi di sini." Lovely pun menambahkan sebuah informasi yang sangat penting dan menarik untuk disimak.


"Oh, pantas saja dia tahu banyak soal kejadian bom dua puluh tahun di pulau ini!" pekik Daihatsu Sena.


"Ya, apa yang dikatakan oleh kalian adalah benar. Tapi, ada informasi penting yang lainnya adalah. Mitsubishi Hiro 'lah yang memindahkan bom buatan kakakku--Subaru Akemi--dan teman-temannya, ke gudang penyimpanan. Dia melakukannya tanpa sepengetahuan semua orang. Karena dia datang dengan menyusup masuk ke pulau ini!"


"Maaf, bukannya Mitsubishi Hiro itu adalah Ayah, Mitsubishi kun?!" tanya Hino Rey.


"Ya, dia adalah orang yang seharusnya bertanggung jawab atas insiden kecelakaan yang mengerikan itu!" Subaru Sora begitu marah.


"Kenapa kamu melampiaskan balas dendam kamu kepada kami yang tidak tahu apa-apa?!" tanya Matsumoto Hana dengan nada yang dingin dan marah.


"Salahkan 'lah nasib kalian yang malang ini, sehingga ikut terjerat kedalamnya," jawab Subaru Sora.


"Kalau di pikir-pikir, kejadian insiden itu tidak akan terjadi. Bila, kakak kamu tidak membuat bom itu!" Mitsubishi Akai menahan marahnya.


"Benar! kenapa kakak kamu dan teman-temannya malah membuat bom?!" Daihatsu Sena ikut menimpali.


*******


Sebenarnya ada rahasia apa dibalik kecelakaan di Pulau Hi, dua puluh tahun yang lalu.


Apakah semuanya sudah selesai sampai disini?


Tunggu kelanjutannya di BAB berikutnya ya.


*******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV,, HADIAH, DAN, VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.

__ADS_1


TERIMA KASIH.


__ADS_2