
Ghazali berjalan ke hadapan Aria, dan berdiri di depannya. Ditatap temannya itu, dengan senyuman khas dia.
"Aku dengar kamu dan Bintang melakukan taruhan. Benarkah?" tanya Ghazali kepada Aria.
"Apa maksud kamu?" Aria balik bertanya.
"Hanya kamu dan Bintang yang tahu kejadian awalnya. Tapi aku jadi ikut terlibat karena sebagai bahan taruhannya," jawab Ghazali.
"Aku memintamu dengan cara baik-baik, karena kita sudah berteman sejak lama. Aku harap kedepannya kita masih bisa berteman dengan baik seperti sebelumnya," kata Ghazali tak lepas menatap Aria.
"Apa kamu yakin, bisa membuatnya hidup bahagia?!" tanya Aria dengan suaranya yang dalam.
"Ya, aku akan berusaha membuatnya bahagia seumur hidupku, walau ada masalah kita akan melaluinya dengan bersama-sama," jawab Ghazali mantap tak tergoyahkan.
"Jadi aku minta kepadamu lepaskanlah Bintang sesuai keinginannya itu, dan tepati janjimu sebagai laki-laki. Serahkan Bintang kepadaku, karena aku akan membuat hidupnya lebih bahagia," lanjut Ghazali, tanpa takut atau malu dengan omongan orang lain karena telah merebut calon tunangan temannya sendiri.
"Baiklah. Seandainya saja kamu menyakiti hati dan perasaan Bintang. Maka aku akan membawa Bintang kembali kepadaku. Tidak peduli apapun itu, kamu juga harus melepaskannya!" kata Aria tidak mau kalah sama Ghazali.
Mendengar ucapan Aria, Ghazali merasa tercubit hatinya. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tapi dia akan berusaha yang terbaik untuk Bintang dan untuk dirinya.
"Bintang, apa kamu mau selalu berada di sisiku? Dalam keadaan apapun? Aku hanyalah manusia biasa yang selalu berbuat salah. Mungkin saja di masa depan aku bisa menyakiti hatimu, atau membuat kamu tidak senang. Jika itu terjadi maka ingatkanlah aku, dan jangan tinggalkan aku," Ghazali bertanya kepada Bintang dan menjadikan orang-orang di sana sebagai saksinya.
"Ya, aku akan selalu di sisi Om, selama itu di jalan yang diridhoi oleh Allah. Aku menerima Om apa adanya. Dengan segala kekurangan dan kelebihan yang dimiliki oleh Om Ghaza."
"Bintang juga punya banyak kekurangan dan masih labil. Bintang harap Om mau membimbingku agar menjadi istri yang diridhoi," lanjut Bintang sambil memandang Ghazali dengan tatapan penuh harap dan cintanya.
Ghazali tersenyum ke arah Bintang, dan mengajak meminta restu kepada kedua orang tuanya, dan kedua orang tua Bintang.
"Papa … Mama, Ghaza minta restu kalian," pinta Ghazali kepada Khalid dan Aurora.
"Ya, Mama dan Papa merestui hubungan kalian," kata Aurora sambil memeluk Ghazali dan menangis haru. Sedangkan Khalid hanya menepuk bahu Ghazali dan tersenyum kepadanya.
__ADS_1
"Papa, restui hubungan Bintang sama Om Ghaza," pinta Bintang kepada Alex dengan mata berkaca-kaca, karena takut tidak akan mendapatkan restu darinya.
"Sudah Papa duga, akan begini jadinya. Sejak kamu masih kecil, kalian sudah terlihat akan menjadi pasangan di masa depan," kata Alex sambil memeluk Bintang dan menangis terharu.
"Iya, makanya Papa kamu itu cemburu bila Ghaza main ke rumah," kata Cantika sambil tersenyum jahil kepada Alex.
"Honey, jangan membongkar itu!" kata Alex kepada Cantika.
"Oh, pantas saja Kak Al sering menyuruhku pulang!" ucap Ghazali tak percaya karena dulu sering disuruh pulang ke rumah kakeknya kalau lagi ke Amerika.
*******
Akhirnya malam itu menjadi hari pertunangan Ghazali dan Bintang. Walau banyak yang membicarakan mereka, tidak mengurangi kebahagiaan Ghazali dan Bintang.
"Om Aria, maafkan Bintang. Sudah beberapa kali Bintang meminta untuk mengakhirinya, sebelum hari ini. Jadinya aku terlihat sebagai gadis jahat yang telah menyakiti laki-laki yang mencintainya," Bintang menangis tersedu-sedu di depan Aria.
"Nggak apa-apa, justru Om yang seharusnya meminta maaf kepadamu, karena sudah memaksa kamu untuk melanjutkan ini semua. Berjanjilah kamu akan hidup dengan bahagia. Jangan lupa doakan juga agar Om bisa segera menemukan penggantimu," kata Aria sambil menghapus air mata Bintang yang terus keluar dari mata indahnya itu.
"Ingat Om masih sayang sama kamu. Kalau Ghaza berbuat macam-macam jangan ragu balik lagi ke Om," kata Aria sambil tersenyum, karena dia melihat Ghazali melotot ke arahnya.
"Iya, Om." Dengan polosnya Bintang menjawab, dan itu membuat Ghazali kelabakan.
"Tidak Bintang, jangan seperti itu. Kalau kita berdua punya masalah, kamu jangan pergi cari dia," kata Ghazali frustasi karena kelabilan Bintang.
Ghazali menarik Bintang agar menjauh dari Aria. Kemudian membawanya kembali naik ke atas panggung. Dia dan Bintang kini berdiri dan memberi pengumuman.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarrokatuh,"
"Mohon perhatian kepada semuanya ada yang saya dan Bintang umumkan. Bahwa kita berdua akan menikah pada bulan depan. Jadi mudah-mudahan kita bisa berkumpul kembali satu bulan lagi," kata Ghazali yang sukses membuat semua orang di sana sangat terkejut.
"Ghaza apa maksudnya satu bulan lagi kalian akan menikah!" tanya Alex dan Khalid bersamaan setelah mendengar pengumuman Ghazali.
__ADS_1
"Bintang nggak apa-apa kita menikahnya dipercepat?" tanya Ghazali kepada Bintang.
"Hm, lebih cepat lebih baik," jawab Bintang sambil menganggukan kepalanya.
Aria sungguh tak percaya kalau niatnya membuat Ghazali cemburu, malah memancing Ghazali untuk berani bertindak. Dia merutuki kebodohannya, karena telah membuka jalan bagi Ghaza untuk mempercepat ikatan pernikahan mereka. Menyesal itulah yang dirasakan oleh Aria saat ini.
"Tunggu Ghaza! Bintang masih kecil jangan kamu paksa di untuk menikah!" Alex meninggikan suaranya, karena dia terkejut dengan pengumuman barusan.
"Tidak, Kak Al. Ghaza nggak memaksanya. Hanya mengajaknya," balas Ghazali sambil melihat kepada sepupunya itu.
"Bintang kamu jangan mau diajak menikah bulan depan. Nanti kamu menikahnya setelah umur lebih dari dua puluh tahun," lanjut Alex kepada Bintang, putri kesayangannya itu.
"Sudah jangan dilarang. Biarkan saja mereka menikah, daripada jatuh ke lubang zina. Sebaiknya mereka dinikahkan saja. Kita sebagai orang tua hanya bisa mengawasi dan menasehatinya," kata Cantika sambil mengusap dada Alex, biar tenang.
"Honey, Bintang itu masih kecil," kata Alex sambil melihat ke arah Cantika. Terlihat jelas rasa ke khawatirannya kepada Putrinya itu.
"Bintang sudah mampu menjadi seorang istri," balas Cantika dan sebelah tangannya membelai pipi Alex, penuh rasa sayang. Akhirnya Alex pun luluh juga, karena tindakan yang dilakukan oleh Cantika.
Ghazali dan Bintang sungguh sangat bahagia malam itu. Serta mereka berdua sudah tidak sabar menanti satu bulan lagi. Untuk mengikat takdir mereka lebih kuat.
"Aku sudah tidak sabar menunggu waktu, dimana kamu akan menjadi milikku seutuhnya," kata Ghazali kepada Bintang dengan menatapnya penuh rasa sayang.
"Satu bulan lagi, Bintang akan menjadi milik Om Ghaza," Bintang tersenyum senang.
Tanpa mereka semua sadari, ada seorang wanita menatap pasangan baru itu tersenyum penuh dengan kepuasan. Namun berbeda dengan seorang wanita yang masuk ke dalam aula bermake up tipis tetapi menonjolkan kecantikanya yang sederhana, dan menatap mereka berdua dengan tidak suka.
********
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
__ADS_1
TERIMA KASIH.