
Mazda juga bisa membuat beberapa racun yang didapatnya dari hewan. Seperti dari ular, kalajengking, ubur-ubur, dan tarantula. Hanya saja dia menggunakan ini untuk dijadikan sebagai senjata. Ini yang sering membuatnya cekcok dengan Alex, dahulu. Alasannya, Mazda malas membuat obat penawarnya. Sehingga menyuruh Kartini yang membuat penawarnya.
"Jadi, Anda sudah mengenal banyak orang-orang yang terlibat dalam dunia hitam, ya?" tanya Bintang penasaran.
"Ya, dari kelompok mereka banyak yang mencari aku, untuk menciptakan senjata canggih yang bisa menyaingi senjata buatan keluarga Kishimoto." Mazda membenarkan kalau dirinya telah banyak mengenal orang-orang dari dunia hitam.
"Benar juga, aku pun akan melakukan hal yang sama. Mana mau membuat suatu karya yang sangat berbahaya bagi umat manusia," kata Angkasa sambil memanggut-manggutkan kepalanya.
"Sudah berapa lama, Anda tinggal di rumah ini?" tanya Bintang mulai penasaran.
"Aku bersembunyi di sini sudah hampir sepuluh tahun. Terlalu banyak orang yang mencariku. Bahkan dulu Shin, sampai turun tangan saat aku di culik oleh para mafia. Aku mengalami penyiksaan selama tiga hari dalam sekapan mereka. Saat aku dirawat di rumah sakit. Ada kelompok lain yang kembali menculikku. Aku pun kembali mengalami penyiksaan saat itu. Lagi-lagi Shin turun tangan, bahkan dia terluka saat menggendong aku keluar dari markas musuh. Sampai akhirnya Alex datang menjemput dan membawaku ke Amerika." Lanjut Mazda menceritakan masa lalunya.
"Oh, jangan-jangan Anda teman papa, dari Jepang yang dulu dirawat karena mengalami koma?" tanya Bintang.
"Iya, saya koma selama satu bulan. Kabar yang aku dengar dari Akira, adalah markas musuh di hancurkan oleh Shin, dan menyatakan kalau aku adalah salah satu korbannya," jawab Mazda sambil menganggukkan kepalanya.
"Kok, kamu tahu?" tanya Angkasa kepada Bintang.
"Dulu kita pernah ikut papa, ke rumah sakit. Menjenguk temannya dari Jepang yang koma. Dokter bilang katanya pasien mengalami kekerasan dan trauma," jawab Bintang dengan sangat yakin akan ingatannya.
"Ah, iya. Papa bilang, kalau temannya itu diincar para penjahat karena pintar. Makanya aku tidak mau menjadi pintar saat itu. Kita 'kan sudah berapa kali diculik saat kecil," kata Langit sambil menganggukan kepalanya.
"Bukan kamu. Tapi kita berdua yang sudah sering di culik," bantah Angkasa, sambil menunjuk dirinya dan Bintang.
"Terserah kamu 'lah," balas Langit, tidak mau membahasnya lagi.
Mazda tertawa senang saat melihat ketiga anak Alex. Apalagi kedua anak lelaki itu, yang mirip sekali dengan sahabatnya. Mereka sama-sama jenius dan keras kepala tidak mau mengalah.
"Aku senang saat melihat kalian. Oh iya, apa tujuan kalian sebenarnya kesini? Karena aku yakin kalau Honda tidak hanya mengirim kalian ke sini, tanpa tujuan." Mazda menatap serius ke arah Si Trio Kancil.
__ADS_1
"Ada beberapa yang aku inginkan. Pertama, minta salinan blue print dari hasil riset saat pembuatan bom, yang dibuat oleh Anda. Saya hanya ingin tahu saja, nggak akan membuat bom untuk menghancurkan pulau atau suatu tempat. Karena pasti ada formula yang bisa membuat bom punya daya ledak yang sangat besar, sampai-sampai menghancurkan satu pulau. Maaf aku tahu kalau catatan bom buatan Anda, yang di duga di buat oleh murid atau guru pengawas di Pulau Hi dulu. Itu yang aku simpulkan setelah menyelidiki kasus bom dua puluh tahun lalu." Langit yang masih ingin berbicara, harus terhenti karena Mazda langsung menimpali obrolannya.
"Sebenarnya, bukan aku saja yang merancang pembuatan bom itu dulu. Ada juga Subaru Takeshi dan Yamaha Hiro, kedua orang itu ikut menjadi korban dari ledakan bom di Pulau Hi."
"Oh, jadi keluarga Subaru dan Yamaha juga terlibat dalam kasus ini," kata Langit agak terkejut, juga baru tahu kalau dua keluarga besar itu yang jadi korban.
"Bukannya kamu sudah mengumpulkan informasi orang-orang yang meninggal di Pulau Hi?" tanya Angkasa merasa aneh, kenapa Langit malah terkejut.
"Tidak ada korban yang bernama itu di semua laporan berita yang aku baca," jawab Langit yakin.
"Mungkin kedua keluarga itu dan Pihak Academy Matsumoto, menyembunyikan kebenarannya. Karena aku yang menolak pembuatan bom itu, tidak ikut terlibat saat diadakan ujian hasil karya di Pulau Hi." Mazda menanggapi obrolan dari Langit dan Angkasa.
"Kalau begitu mereka sudah melakukan kebohongan publik?!" tanya Bintang dengan nada yang tidak suka.
"Kalau kekuasaan sudah bicara, maka apapun bisa," kata Angkasa.
"Tiga puluh dua orang," jawab Mazda langsung.
"Kok jumlah jauh lebih banyak?" Bintang mengerutkan kening.
"Karena para asisten mereka tidak dihitung," jawab Mazda mengangkat bahunya.
"Apa Anda tahu, siapa saja nama dari para asisten itu?" tanya Langit penasaran.
"Cari saja catatan biografi para guru atau profesor yang jadi korban," jawab Mazda.
"Lanjut, Mazda san. Keinginan yang kedua, adalah aku minta di buatkan senjata seperti punya papa yang khusus dibuatkan oleh Anda. Karena setelah aku selidiki ternyata banyak orang yang menyusup ke dalam Academy Matsumoto, entah apa saja tujuan mereka. Hanya saja saat ini aku ingin menggunakan senjata seperti punya papa yang belum pernah digunakan olehnya itu. Cuma pernah melihat dari video saja sebenarnya," kata Langit sambil tertawa malu.
"Senjata apaan?" tanya Angkasa penasaran.
__ADS_1
"Sejenis pistol tapi pelurunya tidak akan meleset bila sudah mengunci target. Bagus 'kan!" Langit dengan senang hati menjawab pertanyaan dari saudara kembarnya.
"Seperti rudal?" tanya Bintang.
"Iya. Aku lihat video itu di rumah paman Akira. Jadi ingin tahu saja, bagaimana cara kerjanya. Nanti akan aku kembangkan dan buat khusus kalian berdua," jawab Langit, dan dia pun ingin bisa membuat senjata hebat nantinya untuk para bodyguard keluarga Andersson dan Hakim.
"Kamu buat senjata lebih hebat lagi, ya!" pinta Bintang.
"Kalau senjata itu, sekarang juga ada. Karena dulu aku buat sepasang," kata Mazda yang kemudian memberikan kode kepada salah seorang Android yang berdiri di dekatnya.
"Permintaan aku yang ketiga adalah bolehkah aku lihat semua hasil karyamu?" tanya Langit.
"Boleh, ayo ikut!" ajak Mazda sambil berdiri. Mereka pun berjalan beriringan di dampingi para robot Android, yang terlihat kaku di mata Langit.
Si Trio Kancil sangat senang karena mereka bisa melihat langsung dengan kepalanya sendiri. Hasil dari karya Mazda, sang jenius legenda Academy Matsumoto.
*******
TAHUN BARU 2022 KITA SAMBUT DENGAN PENUH SEMANGAT.
AKU UCAPAKAN TERIMA KASIH KEPADA TEMAN-TEMAN SEMUA YANG SELALU MENDUKUNG AKU DENGAN MEMBACA DAN KASIH LIKE.
*******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
TERIMA KASIH.
__ADS_1