
Langit sungguh sangat kesal, di saat perutnya kosong. Dia harus diinterogasi oleh Tim Keamanan. Mereka menanyakan banyak hal kepada Langit. Tentu saja Langit akan menjawab sekedarnya saja. Hampir satu setengah jam Langit berada di ruang rapat guru. Dia dan beberapa orang dari Tim Keamanan, juga didampingi oleh tiga guru yang bertugas sebagai pengawas para murid.
"Aku rasa ini sudah cukup," kata Tim Keamanan sambil menutup buku hasil interogasi dari Langit.
"Langit kun, kamu boleh kembali ke kelas," lanjut seorang guru pengawas.
"Terima kasih sensei," balas Langit kemudian berdiri dari kursi. Tidak lupa dia menempelkan alat perekam suara di balik dudukan kursi yang tadi dia duduki.
Langit pun pergi dari ruangan itu dengan cepat menuju pintu kayu yang kokoh itu. Bangunan di Academy Matsumoto, hampir semuanya kedap suara. Sehingga tidak akan mudah mencuri dengar dari luar.
Begitu keluar dari ruangan itu. Langit langsung mengaktifkan earphone yang terhubung dengan rekaman di ruang rapat guru. Langit dapat mendengar dengan jelas apa yang sedang mereka bicarakan.
Saat menuju kelasnya, dan harus menaiki anak tangga. Langit bertemu dengan Toyota, yang habis mengantar murid-murid yang tadi membutuhkan penanganan paramedis.
"Langit kun, anda mau kembali ke kelas?" tanya Suzuki sambil berjalan di sisi Langit.
"Iya, sensei. Maaf aku terlambat masuk," ucap Langit penuh dengan nada penyesalan kepada gurunya itu.
"Tidak apa-apa. Saya juga baru kembali dari rumah sakit. Jadi belum masuk ke kelas," bisiknya sambil tersenyum.
Langit pun membalas senyumannya dengan kaku. Sebab di saat bersamaan perutnya berbunyi begitu nyaring. Toyota langsung tertawa begitu mendengar perut Langit yang lapar.
"Kamu belum makan siang?" tanya Toyota sambil menahan tawanya, walau akhirnya pecah lagi.
"Iya sensei," jawab Langit pelan karena malu.
"Kamu izin saja nanti, bila saya sudah selesai menerangkan pelajaran hari ini," kata Toyota begitu akan masuk ke dalam kelasnya.
"Baik sensei," balas Langit dengan senyumnya yang cerah.
******
__ADS_1
Bagi Langit hari ini adalah hari yang paling baik semenjak tinggal di Jepang beberapa bulan belakangan. Meski banyak insiden yang terjadi hari ini. Namun ada juga kejadian yang membuatnya senang. Bisa memegang tangan Almahira, bahkan memeluknya. Dapat nomor phonecell Almahira. Diberi roti dan susu oleh Almahira begitu tadi masuk ke kelas.
Dan yang paling menyenangkan adalah hari ini dia dan Almahira akan makan malam bersama di rumah salah seorang guru yang memiliki keyakinan yang sama. Ternyata makanan yang didapat oleh Langit selama ini, dari rumah beliau.
Guru itu bernama Dewi sensei orang Indonesia. Ternyata dia juga seorang pengajar di Academy Matsumoto. Bahkan sudah lima tahun mengabdi di sana.
"Assalamu'alaikum. Selamat malam, Alma." Langit yang menunggu kedatangan Almahira di depan gerbang asrama putri, langsung menyapanya begitu gadis itu tiba dihadapannya.
"Wa'alaikumsalam," jawab Almahira sambil tersenyum tersipu malu. Sebab Langit sangat terlihat tampan berkali-kali lipat, saat memakai baju casual. Ditambah senyuman hangatnya, semakin membuat Almahira terpesona.
Almahira begitu tersadar, langsung menundukkan kepalanya. Pipinya sudah merah merona. Kini keduanya berjalan beriringan, dan itu membuat desiran halus di hati Almahira.
Langit sungguh tidak suka dengan kekakuan yang terjadi di antara mereka. Maka dia berinisiatif memulai pembicaraan. Dimulai dengan makanan favorit, jenis makanan yang tidak disukai. Obrolan mereka merembet ke hal-hal yang lainnya.
Hasil dari obrolan tadi, akhirnya Langit tahu banyak tentang Almahira. Langit sebenarnya masih ingin banyak berbicara mengenai hal pribadi. Namun mereka sudah sampai di tempat tinggal Dewi, yang menjadi tujuan utama.
Begitu Langit masuk ke halaman rumah Dewi, di sana sudah banyak orang. Langit agak terkejut juga saat melihat itu.
"Bukan hanya makan malam. Mereka juga sarapan, dan meminta bekal kepada Dewi sensei," jawab Almahira sambil tersenyum geli karena melihat Langit yang makin terkejut dengan kenyataan ini.
"Jadi kita bisa sarapan di sini setiap hari?" tanya Langit diiringi senyuman manisnya yang tercipta karena bahagia.
"Iya. Kita bisa ikut sarapan di sini. Mulai besok datanglah dan sarapan bersama," jawab Almahira sambil membalas senyuman Langit.
"Baiklah besok kita berangkat bareng, ya?!" pinta Langit sambil menggenggam lembut jemari Almahira.
Jantung Almahira berdetak sangat kencang, saat Langit menggenggam tangannya dengan lembut. Tanpa sadar Almahira pun membalas genggamannya, dan senyum kebahagian terlukis di wajahnya yang ayu. Senyum manis kesukaan Langit.
Mereka pun ikut bergabung dengan yang lainnya. Mereka makan bersama dengan suasana akrab dan hangat. Langit sangat suka dengan suasana seperti ini.
Mereka juga banyak berbincang banyak hal. Langit mendapat banyak kenalan di sini. Murid kelas satu, atau teman seangkatan dengannya. Sementara kakak senior lebih sedikit jumlahnya. Bahkan bisa dihitung pake jari.
__ADS_1
Meski suasana tenang dan menyenangkan di sana. Langit tidak boleh lengah, harus tetap waspada. Langit juga tadi sempat kenalan dengan Dewi. Ternyata dia masih muda, dan berasal dari Surabaya. Orangnya ramah dan murah senyum. Semua masakan untuk malam ini dia yang buat dibantu oleh satu asistennya.
******
Langit dan Almahira pulang sekitar jam 21.00 mereka semua di suruh bubar saat jam segitu. Agar tidak kena hukuman karena gerbang asrama sudah keburu ditutup.
Saat dalam perjalanan pulang, ada orang yang mengendarai sepeda motor dengan kecepatan tinggi. Melemparkan dua buah belati ke arah Langit dan Almahira.
Langit yang punya gerak refleks yang bagus. Langsung memeluk Almahira dan menghindari lemparan belati-belati itu. Sehingga keduanya menancap ke batang pohon yang ada di pinggir jalan.
"Alma, tidak apa-apa 'kan? Apa ada yang terluka? Atau terkilir?" tanya Langit bertubi-tubi karena begitu panik dan khawatir.
"Iya, saya tidak apa-apa. Tidak terluka sedikitpun," jawab Almahira dengan gugup karena dia masih dalam keadaan terkejut.
Sudah dua kali dalam satu hari ini, nyawa Almahira terancam. Langit merasa kalau Almahira sedang dalam bahaya. Namun dia juga berpikir bahwa dirinya 'lah yang membawa hal buruk kepada Almahira.
'Apa mereka itu orang yang sama, ya? Kenapa Almahira diincar terus? Atau sebenarnya mereka sedang mengincar aku?' gumam Langit sambil berjalan ke arah pohon dimana belati tadi tertancap.
Langit pun mengambil kedua belati itu dan menyimpannya di dalam saku jaketnya. Kemudian menghampiri Almahira yang sedang berdiri mematung dari tadi.
"Alma!" Panggil Langit sambil menjentikkan jarinya di hadapan muka gadis berparas cantik dan manis itu.
"Apa ada yang berniat membunuhku?" tanyanya sambil memegang lengan kokoh milik Langit.
"Aku--" Langit tidak tahu harus jawab apa. Apalagi kini mata Almahira sudah berkaca-kaca.
*******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV HADIAH DAN VOTE NYA MUMPUNG LAGI HARI SENIN.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
__ADS_1
TERIMA KASIH.