
Angkasa dan Ratu memperhatikan orang yang berjalan didepannya. Mereka mengira kalau itu adalah manusia. Sampai Langit memberitahu tentang kebenaran dua orang yang berjalan didepannya.
"Robot?" tanya Angkasa dan Bintang bersamaan.
"Apa kalian tidak melihat cara jalan mereka? Begitu kaku. Dan mata mereka juga tidak memancarkan cahaya," jawab Langit sambil menepuk bahu kedua saudaranya.
"Padahal kalau sekilas mereka mirip manusia, ya!" Bintang merasa kagum dengan robot buatan Mazda.
*******
Si Trio Kancil, disuruh menunggu di dalam sebuah ruangan luas yang hanya ada satu set meja kerja. Ketiga orang itu hanya berdiri di tengah-tengah ruangan.
"Sebaiknya kita berdiri jangan berdekatan. Kita tidak tahu, apa ada perangkap di sini atau tidak," kata Angkasa yang kemudian dia berdiri menjauh dari kedua saudaranya.
Benar saja, baru saja beberapa langkah, Angkasa menjauh sebuah kerangkeng besi jatuh di atas Langit. Sehingga Langit terperangkap dalam penjara.
"Tuh 'kan. Apa kataku! Kalau rumah ini penuh perangkap," kata Angkasa sambil terkekeh karena melihat ekspresi kesal dari wajah Langit.
"Ternyata seperti dugaan Kak Angkasa. Untung aku juga cepat-cepat menghindar," lanjut Bintang sambil menepuk bahunya yang dirasa kotor karena dia melompat saat mendengar suara aneh dari atas.
"Iya, aku kurang waspada. Karena perhatianku teralihkan oleh lukisan di dinding sana," balas Langit sambil menunjuk sebuah lukisan di dinding dekat jendela ujung.
Angkasa pun, mendekati lukisan itu dan melihat gambar yang ada di sana. Lukisan itu hanya gambar abstrak, dan tidak terlihat menarik di mata Angkasa.
"Hm, si pelukis sepertinya menyimpan sebuah rahasia di dalam lukisan ini," kata Bintang yang sedang berdiri di belakang Angkasa.
"Memangnya kamu mengerti, apa yang disembunyikan di dalam lukisan ini?" tanya Angkasa sambil menolehkan kepalanya ke arah Bintang.
"Tidak. Aku tidak suka dengan gambar lukisan seperti ini. Lebih menarik lukisan yang jelas obyeknya," jawab Bintang.
__ADS_1
Angkasa dan Bintang malah asik berbicara di dekat lukisan itu, dan melupakan Langit. Keduanya malah membahas kira-kira rahasia apa yang ada di dalam lukisannya.
Langit merasa jengkel dengan kedua saudara kembarnya, yang membiarkan dia terkurung dalam kerangkeng besi. Langit pun berteriak memanggil keduanya.
"Kak Angkasa! Kak Bintang!"
Angkasa dan Bintang malah menoleh sebentar ke arah Langit. Kemudian mereka malah melanjutkan lagi obrolannya.
Tiba-tiba pintu yang ada di tengah dinding, terbuka dan datang lima orang. Atau lebih tepatnya satu orang dan empat Android.
"Ada urusan apa kalian datang kemari?" tanya seorang laki-laki berambut putih. Meski wajahnya terlihat masih muda.
"Apa Anda itu, Mazda san?" tanya Langit sambil memperhatikan orang yang kini sedang duduk di kursi kebesaran miliknya.
Laki-laki bertubuh agak bungkuk, dan berambut putih, tapi kulitnya tidak berkeriput sama sekali. Membuat Angkasa dan Bintang, diam memperhatikannya.
"Honda san, minta tolong untuk mengungkapkan kasus pembunuhan para ilmuwan yang bekerja di Laboratorium Matsumoto," jawab Langit.
"Siapa saja yang menjadi korban kali ini?" tanya Mazda dengan nada malasnya.
Langit pun menceritakan garis besarnya saja dari hasil informasi yang dia dapat. Sementara Mazda mendengarkan dengan seksama.
"Apa kamu anak, Profesor Andersson?" tanya Mazda kepada Angkasa yang sejak tadi berdiri dan diam dengan wajahnya yang datar.
"Ya, setidaknya ada beberapa orang yang memanggil papa kami seperti itu," jawab Angkasa dengan suaranya yang tegas.
Mazda pun terkekeh dengan sangat keras dan lama. Dia jadi berasa bernostalgia dengan teman seprofesinya dulu.
"Aku tidak menyangka kalau Alex akan punya anak yang sudah sebesar ini," kata Mazda.
__ADS_1
Mazda menekan sebuah tombol di bawah mejanya, sehingga sangkar burung itu naik lagi dan menghilang di balik atap. Kemudian dia menekan tombol yang lainnya. Datang dua Android yang membawa sebuah sofa panjang, yang diletakkan di depan meja kerja Mazda.
"Aku dan Alex dulu bersahabat dekat. Kita sering kerja sama dalam membuat suatu karya. Mungkin lebih tepatnya membuat senjata. Hanya saja dia tidak suka namanya disebut-sebut. Walau kami hanya dua tahun bersama. Tapi itu adalah tahun-tahun yang sangat menyenangkan buatku."
Mazda matanya menatap atap langit-langit ruangan itu. Pikirannya menerawang jauh ke masa lalu. Dimana dia dulu yang senang sendiri, setelah kedatangan Alex, hidupnya jadi merasa berwarna. Apalagi dia mengenalkan dengan dua asistennya yang masih duduk di bangku SMA, Academy Matsumoto, yaitu Honda dan Rafli.
"Kalau begitu, Mazda san juga mengenal Akira Kishimoto?" tanya Langit.
"Tentu saja aku kenal. Dia berhasil ditaklukkan oleh Alex, hanya dalam waktu dua menit. Orang yang sangat keras kepala. Keluarga Kishimoto, adalah Yakuza yang punya otak cerdas di atas rata-rata. Banyak senjata hasil ciptaan keluarga mereka sendiri, yang dijual beli dengan para mafia luar negeri," jawab Mazda.
"Jadi, Anda sudah mengenal banyak orang-orang yang terlibat dalam dunia hitam, ya?" tanya Bintang penasaran.
"Ya, dari kelompok mereka banyak yang mencari aku, untuk menciptakan senjata canggih yang bisa menyaingi senjata buatan keluarga Kishimoto." Mazda membenarkan kalau dirinya telah banyak mengenal orang-orang dari dunia hitam.
Langit, Bintang, dan Angkasa mendengarkan dengan seksama. Selama Mazda bercerita tentang masa lalunya dengan Alex dan Akira. Kepindahannya di tengah hutan seperti ini pun dengan bantuan keluarga Kishimoto.
Mazda tidak mau membuat sebuah senjata yang dapat merugikan orang banyak. Bahkan, sebelum sesaat kejadian bom itu pun. Dia dan Alex sudah memperingatkan pihak Academy Matsumoto. Murid-murid yang sedang belajar tidak diperkenankan membuat sebuah senjata yang punya daya hancur sedang apa lagi tinggi. Lebih baik mereka membuat suatu karya yang bermanfaat untuk masyarakat. Barang jenis elektronik kebutuhan sehari-hari yang sekiranya dibutuhkan oleh mereka.
Selain bisa membuat senjata tempur, Mazda juga bisa membuat atau mendesain kendaraan. Baik itu motor atau mobil. Bahkan dia juga bisa membuat kerangka pesawat jet tempur dan jet pribadi. Keahliannya dalam membuat mesin, membuat dia dan Alex bekerja sama membuat perusahaan mobil dan motor. Alex 'lah penanam modal terbesarnya, saat dulu dia mulai merintis usahanya, yang kini diserahkan kepada orang kepercayaannya. Inilah salah satu perusahaan otomotif milik Alex yang bersaing dengan Alessio dan Daddynya--Arthur.
******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
SAMBIL MENUNGGU UP DARI TRIO KANCIL, AKU PUNYA SARAN YANG REKOMENDASI BUAT KALIAN. JUDULNYA: BERBAGI CINTA \= BELENGGU CINTA YANG SAMA. KARYA AUTHOR LIANA KIEZIA .
__ADS_1